
Reya berlari dan Sean berhasil mendapatkan tangan Reya dan membuat langkah Reya akhirnya terhenti dan kembali menghadap Sean.
"Kamu mau kemana?" tanya Sean memegang lengan Reya dan Reya langsung melepasnya dari Sean.
"Aku mau pergi. Aku pusing. Aku harus berpikir dengan jernih. Aku tidak bisa Sean seperti ini. Aku ingin sendiri dulu," jawab Reya dengan merendahkan suaranya yang ingin sendiri.
"Reya ada apa lagi? ayo bicara baik-baik. Aku minta maaf jika aku bicara terlalu meninggi kepadamu. Aku tidak bermaksud dan tidak pernah menyalahkanmu. Aku minta maaf jika aku salah kepadamu. Tetapi jangan seperti ini Reya. Kita bicara baik-baik dan mencari solusi sama-sama," ucap Sean yang bicara pelan yang berusaha untuk membujuk Reya.
Reya terdiam dengan memejamkan matanya dan mengatur napasnya yang air matanya menetes yang memang dia menunjukkan wajahnya yang penuh dengan beban dan rasa takut.
"Reya!" lirih Sean memegang tangan Reya.
"Aku tidak tau lagi harus memilih jalan yang mana. Aku mencintaimu dan berusaha untuk mengubur kenyataan yang ada. Tetapi di sisi lain aku merasa perbuatan kita salah. Aku di penuhi rasa bersalah pada papa, aku di penuhi ketakutan Sean," ucap Reya yang menagis mengeluarkan isi hatinya.
"Kita terus sembunyi-sembunyi, takut, ini, itu. Kenapa kita tidak seperti orang normal pada umumnya? kenapa saling mencintai? namun saling sakit, aku tidak mengerti dengan hubungan kita," ucap Reya yang terlihat sangat lelah.
Sean mendekatinya dengan menghela napasnya dan memegang ke-2 tangan Reya dan langsung memeluk Reya untuk menenangkan Reya.
"Aku mengerti perasaanmu, aku juga sama Reya terkadang lelah dengan apa yang kita jalani. Terkadang bertanya. Kenapa harus kita. Kita saling mencintai. Lalu kenapa kita yang menghadapi semua ini. Aku juga bertanya-tanya Reya dan jika di katakan apa menerima semu ini. Aku tidak menerimanya. Tetapi aku hanya ingin kita terus bersama dan aku meyakini takdir yang salah tidak untuk kita dan takdir sesungguhnya sangat merestui kita," ucap Sean yang berbicara lembut dengan memeluk Reya.
"Jangan menangis, kita pulang dan bicarakan baik-baik masalah ini, kita harus tenang," ucap Sean.
Reya tidak menjawab dan tetap menangis di pelukan Reya. Namun ternyata Reya dan Sean yang berpelukan itu tidak di sangka di saksikan oleh Citra yang berada di pinggir jalan.
Tidak tau kenapa Citra ada di sana. Dia melihat kakaknya dan mengejar kakaknya. Namun betapa terkejutnya ketika dia melihat Reya dan membuat langkahnya terhenti.
Dia begitu shock dan apa lagi saat melihat Sean yang memeluk Reya membuat tubuh Citra bergetar, kakinya lemas dan tidak sanggup mengeluarkan suara untuk memanggil kakaknya.
Pasti sangat tidak di duganya. Wanita yang di hindarinya dan diinginkan pergi selama ini. Ternyata ada dan sekarang memeluk kakaknya dan membuat Citra hanya melihat saja.
Citra yang berdiri di pinggir jalan yang hampir memasuki aspal. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sepeda motor yang melaju dengan kencang dan ugal-ugalan.
Tin-tin tin tin tin tin tin tin.
Bunyi klakson sudah terdengar untuk menyuruh Citra minggir namun Citra tidak mendengar dan masih melihat ke arah Reya dan Sean.
Sampai motor itu semakin dekat membuat Citra melihat kearah motor itu dan terkejut melihat motor yang sudah di depannya. Mata Citra melotot dengan wajah terkejutnya.
Hampir saja Citra tertabrak jika tidak sebuah tangan menariknya dan Citra yang dalam shocknya tau-tau sudah berada di pelukan seseorang. Yang mana matanya terpejam dengan wajahnya yang berada di dada bidang yang kekar dengan ke-2 tangan kekar yang memegang ke-2 bahunya.
Hingga beberapa detik perlahan Citra mengangkat kepalanya dan membuka matanya perlahan melihat siapa yang telah menyelamatkannya yang ternyata adalah Reval yang mana Reval yang masih melihat kearah pengendara motor yang melaju kencang dengan napas Reval yang naik turun dan wajah yang penuh dengan ke khawatiran.
Reval pun melihat ke arah Citra dan di mana mana mata mereka saling bertemu, saling berkeliling, saling mengamati satu sama lain dengan Reval yang kesulitan menelan salivanya.
"Kau tidak apa-apa Citra?" tanya Reval yang begitu khawatir pada Citra. Bahkan dari suara Reval terlihat serak.
"Citra!" tegur Reval yang membuat Citra tersentak kaget dan langsung membuyarkan lamunannya. Melepas tangannya dari kemeja Reval yang begitu erat di pegangnya.
"Apa ada yang luka?" tanya Reval. Namun Citra tidak menjawab dan melihat ke arah di mana dia melihat Sean dan Reya berpelukan dan sudah tidak ada. Namun melihat mobil sang kakak yang sudah berjalan.
"Citra apa kau mendengarku?" tanya Reval yang melihat Citra seperti orang linglung.
"Iya pak. Tidak ada yang luka, saya hanya schok," jawab Citra yang memang terlihat pucat.
**********
Citra duduk di salah satu bangku dan wajahnya masih terlihat penuh dengan pemikiran.
"Minumlah!" Reval tiba-tiba datang dan memberikan Citra air mineral.
"Makasih pak," sahut Citra. Reval mengangguk dan langsung duduk di samping Citra.
"Kenapa melamun di jalanan. Kamu tau apa yang terjadi tadi. Kamu hampir celaka," ucap Reval yang memprotes ulah Citra.
__ADS_1
"Kak Sean dan Reya. Jadi selama ini Reya tidak pernah pergi dan bahkan kak Sean bersamanya," batin Citra yang memikirkan Reya dan Sean bahkan tidak mendengarkan kalau dosennya itu sedang menceramahinya.
"Citra kenapa kamu diam. Kamu tidak mendengar saya?" tanya Reval yang terlihat kesal.
"Oh iya maaf pak. Tadi saya, saya hanya banyak pikiran," ucap Citra yang terlihat gugup dan memang tidak bisa konsentrasi.
"Kamu ini kenapa sih. Kamu lain kali jangan seperti itu. Apa jangan-jangan karena hukuman yang saya berikan. Makanya kamu tidak fokus," ucap Reval yang menduga-duga.
"Bisa jadi Pak," sahut Citra. Dia memang tidak mungkin mengatakan karena melihat Reya dan Sean. Reval juga tidak mengetahui siapa orang itu.
"Seharusnya kamu tidak membawa masalah itu ke jalanan. Lihat yang terjadi pada kamu. Kamu hampir celaka," ucap Reval.
"Saya minta maaf Pak, sudah merepotkan bapak. Saya memang kurang hati-hati. Saya berterima kasih, Karena bapak sudah menyelamatkan saya," ucap Citra.
"Hmmm, sebaiknya kamu pulang. Kamu istirahat dan sepertinya masalah kamu bukan hanya masalah nilai saja," ucap Reval yang bisa membaca dari ekspresi wajah Citra.
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan," batin Citra dengan wajah bingungnya.
"Citra masih melamun lagi?" tegur Reval yang melihat Citra melamun terus.
"Oh iya pak, maaf," sahut Citra mengusap wajahnya yang berusaha tenang. Reval hanya geleng-geleng dengan kelakuan Citra yang tetap saja tidak fokus.
***********
Tidak tau kenapa Reval harus mengantarkan Citra pulang. Dia merasa mahasiswi nya itu tidak baik-baik saja dan ada sebaiknya mengantarkannya pulang dari pada nanti Citra kenapa-kenapa lagi dan Reval tidak ingin hal itu terjadi. Mobil Reval sudah berhenti di depan rumah Citra dan Reval melihat ke arah rumah Citra.
"Ini rumah kamu? tanya Reval.
"Iya Pak, terima kasih sudah mengantar saya," ucap Citra dengan gugup yang membuka sabuk pengamannya.
"Masuklah! kamu istirahat. Ingat untuk besok pagi kamu harus menemui saya. Saya akan toleransi pada hukuman kamu. Jika kamu tidak terlambat," ucap Reval.
"Iya pak," jawab Citra mengangguk pelan, "kalau begitu saya permisi dulu. Saya masuk dulu. Sekali lagi terima kasih Pak sudah mengantar saya," ucap Citra. Reval hanya mengangguk dan Citra langsung keluar dari rumahnya.
Anggika yang keluar rumah terlihat ingin pergi dan melihat Citra yang di antar seseorang yang dia tidak tau siapa. Mobil Reval langsung melaju ketika Citra sudah keluar dari mobilnya. Citra menghela napasnya dan menghampiri sang mama yang terlihat penasaran. Namun Reval yang menyetir melihat dari kaca spion melihat Citra yang berhadapan dengan mamanya. Reval hanya melihat tanpa berbicara.
"Dosen Citra mah," jawab Citra.
"Tumben sekali kamu di antar sama Dosen," ucap Anggika.
"Tidak sengaja melewati rumah kita. Jadi dia menawarkan Citra pulang," ucap Citra.
"Begitu rupanya. Kenapa tidak minta jemput kakak kamu?" tanya Anggika. Citra terdiam dan mengingat Sean dan Reya. Hal itu menjadi salah satu kenapa dia di antar Reval yang mana tadi hampir saja tertabrak motor. Karena melamun di pinggir jalan.
"Citra!" tegur Anggika melambai di depan wajah Anggika dan membuat Citra tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa bengong. Kenapa tidak minta jemput sama kakak kamu?" tanya Anggika lagi.
"Kak Sean jam segini pasti sibuk. Jadi Citra tidak mau merepotkannya," jawab Citra.
"Oh begitu rupanya, lalu Barra mana? tanya Anggika mengangguk-angguk saja.
"Barra juga ada kuliah mah," jawab Citra.. Padahal dia tidak tau pacarnya itu di mana.
"Oh begitu rupanya," sahut Anggika.
"Hmmm, mama mau kemana?" tanya Citra.
"Mama mau ke Apartemen kakak kamu," jawab Anggika.
"Untuk apa?" tanya Citra.
"Tidak ada. Hanya ingin melihat saja. Kemarin mama ke sana dan ternyata Sean mengganti kata sandi Apartemen dan mama rasa Sean ada pacar dan tinggal di sana. Jadi mama mau kepo," ucap Anggika tersenyum.
__ADS_1
"Apartemen," batin Citra. Ingatan saat Sean melarangnya untuk ke Apartemen terlintas kembali di mana sepertinya Sean sangat jelas menyembuyikan sesuatu saat itu dan terlihat sangat panik.
"Apa jangan-jangan Reya selama ini tinggal di sana," batin Citra yang menduga-duga.
"Citra!" tegur Anggika yang melihat Citra melamun lagi.
"Ha iya mah," sahut Citra yang begitu gugup.
"Kamu ini kenapa sih dari tadi melamun terus. Kami sakit? tanya Anggika.
"Tidak kok mah, Citra hanya banyak tugas kuliah aja," sahut Citra.
"Ya sudah kamu sebaiknya istirahat, mama pergi dulu!" ucap Anggika.
"Citra ikut mah," sahut Citra.
"Kamu mau ikut?" tanya Anggika. Citra menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah ayo!" sahut Anggika yang tidak masalah. Citra mengangguk dengan menghela napasnya.
**********
Tidak lama akhirnya Citra dan Anggika sampai di gedung Apartemen tersebut dan mereka langsung memasuki lift untuk menuju lantai Apartemen tersebut. Citra terlihat dek-dekan dan juga sangat gugup dengan menautkan kedua tangannya yang sangat dek-dekan.
Anggika sangat santai yang sekarang menekan sandi Apartemen tersebut sesuai dengan apa yang di katakan Sean.
Pintu terbuka silahkan masuk. Suara mesin otomatis yang terdengar khas.
"Ternyata benar sudah ulang tahun pernikahan mama dan papa. Kakak kamu itu walau cuek tetapi sangat sweet," ucap Anggika. Citra hanya mengangguk saja dengan tersenyum tipis.
"Ayo masuk!" ajak Anggika. Citra menganggukkan kepalanya dan akhirnya mereka ber-2 memasuki Apartemen itu.
Citra dan Anggika sama-sama melihat Apartemen tersebut dengan kepala mereka yang berkeliling. Tempatnya tampak rapi.
"Kalau di lihat-lihat seperti tidak pernah di huni," ucap Anggika yang mana mengamati setiap benda yang ada. Seperti tidak pernah di sentuh karena sangat rapi.
Citra juga yang penasaran langsung menaiki anak tangga menuju kamar. Ya dia ingin mengetahui sesuatu. Citra menghela napasnya memasuki kamar tersebut dan sama kamar itu terlihat sangat rapi dan tidak pernah di huni sama sekali.
Citra berjalan dengan perlahan yang langsung membuka lemari tersebut. Hanya ada beberapa pakaian yaitu pakaian Sean dan juga ada miliknya. Karena Citra juga pernah menginap di sana dan tempatnya masih sama seperti dulu. Jadi memang Apartemen itu seperti tidak pernah di huni. Atau seperti pikiran mamanya yang mana Sean menyimpan wanita di sana. Atau Citra yang berpikiran jika selama ini Reya tinggal di Apartemen tersebut.
"Jika tidak tinggal di sini. Lalu di mana dia selama ini," batin Citra yang sangat penasara yang masih berkeliling melihat sekitar kamar. Bahkan sampai ke kamar mandi untuk memeriksa dan tidak ada tanda-tanda jika ada yang pernah tinggal di sana.
Citra menghela napasnya dan melangkah untuk keluar dari kamar itu. Namun tiba-tiba kakinya menendang sesuatu dan terlihat benda kecil yang berguling ke sudut dingding membuat Citra langsung melihat ke arah benda itu dengan wajahnya yang sangat penasaran.
Citra berjongkok mengambil benda kecil itu yang ternyata anting berwarna putih.
"Anting wanita!" lirih Citra yang sangat terkejut yang di pastikan itu milik Reya.
"Apa jangan-jangan ini punya Reya," ucap Citra yang langsung mengambil kesimpulan.
"Citra!" tegur Anggika yang membuat Citra terkejut dan melihat ke belakangnya.
"Eh mama," sahut Citra yang buru-buru berdiri.
"Anting siapa itu?" tanya Anggika yang melihat anting tersebut.
"Oh ini, ini punya Citra," jawab Citra dengan cepat. Namun Anggika terlihat heran, "Citra sudah lama mencarinya. Ternyata tertinggal di sini," ucap Citra dengan tersenyum yang menutupi rasa gugupnya.
"Oh begitu rupanya. Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Anggika.
"Oh iya mah," sahut Citra tersenyum dengan bernapas lega dan langsung mengikuti mamanya.
Anggika hanya memastikan saja siapa yang di Apartemen itu. Anggika sebenarnya mencurigakan sesuatu dan apa lagi saat bertanya pada Sean sangat terlihat begitu gugup dan makanya Anggika ingin memastikan yang ternyata tidak ada apa-apa sama sekali.
__ADS_1
Namun Citra yang menemukan sesuatu dan tidak tau kenapa dia terlihat diam dan tidak memberitahu pada mamanya. Apa lagi saat melihat Reya dan Sean. Biasanya Citra langsung marah dan mengadukan dengan cepat. Namun ini tidak sama sekali.
Bersambung