
Mendengar Citra hamil membuat Reval membuka matanya lebar-lebar dengan pernyataan yang di katakan Reya
"Apa katamu? Citra! Citra hamil!" pekik Reval begitu terkejutnya saat mendengar apa yang di katakan Reya.
"Iya Citra sedang hamil, Citra hamil," jawab Reya, "dan itu anakmu kak Reval. Itu anakmu dengan Citra kan?" tebak Reya yang sebelum Reval mengatakannya dia pasti sudah tau kalau anak yang di kandung Citra pasti anak Reval.
Reval terlihat diam yang tidak mengatakan apa-apa tentang kehamilan yang di alami Citra yang pasti itu memang anak Reval. Namun dari wajah Reval terlihat Reval yang sangat frustasi dengan berita kehamilan itu sampai Reval mengusap kasar wajahnya dengan ke-2 tangannya.
"Kau itu benar-benar keterlaluan Reval, aku benar-benar tidak menyangka jika kau sampai sejahat itu kepada Citra. Kau memanfaatkan Citra, memanfaatkan dirinya dan sekarang membuatnya benar-benar menderita. Semua yang terjadi permasalahan keluargamu dengan Tante Anggika itu bukan kesalahan Citra. Tetapi kau sangat jahat yang membuat semuanya menjadi kesalahan Citra.
Kau itu benar-benar sangat kejam Reval, kau itu sangat jahat, kau tau dari perbuatan mu menimbulkan efek pada mental Citra. Dia di rumah sakit seperti orang gila yang kehilangan jati diri. Tidak pernah bicara sama sekali dan kamu harus tau jika Citra beberapa kali ingin melakukan percobaan bunuh diri semua itu gara-gara perbuatan kamu yang menjadikannya untuk membayar dosa-dosa Anggika. Itu gara-gara kamu Reval," ucap Reya dengan menunjuk-nunjuk Reval yang terlihat hanya diam dengan wajah yang tidak bisa di tebak sama sekali.
"Kau itu benar-benar jahat, kejam, oh tunggu dulu bukannya ini adalah kemauan mu, bukannya ini adalah keinginan mu kan, kau sangat menginginkan kehancuran Citra dan semua ini sangat kau inginkan Reval, kau itu benar-benar sangat biadap. Kita sudah lama berteman dan aku benar-benar tidak menyangkal jika sahabat ku dulu sudah tidak ada sahabatku sudah berubah menjadi orang lain, sangat jahat, kejam, dan tidak punya perikemanusiaan, keterlaluan dan hanya membuat emosi jiwa saja," umpat Reya dengan geleng-geleng kepala yang tidak sanggup berkata-kata lagi untuk Reval.
Semuanya sudah hancur, Reya benar-benar sangat kecewa dengan Reval dan Reval hanya diam saja di depannya seperti orang yang tidak berdosa sama sekali
"Aku benar-benar kecewa padamu Reval, kau itu pengecut, kau dengarkan aku Reval masalah ini hanya akan berbalik kepadamu, kau akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi. Semua ini akan berbalik padamu Reval, kau akan hancur berantakan," sumpah serakah yang di keluarkan untuk Reval yang benar-benar telah menghancurkan Citra.
"Dasar pengecut!" umpat Reya yang langsung meninggalkan Reval dan pergi dari tempat itu dan Reval hanya diam saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Citra hamil!" lirih Reval dengan suaranya yang berat. Bagaimana tidak mungkin hamil jika dia dan Citra pernah melakukan itu. Lalu apa itu sesuai dengan ekspektasi Reval. Apa dia menginginkan Citra hamil. Tetapi sepertinya rencana Reval tidak sampai di sana. Karena bisa di lihat wajah Reval terlihat tidak baik-bai saja saat mendengar kehamilan dari Citra.
"Argggghhh!" teriak Reval dengan memegang kepalanya dan mengacak-acak rambutnya frustasi. Lama-lama benar-benar dia yang frustasi dan bukan Citra. Karena sekarang mendengar kabar tentang Citra membuatnya semakin menyesal. Apa lagi Reya mengatakan kehamilan Citra dan juga Citra yang berkali-kali ingin melakukan percobaan bunuh diri dan pasti itu sangat nyata karena dia juga menemui Citra saat Citra ingin melompat dari jembatan.
__ADS_1
**********
Rumah sakit.
Reya begitu tulus merawat, mendampingi Citra, berbicara dengan lembut dan membujuk Citra untuk makan, sampai Citra menurut dan sekarang Reya sedang menyuapi Citra dan Citra pasti tidak bicara sama sekali.
Karena memang tidak ada suara yang di keluarkannya. Karena pikirannya pasti masih sangat berantakan. Tetapi bagi Reya itu tidak apa-apa yang penting Citra bisa makan dengan baik dan itu sudah cukup untuk Reya. Karena kalau perut kosong juga tidak ada gunanya sama sekali.
Sementara Sean hanya berdiri di depan pintu yang mantau adiknya itu dari kejauhan dengan Sean yang pasti juga sedih. Namun tidak ada keberanian untuk berbicara dengan Citra.
"Siapa Pria itu Citra? siapa yang sudah membuat kamu seperti ini," batin Sean yang sampai detik ini tidak mengetahui siapa yang telah menghamili adiknya.
"Reval!" tiba-tiba Sean mengingat nama itu. Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya nama Pria yang tidak asing baginya.
"Kak Sean!" tiba-tiba Reya mengejutkan Reval yang mana Reya sudah selesai mengurus Citra dan keluar dari ruang perawatan Citra yang mendapati Sean yang melamun.
"Reya!" lirih Sean dengan menghela napasnya dan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
"Kakak kenapa?" tanya Reya.
"Tidak apa-apa. Bagaimana Citra dia sudah selesai makan?" tanya Sean.
"Iya kak, dia sudah makan dengan lahap dan aku yakin kondisinya akan baik-baik saja setelah ini," ucap Reya dengan yakin.
__ADS_1
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja aku lega mendengarnya. Lalu bagaimana apa Citra sudah mau bicara?" tanya Reval.
"Masih belum kak Reval, tapi aku yakin nanti Citra lama-lama juga akan mulai bicara. Kita terus saja pantau kesehatannya dan terus bicara dengan Dokter. Agar kondisi Citra baik-baik saja," ucap Reval.
"Aku juga berharap seperti itu Reya," sahut Reval.
"Kak Sean sendi bagaimana? apa tidak ingin masuk?" tanya Reya.
"Aku takut Citra merasa jika dia telah mengecewakanku. Aku takut nanti justru Citra kenapa-kenapa. Jadi sebaiknya aku tidak masuk dulu," jawab Sean.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kak Sean harus tetap bicara dengan Citra. Nanti takutnya seperti yang kakak bilang Citra merasa jika kak Sean sudah tidak menyayanginya dan mungkin membencinya," ucap Reya yang memberi saran suaminya itu.
"Iya Reya, aku dan Citra kami berdua masih sama-sama butuh waktu. Kamu jangan khawatir aku dan Citra pasti akan secepatnya bicara," ucap Reval.
"Ya sudah kalau begitu, kak Sean juga belum makan, sebaiknya kita makan juga," ucap Reya.
"Baiklah aku juga sekalian ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Reval.
"Mengenai apa?" tanya Reya dengan dahinya yang mengkerut.
"Ayo ikut saja denganku," sahut Sean
Reya menganggukkan kepalanya dan langsung pergi bersama suaminya.
__ADS_1
Bersambung