
Citra dan Reval melanjutkan makan malam mereka yang terlihat seperti orang pacaran. Makan dengan santai sambil mengobrol sedikit. Walau obrolan yang membuka adalah Citra. Karena Reval orangnya memang sangat cuek dan kalau tidak di pancing ngobrol maka akan diam terus.
"Hmmm, kak Reval, aku ke toilet sebentar ya," ucap Citra.
"Ya sudah!" sahut Reval. Citra tersenyum dan akhirnya ke toilet. Reval menghela napasnya dan melanjutkan makannya.
Sementara di meja Reya dan juga Sean. Sean hanya tinggal sendirian yang tidak tau di mana Reya.
Dratt-dratt-Dratttt.
Ponsel Reya yang di tinggalkan di meja tiba-tiba berdering dan Sean melihat panggilan itu dari Erina. Mama Reya.
"Lama sekali Reya dari toilet. Tante Erina menelpon. Jika tidak di angkat. Nanti dia marah lagi dan aku tidak mungkin mengangkat telponnya. Dia pasti heran," gumam Sean yang kebingungan.
Reya ternyata pamit ke toilet dan Erina menelpon membuat Sean bingung sendiri harus melakukan apa, "sebaiknya aku susul saja," ucap Sean mengambil keputusan dan langsung berdiri untuk menyusul Reya di toilet.
***********
Citra masuki toilet wanita yang mana Citra langsung masuk ke dalam salah satu WC dan Reya yang keluar dari WC. Reya tidak langsung keluar dari toilet. Dia merapi-rapikan sebentar rambutnya di depan cermin. Memperbaiki make-upnya. Setelah merasa cukup Reya akhirnya keluar dari toilet dan langsung bertemu dengan Sean yang ternyata menunggunya di depan kamar mandi wanita.
"Sean!" lirih Reya sedikit terkejut, "kamu ngapain di sini?" tanya Reya heran.
"Kamu lama sekali dari toiletnya, Tante Erina menelpon dan aku tidak mungkin mengangkatnya," ucap Sean.
"Oh iya benarkah!" sahut Reya jadi panik dan langsung mengambil handphonenya dari Sean.
"Bagaimana ini sudah mati? Apa aku telpon lagi?" tanya Reya yang terlihat khawatir
" Telpon saja. Siapa tau sangat penting," ucap Sean memberi saran.
Reya mengangguk dan langsung menelpon Erina.
"Hallo mah," ucap Reya yang mana panggilan itu sudah tersambung.
"Kamu itu dari mana aja. Lama sekali kamu mengangkat telponnya. Kamu sengaja iya," ucap Erina yang marah-marah di sana.
"Bukan begitu mah, tadi Reya ke toilet," sahut Reya yang memberikan alasannya.
__ADS_1
"Alasan aja kamu pakai ke toilet segala. Alah sudahlah kamu itu nggak ada benarnya. Mama cuma mengingatkan kamu. Jangan pernah kembali ke Paris. Jangan membuat mama kesal. Kamu di sana saja. Karena kamu punya hak untuk tinggal di sana," tegas Erina yang marah-marah dan langsung mematikan panggilan itu secara sepihak.
"Mah!" panggil Reya dengan menghela napas beratnya.
"Ada apa Reya?" tanya Sean memegang lengan bahu Reya.
"Mama menelpon, bukannya menayakan kabarku, malah marah-marah, dia hanya menyuruhku untuk tetap tinggal di Jakarta. Seakan mama tidak membutuhkanku lagi. Yang seharunya mengatakan merindukan ku dan menyuruhku pulang. Tetapi malah sebaliknya. Seolah aku ini anak yang tidak di inginkan," ucap Reya dengan wajah sendunya yang sangat kecewa dengan mamanya.
Sean menghela napasnya dan langsung memeluk Reya untuk menenangkan Reya.
"Kamu jangan di ambil hati apa yang di katakan Tante Erina. Kamu juga tidak perlu pulang. Karena aku ingin kamu tetap di sini dan iya jangan merasa sendirian. Karena aku akan terus ada di sisi kamu," ucap Sean yang menenagkan Reya. Karena perasaan Reya yang memang sedang tidak baik-baik saja.
"Makasih Sean. Kamu selalu membuatku tenang," ucap Reya melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Sean.
Sean tersenyum, "jangan sedih lagi," ucap Sean menatap intens wajah Reya.
Cup.
Reya langsung mencium pipi Sean, membuat Sean tersenyum mendapat kecupan manis itu.
"Aku mana mungkin sedih dengan kamu yang terus di sisiku," sahut Reya memegang pipi Sean sembari mengusap-usapnya dengan lembut.
Ceklek. Pintu toilet terbuka.
Deg
Betapa terkejutnya Citra yang keluar dari toilet dan langsung menyaksikan Reya dan Sean berada di depan matanya yang berciuman yang membuat Citra schck dengan matanya melotot.
"Kan Sean!" tegur Citra dengan suara pelan membuat Sean dan Reya melepas tautan bibir mereka dan melihat ke arah yang memanggil.
Lebih terkejut lagi saat melihat ekspresi Reya dan juga Sean saat melihat Citra. Jantung berdetak tidak normal 10 kali lipat lebih kencang dari biasanya, seperti orang yang lari-lari mengelilingi Monas sehingga napas juga tidak beraturan dengan mata mereka berdua yang terbuka lebar sampai bola matanya ingin jatuh yang melihat Citra menatap pasangan itu.
"Citra!" lirih Sean dan Reya secara bersamaan.
Citra tidak tau harus mengatakan apa lagi. Kaget sebenarnya tidak terlalu kaget. Karena sebelumnya dia pernah melihat Reya dan bahkan Citra sudah menyimpulkan bahwa Reya selama ini di sembunyikan kakaknya. Namun ini pertama kali tepat di depan matanya dan dia tidak tau harus mengatakan apa.
"Citra!" lirih Sean yang mendekati Citra dengan memegang lengan Citra.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Citra, "apa semua ini? kenapa kakak dan dia?" Citra bingung?" tanya Citra dengan perasaannya yang campur aduk dan Reya sendiri yang sangat cemas. Bahkan tidak tenang yang akhirnya dia ketahuan dan Citra menangkap mereka yang sedang berciuman dan pasti masalahnya semakin besar.
"Kita pulang! kakak akan jelaskan pada kamu. Kamu tenang dan semua ini bukan salah Reya. Jangan mencoba melakukan sesuatu padanya. Kakak akan jelaskan semuanya," ucap Sean dengan lembut berusaha untuk menangkan Citra.
Dia tidak ingin Citra murka dan akhirnya mencelakakai Reya. Karena sebelum-sebelumnya Citra sangat tidak menyukai Reya dan sering bertindak bodoh pada Reya.
Citra menghela napasnya dengan kasar dan langsung melepas tangannya dari kakaknya.
"Citra buruh waktu!" ucap Citra yang langsung pergi dari hadapan Sean dan juga Reya dan saat melewati Reya Citra melihat Reya menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
"Citra tunggu!" panggil Sean. Namun Citra tidak mendengarkannya dan langsung pergi begitu saja.
Sean dan Reya semakin panik. Pasti banyak ketakutan di antara pasangan itu. Karena hubungan mereka yang akhirnya di ketahui Citra.
Sean mengusap kasar wajahnya dengan menghembuskan napasnya dengan perlahan kedepan. Lalu melihat ke arah Reya yang mana Reya berdiri yang juga sangat panik. Sean langsung memeluk Reya yang pasti untuk menenagkan Reya.
"Jangan khawatir Reya semuanya akan baik-baik saja," ucap Sean.
"Mungkin ini sudah waktunya Sean untuk semua orang harus mengetahui ini dan aku sudah mempersiapkan mental," ucap Reya dengan yang sekarang harus menyiapkan dirinya dengan segala resiko yang akan di dapatkannya nanti.
"Jangan khawatir Reya semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan takut. Kita akan menghadapi semuanya dan pasti akan selalu bersama," ucap Sean.
********
Citra kembali kemejanya dengan raut wajahnya yang berbeda dan membuat Reval yang sangat peka terhadap perubahan Citra.
"Ada apa Citra?" tanya Reval.
"Kita pulang saja kak!" sahut Citra yang terlihat bingung dan sudah tidak fokus yang membuat Reval semakin heran dengan Citra yang pasti ada sesuatu.
Citra memanggil pelayan untuk melakukan pembayaran dan pelayan langsung menghampiri meja Citra dan juga Reval. Saat Citra mengambil dompetnya untuk mengambil kartu atm-nya. Tangannya begitu bergetar dan Reval sangat memperhatikan hal itu yang pasti seperti ada sesuatu yang aneh dari Citra.
Reval langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghentikan Citra yang begitu gugup.
"Biar saya yang bayar," ucap Reval mengambil alih. Karena tidak bisa melihat Citra yang kebingungan.
"Tapi kak," sahut Citra merasa tidak enak. Reval tersenyum dan langsung mengambil alih melakukan pembayaran. Setelah semuanya selesai Reval memegang bahu Citra.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, kamu sepertinya mengalami sesuatu, kamu sangat panik dan tidak tenang. Jadi ayo kita pulang. Kamu harus tenangkan diri kamu," ucap Reval dengan lembut yang membuat Citra mengangguk.
Bersambung