
"Dia sering datang ke kantor kak Sean?" tanya Citra sekali lagi.
"Iya. Aku juga tidak tau siapa dia dan apa urusannya," jawab Karin.
"Kamu kok nggak tau gitu apa-apa. Kamu itu sekretarisnya kak Sean dan seharusnya kamu tau kenapa dia datang ke Perusahaan kak Sean," ucap Citra.
"Ya ampun Citra. Tidak semua aku tau urusan orang lain. Perusahaan ini besar dan urusan Sean aja begitu banyak. Masa iya harus mengurusi orang lain lagi. Kamu itu aneh," ucap Karin.
"Apa tujuan Renita datang ke Perusahaan ini dan kemarin pun aku melihat Renita. Dia bukan hanya sekali datang tetapi kata Karin bahkan setiap hari," batin Citra dengan penuh tanya.
"Kamu kenapa Citra?" tanya Karin yang melihat Citra malah bengong.
"Hmmm, kira-kira kamu tau tidak ada wanita yang dekat dengan kak Sean belakangan ini?" tanya Citra yang mengorek-ngorek.
Karin tampak berpikir dan mengingat-ingat.
"Siapa yang dekat dengan Sean. Tidak ada. Ya paling hanya klien-klien saja dan itu juga tidak dekat-dekat amat. Ya hanya makan dan meeting-meeting saja. Ya pasti berhubungan dengan pekerjaan. Jadi aku rasa tidak ada yang dekat," jawab Karin yang memang pasti tau apa saja yang di kerjakan Sean. Dia sekretaris Sean yang selalu mengikuti jadwal Sean.
"Lalu kamu tau apa tujuan Renita masuk kedalam ruangan kak Sean?" tanya Citra
"Renita! Renita siapa?" Karin bertanya kembali.
"Ya siapa lagi kalau bukan wanita yang tadi," jawab Citra dengan ketus.
"Oh itu namanya Renita. Aku tidak tau sih apa tujuannya masuk keruangan Sean. Karena aku hanya melihat saat dia keluar dan aku pikir mungkin dia ada keperluan atau apapun itu. Ya aku tidak mengerti pokoknya," jawab Karin.
"Lagian ya Citra. Kalau dia masuk dan aku duduk di sini. Aku pasti tanya. Namun tidak pernah hal itu terjadi dan makanya aku tidak tau dan sangat penasaran," jelas Karin yang apa adanya.
"Kenapa aku merasa ada yang tidak beres ya. Renita yang datang ke Perusahaan kak Sean dan kak Sean apa pernah mengatakan ini pada kak Reya. Karena tidak mungkin kak Sean tidak tau. Jika Renita datang ke ke kantornya. Apa lagi seperti kata Karin dia juga masuk kedalam ruangan kak Sean," batin Citra dengan penuh tanya yang penuh dengan kebingungan dan tidak dapat menyimpulkannya apa-apa.
"Ya ampun Citra malah bengong lagi," sahut Karin yang geleng-geleng dengan Citra.
"Karin aku minta kamu untuk awasi wanita yang tadi dan lapor padaku hal sekecil apapun!" titah Citra dengan wajah seriusnya.
"Untuk?" tanya Karin heran.
"Tidak perlu bertanya untuk apa. Lakukan saja dan ingat kau tidak boleh suka pada kak Sean lagi," tegas Citra.
"Apaan sih Citra orang aku udah bilang. Aku tidak punya perasaan apa-apa lagi pada Sean. Ya dulu aku tergila-gila padanya dan aku juga tau kamu juga dulu mendukungku untuk bersamanya. Tetapi itu dulu. Sekarang dia sudah menikah dan aku benar-benar tidak ada hari lagi kepadanya," tegas Karin.
"Asal benar saja," ucap Citra.
"Emang benar kok," ucap Karin.
"Udahlah pokoknya kau kerjakan apa yang aku katakan. Ikuti gerak-gerik wanita itu dan hati-hati jangan sampai ketahuan," ucap Citra menegaskan.
"Iya-iya," sahut Karin.
__ADS_1
Citra tidak banyak bicara lagi dan Citra langsung pergi dari hadapan Karin.
"Memang ada apa sih. Kenapa ribet amat," gumma Karin dengan menghela napasnya yang mana Karin penuh dengan kebingungan.
*********
Sean dan Citra yang sedang makan siang di kantin Perusahan.
"Kak Sean tidak cerita masalah Renita?" tanya Citra di tengah makannya yang mengungkit Renita.
"Renita! memang ada apa dengan Renita?" tanya Sean heran.
"Hmmm, bukannya dia sering datang ke Perusahaan ini?" tanya Citra.
"Dia punya pasien di Perusahaan ini, Direktur di bagian pemasaran," jawab Sean.
"Bukannya dia Dokter kandungan. Lalu pasiennya hamil. Bukannya setau Citra Direktur pemasaran itu seorang Pria?" tanya Citra yang ingin tau lebih dalamnya.
"Istrinya yang hamil," jawab Sean.
"Lalu istrinya bekerja di sini juga?" tanya Citra.
Sean menghentikan makannya dan melihat serius ke arah Citra.
"Apa yang ingin kamu tanyakan sebenarnya Citra?"
"Atau kamu juga seperti Reya yang menuduh kakak yang tidak-tidak?
"Bukan begitu kak Sean," sahut Citra yang juga takut jika Sean salah paham.
"Lalu apa? Pertanyaan kamu sangat menjurus dan bahkan membawa-bawa nama Renita,"
"Citra kakak tidak tau banyak masalah Renita apa dan untuk apa dia di sini. Yang kakak tau dia sedang menangani pasien dan kakak tau bukan karena ingin tau atau bertanya. Tetapi Direktur sendiri yang mengatakannya dan setelah itu kakak tidak tau dan juga tidak mau tau," jelas Sean.
Mungkin penjelasan itu yang sebenarnya yang ingin di dengarkan Citra.
"Lalu kenapa dia sering ke ruangan kak Sean?" tanya Citra.
Ekspresi Sean terlihat bingung dengan ke-2 alisnya yang saling bertautan.
"Maksud kamu?" tanya Sean dengan wajah bingungnya.
"Kakak tidak tau hal itu?" tanya Citra.
"Citra Renita pernah datang keruangan kakak dan itu hanya sekali dan tidak sendiri," jawab Sean apa adanya.
"Tapi Karin bilang datang berkali-kali," jawab Citra.
__ADS_1
"Karin!" sahut Sean. Citra menganggukkan kepalanya.
"Karin bahkan tidak pernah ada di tempatnya saat dia masuk dan justru saat Renita keluar baru Karin muncul dan itu juga membuat Karin bingung," jelas Citra yang sesuai apa yang di dengarnya dari Karin.
Sean mendengar hal itu tampak berpikir sangat keras.
"Jadi kak Sean tidak mengetahui hal itu?" tangan Citra.
"Aku justru bingung," jawab Sean.
"Aku juga lebih bingung," sahut Citra.
"Kak Sean. Citra hanya meminta kakak tidak mengabaikan hal kecil, mungkin kakak menganggap hal itu biasa dan tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi kita tidak ada yang tau hal kecil bisa menjadi besar. Karena kurang waspadanya kita. Jadi Citra hanya ingin kak Sean bisa lebih hati-hati," ucap Citra yang memberikan saran pada kakaknya itu karena perasaan nya yang tidak enak.
Sean hanya diam yang terlihat berpikir dengan wajahnya yang juga bingung dan tidak tau harus mengatakan apa.
***********
Reya yang berdiri di depan jendela yang melihat ke luar jendela menatap langit yang di terangi bukan dan bintang-bintang yang indah.
Dengan tangannya yang mengelus-elus perut buncitnya. Air matanya yang jatuh dengan beberapa kali dan beberapa kali juga tangannya menyekanya.
Reya merasa sakit hati dengan apa yang terjadi. Merasa sean sudah tidak mencintainya dan bertubi-tubi datang hal yang menyakitkannya membuat Reya sampai detik ini hanya terus berurain air mata.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka dan ternyata Citra yang masuk kedalam kamar dan melihat sang kakak yang sangat murung. Citra menghela napasnya dan melangkah memasuki kamar yang berhenti di pinggir ranjang yang berjarak 5 meter dari Reya.
"Kak Reya kenapa belum makan?" tanya Citra yang melihat di atas nakas masih utuh makanan yang tadi di suruhnya bibi untuk mengantarkannya.
"Tidak apa-apa Citra. Kakak belum lapar," jawan Reya.
"Kakak yang belum lapar. Lalu bagaimana dengan bayi kakak. Apa kakak tidak tau jika dia pasti kelaparan," ucap Citra yang mengingatkan Reya.
"Kamu keluarlah Citra! Kakak mau sendiri!" usir Reya dengan halus.
"Kak!" sahut Citra.
"Kakak mohon Citra," ucap Reya.
"Baiklah.Tetapi Citra juga mohon pada kakak untuk kakak makan. Ingat ada bayi di dalam kandungan kakak," ucap Citra yang mengingatkan Reya dan tidak ada jawaban dari Reya.
Citra menghela napasnya dan meninggalkan kamar itu. Namun saat ingin pergi matanya yang melihat ke atas ranjang melihat ponsel yang layarnya hidup yang memperlihatkan foto Sean dan wanita yang hanya punggungnya itu yang kelihatan yang sedang berpelukan.
Melihat hal itu membuat Citra kaget dengan matanya yang melotot.
"Jadi foto ini yang di ceritakan kak Sean," batin Citra.
__ADS_1
Bersambung