
" Citra kamu itu dari mana aja sih, kenapa menghilang tiba-tiba. Kamu tidak pikir apa. Kalau aki itu sangat takut," ucap Rose dengan khawatirnya yang sekarang sudah melepas pelukannya dari Citra.
"Maafkan aku Rose. Kamu jangan takut lagi. Kau sudah tidak apa-apa dan sekarang sudah ada di hadapan kamu," ucap Citra.
"Lalu kamu dari mana, kenapa bisa pergi tiba-tiba? apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rose yang begitu khawatir pada Citra.
"Nanti aku ceritakan kepada kamu," jawab Citra yang memang harus jujur pada Rose dengan apa yang di dalamnya.
"Baiklah kalau begitu dan pak Reval. Apa pak Reval yang menemukan kamu?" tanya Rose.
"Iya kak Reval yang menolongku," jawab Citra.
"Syukurlah kamu juga tidak apa-apa. Aku sampai takut. Karena saat anak-anak pulang tanpa kamu aku benar-benar takut," ucap Rose yang sudah merasa lega.
"Jangan mengkhawatirkanku, aku benar-benar baik-baik saja," ucap Citra. Rose mengangguk dan kembali memeluk Citra.
"Ya sudah ayo kita ke tenda. Kita harus pulang juga!" ucap Rose.
"Pulang jari ini. Bukannya seharunya besok?" tanya Reval yang juga tidak tau masalah itu.
"Seharusnya iya kak Reval. Tetapi Dosen yang lain bilang tempat ini tidak aman dan bahkan Barra dan 2 temannya juga sudah pulang tadi dan tidak tau apa yang terjadi. Mereka babak belur dan hanya mengatakan ada yang memukul mereka dan meminta izin untuk pulang terlebih dahulu dan makanya Dosen juga memutuskan untuk pulang sebelum banyak yang terjadi lagi," jelas Rose. Citra dan Sean saling melihat yang pasti mereka tau apa yang terjadi pada Barra.
"Ya sudah ayo Citra kita langsung ke tenda!" ajak Rose. Citra melihat Reval dan Reval mengangguk seakan memberi izin.
"Kami duluan pak Reval," ucap Rose. Reval menganggukkan kepalanya.
"Jadi mereka sengaja untuk pulang terlebih dahulu agar lewat dari hukumanku. Tidak akan. Kalian akan tetap mendapatkan pelajaran dari yang seharusnya kalian dapatkan," batin Reval yang kali ini benar-benar tidak akan mengampuninya Barra dan teman-temannya.
__ADS_1
Citra dan Rose terlihat beres-beres di dalam tenda sambil Citra menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Oh My God. Barra sampai segitunya?" pekik Citra yang benar-benar terkejut mendengar kata-kata Citra dalam penjelasannya.
"Iya Rose saat aku masih pacaran dengan Barra dulu. Dia juga pernah memaksa ku untuk melakukan hal itu dan yang paling parahnya saat di pesta kampus dia juga hal yang sama dan untung ada kak Reval yang menolongku," jelas Citra membuat Rose mendengarnya merasa ngeri.
"Sungguh Citra aku benar-benar sangat terkejut mendengar apa yang kamu katakan. Aku tidak menyangka ternyata Barra bukan hanya seorang playboy. Tetapi di luar itu dia pria sakit jiwa yang, yang benar-benar aku tidak tau harus mengatakan apa lagi, aku sungguh tidak menyangka dengan apa yang di lakukannya," ucap Rose sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Itu lah yang terjadi dan Regina selalu ada dalam hal itu," ucap Citra.
"Anak itu juga benar-benar keterlaluan. Aku tidak tau kenapa dia begitu bodoh yang terus mengikuti apa kemauan Barra. Sudah jelas-jelas Barra orangnya seperti apa. Tetapi lihat apa yang di lakukannya. Dia benar-benar sakit. Aku sudah tidak tau mau bicara apa lagi," ucap Rose memijat kepalanya yang semakin berat mendengar cerita Citra.
"Tapi aku tidak melihatnya. Apa dia juga pulang?" tanya Citra saat datang tadi tidak melihat Regina.
"Dia tidak pulang. Mungkin saja dia berada di dalam tenda. Ya apalagi kalau bukan menghindari kamu. Karena sudah menjebak kamu. Dia kan sangat keterlaluan dan juga pengecut," geram Rose.
"Citra untuk kedepannya kamu harus lebih hati-hati jangan mudah untuk tertipu," ucap Rose mengingatkan temannya itu.
"Iya kamu benar. Ini pelajaran besar untukku. Karena tidak mungkin juga kak Reval akan terus stand by untuk menolongku. Ya aku akan lebih hati-hati lagi," ucap Citra mendengarkan masukan dari Rose.
"By the way, pak Reval kelihatan sangat dekat padamu dan iya saat kamu di nyatakan hilang, dia langsung ke hutan untuk mencarimu tanpa menunggu apa-apa. Hmmmm kalian ada sesuatu ya!" tebal Rose yang menatap Citra dengan selidik dan Citra malah tersenyum yang membuat Rose penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kok senyum-senyum sih Citra. Jangan bilang jika kamu dan pak Reval sudah punya hubungan yang special," tebak Rose lagi yang benar-benar begitu penasaran.
"Sudahlah Rose. Kamu lanjut beres-beres yang lainnya," ucap Citra dengan wajahnya yang memerah karena di goda Rose.
"Issss masih main rahasia-rahasiaan, kamu ini benar-benar menyebalkan," ucap Rose.
__ADS_1
"Udah lanjut kerja!" tegas Citra.
"Ya aku pasti tau sih. Mau kamu merahasiakan sampai kapanpun," ucap Rose dengan yakin.
Citra hanya terdiam yang sepertinya sengaja tidak ingin memberitahu Rose biar Rose penasaran dengan hubungannya dan juga Reval.
**********
Citra dan Rose dan juga anak-anak yang lainnya sudah selesai beres-beres. Semua tenda juga sudah di buka dan mereka juga bergantian memasuki barang-barang kedalam tenda.
Citra yang memegang ponselnya yang baru mengabari Sean kakaknya tiba-tiba Regina lewat do depannya dengan menunduk. Saat melewati dirinya Citra langsung memegang pergelangan tangan Regina membuat Regina terkejut yang di hentikan Citra begitu saja dan Citra berdiri di depan Regina.
"Kau menunduk seakan punya kesalahan yang besar. Atau kau memang tau apa kesalahan mu. Ya karena memang tidak mungkin kau tidak tau apa kesalahan mu," ucap Citra.
Regina hanya diam saja yang pasti dek-dekan dengan tubuhnya yang bergetar saat Citra berbicara kepadanya.
"Angkat kepalamu dan lihat aku orang yang sudah kau jebak," ucap Citra. Regina masih diam saja yang tidak mengatakan apa-apa.
"Kau masih tidak mau melihatku. Apa perlu aku berteriak agar semua orang tau apa yang kau lakukan!" tegas Citra yang menaikkan volume suaranya.
"Ma_ma_maafka aku Citra," ucap Regina dengan terbata-bata.
"Bicara lihat orangnya Regina!" ucap Citra menekan suaranya yang sudah kehilangan kesabaran dengan Regina yang membuatnya darah tinggi.
Akhirnya dengan perlahan Regina mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk melihat Citra yang penuh dengan amarah. Citra dengan emosi mengangkat tangannya dan ingin menampar Rose. Namun tidak jadi di hentikan nya sendiri sementara Rose sudah begitu ketakutan dengan matanya yang terpejam.
Bersambung.
__ADS_1