Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 28 pingsan.


__ADS_3

Tidak ada gunanya komplain atau melakukan apapun. Karena pada kenyataannya Reya tetap mengerjakan apa yang di perintahkan Sean. Dari pada Sean dan papanya akan kembali ribut lagi.


Reya harus mengeluarkan kerdus- kerdus dari dalam mobil box. Dengan mengeluarkan semua tenaganya yang bisa di katakan berat kerdus-kerdus itu 10 kg lebih. Namun Reya harus semangat dan tidak boleh mengeluh.


Sudah beberapa kali Reya mondar-mandir dari mobil box sampai ke dalam gudang dengan dahinya yang sejak tadi bercucuran keringat. Ternyata dari atas sana Sean memperhatikan Reya. Dengan ke-2 tangannya yang berada di dalam sakunya.


" Apa aku keterlaluan!" batin Sean.


Sean yang sepertinya sadar. Jika apa yang di lakukannya sangat keterlaluan. Pekerjaan itu Seharusnya di kerjakan laki-laki. Tetapi Sean menyuruh Reya melakukannya. Dengan beralasan hukuman yang harus di terima Reya.


" Tetapi itu pantas untukmu. Dengan begitu kau benar-benar akan mundur dan pergi dari kehidupan kami," batin Sean yang merasa perbuatannya wajar-wajar saja dan tidak ada yang salah sama sekali.


Sudah malam hari dan untunglah pekerjaan Reya akhirnya selesai dengan cepat memindahkan barang-barang dari dalam mobil box kedalam gudang yang sekarang Reya tinggal membereskan kerdus-kerdus yang tadi di angkatnya.


" Kau bisa juga menyelesaikan semuanya," tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar di telinganya membuatnya membalikkan tubuhnya dan melihat siapa lagi kalau bukan Sean.


Namun Reya tidak peduli, dia kembali melanjutkan pekerjaannya dan mengacuhkan Sean.


" Sekarang kau ikut denganku!" perintah Sean. Reya diam dan tidak menjawab dan apalagi menuruti Sean.


" Kau tidak mendengarku?" tanya Sean yang masih menunggu Reya untuk bergerak.


" Sampai kapan!" Reya hanya mengeluarkan suara itu membuat Sean heran.


" Apa maksudmu?" tanya Sean.


Terdengar suara Reya mendengus kasar.


"Sampai kapan kau akan melakukan semua ini kepadaku. Kau ingin menindasku memperlakukan ku sebagai babu, sebagai kacung seperti yang kau katakan," ucap Reya yang tanpa membalikkan tubuhnya menyindir Sean.


" Pilihannya ada di kamu. Jika kau tidak menyukainya. Maka kembali pada tempatmu. Jangan mendekati keluargaku!" jawab Sean dengan tegas.


Reya mendengus kasar dan membalikkan tubuhnya, " aku sudah mengatakan. Aku tidak menginginkan semua ini. Aku tidak meminta semua ini," sahut Reya.

__ADS_1


" Jangan beralasan hal itu. Jika kau tidak menginginkannya. Kau juga bisa membantah. Tetapi apa. Semakin lama kau semakin ingin bersaing dengan ku. Kau semakin menunjukan jika kau menginginkan semua yang kami miliki," ucap Sean dengan sini.


" Baiklah jika aku pergi dan menjauh darimu dari keluargamu. Apa akan bisa mengubah kenyataan. Jika aku adalah adikmu," ucap menegaskan yang membuat Sean mengepal tangannya. Dia sangat membenci kata-kata itu.


Sean mendekati Reya dan mendorong tubuh Reya sampai ke dingding yang membuat punggung Reya merasakan sakit saat di dorong Sean.


" Apa kau katakan adik. Kau bukan adikku Reya," tegas Sean dengan menekan suaranya yang penuh kemarahan.


" Tetapi itu adalah kenyataan. Jika aku adalah adikmu. Mau kau menghindari atau tidak percaya dengan apapun. Pada kenyataannya aku adikmu," ucap Reya dengan membenarkan segalanya.


Sampai Sean kehilangan kesabarannya dan langsung memukul kuat dingding tepat di samping Reya membuat Reya terkejut.


" Kau dengarkan aku Reya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui dirimu sebagai adik. Kau hanya anak dari seorang wanita yang menghancurkan keluargaku. Kau bukan siapa-siapa Reya," tegas Davin dengan menatap penuh kebencian kepada Reya.


Mata Reya berkaca-kaca mendengar apa kata Sean. Apa lagi Sean menatapnya dengan penuh kebencian. 2 bola mata yang memerah dengan penuh kebencian menatap dirinya.


" Aku tidak sudi memiliki adik sepertimu! apa kau mengerti itu!" Tegas Sean lagi dengan menjatuhkan kasar cengkraman tangannya pada Reya.


" Kenapa begitu membenciku?" tanya Reya.


Sean berjalan perlahan keluar dari ruangan itu meninggalkan Reya.


Brukkkk.


Langkah Sean berhenti ketika mendengar suara benda jatuh dan membuat Sean kembali menoleh kebelakang. Sean di kejutkan dengan Reya yang sudah berada di lantai yang tergelatak dan tidak sadarkan diri.


" Reya!" Lirih Sean yang schok melihat Reya. Tidak menunggu lama Sean langsung berlari dan mendekati Reya yang ada di sana.


" Reya!" Sean yang berada di sebelah Reya panik seketika melihat Reya tidak sadarkan diri.


" Reya apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Bangun Reya! bangun Reya! kau mendengarku!" Sean semakin panik dengan kondisi Reya.


Tangan Sean sangat ragu untuk menyentuh Reya. Namun akhirnya memegang pipi Reya untuk membangunkan Reya.

__ADS_1


Karena kepanikannya, Sean seakan melupakan kebenciannya pada Reya dan sekarang membangunkan wanita itu dengan memegang pipi Reya, menepuk-nepuk pipi itu agar terbangun.


" Reya apa kau mendengarkanku? Bangunlah Reya!" ucap Sean dengan panik melihat pucatnya wajah Reya. Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Reya Sean pun langsung menggendong Reya ala bridal style dan langsung membawa Reya keluar dari gudang itu.


**********


Sean membawa Reya ke ruangannya yang di dalam ruangannya ada tempat peristirahatan Sean berupa kamar tidur. Di sana Reya di baringkan dan sudah ada Dokter yang memeriksa Reya. Sementara Sean berdiri di depan pintu dengan penuh kecemasan yang beberapa kali memijat kepalanya yang terasa berat.


Sean beberapa kali melihat ke arah Dokter yang memeriksa Reya. Dia begitu panik dengan keadaan Reya. Apa lagi melihat Reya masih belum sadar.


Tidak lama Dokter selesai memeriksa Reya. Dokter memasukkan semua alatnya ke dalam tasnya. Lalu menghampiri Sean.


" Bagaimana ke adaannya?" tanya Sean dengan suara beratnya.


" Bu Reya hanya kelelahan. Sudah begitu perutnya juga kosong. Kemungkinan dia belum makan sejak pagi," jawab Dokter.


" Belum makan sama sekali!" Pekik Sean begitu terkejut.


" Bisa di katakan seperti itu pak," jawab Dokter. Sean menghela napasnya kasar dan melihat ke arah Reya masih tidak sadarkan diri.


" Setelah Bu Reya bangun, tolong berikan dia makan. Agar bertenaga dan tidak selemas ini dan obatnya sudah saya tinggalkan di atas nakas. Jadi berikan dengan teratur!" perintah Dokter.


" Baiklah. Terimakasih sudah membantunya," ucap Sean.


" Iya pak Sean. Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit. Sean hanya mengangguk dan membiarkan Dokter pergi.


Sean yang masih berada di pintu masih terus ke arah Reya, yang dari wajah Sean sangat kelihatan jika Sean begitu menyesal.


" Apa yang kau lakukan kepadanya Sean," ucap Sean dengan mengusap kasar wajahnya dengan ke-2 tangannya.


Pasti memang kesalahannya. Sean menyuruhnya bekerja dengan suka-sukanya. Bekerja dengan semaunya. Yang padahal pekerjaan itu bukan pekerjaan untuk wanita dan Reya melakukan itu memang untuk mengukur dirinya sampai mana bisa bertahan.


Bahkan Reya yang memang sangat sulit untuk makan, melupakan makannya dan tetap bekerja. Di tambah dengan Sean yang sudah malah mencari masalah dengannya yang akhirnya membuatnya tidak berdaya dan pingsan saat itu juga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2