Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 323


__ADS_3

Reya yang akhirnya mengetahui kebenaran yang terjadi setelah melihat rekaman dan mendapat penjelasan dari Citra. Akhirnya kesalahan pahaman itu terjawab sudah dan Sean tidak bersalah sama sekali.


Tetapi Sean dan Reya belum berdamai. Keduanya masih berada di kamar yang berbeda. Reya yang di kamar tempat biasa dan Sean berada di kamar tamu.


Reya yang berada di kamar yang di atas tempat tidur dengan berbaring miring. Kedua tangannya yang di satukan berada di bawah pipinya. Di mana Reya tidak bisa tidur dan hanya murung memikirkan apa yang terjadi.


Mungkin menyesal menuduh suaminya yang tidak-tidak. Namanya juga dia sensitif. Hamil besar jadi sangat wajar hal kecil menjadi Maslaah dan hal besar.


"Aku masih berpikiran kenapa Renita bisa melakukan hal ini kepadaku. Kenapa? Dia sangat jahat dan apa tujuannya? Apa dia marah karena aku mencampuri urusannya dengan Citra. Dia marah karena kejadian waktu itu. Aku melakukan itu demi Citra dan sebagai kakak aku memang harus melindungi Citra," gumam Reya.


"Tetapi Renita malah membalas dengan merusak rumah tangga ku. Renita kamu ternyata sangat jahat dan tega melakukan itu," gumamnya yang bergerutu sendiri dengan menghela napas beberapa kali.


Namun tiba-tiba Reya mengelus-elus perutnya dengan wajahnya yang mengkerut.


"Kok tiba-tiba aku lapar ya," gumamnya yang tiba-tiba keroncong. Cacing-cacing di perutnya sudah berbunyi meminta makan.


"Jangan-jangan dedek bayinya yang lapar,"


"Sayang kamu lapar ya?"


"Tapi tadi kan mama sudah makan. Apa masih kurang sayang?"


Reya bertanya dan menjawab sendiri. Dia berbicara pada bayinya dan kemudian menyibak selimut. Lalu Reya langsung duduk.


"Baiklah sayang. Kita cari makan ya," gumam Reya yang turun dari ranjang untuk keluar kamar menuju dapur yang pasti mencari makan untuk debay nya.


*********


Reya menuruni anak tangga dan langsung ke dapur. Reya hanya menghidupkan 1 lampu saja di dapur. Supaya tidak gelap saja. Dan juga tidak terlalu terang. Karena di dapur sebenarnya banyak juga lampu. Jadi Reya hanya menghidupkan apa yang perlu saja.


"Makan apa ya," gumamnya yang melihat ke dalam kulkas.


Sebenarnya banyak bahan makanan, dari yang instan dan juga sayuran, daging-dagingan dan lain-lain. Kulkas orang kaya mana pernah kosong. Namun Reya tampaknya tidak selera melihat isi kulkas. Mungkin mager juga untuk memasaknya.


"Mie instan ajalah, simple," gumamnya yang kembali menutup kulkas dan lebih ingin makan mie instan.


Reya pun membuka lemari di bagian atas, di mana di sana tempat mie instan. Namun lemari itu ketinggian membuat Reya kesulitan sampai jinjit-jinjit.


"Kenapa tempatnya harus di pindah segala sih," Gumam Reya dengan menghela napasnya yang kesulitan untuk mengambil mie instan tersebut.


Reya harus berusaha dengan jinjit dan tangannya yang berusaha untuk mengambil mie instan tersebut. Di tengah usahanya tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengambilnya dan membuat Reya heran dengan melihat kearah siapa yang mengambilnya dengan posisi kepalanya yang mendongak yang ternyata pemilih tangan itu adalah Sean.


Sean mengambil mie instan dari lemari. Lalu melihat kebawah yang bertepatan ke arah Reya dengan mereka saling melihat dan hanya beberapa detik mereka tidak saling melihat lagi dan terbentuk jarak di antaranya dicampur dengan kegugupan.


"Apa yang kamu lakukan malam-malam di dapur?" tanya Sean.

__ADS_1


"Hanya mau masak mie instan," jawab Reya mengambil mie dari tangan Sean dan Reya menuju kompor yang menghindari Sean.


Namun Sean menyusulnya dan mengambil mie instan itu dari Reya.


"Biar aku yang membuatnya,"


"Tidak usah aku bisa sendiri,"


"Aku juga bisa melakukannya. Kamu tunggulah sebentar,"


"Tapi...."


"Duduklah!" Sean menarik kursi mempersilahkan Reya untuk duduk dan Reya tidak punya pilihan lain. Reya pun duduk dan Sean yang mengambil tugas untuk menyiapkan masakan yang di inginkan Risya.


"Mau pakai telor?" tanya Sean.


"Iya," jawab Reya.


"Mau yang berkuah apa yang kering?" tanya Sean.


"Sedikit berkuah," jawab Reya.


Sean mengangguk dan mulai membuat mie instan itu.


"Mau pakai toping bakso, sosis atau sayur?" tanya Sean lagi.


"Pedas?" tanya Sean lagi yang sudah seperti abang-abang pedagang gerobakkan yang banyak tanyanya.


"Sedang saja," jawab Reya singkat.


Dan Sean pun langsung memasak dengan Reya yang hanya menunggu Sean memasak, melihat punggung Sean dan di pastikan Sean begitu serius dalam memasak dan makanan yang di masak Sean juga pasti enak.


"Apa aku harus minta maaf," batin Reya yang terus melihat punggung suaminya itu.


Karena sudah tau apa yang terjadi sebenarnya pasti Reya ingin meminta maaf pada Sean.


"Tapi apa iya, aku harus minta maaf. Kenapa harus minta maaf, dia tidak berusaha untuk menjelaskan lagi. Seharusnya dia yang menjelaskan dan menunjukkan rekaman itu kepadaku bukan malah Citra. Berarti dia tidak ada niat untuk baikan," batin Reya yang ternyata masih gengsi kalau harus minta maaf duluan pada suaminya itu.


Tidak lama akhirnya Sean selesai membuat mie instan special untuk Reya yang lengkap dengan toping yang banyak yang aromanya begitu harum membuat perut bertambah lapar. Ini sudah mengalahkan Restaurant bintang 5.


Sean meletakkan mangkok itu di depan Reya, lengkap dengan sendok dan ada juga sumpit.


"Makanlah!" ucap Sean dengan lembut. Lalu Sean mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk Reya.


"Pelan-pelan! Awas panas," ucap Sean yang melihat Reya ingin langsung memakannya.

__ADS_1


Sean yang khawatir pada Reya duduk di samping Reya dan mengambil mie tersebut dengan sumpit. Lalu Sean meniupnya dan setelah di pastikan dingin Sean menyodorkan kepada Reya.


"Makanlah!" ucap Sean lembut. Reya membuka mulutnya dan memakan suapan dari Sean.


Ya sebenarnya dia juga tidak mau di suapi. Karena masih dalam konteks marahan. Namun entah mengapa Reya tidak bisa menolak sama sekali dan terakhirnya harus di suapi Sean.


"Apa rasanya enak?" tanya Sean.


Risya mengangguk saja untuk menjawab pertanyaan suaminya itu membuat Sean tersenyum tipis.


"Bagaimana anak kita, apa dia baik-baik saja. Aku sudah lama tidak bicara padanya?" tanya Sean.


"Baik-baik aja kok," jawab Reya yang terlihat canggung dan bahkan beberapa kali mengalihkan pandangannya dari Sean.


"Ya sudah kamu makan lagi," ucap Sean.


"Hmmm," jawab Reya dengan deheman yang menerima suapan demi suapan dari suaminya yang pasti masakan itu sangat enak sampai akhirnya 1 mangkok itu habis semua untuk Reya.


Reya pun sudah minum dan terasa perutnya kenyang. Sean tersenyum dan mengambil mangkok itu dan langsung mencucinya.


Reya masih melihat suaminya dan sepertinya sejak tadi Reya ingin bicara banyak. Namun Reya sangat sulit untuk memulai pembicaraan itu.


"Aku sudah tau semuanya," ucap Reya tiba-tiba di tengah-tengah Sean mencuci piring.


"Tau apa?" tanya Sean dengan tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Apa yang terjadi di antara kita dan Renita ada di balik semuanya," jawab Reya.


Sean tersenyum tipis dan melap tangannya yang selesai mencuci piring lalu menghampiri istrinya dengan didik di dekat Reya yang menghadap Reya.


"Lalu?" tanya Sean dengan ke-2 alisnya yang terangkat.


"Ya. Pokoknya aku sudah tau. Citra menceritakannya kepadaku dan Renita yang ternyata punya niat jahat kepadaku dan juga kamu," ucap Reya dengan gugup.


"Lalu?" tanya Sean lagi.


"Ya tidak ada lagi yang jelas aku sudah tau," jawab Reya yang masih gengsi untuk meminta maaf.


Sean tersenyum tipis mendengarnya.


"Ya sudah kalau begitu kamu sebaiknya istirahat. Ini sudah malam," ucap Sean.


Reya menganggukkan kepalanya. Dia juga tidak tau mau bicara apa lagi dan sebenarnya Reya berharap Sean yang bicara dan mencoba menjelaskan lagi. Ya bicara dengan intens.


"Ya sudah aku mau tidur dulu," ucap Reya berdiri dari tempat duduknya dan ingin pergi. Namun Sean memegang tangannya membuat Reya tidak jadi pergi.

__ADS_1


"Apa aku boleh tidur di kamar kita?" tanya Sean membuat Reya terdiam dengan penuh kegugupan dan detakan jantung yang tidak normal.


Bersambung


__ADS_2