
Citra harus kembali menelan pil pahit dengan apa yang terjadi kepadanya. Dia berpikir masih ada kesempatan untuk hidupnya. Tetapi apa tidak ada. Reval benar-benar menghancurkan dirinya dan sama sekali tidak memperdulikannya yang hanya mempermainkan dirinya.
"Jahat! kamu benar-benar jahat, biadap sangat biadap," umpat Citra dengan amarahnya yang besar dengan meremas dadanya yang begitu sakit karena perbuatan Reval.
Reval bahkan bisa-bisanya berciuman dengan Regina yang pasti tau Regina lagi-lagi orang yang menjadi orang ke-3 dalam hubungannya. Padahal Reval yang membantu Citra dari Barra saat bermain belakang dengan Regina.
Tetapi nyatanya Reval juga telah menghiyanatinya dengan wanita yang sama. Rasanya pasti sangat sakit. Jauh lebih sakit dari apa yang di rasakannya sebelumnya. Semuanya benar-benar hancur. Hatinya yang terluka parah dengan semua yang telah di dapatkannya.
"Huhhhh, kasihan sekali dirimu!" tiba-tiba suara yang tidak asing itu terdengar di telinga Citra membuat Citra membalikkan tubuhnya. Dugaannya benar ternyata orang yang bicara itu adalah Barra dengan ke-2 tangan di lipat didadanya dan tersenyum kepadanya.
"Kau benar-benar sungguh kasihan," ucap Barra dengan senyum mengejek.
Citra menahan kekesalannya dengan menatap Barra tajam dan cepat-cepat mengusap air matanya, "kau jangan mengatakan diri ku kasihan. Sebentar lagi orang-orang juga akan kasihan kepadamu," ucap Citra dengan menekan suaranya.
"Apa maksudmu Citra, kenapa langsung marah kepadaku. Padahal aku hanya prihatin dengan keadaan mu," ucap Barra.
"Kau jangan pura-pura lupa Barra dengan apa yang kau lakukan kepadaku. Kau pikir aku diam selama ini tidak melakukan apa-apa. Hey Barra asal kau tau saja. Jika aku tidak diam dan tetap membawa masalahmu ke kantor polisi," ucap Citra yang memang tidak main-main dengannya.
"Kau benar-benar melaporkanku?" tanya Barra yang berusaha untuk tenang. Padahal dari wajahnya dia kelihatan sangat panik.
"Iya, kenapa kau takut," jawab Citra yang bisa melihat ketakutan di wajah Barra.
"Aku tidak takut sama sekali. Silahkan kau mau melakukan apa yang kamu mau. Tapi kalau sudah memperpanjang masalah ini. Akan banyak yang terlibat dan bahkan orang-orang akan bertanya kepadaku apa alasan ku melakukannya. Aku harus menceritakan semuanya. Harus membawa nama mu, Dosen kesayanganmu itu dan harus terlibat Tante Anggika dan Dosen senior yang dulu pernah mengajar di kampus ini," ucap Barra dengan santai yang membuat Citra mengkerutkan dahinya bingung dengan perkataan Barra.
"Harus banyak Drama sih setelah itu," lanjut Barra.
"Apa maksudmu?" tanya Citra.
__ADS_1
"Begini ya Citra. Aku ingin menceritakan suatu alkisah kepadamu. Di mana anak yayasan yang sangat cantik harus menjalin hubungan gelap dengan seorang Dosen senior yang sudah berumah tangga," ucap Barra dengan penuh teka-teki membuat Citra semakin tidak mengerti.
"Orang-orang sangat tau Citra. Jika Citra ini sangat terkenal di kampus ini. Karena mendiang kakeknya adalah pemilik yayasan ini dan dulu ibunya yang cantik juga mahasiswi di kampus ini dan jatuh pada pelukan Pria yang sudah beristri," ucap Barra.
"Jaga bicaramu, kau jangan mengatakan sembarangan. Kau tau wanita yang kau bicarakan adalah ibuku. Jadi jangan membuat teori dengan sesukamu," ucap Citra penuh emosi. Karena memang Anggika dulu kuliah di kampus yang sama dengan Citra dan kampus itu adalah milik kakek Citra. Jadi apa yang di bicarakannya Barra tertuju pada Citra.
"Aku tidak asal bicara Citra. Apa yang aku katakan adalah kebenarannya. Jika memang pada hakikatnya. Kau memperpanjang masalah ini hanya membuka aib ibumu yang bermain dengan Dosen senior dan sekarang anaknya melakukan hal yang sama memiliki hubungan dengan Dosen," ucap Barra.
"Cukup Barra. Kau jangan melibatkan ibuku dengan semua ini," tegas Citra.
"Aku tidak melibatkannya. Tapi justru kamu yang telah di libatkan," sahut Barra.
"Apa maksud mu tanya Citra.
"Aku kira kau pintar. Tetapi ternyata tidak bisa-bisanya kau itu masuk perangkap Dosen kesayanganmu yang hanya memanfaatkan mu dan menanggung atas kesalahan yang di lakukan Tante Anggika," ucap Barra yang membuat Citra kaget mendengarnya.
Namun Citra tidak mengerti sebenarnya apa yang di katakan Barra. Hanya saja tiba-tiba dia merasa ada sesuatu.
"Kau jangan asal bicara," ucap Citra dengan menekan suaranya.
"Aku tidak asal bicara. Kalau kau tidak memahami apa yang aku katakan. Mari ikut denganku aku akan menunjukkan sesuatu yang lebih mengejutkan kepadamu," ucap Barra yang terlebih dahulu pergi dan Citra diam di tempatnya.
Tidak tau apa yang harus di lakukannya. Apakah akan mengikuti Barra atau tidak sama sekali. Namun Citra pasti sangat penasaran dengan apa yang telah di katakan Barra.
**********
Untuk memecahkan rasa penasarannya akhirnya Citra pun mengikuti Barra. Di mana Barra membawanya ke salah satu basecamp. Citra tau tempat itu. Itu tempat tongkrongan Barra. Citra sebenarnya sangat ragu untuk mengikuti Barra. Namun dia penasaran dan akhirnya mengikut untuk masuk.
__ADS_1
"Apa yang mau kau tunjukkan?" tanya Citra.
"Sebentar Citra jangan buru-buru. Kau juga jangan takut aku tidak akan berbuat yang tidak-tidak kepadamu. Jadi santai saja," ucap Barra.
"Jangan basa-basi, cepatlah tunjukkan apa yang mau kau tunjukkan. Aku tidak punya waktu banyak untuk dirimu," tegas Citra.
"Baiklah tunggulah di sini," sahut Barra yang memasuki salah satu ruangan dan meninggalkan Citra. Citra tampak gelisah dengan melihat kekiri dan kekanan dengan perasaannya yang tidak tenang yang sebenarnya takut sesuatu. Namun Citra hanya berusaha untuk tenang sampai akhirnya Barra datang.
"Ini!" Barra meletakkan beberapa lembar foto-foto di atas meja dan mata Citra langsung turun kemeja yang pertama di lihatnya adalah foto keluarganya.
"Aku menemukannya di rumah Reval," ucap Barra yang membuat Citra kaget dan menatap Barra dengan tajam.
"Lihatlah foto-foto itu!" titah Barra dan Citra pun langsung berlutut untuk melihat foto-foto di atas meja itu. Dengan tangannya yang bergetar Citra melihat satu persatu foto-foto itu dan sungguh mengejutkan dengan semua yang di lihatnya. Foto-foto keluarganya yang di coret-coret dan lebih parah lagi mamanya berfoto mesra dengan pria yang tidak asing bagi Citra bukan papanya.
"Bukankah ini, ini adalah...." Citra tertahan bicara saat sangat sulit menyebutkan pria asing itu.
"Itu adalah Dosen senior di kampus saat masih Tante Anggika menjadi mahasiswi di sana dan yang tak lain Pria itu adalah ayah Reval," jawab Barra yang membuat dada Citra sesak dengan tubuhnya yang bergetar.
Dengan melihat foto-foto yang ada Citra sudah tau semuanya. Apa lagi Citra terbayang dengan kata-kata Reval saat menceritakan sosok ayahnya yang seorang Dosen yang menghiyanati keluarganya dengan berselingkuh dengan mahasiswinya yang ternyata adalah ibunya sendiri.
"Ini tidak mungkin!" ucap Citra dengan rasa sesak di dadanya yang berusaha tidak percaya dengan semua ini.
"Citra kau sudah mengertikan sekarang. Jika Reval sengaja mendekatimu hanya untuk balas dendam atas keluarganya yang hancur karena perbuatan Tante Anggika dan sekarang lihat apa yang terjadi. Ini lah kenyataan sebenarnya. Jika laki-laki itu sangat brengsek," maki Barra.
"Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Kak Reval tidak mungkin melakukan itu. Mama tidak mungkin melakukan itu. Tidak itu tidak mungkin," Citra masih berusaha untuk membantah kenyataan yang ada dengan air matanya yang terus keluar melihat foto-foto yang jelas sudah sangat nyata.
"Mau kau mengatakan tidak mungkin. Tetapi sudah kejadian Citra," sahut Barra.
__ADS_1
"Diamlah Barra!" teriak Citra dengan suara menggelegar, "kau hanya mengarang cerita, kau, semua ini tidak mungkin, Argggghhh!" teriak Citra dengan memegang kepalanya yang seperti orang frustasi dengan kenyataan yang telah di terimanya.
Bersambung