
Citra dan Reya sekarang sekarang berbelanja ke supermarket untuk mencari kebutuhan dapur. Saat suami-suami mereka yang sedang mencari pundi-pundi rezeki mereka pergi berbelanja. Bukannya memang seharunya seperti itu ya ada yang mencari uang dan ada yang menghabiskan dan itu yang terjadi di mana mereka sekarang yang sudah mengambil beberapa ke keperluan dapur.
"Kita ketempat buah dulu yuk!" ajak Reya.
"Baik kak," sahut Citra yang menurut saja dan mereka berdua sama-sama mendorong troli belanjaan untuk mengambil buah yang apa saja yang di butuhkan.
"Harus banyak stok buah. Untuk kak Reya agar janinnya semakin sehat," ucap Citra sembari memasukkan buah-buahan itu ke dalam troli.
"Iya-iya Citra. Citra yang paling sok tau," sahut Reya.
"Isss kak Reya. Ini mamanya bukan sok tau. Tetapi memang iya ini kenyataannya. Memang kak Reya tidak mau apa kandungan kak Reya semakin sehat dan janinnya tumbuh berkembang dengan baik," ucap Citra.
"Mana mungkin tidak ada seorang ibu yang tidak mau hal itu. Kalau begitu terima kasih kamu sudah mengingatkan kakak dan semoga kamu juga cepat nyusulnya," ucap Reya yang tidak lupa mendoakan adiknya itu.
"Issss kak Reya baru juga kemarin di buatnya," sahut Citra keceplosan dengan menutup mulutnya dengan cepat.
Reya geleng-geleng kepala dengan menjewer kuping adiknya itu, "dasar nakal," ucap Reya gemes.
"Isss kak Reya sakit tau, memang Citra anak kecil apa," keluh Citra yang mengusap-usap telinganya.
"Iya deh yang paling dewasa," ejek Reya.
"Issss sudahlah sekarang kita belanja lagi," ucap Citra. Reya mengangguk dan mereka berlanjut berbelanja.
Citra mengambil buah yang lainnya dan saat Reya ingin mengambil buah jambu tiba-tiba ada tangan yang juga ingin mengambil buah jambu tersebut dan sampai membuat tangan Citra dan tangan orang lain itu saling menyatu.
"Oh maaf," ucap Citra yang melepas tangannya dan melihat ke sebelahnya yang ternyata seorang wanita yang saling berebut dengannya.
"Oh tidak apa-apa, ini punya kamu," sahut wanita itu dengan ramah yang memberikan kepada Citra.
"Tidak kok, ini punya kamu kok. Kamu aja yang ambil," sahut Citra yang tidak masalah yang memberikan buah jambu itu pada wanita yang lebih tinggi darinya itu.
"Tetapi hanya tinggal satu lagi," ucap wanita itu. Citra melihat-lihat ke rak yang memang hanya tinggal satu lagi dan tidak ada lagi yang lain.
" Tidak apa-apa aku sudah banyak buah yang lain kok," kawan Citra yang tersenyum dan tidak masalah baginya memberikan pada wanita itu.
"Citra ada apa?" tanya Reya yang menghampiri Citra yang sedang mengobrol.
"Nggak apa-apa kok kak," jawab Citra.
__ADS_1
"Reya!" tiba-tiba wanita yang saling merebut buah jambu itu dengan Citra mengenali Reya dan membuat Reya melihat wanita tersebut.
"Renita," sahut Reya yang sepertinya juga mengenali wanita itu. Citra hanya pelongo-pelongo dengan bergantian melihat wanita yang bernama Renita itu dan juga Reya.
"Kalian saling mengenal?" tanya Citra heran.
"Iya aku mengenalnya, ini Renita teman kuliah kakak dulu," jawab Reya yang kelihatannya tidak menyangka jika bertemu dengan Renita.
"Ya ampun Reya aku tidak percaya bisa bertemu dengan kamu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu dan ternyata kamu ada di Indonesia," ucap Renita yang begitu eksaitit.
"Iya Renita, aku sudah lama tinggal di sini dan kamu baru kembali dari Paris?" tanya Reya.
"Iya benar," jawan Renita.
"Citra ini teman kampus kakak saat di Paris dan Renita ini adikku Citra," ucap Reya dengan memperkenalkan Citra pada Renita.
"Aku baru tau kamu punya adik," sahut Renita.
"Ceritanya panjang nanti kapan-kapan aku ceritakan dan kamu akan lebih kaget lagi jika Citra ini istrinya Reval," ucap Reya.
"Apa!" pekik Renita yang memang benar kata Reya. Renita akan lebih kaget lagi.
"Jadi Reval sudah menikah?" tanya Renita.
"Iya Reval sudah menikah dan ini istrinya, cantik bukan," ucap Reya.
"Iya sangat cantik," sahut Renita tersenyum pada Citra, "senang berkenalan dengan kamu Citra," ucap Renita yang mengulurkan tangannya.
Citra langsung menyambut uluran tangan itu, "aku juga senang berkenalan dengan kamu. Aku tidak percaya kamu teman kakak ku dan sepertinya juga teman suamiku," ucap Citra yang tidak kalah ramahnya.
"Iya kamu benar," sahut Renita dan mereka sudah saling melepas jabatan tangan mereka masing-masing.
"Oh iya ini buah kamu," ucap Renita yang kembali memberikan buah jambu tersebut pada Citra.
"Tidak usah ini untuk kamu saja," tolak Reya.
"Tapi kamu yang duluan," ucap Renita.
"Tidak apa-apa kamu ambil saja," sahut Citra.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu jika kamu memberikan milik kamu kepadaku. Dan semoga lain kali kamu tidak memberikan lagi apa yang kamu dapatkan kepada orang lain," ucap Renita dengan kata-katanya yang tidak dapat di mengerti membuat Citra terdiam dengan wajah datarnya.
"Hanya bercanda," sahut Renita yang tertawa-tawa kecil.
"Citra Renita ini memang di kenal orangnya puitis. Jadi kamu harus maklum," ucap Reya.
"Ohhh, begitu," sahut Citra yang tersenyum tipis saja.
*************
Setelah selesai berbelanja Citra dan Reya sudah pulang dari supermarket dan mereka sekarang berada di dalam mobil yang mana Reya yang menyetir. Meski hamil tetapi Reya tidak masalah jika harus menyetir yang penting dia menyetir sesuai dengan prosedur yang ada.
"Ya tadi itu teman yang seperti apa kak?" tanya Citra tiba-tiba.
"Renita maksud kamu?" tanya Reya.
"Iya," jawan Citra.
"Seperti yang kakak bilang. Dia teman kuliah kakak dan sangat dekat dengan kakak dan juga Reval dan sepertinya kalau kakak mengatakan bertemu Renita di supermarket pasti dia senang sekali atau bahkan tidak percaya," jawab Reya.
"Kalau sampai kesenangan berarti sangat dekat dong. Tidak hanya dengan kak Reya. Tetapi juga dengan kak Reval?" tebak Citra.
"Ya seperti itulah. Karena kita itu teman yang selalu berbagi dan saling mengetahui keburukan masing-masing," jawab Reya.
"Begitu rupanya?" sahut Citra.
"Dan iya Citra kakak tidak percaya jika dia sekarang seorang Dokter kandungan," ucap Reya yang begitu senangnya bertemu dengan sahabatnya itu.
"Itu berarti bagus kak Reya. Kak Reya kan lagi hamil jadi bisa banyak konsultasi dengan-nya," ucap Citra merasa ada untungnya.
"Iya kamu benar sih," sahut Reya yang mengangguk-angguk dan kembali menyetir.
"Lalu dia sekarang tinggal di Jakarta?" tanya Citra.
"Untuk sementara iya. Sampai tugasnya selesai di rumah sakit dan tidak tau kapan selesainya," jawab Reya.
Citra hanya iya-iya saja yang mendengarkan apa yang di katakan kakaknya mengenai sahabatnya itu.
Bersambung
__ADS_1