
Rumah sakit.
Di depan ruang UGD Citra dan Anggika yang berdiri terlihat panik di mana mereka menunggu Dokter keluar dari ruangan UGD yang sejak tadi tidak keluar-keluar dan mereka sudah menunggu begitu lama dan mungkin ada 2 jam menunggu.
"Mah kenapa Dokter belum keluar juga?" tanya Citra dengan panik.
"Kita tunggu ya Citra," sahut Anggika.
"Bagaimana kamu sudah hubungi kakak kamu?" tanya Anggika.
"Aku tidak tau kak Sean di mana. Aku sejak tadi menghubunginya dan ponselnya nggak di angkat. Tetapi aku menghubungi kak Reval dan semoga saja kak Reval bisa membawa kak Sean kemari," jelas Citra yang berbicara dengan bibir bergetar yang sejak tadi kepanikan.
"Lalu papa kamu bagaimana?" tanya Anggika.
"Papa sepertinya masih di pesawat. Citra belum menghubunginya," jawab Citra.
"Semoga saja Reya baik-baik saja," ucap Anggika dengan penuh doa dan harapannya.
"Citra juga berharap seperti itu mah," sahut Citra.
"Mah, Citra!" sahut Sean yang akhirnya datang bersama Sean dengan wajah Sean penuh dengan kepanikan.
"Bagaimana Reya mah?" tanya Sean memegang tangan mamanya yang begitu dingin.
"Reya masih di tangani Dokter dan sejak tadi Dokter belum keluar dari ruang UGD," jawab Anggika.
"Apa yang terjadi kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Reval.
"Kami juga tidak tau apa yang terjadi. Saat aku memasuki kamar kak Reya tiba-tiba kak Reya sudah tergeletak di lantai dan kak Rey juga pendarahan," jawab Citra dengan suara bergetar yang menceritakan apa yang di lihatnya.
"Reya!" lirih Sean yang memejamkan matanya dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang pasti sangat khawatir pada Citra.
"Maaf kan aku kak Sean. Seharusnya aku ada di dekat kak Reya," ucap Citra yang merasa bersalah dan sekarang bahkan menangis dan Reval merangkul bahu istrinya memberikan istrinya ketenangan.
__ADS_1
"Jangan merasa bersalah. Ini bukan kesalahan kamu," ucap Sean yang memang tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ada pun dia yang harus di salahkan karena tidak berada di sisi istrinya.
Akhirnya Dokter keluar dari ruangan UGD dan Sean langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Dokter bagaimana ke adaan istri saya?" tangan Sean dengan kepanikannya.
"Bu Reya masih kritis. Bu Reya mengalami pendarahan hebat dan kondisinya sudah lama seperti itu kurun waktu 15 menit pendarahan terus keluar dan ini penanganan yang sangat terlambat," jelas Dokter yang membuat semua orang panik.
"Lalu bagaimana istri dan anak saya?" tanya Sean.
"Kami akan mengoperasi pasien dan kemungkinan untuk bertahan sangat kecil. Bisa saja salah satu dari mereka akan bertahan dan bisa juga ke-2nya tidak bertahan," ucap Dokter membuat air mata Sean langsung jatuh.
Bagaimana tidak hancurnya Sean mendengar kemungkinan buruk yang barusan di katakan Dokter. Kaki Sean sampai lemah dan ingin jatuh yang langsung di tahan oleh Anggika, Citra dan Reval.
"Sean!"
"Kak Sean!"
"Reya!" Reya!" hanya itu yang di ucapkan.
"Untuk pak Sean saya mengerti perasaan anda. Tapi kami akan berusaha untuk menyelamatkan pasien. Mau itu bayi dan juga ibunya untuk itu pak Sean mati ikut saya untuk menandatangani berkas-berkas operasinya," ucap Dokter.
Sean tidak bicara lagi dan hanya diam membisu yang pasti sudah lemah.
"Saya tunggu di ruangan saya. Saya permisi!" ucap Dokter yang langsung pergi dan Sean langsung terduduk lemah.
"Sean! Kami tenang percaya pada mama Reya akan baik-baik aja," ucap Anggika yang hanya bisa menguatkan anaknya itu.
"Reya mah. Aku tidak mau kehilangan Reya mah. Apa yang harus aku lakukan? Apa?" Sean menangis yang menyesalkan semua kejadian yang terjadi pada istrinya itu.
Citra juga menangis yang sangat takut terjadi sesuatu pada Reya sang kakak dan bahkan dia menjadi saksi saat melihat kondisi kakaknya yang tergelatak di lantai.
Namun Anggika juga pasti khawatir. Namun dia juga punya tugas untuk menguatkan Sean dan Citra. Jika dia ikut terpuruk maka tidak ada yang menguatkan anak-anaknya itu.
__ADS_1
*********
Reya masih berada di ruangan UGD dengan semua selang yang menempel. Dari alat pernapasan di mulutnya, di hidungnya. Infus di tangannya dan juga alat-alat lainnya yang hanya Dokter yang tau apa itu.
Suara mesin jantung yang memenuhi ruangan itu. Suara yang mengerikan dan sangat menakutkan. Sean pasti sekarang mengurus data-data Operasi istrinya.
Namun ada Citra yang berdiri di depan pintu yang melihat kakaknya dari kaca kecil. Di mana Citra menangis sengugukan melihat kondisi sang kakak yang antara hidup dan mati.
Perkataan Dokter menakutkan. Tidak ada pilihan dari perkataan Dokter dan bagaimana itu tidak menakutkan bagi Citra yang takut kehilangan Reya. Selain itu Citra juga penuh penyesalan yang bisa-bisanya tidak tau apa yang terjadi pada Reya.
Dokter mengatakan 15 menit dan itu artinya selama itu Reya berada di dalam kamar dengan tidak sadarkan diri dengan pendarahan yang parah. Jadi bagaimana tidak Citra merasa begitu bersalah.
"Citra!" lirih Reval merangkul Citra membawa Citra kepelukannya untuk memberikan Citra ketenangan.
"Kak Reya! Kak Reya seperti ini!" lirih Citra.
"Kamu tenang, semoga saja Reya baik-baik saja," ucap Reval.
"Ini semua salahku, seharusnya aku ada di samping kak Reya. Kau tidak tau apa yang terjadi padanya, bagaimana dia menahan sakit waktu itu sampai kondisinya separah ini," ucap Citra dengan penyesalan.
"Jangan menyalahkan diri kamu. Apa yang terjadi bukan salah kamu. Kita berdoa saja semoga Reya baik-baik saja dan kamu juga harus tau Rey wanita yang sangat kuat dan dia pasti bisa bertahan melawan semua ini. Kamu itu bagaimana Reya berjuang dan aku yakin dia juga akan berjuang untuk ini semua," ucap Reval yang menyakinkan sang istri.
"Tetapi aku takut. Aku takut terjadi hal buruk pada kak Reya," ucap Citra.
"Hal buruk past terjadi dalam hal apapun itu dan semua itu kehendak dari Tuhan. Kita hanya bisa berdoa untuk hal buruk yang tidak terjadi. Kamu harus percaya Tuhan pasti tidak akan membiarkan Reya kenapa-kenapa," ucap Reval.
"Jangan menangis lagi, kita berdoa saja untuk Reya," ucap Reval dengan semakin erat memeluk Citra.
Sementara Sean yang sudah di ruangan Dokter yang menandatangani semua prosedur operasi. Dengan beberapa kali air mata Sean yang keluar air mata yang pasti posisi yang di hadapi Sean sangat sulit.
"Maafkan aku Reya. Lagi-lagi aku tidak bisa menjagamu. Aku tidak ada di sisimu saat kesulitan ini kamu hadapi, bertahanlah sayang, aku mohon kamu jangan pergi. Bertahanlah untukku. Aku sangat mencintaimu Reya," batin Sean dengan air matanya yang tidak hentinya jatuh.
Bersambung
__ADS_1