Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 64 Tiba-tiba canggung.


__ADS_3

Reya dan Sean sudah sampai Apartemen kembali dan mereka berdua kompak menyusun semua barang-barang yang mereka belanjakan kedalam tempatnya.


"Kamu tidak kekantor?" tanya Reya sembari menyusun buah kedalam kulkas yang melihat Sean terus bersamanya. Jadi wajar Reya mempertanyakannya.


"Aku tidak terlau banyak pekerjaan dan Karin masih bisa mengatasinya dan lagian papa menyuruhku untuk mengurus kebutuhanmu dulu baru bisa pergi," jawab Sean.


"Tetapi aku sudah bisa mengatasi semuanya. Jadi tidak apa-apa. Kalau kamu mau meninggalkanku," ucap Reya.


"Ini juga tidak banyak lagi. Jadi jangan khawatir Reya, aku akan membantumu sebisa ku," sahut Sean.


"Kalau begitu maaf sudah merepotkanmu," ucap Reya merasa tidak enak.


"Jangan berlebihan. Aku hanya di suruh papa," sahut Sean.


"Oh iya kalau begitu apa papa tidak akan datang melihatku?" tanya Reya.


"Dia pasti datang. Hanya tinggal mengatur waktu saja," sahut sean.


Reya mengangguk dan sekarang menyusun beberapa alat-alat saos yang tempatnya tepat berada di samping Sean yang juga Sean menyusun beberapa barang-barang di sana.


Saat Reya ingin mengambil salah satu botol saos tangan Sean juga mengambil barang yang sama dan membuat mereka saling melihat dengan jarak yang begitu dekat dengan mata mereka yang saling bertemu hingga beberapa detik kemudian dan akhirnya saling melepas dengan rasa canggung yang ada di antara keduanya membuat Reya jadi grogi.


Reya pun memilih untuk mencari pekerjaan lain untuk menghindari kedekatan dengan Sean. Karena jantungnya tidak aman. Jika harus dekat-dekat dengan Sean.


Namun Sean hanya mengukir senyum tipis di wajahnya dan melihat kebelakangnya yang mana Reya juga melihatnya. Namun Reya buru-buru membalikkan tubuhnya. Agar tidak terl


Karena dia tidak mau jika Sean berpikiran kalau Reya sengaja curi-curi pandang dengannya. Melihat Reya yang salah tingkah membuat Sean menyunggingkan senyumnya.


"Reya kamu apa-apaan sih. Masa iya kamu melihatnya terus. Kamu jangan menjadi orang bodoh Reya di depannya, dia bisa berpikiran yang aneh-aneh nantinya,"batin Reya dengan rasa kegugupannya yang benar-benar salah tingkah dengan Sean


Tidak pernah dia merasakan hal seperti ini. Di mana perasaannya yang semakin aneh dengan Sean. Bahkan sangat gugup dan sering salah tingkah.


"Kamu itu aneh Reya. Tetapi aku menyukai kamu yang sekarang. Kamu jauh lebih tenang dan tidak marah-marah seperti biasanya. Aku berharap sikap kamu seperti ini terus," batin Sean dengan penuh harapannya kepada Reya.

__ADS_1


***********


Akhirnya semua barang-barang yang mereka berbelanjakan tadi akhirnya selesai juga. Sean duduk di sofa yang terlihat fokus pada handphonnya dan Reya tiba-tiba datang dengan membawakan sepiring potongan buah.


"Aku memotongkan buah untukmu," ucap Reya meletakkan di atas meja tepat di depan Sean.


"Terima kasih Reya," ucap Sean. Reya mengangguk-angguk dengan tertunduk yang tiba-tiba saja suka malu-malu di depan Sean.


"Hmmmm kamu belum pulang?" tanya Reya tiba-tiba.


"Kamu mengusirku!"Sean kembali bertanya.


"Bu-bukan seperti itu. Aku-aku hanya bertanya saja dan kalau belum mau pulang aku akan menyiapkan makan siang. Ya sebaiknya kamu makan siang di sini saja," ucap Reya dengan gugup.


"Jadi kesimpulan sebenarnya kamu ingin mengajakku makan siang," sahut Sean dengan menaikkan 1 alisnya melihat Reya yang begitu gugup.


"Bukan begitu. Kalau kamu belum pulang. Apa salahnya. Lagian kamu sudah menemaniku tadi berbelanja, kemarin membuatkanku makan malam dan membawakan ku sarapan pagi. Jadi aku ingin membuatkan makan siang. Jika kamu tidak keberatan," ucap Reya yang berbicara terbata-bata yang masih malu-malu.


Reya tersenyum mendengarnya. Seolah begitu bahagia dengan tawarannya yang di terima Sean "aku akan membuatnya sekarang. Tunggulah," sahut Reya dengan semangatnya dan langsung pergi buru-buru kedapur.


Sean mendengus dengan geleng-geleng kepala. Namun bibirnya melengkung dengan senyuman yang indah.


"Ada apa dengannya. Kenapa dia begitu aneh sekali, sekarang dia banyak bicara," gumam Sean yang tidak percaya jika


Reya sekarang orangnya jauh lebih tenang. Reya tidak seperti biasanya sangat menghindari Sean.Tetapi sekarang Reya sangat terbuka dan sepertinya hatinya mulai luluh dengan Sean yang memang begitu tulus kepadanya.


Ya orang seperti Reya harus di biarkan mengalir dengan caranya sendiri. Tanpa adanya desakan perasaan. Karena dengan seperti itu Reya bisa memahami sendiri perasaannya seperti apa.


***********


Citra, Rose dan Regina juga beberapa teman-teman mereka sedang duduk di taman dengan di gelar tikar di atas rumput dan mereka terlihat makan-makan sembari banyak buku-buku di sekitar mereka. Di sana ada juga Barra yang sepertinya mereka sedang melakukan tugas kelompok.


"Kenapa aku jadi memikirkan Reya terus. Benar tidak sih dengan yang aku lihat tadi. Tetapikan tidak mungkin. Karena Reya itu ada di Paris,"batin Rose yang masih terus memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Rose aku minta keripik kentangnya!" pinta Citra mengadahkan tangannya. Namun Rose yang makan terlihat melamun tidak tau mendengarkan Citra atau tidak.


"Rose!" tegur Citra dengan suaranya yang sedikit keras kan, sehingga membuat Rose tersentak kaget.


"Ha, iya kenapa?" tanya Rose yang terlihat kebingungan sendiri.


"Citra meminta keripik kentang," sahut Barra yang mendengarnya permintaan Citra dan juga Barra melihat Rose yang kebingungan.


"Kamu kenapa sih melamun terus," pekik Citra dengan kesal.


"Oh, Sorry-sorry, ini," sahut Rose yang kegugupan dan menggoyang-goyangkan kepalanya yang membuyarkan lamunannya.


"Lagi mikirin apa sih. Kenapa coba nggak fokus?" tanya Citra heran yang sudah memakan apa yang di mintanya pada Rose.


"Memikirkan Reya," celetuk Rose membuat Citra kaget. Bukan hanya Citra Barra juga.


Rose menyadari pembicaraannya dengan menelan salivanya yang sudah keceplosan yang bicara sembarangan.


"Apa yang kau katakan?" tanya Citra kalau sudah mendengar nama itu membuatnya naik darah.


"Memang Reya kenapa?" tanya Barra dan langsung di tatap horor Citra yang mana Citra pasti emosian dengan pacarnya harus menayakan nama itu.


"Bukan begitu sayang. Dia tiba-tiba membahas Reya. Aku hanya spontan saja," sahut Barra yang rada takut dengan Citra yang akan marah dan mereka bisa perang lagi.


"Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya salah sebut saja. Kalian jangan bertengkar. Lagian dia tidak ada di sini. Jadi sudah jangan membahasnya. Aku hanya salah bicara," sahut Rose yang dengan cepat meralat kata-katanya. Karena melihat wajah Citra yang mulai masam dan apalagi mau perang dengan Barra.


"Makanya jangan membahasnya yang tidak ada di sini," sahut Citra ketus dan kembali makan. Walau moodnya sudah mulai rusak.


"Iya Citra aku hanya salah bicara saja," sahut Rose.


"Ya sudah ayo kita kerjakan kembali jangan membahas yang tidak ada wanita itu sudah pergi dari kehidupanku," ucap Citra dengan penuh penekanan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2