
Citra benar-benar menunggu kakaknya yang sudah selesai mandi. Reya yang keluar dari kamar mandi menghela napas melihat Citra yang masih aja ada di pinggir ranjang duduk dengan santai sembari bermain ponsel.
"Apa lagi sih Citra?" tanya Reya dengan menghela napas yang mengeringkan rambutnya dengan handuk putih.
"Mata Citra sakit melihat kak Reya dan kak Sean yang seperti itu," ucap Citra.
"Kami tidak apa-apa. Kamu jangan pikir yang aneh-aneh," sahut Reya pasti bohong.
"Jika tidak apa-apa lalu kenapa kakak dan kak Sean seperti orang asing. Diam-diaman. Semua orang juga tau kok kak kalau kakak dan kak Sean itu tidak baik-baik saja. Semuanya bisa melihat dari gesture tubuh kalian," ucap Citra.
Reya tidak menanggapi dan duduk di meja rias yang mulai aktivitas memakai make up. Citra pun semakin mendekatkan yang posisinya sudah di samping kakaknya itu.
"Kak Reya bukannya semalam kakak baik-baik aja dengan kak Sean. Kalian juga pergi makan malam kan?" tanya Citra yang selalu mengorek-ngorek apa yang terjadi.
"Kami tidak jadi makan malam," ucap Reya.
"Why?" tanya Citra.
"Dia sangat menyebalkan dan hanya membuat aku marah, sangat keterlaluan dan begitu jahat," ucap Reya yang ternyata tidak tahan juga jika tidak bercerita kepada adiknya.
"Alasannya?" tanya Citra.
"Aku capek-capek menyiapkan makan siang selama ini. Aku tidak tau ini yang pertama kali atau justru ini sering terjadi," jawab Reya.
"Maksud kak Reya apa? Citra tidak mengerti?" tanya Citra.
"Dia membuang makanan yang aku buat," jawab Reya.
"Serius?" tanya Citra yang tidak percaya. Reya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Itu nggak mungkin kak Reya," sahut Citra tidak percaya.
__ADS_1
"Jika hanya berbicara saja mungkin memang tidak di percaya. Tetapi aku menjadi saksi sendiri. Saat tadi malam aku sampai Perusahaan aku melihat kotak makanan itu di dalam tong sampah dan makannya sama sekali tidak di sentuh," jelas Reya.
"Kak Sean melakukan hal itu?" pekik Citra dengan terkejut.
"Mungkin kamu tidak akan percaya dan iya mana mungkin percaya. Tetapi itu kenyataannya dan yang paling menyedihkannya dia tidak mengakuinya malah terus membantah yang jelas-jelas ada buktinya. Jika dia memberikan alasan kenapa dia melakukan itu mungkin aku masih bisa paham dan memperbaiki apa yang salah. Namun apa. Sama sekali dia tidak pernah mengakuinya dan tetap keras kepala membantah dan bahkan mengatakan aku yang menuduhnya dan seolah-olah aku yang salah," jelas Reya dengan wajah senduhnya dan matanya yang berkaca-kaca.
"Memang terkesan sangat spele Citra. Tapi kamu pasti tau apa rasanya saat istri dengan semangatnya menyiapkan makanan. Tetapi malah di buang begitu saja," ucap Reya.
Citra mendengar cerita Reya sampai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Karena Citra juga bingung antara percaya atau tidak. Tetapi jika Reya sudah bercerita seperti itu dengan bukti yang di katakan Reya pasti semua itu benar. Lalu bagaimana dengan Sean. Bagi Citra sangat tidak mungkin Sean melakukan hal seperti itu.
"Sekarang kamu lihat sendirikan dia pergi begitu saja tanpa peduli dan penyelesaian masalah terhadapku," ucap Reya.
"Kak Reya Citra mengerti perasaan kakak. Tapi kakak harus kendalikan emosi kakak juga. Lihat apa yang terjadi kak. Semuanya seperti ini dan kakak juga sedang hamil besar. Jadi jangan terlalu kepikiran yang nanti terjadi sesuatu pada bayi kakak. Mungkin kak Sean sedang memberi waktu untuk kak Reya lebih tenang. Karena kalau kak terus marah dan kak Sean juga terus pada penegasannya yang ada masalah tidak selesai. Jadi percayalah kak Sean hanya mencari waktu yang tepat saja," jelas Citra.
"Entahlah Citra, aku juga malas memikirkannya dan terserah dia juga mau ngapain," sahut Reya yang terlihat sangat lelah dengan keributannya dan Sean.
"Aku hanya berharap hubungan kak Sean dan Reya baik-baik aja," batin Citra yang pasti juga mengkhawatirkan hubungan kakaknya itu.
*********
Sean yang keluar dari Perusahaan yang menuruni anak tangga di depan Perusahaan di mana langkahnya yang buru-buru saking buru-buru nya Sean menabrak bahu seseorang.
"Auhhhh!" pekik suara seorang wanita dengan heelsnya yang tergelincir dan membuatnya kaget yang hampir jatuh dan Sean dengan sigap menarik tangan wanita itu yang tak lain adalah Renita yang berhasil di selamatkan Sean dan tidak jatuh. Sean hanya menarik tangannya, namun Renita mendekatkan sampai Renita berada di pelukan Sean hingga beberapa detik-detik dan Sean langsung melepaskan pelukan itu.
"Kau!" pekik Sean ketika melihat wanita yang bertabrakan dengannya.
"Sean!" lirih Renita yang mengatur napasnya.
"Ya ampun Sean, makasih ya kamu sudah menyelamatkan ku jika tidak aku bisa terguling di tangga itu," ucap Renita memegang tangan Sean. Namun Sean langsung menjauhkan tangannya yang menghindar dari pegangan itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Lain kali hati-hati berjalan dan jangan sembarangan menyentuh orang lain," ucap Sean dengan ketus.
__ADS_1
"Iya aku minta maaf, sudah tidak sopan kepadamu. Tetapi itu refleks. Karena aku juga panik," ucap Renita.
Sean tidak mengatakan apa-apa lagi dan Sean langsung pergi dari hadapan Renita. Renita membalikkan tubuhnya dengan melihat punggung Sean yang semakin jauh.
"Sangat hangat tubuhnya. Reya kamu sangat beruntung bisa bersama Sean. Merasakan pelukannya yang hangat. Tadinya aku hanya iseng kok aku jadi tambah semangat ya. Dia juga sangat ketus jadi sangat menantang untukku," batin Renita dengan menyunggingkan senyumnya yang melihat kepergian Sean dengan senyuman yang penuh dengan arti.
Renita membalikkan tubuhnya kembali dan memasuki Perusahaan dengan berjalan kembali yang berpapasan dengan Karin. Namun Karin melihat Renita dengan sangat serius saat berselih dengannya yang mana Renita hanya santai saja.
"Siapa sih sebenarnya dia. Kenapa tiap hari ada saja di kantor ini. Apa dia pacar, istri atau simpanan lagi orang-orang di Perusahaan ini," batin Karin yang kepo.
Mungkin ini bukan pertama kali Karin melihat kedatangan Renita di Perusahaannya. Mungkin Sudja yang ke berapa kali. Namun dia juga tidak tau siapa wanita yang selalu berpenampilan seksi itu.
"Arghh masa bodoh, biarin ajalah itu hidupnya sendiri," batin Karin yang melanjutkan jalannya fokus melangkah kedepan.
***********
Sementara Sean berada di dalam mobil yang baru pulang kerja. Yang mana Sean yang sedang menyetir yang sekali-kali memijat kepalanya.
"Aku tidak bisa hanya tinggal diam saja seperti ini aku harus menyelesaikan masalahku dengan Reya. Ini hanya salah paham dan aku harus lebih banyak mengalah demi anak kami," batin Sean yang harus lebih dewasa dalam menghadapi masalahnya dengan Reya.
Di tengah perjalanan Sean melihat ada penjual bunga. Sean meminggirkan mobilnya.
"Dia suka bunga. Siapa tau jika aku membelinya bisa menenangkan batinya," gumam Sean yang keluar dari mobil yang sangat berniat ingin membelikan istrinya bunga.
Sean memilih-milih bunga yang pasti tau yang mana di sukai sang istri. Anggap saja ini sogokan darinya. Karena orang yang berapi-api harus di siram dengan air. Jadi Sean akan melakukan apapun demi istrinya.
Sampai akhirnya Sean mendapatkan bunga yang pas yang sudah dirangkai dengan indah dan Sean melakukan pembayaran dan menerima bunga tersebut.
"Semoga dengan ini kesalah pahaman di antar kita cepat berakhir. Aku sangat mengharapkan hal itu Reya," gumam Sean dengan tersenyum dan kembali kedalam mobil setelah mendapatkan apa yang ingin di belinya.
Sean pun langsung pulang untuk menyelesaikan masalahnya dengan istrinya yang mana mereka masih diam-diaman sampai detik ini dan untuk penyelesaian seperti ini harus ada yang mengalah dan Sean sebagai suami yang memang harus banyak-banyak mengalah demi kebaikan bersama.
__ADS_1
Bersambung