
Citra dan Reval masih berada di dalam gubuk tersebut.
"Kamu tidak menghubungi keluargamu?" tanya Reval.
"Tadi sudah kak. Aku bilang sama hujan deras. Jadi belum bisa pulang," jawab Citra.
"Maaf ya Citra gara-gara jalan bersama saya kamu jadi terjebak hujan seperti ini," ucap Reval yang merasa tidak enak.
"Apa yang kak Reval bicarakan. Jelas-jelas ini salah saya. Kan saya yang mengajak kakak. Jadi apa yang terjadi bukan kesalahan kak Reval. Justru saya yang merasa tidak enak," ucap Citra.
"Kalau begitu kita berdua tidak ada yang salah," ucap Reval. Citra mengangguk dengan tersenyum.
"Citra kamu tadi kenapa?" tanya Reval yang memang sampai sekarang tidak tau apa yang terjadi pada Citra dan itu membuatnya khawatir.
Citra melihat ke arah Reval kembali dan menatap mata Reval yang terlihat begitu khawatir padanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Reval dengan suara lembutnya, "tadi saat kita pergi makan. Kamu terlihat ceria, sangat semangat. Tetapi kenapa sekarang kamu terlihat berbeda. Kamu lebih banyak diam dan tadi di mobil kamu terlihat begitu murung. Apa yang terjadi. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Reval yang sangat peduli kepada Citra.
"Apa kak Reval memperhatikan saya?"sahut Citra yang kembali bertanya.
"Maksud kamu?" tanya Reval heran.
"Kak Reval seakan tau apa yang aku alami dan sekarang bertanya seakan khawatir kepadaku. Jika kak Reval bertanya. Itu artinya kak Reval sejak tadi memperhatikan ku," ucap Citra.
"Kamu bersamaku sejak tadi dan jika saya bertanya dan tau perubahan sikap kamu itu bukan hal yang aneh kan?" sahut Reval.
__ADS_1
"Iya itu wajar kok. Karena kak Reval orang yang sangat peka," sahut Citra.
"Jadi bagaimana. Apa kamu mau menceritakan apa yang terjadi?" tanya Reval yang sepertinya sangat ingin tau.
Citra mengalihkan pandangannya ke arah alih dan tidak melihat Reval lagi.
"Aku bingung harus bersikap seperti apa selanjutnya. Sebenarnya aku sudah tau jika dia kembali dan aku hanya berusaha untuk pura-pura tidak tau agar keadaan ini aku tidak merasakannya," ucap Citra membuat Reval heran.
"Maksud kamu?" tanya Reval tidak mengerti dengan apa yang di katakan Citra.
"Kak Reval. Aku tidak bisa menerima saudara tiriku," ucap Citra melihat kearah Reval. Reval hanya melihat Citra dengan penuh tanya.
"Aku mempunya saudara tiri dari wanita yang merusak rumah tangga mama dan papa dan semua itu di sembunyikan selama bertahun-tahun. Sampai aku 17 tahun akhirnya mengetahuinya dan aku tidak bisa menerima dirinya. Aku mencoba berdamai dengan keadaan dan melupakan semuanya. Asal papa tetap jadi milikku. Asal dan mama tetap bersamaku. Maka aku akan melupakan kesalahan papa," ucap Citra yang sangat tenang bercerita pada Reval.
"Namun papa kembali mengambil keputusan yang pasti dia tau aku tidak mungkin setuju. Di mana dia mendatangkan saudara tiriku ke dalam rumah kami. Aku selalu ingin menjadi lebih di atasnya. Aku ingin papa membencinya dan melakukan banyak hal yang akhirnya dia harus pergi. Aku juga ingin kak Sean berpihak padaku. Karena kamu berdua adalah korban.
"Hubungan tidak wajar seperti apa?" tanya Reval.
"Sebelumnya aku pernah melihat mereka berpelukan mesra dan saat itu aku sudah merasa kak Sean menghiyanati ku. Namun aku diam karena tidak ingin mendengar lebih lanjut lagi dari kak Sean. Sampai akhirnya kau melihat hal itu lagi dan semakin membuatku yakin kak Sean dan dia ada hubungan special dan aku masih tetap berusaha untuk menutup mata dan pura-pura tidak tau. Tetapi siapa sangka di depan mataku dan mereka melihatku. Bagaimana aku menyaksikan kenyataan itu," ucap Citra.
"Apa yang kamu maksud kakakmu bermain perasaan dengan saudara tirimu," sahut Reval dengan mudah menarik kesimpulan dari cerita Citra.
"Benar. Karena sebelum rahasia besar itu terungkap mereka sudah ada hubungan. Karena mereka awalnya tidak saling tau dan mereka berpisah selama 5 tahun dan kembali merajut kasih tanpa ada yang tau," jawab Citra.
"Kak Reval aku bingung harus bicara seperti apa nanti pada kak Sean. Jika kak Sean menjelaskan semuanya. Aku tidak tau harus menanggapi seperti apa dan bersikap seperti apa," ucap Citra dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Hubungan persaudaraan yang sedarah memang tidak masuk akal. Tetapi cinta tidak pernah salah dan takdir yang tidak tepat untuk kakakmu dan juga saudara tirimu. Sekarang saya hanya ingin bertanya pada kamu. Apa kamu masih membenci saudara tirimu?" tanya Reval.
"Masalah benci dan tidak benci. Aku tidak tau. Tetapi sekarang sangat berbeda dengan dulu. Jika dulu melihatnya, mendengar namanya sudah membuatku murka. Namun sekarang tidak seperti itu yang aku rasakan," ucap Citra.
"Itu artinya kamu mulai menerimanya," ucap Reval.
"Jika aku menerimanya. Apa aku juga akan menerima hubungan yang salah itu. Karena tanpa di beritahu kak Sean. Aku sudah tau mereka pasti memiliki hubungan yang aku pikirkan," ucap Citra.
"Citra masalah hubungan. Biarkan mereka yang menyelesaikannya. Jika mereka tau salah makan mereka akan merasa itu salah dan akan bertindak. Namun kamu tidak perlu harus turut campur, atau mendukung. Sekarang kamu hanya memantapkan hati kamu untuk melupakan masa lalu dan menerima dirinya. Karena yang saya dengar dari cerita kamu. Dan saya bisa menarik kesimpulan. Bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan kamu, kakak kamu dan juga saudara tiri kamu. Jadi alangkah baiknya kamu berdamai dengan masa lalu," ucap Reval memberi saran dan masukan pada Citra.
Citra tidak menanggapi apa-apa dia hanya diam yang seakan merenungi saran dari Reval.
Reval tiba-tiba meraih tangan Citra dan menggenggamnya dengan erat. Yang membuat Citra semakin berdetak kencang dengan mata mereka yang saling menatap dan sangat dalam tatapan itu.
"Kamu wanita yang baik. Saya tau itu. Dari semua masala yang kamu hadapi dengan sahabat kamu dan tadi kamu meminta tolong pada saya untuk Barra agar tidak mempermalukan Regina. Semua itu sudah menjelaskan jika kamu sangat baik. Jadi tetaplah menjadi wanita baik," ucap Reval dengan lembut bicara pada Citra.
"Saya percaya kamu bisa menghadapi semuanya dan iya semua yang sudah terjadi adalah kehendak dan takdir. Kamu tidak akan rugi Citra jika bisa menerima semua ini," lanjut Reval.
"Kamu mengerti kan dengan apa yang saya katakan?" tanya Reval.
Citra hanya menganggukkan kepalanya..Entah mengapa dia merasa lega saat bercerita pada Reval dan sekarang Citra merasa sangat tenang. Reval tersenyum pada Citra dan Reval mengusap pucuk kepala Citra membuat Citra terkejut.
Hal itu sangat manis dan itu biasanya di lakukan seorang yang saling menyayangi. Usapan pada rambutnya benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi dan terlihat salah tingkah dengan malu-malu yang terlihat dari pipinya yang memerah.
Jika tidak ada Reval banyak kemungkinan Citra akan melompat-lompat. Tidak di sangkanya. Pria seperti Reval sangat menenangkan dirinya dan membuatnya sangat nyaman dan penuh dengan ketenangan.
__ADS_1
Bersambung.