
Reya yang berada di atas tempat tidur yang bersandar pada kepala ranjang melihat pesan dari Sean.
"Aku tau Sean dan aku tidak apa-apa, aku mungkin sangat khawatir dengan apa yang di pikirkan papa. Tatapi tidak aku akan berusahalah mengatasinya. Kamu jangan khawatir kepadaku. Aku baik-baik saja," tulis Reya dalam membalas pesan dari Sean.
Dia masih mengatakan baik-baik saja. Padahal dia tidak baik-baik saja sama sekali. Namun dia dan Sean sebenarnya saling menguatkan satu sama lain. Reya menghela napasnya dengan perlahan kedepan.
"Mau menghindar seperti apa. Hari itu akan datang. Pasti akan datang. Cepat atau lambat. Hati itu akan aku jalani dan akan di hadapi bersama Sean," gumam Reya dengan wajah senduh nya. Tangannya mengusap perut rampingnya.
"Sayang, kamu harus tetap berada di sini, kamu harus tetap berada di perut mama. Kamu harus terus mendukung mama. Kita harus sama-sama kuat. Kita haru bisa menghadapi semuanya. Semua ini tidak mudah sayang. Tetapi kita harus bisa melewatinya. Apapun yang terjadi mama tidak akan membiarkan ada yang menyakitimu," ucap Reya dengan air matanya yang menetes saat berbicara pada calon anaknya.
Reya pasti memikirkan nasib sang anak.. Ketika semuanya akan terbongkar. Dia tidak akan tau apa yang terjadi nantinya.
"Maafkan Reya pah, Reya tidak bermaksud untuk membohongi papa, untuk menyembunyikan semua ini. Maafkan Reya," batin Reya yang mengingat Argantara.
Reya pasti merasa bersalah dengan hubungannya yang salah dengan Sean. Namun cinta tidak pernah salah. Reya dan Sean juga tidak pernah bisa meminta akan saling jatuh cinta. Namun nyatanya mereka telah sama-sama jatuh cinta. Walau menyadari mereka berdua adik kakak.
**********
Reya dan Sean menghadapi ketegangan yang hampir saja hubungan terlarang mereka ketahuan. Sementara Citra masih menikmati acara kampusnya yang sekarang Citra dengan teman-temannya mulai mengikuti kegiatan di malam hari.
Mereka berjalan di sekitar hutan yang pasti mengikuti kegiatan. Yang kebetulan Citra bersama dengan Rose dan seorang Pria yang juga teman 1 kelasnya yang menyenter di sekitar hutan untuk mencari jalan.
"Di mana sih letak benderanya, dari tadi tidak ketemu. Sudah banyak nyamuk. Gelap lagi," cicit Citra yang mulai kesal.
"Tauh nih, pakai acara cari-cari bendera segala lagi. Heran benar-benar kayak anak sekolah aja," sahut Rose yang juga ikut-ikutan mengeluh seperti Citra.
"Sudah deh kalian berdua itu jangan berisik, dari tadi protes terus. Mending kita fokus cari. Kalau sudah dapat kita balik ke tenda," sahut Edo yang sejak tadi pusing dengan 2 wanita yang tukang protes itu.
"Mau di cari di mana, lihat di setiap pohon tidak ada sama sekali," sahut Rose yang menyenter pada pohon di sekelilingnya untuk mencari bendera yang di tugaskan untuk mereka.
"Issss Ross kamu jangan terus senter ke pohon. Bagaimana nanti kalau kamu sampai menyenter kuntilanaknya," ucap Citra.
__ADS_1
"Issss Citra kenapa jadi ngomongin horor sih, jadi merinding tau," sahut Rose dengan bulu kuduknya yang berdiri.
"Biar ada hiburan sedikit," sahut Citra.
"Mana ada hiburan cerita horor. Kamu itu ngaur ya ada itu cerita lawakan, kalau begini yang adanya aku ketakutan," ucap Rose dengan menggedikkan bahunya.
"Dasar penakut!" ejek Citra.
"Sudah kalian jangan cerita lagi, ayo buruan fokus," sahut Edo dengan tegas.
"Iya," sahut Citra dan Rose dengan bersamaan.
Mereka berdua melanjutkan langkah mereka kembali. Namun tiba-tiba tali sepatu Citra lepas dan langsung berjongkok untuk mengikatnya.
"Rose Edo tunggu aku!!" ucap Citra sembari mengingat tali sepatunya. Sepertinya suara Citra terlalu pelan. Sampai Edo dan Rose tidak mendengar dan mereka melanjutkan langkah mereka tanpa sadar ada teman mereka yang masih mengikat tali sepatu.
Citra tampak kesulitan melakukan hal mudah itu dan bahkan sangat fokus. Sampai tidak sadar ke-2 temannya sudah sangat jauh dan bahkan sudah tidak terlihat lagi.
"Kemana mereka?" tanya Citra heran yang berdiri langsung dan menyenter di sekelilingnya, "kok menghilang begitu saja, kemana mereka pergi?" Citra benar-benar kebingungan.
"Rose! Edo!" panggil Citra yang terus menyenter di sekelilingnya. Namun tidak menemukan dua temannya itu.
"Isss, malah meninggalkanku. Awas aja nanti," geram Citra yang langsung melanjutkan langkahnya untuk menyusul ke-2 temannya itu.
"Tolong....! langkah Citra terhenti ketika mendengar suara teriakan yang meminta tolong.
" Suara siapa itu. Siapa yang meminta tolong!" batin Citra dengan penuh kebingungan.
"Tolong! tolong aku!" suara itu semakin jelas yang membuat Citra justru panik. Citra pun langsung melanjutkan langkahnya. Tetapi bukan lurus kedepan. Melainkan ke arah kanannya yang berasal dari suara teriakan minta tolong. Citra hanya menggunakan senter sebagai alat untuk penyerangnya mencari keberadaan si pemilik suara itu.
Suara minta tolong itu semakin dekat dan akhirnya Citra yang memang fokus mencarinya langsung menemukannya dan ternyata Regina yang di ikat di pohon yang membuat Citra kaget dengan matanya yang terbelalak.
__ADS_1
"Regina!" pekik Citra dari kejauhan 12 meter, "kenapa dia bisa terikat seperti itu. Apa yang terjadi?" gumam Citra kebingungan dan sangat khawatir pada Regina.
"Ada-ada saja yang melakukannya," kesal Citra yang langsung melangkah mendekati Regina yang pasti untuk melepas ikatan itu.
Bruk.
Langkahnya terhenti ketika merasa sakit di punggungnya dan Citra memegang punggungnya dan hanya meringgis kesakitan. Lalu langsung jatuh di atas tanah yang tergeletak yang tidak sadarkan diri dan hanya memperlihatkan bayangan seseorang yang berdiri di depannya yang memegang kayu sebagai alat memukul Citra barusan.
***********
Sementara di lain sisi Edo dan Rose masih terus berjalan.
"Kenapa tidak dapat juga sih Citra," ucap Rose menoleh kebelakangnya dan kaget dengan Citra yang tidak ada.
"Di mana Citra?" tanya Rose membuat langkah Edo terhenti dan juga melihat di sekelilingnya yang sama sekali tidak ada Citra.
"Aku tidak tau. Bukannya dia ada bersama kita," sahut Edo.
"Ya tapi di mana. Dia tidak ada sama sekali," ucap Rose mulai khawatir.
"Tidak mungkin di makan Kunti kan," sahut Edo.
"Issss kamu itu jangan bercanda," sahut Rose kesal
"Sorry-sorry, habisnya tidak tau sih dia ada di mana," ucap Citra.
"Arghh sudah ayo kita cari," sahut Rose.
"Mau cari di mana?" tanya Edo.
"Ya di mana saja," sahut Rose yang langsung melangkah mundur kebelakang yang firasatnya Citra ketinggalan di belakang dan edopun menuruti Rose yang mereka berjalan kembali kebelakang. Guna untuk menemukan Citra.
__ADS_1
Bersambung