
Mereka kembali sarapan setelah membahas masalah mereka untuk kepergian mereka untuk mencari ibu kandung Reya dan juga Citra.
"Assalamualaikum," suara salam itu membuat penghuni meja makan langsung melihat ke arah suara tersebut yang ternyata Reval dan juga Sahila sang ibu.
"Walaikum salam," sahut Reya dan yang lainnya dengan serentak.
"Maaf kami mengganggu sarapan kalian," ucap Sahila.
"Tidak. Tidak apa-apa," sahut Argantara.
"Reval, Sahila ayo sekalian sarapan," sahut Anggika dengan ramah.
"Tidak usah mbak repot-repot," sahut Sahila merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Tante ayo Tante duduk," sahut Citra yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan mempersilahkan Sahila Ndan Reval untuk duduk.
"Iya Tante ayo kita sarapan bersama," Reya juga sangat ramah kepada Sahila dan juga Reval.
Reval dan Sahila pun mau tidak mau akhirnya ikut duduk bersama.
"Maaf ya kami sudah merepotkan kalian dan mengganggu sarapan kalian," ucap Sahila yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa mbak. Kita sarapan bersama aja," sahut Anggika.
"Iya Tante. Biar Reya ambilkan ya sarapannya," sahut Reya yang langsung mengambilkan ke piring Sahila dan bahkan menyendokkan nasi goreng ke piring Reya.
"Makasih Reya. Kamu itu repot sekali," ucap Anggika.
"Nggak kok Tante," sahut Reya.
"Citra kamu ambilkan untuk Reval!" titah Argantara.
"Oh iya pah," sahut Citra yang juga melayani Reval dengan baik. Reval melihatnya tersenyum tipis saja.
"Kamu mau telur mata sapi apa dadar?" tanya Citra dengan lembut pada Reval.
"Dasar saja," sahut Reval. Citra mengangguk dan mengambilkan untuk Reval. Lalu duduk di samping Reval.
__ADS_1
"Sarapan lah," ucap Citra mempersilahkan.
"Makasih Citra, kamu baik sekali," ucap Reval.
Citra mengangguk. Melihat Citra dan Reval yang kelihatannya sangat dekat membuat Anggika dan Sahila saling melihat dengan senyuman mereka yang punya arti.
Citra juga menuangkan air putih untuk Reval dan Reval sejak tadi senyum-senyum aja taunya. Pasti hatinya juga lagi bahagia-bahagianya dengan Citra yang sekarang tidak ketus kepada-nya.
"Oh iya mbak. Sebenarnya tujuan kami untuk datang kemari bukan untuk numpang sarapan pagi. Tapi Alhamdulillah di kasih sarapan," sahut Sahila dengan candaannya.
"Tidak apa-apa Sahila. Kamu jangan sungkan-sungkan," sahut Argantara.
"Sepertinya ada hal penting dengan kedatangan Tante dan juga Reval ke mari?" tanya Sean.
"Benar Sean. Saya mendengar dari Reval. Jika hari ini kalian semua akan pergi untuk melanjutkan mencari ibu kandung Reya dan Citra. Jadi saya ingin ikut. Itu pun jika di ijinkan," sahut Sahila yang menyampaikan maksud dan tujuannya untuk datang kerumah itu pagi-pagi seperti itu.
"Iya Tante, mama katanya bosan di Apartemen. Jadi makanya pengen ikut," sahut Reval menambahi.
"Saya tidak akan merepotkan kalian kok," sahut Sahila.
"Jika Tante mau ikut tidak apa-apa kok. Reya senang kok. Tante mau bantuin kita," sahut Reya yang tidak masalah sama sekali.
"Jadi Tante boleh ikut nih?" tanya Sahila.
"Iya boleh Sahila. Kita bisa pergi bersama untuk mencari ibu kandung Citra dan juga Reya dan mungkin semakin banyak yang mencari maka akan semakin cepat ketemunya," sahut Anggika.
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih untuk kalian semua," sahut Sahila yang merasa bahagia.
"Ya sudah kalau begitu kita semua alangkah baiknya sarapan dulu. Biar kita ada tenaga untuk pergi," sahut Argantara.
"Benar kata mas Argantara," sahut Anggika dengan tersenyum.
Mereka kembali melanjutkan sarapan bersama Reya dan Sean saling melihat dengan senyuman manis di wajah mereka yang tampak ke-2nya sangat bahagia dengan apa yang mereka rasakan. Sama dengan Citra dan Reval yang juga sama-sama saling melihat. Namun ke-2nya malah saling salah tingkah dan mengalihkan pandangan mereka.
Ya sedikit gemas sih melihatnya. Tapi mungkin itu awalan untuk kedekatan di antara mereka berdua kembali.
************
__ADS_1
Setelah melakukan sarapan akhirnya. Mereka semua berangkat. Lokasi yang di tunjukkan berada di Cirebon dan sekarang tujuan mereka ke kota Cirebon. Mereka berangkat menggunakan 2 mobil.
Argantara, Anggika dan Sahila bersama supir satu mobil. Sementara di mobil yang satunya. Reya, Sean Citra dan Reval satu mobil dan tetap dengan pormasi mereka awal yang menyetir tetap Reval dan Citra duduk di sampingnya.
"Citra kita jangan berharap apa-apa ya. Jangan berharap terlalu besar untuk ibu kita. Kita pasrahkan saja pada yang di atas dengan takdir yang sudah di tentukan," ucap Reya yang memberikan semangat dulu untuk Citra. Untuk Tidka berekspetasi terlalu tinggi.
Ya Reya memang lebih tenang sekarang dan lebih pasrah. Dia juga seorang kakak yang harus lebih dewasa.
"Benar kata Reya Citra. Kekecewaan pasti ada dalam setiap usaha. Tetapi kita sudah melangkah terlalu jauh dan biarpun lelah. Namun tetap kita tidak bisa berharap banyak. Karena semua sudah di takdirkan," ucap Sean pada adiknya itu menambahi sedikit dari kata-kata Reya.
"Iya kak Reya kak Sean. Lagian dengan anugrah yang di berikan sekarang dengan baik. Citra sudah merasa sangat bersyukur dan tidak akan berekspetasi terlalu tinggi yang penting kita sudah berusaha," sahut Citra yang memang lapang dada.
"Syukurlah kalau kamu bisa lebih tenang dan lebih ikhlas," sahut Reya.
"Lagian dengan mempunyai dua kakak itu sudah anugrah yang paling terbesar dan Citra tidak berharap banyak kok," sahut Citra dengan menengok kebelakang. Reval juga di sampingnya menoleh kearah Citra dengan Reval yang tersenyum melihat kedewasaan Citra.
Namun Reya yang melihat kedepan kaget dengan matanya yang melotot yang tiba-tiba melihat truk sangat dekat dengan mobil mereka.
"Reval awas di depan!" teriak Reya yang mengejutkan Reval dan melihat kedepan. Kedekatan truk itu membuat Reval kaget dan langsung membanting stir kekiri untuk mengelakkan tabrakkan.
Namun Reval harus menabrak pembatas jalan dan menyetir tanpa arah dengan kecepatan yang tidak terhingga. Sementara di dalam mobil sudah panik dengan mobil yang belok sana-belok sini.
"Reval injak rem!" teriak Sean sambil memeluk istrinya.
"Remnya blong Sean," sahut Reval yang panik dengan terus menginjak rem blognya.
"Astaga bagaimana ini?" tanya Citra panik.
Dan mobil mereka bahkan sudah sampai masuk semak-semak dan terus melaju tanpa rem.
Di mobil Anggika melihat hal itu membuat mereka kaget dengan mobil yang di kendarai Reval yang sudah masuk semak-semak.
"Ada apa dengan mobil anak-anak?" tanya Anggika panik.
"Tidak tau. Pak tolong susul mereka," sahut Argantara.
Supir mengangguk dan langsung meminggirkan mobil kejalanan jalur mobil Sean dan mengikuti mobil yang tanpa arah itu.
__ADS_1
Bersambung.