Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab.


__ADS_3

Mendengar apa yang di katakan Rose membuat semua orang terkejut dan pasti sangat tidak menyangka.


"Dan untung saja ada Pak Reval yang membantuku untuk menghubungi kamu," lanjut Rose yang masih begitu bergetar dengan semua kejadian yang baru saja di alaminya.


"Lalu bagaimana keadaan papa?" tanya Citra dengan panik.


"Masih di tangani Dokter. Lukanya sangat parah, luka tusukan dan juga pukulan di kepala," jawab Rose.


"Ya Allah papa," ucap Citra yang rasanya ingin pingsan mendengarnya. Namun Reya berusaha untuk menenangkan Citra.


"Polisi sudah menangani apa yang terjadi. Dan sepertinya om Argantara di celakai seseorang dan tidak tau siapa orangnya. Aku sudah mengurus semuanya," ucap Reval yang juga sudah bertindak.


"Apa yang terjadi sebenarnya dan apa tidak ada orang di rumah. Kenapa Rose yang menemukan papa dan jika tidak ada Rose. Papa pasti sudah tidak tertolong," ucap Sean.


"Iya Sean kamu benar. Untung Rose datang tepat waktu dan untuk semua teka-teki yang terjadi. Sekarang sedang di atasi polisi semoga pelakunya segera di temukan," ucap Reval.


"Kita tunggu saja bagaimana kondisi papa selanjutnya, semoga papa juga tidak apa-apa," sahut Reya, "Rose kamu juga pasti kaget dengan semua yang terjadi. Jadi kamu tenangkan diri kamu juga," ucap Reya yang memang pasti Rose yang paling kaget. Karena menyaksikan sendiri di depannya.


"Iya Reya. Makasih Reya," sahut Rose dengan berusaha tenang.


***********


Argantara masih berada di ruang ICU dengan kondisi yang kritis dan tadi Dokter juga sudah mengatakan bagaimana keadaannya Argantara yang memang masih kritis. Sementara, Citra, Reya, Reval dan Rose masih menunggu di depan ruang ICU yang pasti sangat berharap Argantara bisa sadar dan menceritakan apa yang terjadi.


"Aku akan ke rumah sebentar untuk melihat ke adaan di sana," ucap Sean yang berdiri dari tempat duduknya.


"Kak Sean yakin?" tanya Reya.


"Aku juga harus tau semuanya Reya. Dan juga tidak adanya orang di rumah, para pekerja di rumah itu suatu hal yang aneh. Aku akan coba kerumah dulu untuk mencari tau semuanya," ucap Sean dengan keputusannya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati. Aku di sini saja menemani Citra," ucap Reya.


"Iya kak Sean, aku akan pantau keadaan papa. Semoga kak Sean juga cepat menemukan pelakunya," ucap Citra.


"Iya semoga saja. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu," ucap Sean yang langsung pergi.

__ADS_1


"Aku sebaiknya menyusul Sean," sahut Reval yang berdiri dari tempat duduknya.


"Ya sudah Reval kamu pergilah," sahut Reya.


"Tapi aku ingin bicara sebentar dengamu," ucap Citra pada Reval.


"Ada apa Citra? apa ada hal yang penting?" tanya Reval.


"Sangat penting dan ini saatnya aku harus bicara padamu," ucap Citra dengan wajahnya yang serius.


"Baiklah kalau begitu. Katakan ada apa?" tanya Reval.


"Ayo bicara berdua!" ajak Citra yang berdiri dari tempat duduknya. Reval mengangguk dan mungkin memang sangat penting sampai tidak boleh ada yang mendengarnya dan Reval dan Citra langsung pergi yang hanya tinggal Reya dan Rose.


"Semoga mereka juga baik-baik aja," batin Reya yang hanya berharap semauanya yang terbaik.


*******


"Ada apa Citra? apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Reval yang dia dan Citra sudah berada di atap gedung dengan Citra berada di depannya yang membelakanginya.


"Apa yang kau katakan Citra? kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Reval yang pasti sangat terkejut dengan apa yang di katakan Citra.


Citra berbalik badan dengan menghadap Reval, "kita tidak bisa bersama," tegas Citra.


"Karena apa? karena kita saudara, kita sedarah, itu yang menjadi alasan kamu. Citra aku sudah mengatakan. Aku tidak pernah menganggap Om Argantara adalah ayah kandungku. Aku tidak ingin mengakuinya. Begitu juga dengan wanita itu. Dia bukan ibuku dan alasannya sudah jelas dan kita berdua sudah sepakat untuk melawan takdir dan kenapa sekarang kamu harus berubah pikiran lagi," ucap Reval.


"Karena aku tidak ingin bersamamu," jawab Citra dengan alasannya yang singkat.


"Apa katamu tidak ingin bersamaku. Alasannya apa? apa kau tidak mencintaiku?" tanya Reval.


"Aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu. Jika saja kau tidak punya niat jahat pada keluargaku, tidak punya dendam dan aku tidak peduli kau salah paham atau tidak. Itu karena kau tidak mencari tahunya. Aku tidak peduli dengan semua yang terjadi itu urusanmu dan bukan aku yang jelas gara-gara niatmu yang mendekati ku membuat semuanya kacau dan aku baru menyadari jika seharusnya aku tidak memberimu kesempatan atau maaf atas perbuatanmu," ucap Citra dengan penuh penegasan dan penekanan dalam setiap kata yang di ucapkannya.


"Apa yang kau katakan Citra," sahut Reval dengan suara beratnya.


"Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Jika aku tidak bisa memaafkanmu dan aku juga tidak ingin menambah masalah dengan menjalin hubungan denganmu dan iya aku tidak peduli kau saudara ku atau tidak. Mau kita adik kakak. Aku juga tidak memaafkan mu dan juga tidak mengakuimu sebagai saudaraku dan bukan berati aku tidak mengakuimu. Lalu kita bisa menjalin hubungan. Tidak ini tidak berkaitan sama sekali dan aku memang sudah memutuskan untuk tidak hubungan apa-apa denganmu dan juga aku tidak ingin membuat kak Sean kepikiran denganku," ucap Citra menegaskan semauanya yang bicara dengan tenang dan semenjak dia bicara, Reval tidak satu katapun mengatakan apa-apa.

__ADS_1


"Aku rasa sudah cukup dengan apa yang aku katakan. Papa adalah ayah kandungmu dan aku tidak bisa melarang mu untuk membantunya, atau ada di sisinya dan terserah kau melakukan apa untuknya. Tetapi hubungan kita sudah tidak ada," ucap Citra dengan penegasan dan Citra membuang napasnya perlahan dan langsung pergi dari hadapan Reval dengan melewati Reval.


"Lalu bagaimana dengan anak yang kau kandung?" tanya Reval membuat langkah Citra berhenti tepat di samping Reval.


"Kau sengaja melakukan semuanya. Dan anggap saja jika aku tidak pernah hamil dan kita bisa melupakan semua ini dan biar aku yang mengurus kandungan ku sendiri," jawab Citra dengan santai dan langsung pergi.


"Citra!" panggil Reval. Namun Citra tidak menghentikan langkahnya dan tetap pergi.


"Citra kau tidak bisa melakukan semua ini. Ini tidak adil Citra. Citra aku tau kesalahanku sangat besar. Tetapi bukan berarti kamu memutuskan hubungan. Citra! Citra!" sekerasnya Reval berbicara. Namun tidak membuat Citra menghentikan langkahnya atau mengubah keputusannya.


Mungkin Citra sudah memikirkan matang-matang bagaimana hubungannya dengan Reval dan ini sudah terjadi dengan kesungguhannya dengan pilihannya yang tidak ingin memperbanyak masalah.


**********


Sementara Sean yang berada di TKP yang kediaman rumah Sean sudah di garis polisi dan sudah banyak polisi yang masih memeriksa tempat itu untuk mencari petunjuk.


"Sepertinya terjadi percekcokan pak Sean," ucap polisi dengan dugaannya.


"Dengan siapa papa cekcok. Apa mungkin dengan mama!" lirih Sean yang tidak bisa menemukan petunjuk apa-apa.


"Kalau masalah itu kami juga tidak tau pak Sean. Kami masih menyelidiki semuanya," jawab Pak polisi.


"Lalu Pak bagaimana dengan pekerja rumah saya. Kenapa kosong dan tidak ada siapa-siapa?" tanya Sean.


"Masalah itu kami juga tidak tau dan masih mencari mereka. Karena sampai sekarang. Tidak ada satupun orang di rumah ini dan pasca kejadian pak Argantara dengan seseorang yang kita belum ketahui. Hanya ada mereka saja dan benar-benar tidak ada orang dan ini sangat membingungkan," ucap Polis tersebut.


"Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut dan pak Sean serahkan semua kepada kami," ucap Polisi.


"Baiklah pak. Kabari saya jika sudah menemukan pelakunya," ucap Sean.


"Itu pasti. Kalau begitu saya lanjut untuk periksa dulu," ucap Polisi. Sean menganggukkan kepalanya dan Polisi itu pun kembali bertugas


Huffffff. Sean mengusap wajahnya dengan kasar dengan napas beratnya yang terhembus, "semoga semua masalah ini cepat selesai,"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2