
Reya menjatuhkan kasar tangan sang mama dari genggamannya, Erina benar-benar tidak percaya dengan Reya yang begitu melawan kepadanya.
"Jadi benar bahwa keluarga Anggika sudah mencuci otak kamu. Kamu jadi tidak peduli pada mama, melawan pada mama, kamu hanya baru menikah Reya dengan dia. Kamu menikah tanpa sepengetahuan mama dan sekarang kamu melawan pada mama," ucap Erina menekan suaranya.
"Kenapa baru sekarang mama peduli dengan pernikahan ku, bulannya sebelumnya tidak ada kepedulian dari mama. Aku baru mengungkit dan mama baru peduli. Kenapa baru sekarang mah," ucap Reya dengan kesalnya yang bicara pada sang mama.
"Mama jangan mengalihkan pembicaraan kesana ke mari, aku hanya ingin mama mengaku apa yang sebenarnya terjadi, apa yang mama inginkan dan semua masalah yang ada, mama dan Reval yang seperti apa, semua masalah yang berkaitan dengan Reval, aku hanya bertanya itu mama hanya perlu menjawab tanpa harus menggalihkan kesan dan kemari!" ucap Reya dengan penekanan yang tidak ingin basa-basi.
"Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Mama tidak pernah bekerja sama dengan Reval dan semua masalah yang terjadi tidak ada hubungannya dengan Reval atau mama yang saling bekerja sama," tegas Erina.
"Kalau begitu kenapa mama mendonorkan darah mama pada Reval. Dia hanya teman Reya dan mama dam Reval juga tidak sedekat itu. Jadi kenapa harus mendonorkan darah segala?" tanya Reya dengan suaranya yang penuh penekanan yang ingin tau.
"Karena tidak ada yang menolong dia dan Reval yang seperti ini. Karena perbuatan Sean," jawab Erina.
"Dan mama apa harus menjadi pahlawan mendonor darah mama pada Reval, bahkan paniknya mama melebih paniknya pada Reya," ucap Reya.
"Cukup Reya! kamu jangan bicara lagi. Kamu jangan mencampuri urusan mama dan ingat Reval yang sekarang berada di rumah sakit itu gara-gara Sean dan mama tidak akan tinggal diam dengan hal itu yang kamu tau artinya kan. Jika mama akan memberi Sean pelajaran," tegas Erina dengan menunjuk tepat di wajah Reval dan Erina pun langsung pergi dari hadapan Reya. Namun Reya menahan sang mama dengan memegang tangan mamanya.
"Apa lagi Reya!" ucap Erina dengan emosi.
"Mama tidak bisa pergi begitu saja, aku akan mencari tau sendiri dan Reya tidak akan memaafkan mama jika benar mama bekerjasama sama dengan Reval, untuk kehancuran keluarga Tante Anggika dan Reya juga akan mencari tau sendiri tentang semua yang Reya pikirkan. Tentang mama dan juga Reval!" tegas Reya dengan penekanan dan pasti Reya tidak main-main.
Erina yang kesal melepas tangannya kasar dari Reya. Cengkraman Reya yang kuat membuat Erina mendorong tubuh Reya dan Reya hampir saja terbalik dan untung ada Sean yang datang dan menahan tubuh istrinya yang hampir saja celaka.
"Reya!" Citra juga datang dan pasti terkejut dengan apa yang terjadi kepada Reya dan Erina juga terkejut sebenarnya dengan apa yang di lakukannya pada Reya.
__ADS_1
"Reya kamu tidak apa-apa?" tanya Sean dengan memegang ke-2 bahu sang istri.
"Aku tidak apa-apa," jawab Reya dengan jantungnya yang berdebar hebat. Sebenarnya dia sangat takut jika bayinya kenapa-kenapa. Karena tadi hampir jatuh.
"Apa yang tante lakukan?" tanya Reya menekan suaranya.
"Apa yang aku lakukan itu bukan urusanmu," sahut Erina yang menunjukkan rasa marahnya pada Sean.
"Keterlaluan! apa tante tidak tau. Jika Reya sedang hamil dan jika tadi Reya sampai jatuh. Itu sama saja Tante ingin mencelakakai cucu Tante sendiri," ucap Sean.
"Selagi anak itu ada darahmu. Maka dia tidak akan pernah aku akui sebagai cucuku," sahut Erina yang mengejutkan Reya dengan mata Reya yang berkaca-kaca.
Pasti sangat sakit mendengar apa yang dikatakan mamanya. Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu di depan Sean dan juga dirinya.
"Kak Sean sudah!" cegah Citra, "tidak ada gunanya kak, kakak mendekati Tante Erina, tidak ada gunanya melawannya. Ayo kita pergi saja sini," ucap Citra.
Sean harus menahan dirinya yang penuh amarah. Demi Reya yang tidak mungkin berlama-lama di dekat Erina yang adanya Reya akan semakin sakit hati dengan kata-kata Erina.
Mereka pun pergi dari hadapan Erina yang berwajah Monster.
"Urusan kita belum selesai Sean!" ucap Erina yang membuat langkah Sean terhenti dan juga Citra dan Reya. "kau sudah membuat Reval sampai sekarang tidak sadarkan diri dan kau akan mendapat hal yang sama sepertinya. Urusan kita berdua tidak akan selesai. Karena kau sangat berani menyakiti dan melukai Reval dan aku tidak akan diam dengan hal itu," tegas Erina.
Air mata Reya langsung jatuh mendengar namanya yang mati-matian membela Reval dan mengatakan hal yang seharusnya ibu katakan pada anaknya. Tidak ingin orang lain terluka. Tetapi justru dia anaknya sendiri yang sering di lukai.
Citra juga yang bukan anak Erina seakan bisa merasakan perasaan Reya.
__ADS_1
"Urusan kita berdua memang belum selesai. Aku mengampuni mu yang merusak keluargaku belasan tahun lalu. Tetapi untuk kali ini aku tidak akan mengampuni mu dan aku tidak peduli kau wanita yang melahirkan Reya. Karena bagiku tidak ada ibu yang seperti mu," ucap Sean dengan perkataannya yang mungkin tidak kalah tajam.
Sean tidak bicara lagi dan Sean langsung pergi meninggalkan tempat itu membawa istri dan asiknya.
Erina mengepal tangannya dengan kuat dengan matanya yang menatap dengan penuh ketajaman.
"Sekarang Reya benar-benar ada di pihak mereka. Reya sudah di cuci otaknya dan melawan kepadaku, banyak tanya dan bisa-bisa Reya akan tau dengan apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana pun Reya tidak boleh tau. Jika dia bukan anakku. Aku masih membutuhkannya sebagai alat," batin Erina dengan jahatnya yang masih punya rencana yang tidak tau berapa banyak lagi dan bahkan Reya tetap ingin di manfaatkan nya.
*********
Reya harus menangis di pelukan Sean yang mana Sean menenangkannya yang hati dan perasaan Reya begitu terluka karena perbuatan Erina yang memang sangat keterlaluan.
"Mama kenapa jahat sekali kak Sean. Mama dulu masuk dalam kehidupan papa dan juga Tante Anggika, bukannya menyesal mama tetap melanjutkan hubungan diam-diam dengan papa dan lagi-lagi Tante Anggika yang di hiyanati yang di sakiti sampai Reya 17 tahun. Setelah perpisahan mama juga masih melakukan banyak kejahatan kak. Aku tidak tau kenapa mama sejahat itu," ucap Reya dengan menangis sengugukan.
"Reya kamu jangan bicara seperti itu. Apa yang terjadi bukan hanya salah dia. Tetapi papa juga sangat salah. Papa sudah berjanji dan mama memberi kesempatan. Tetapi papa masih menjalani hubungan dengannya dan itu juga kesalahan papa," ucap Sean yang memang harus menyalahkan Argantara.
"Aku tidak kak apa aku harus menyesal karena di lahirkan kedunia ini atau bagaimana kak. Aku benar-benar tidak mengerti kak. Mama terus menggunakan ku untuk merusak keluarga kakak dan menyakiti ku dengan perkataan yang sangat kasar, bermain fisik dan tadi mama mama benar-benar sangat membela Reval seakan sangat takut kehilangan Reval. Reya benar-benar tidak tau kak harus berpikir apa," ucap Reya dengan tangisannya yang sengugukan.
"Apa jangan-jangan aku bukan anak kandung mama," ucap Reya yang menyimpulkan sendiri.
Citra yang hanya diam mendengar keluhan Reya dan umpatan Reya hanya menghela napas dan pasti sangat kasihan dengan Reya yang berpikiran jika dia bukan anak kandung.
"Sebenarnya masuk akal dengan apa yang di pikirkan Reya. Bagaimana tidak masuk akal. Tante Erina begitu peduli kepada orang lain dan Reya sendiri sama sekali tidak. Bahkan papa pernah mengatakan. Jika Reya mengalami kekerasan fisik dari Tante Erina. Lalu jika Reya bukan anak kandung Tante Erina. Apa artinya Reval..." batin Citra yang hanya menduga-duga saja. Karena Citra juga tidak tau harus menarik kesimpulan yang bagaimana.
Bersambung
__ADS_1