Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 62 Saat yang tepat.


__ADS_3

"Sean!" tegur Anggika yang melihat Sean bingung. Bahkan tatapan Anggika seperti merasa ada yang aneh.


"Di Eropa mah," jawab Sean bohong.


"Papa bagaimana sih. Katanya di New York. Ini sekarang di Eropa," sahut Citra yang mengingat perkataan papanya tempo hari.


Argantara dan Sean saling melihat ayah dah anak itu memang seperti sedang di intimidasi penuh dengan kecurigaan.


"New York atau Eropa?" tanya Anggika melihat secara bergantian ayah dan anak itu.


"Papa tidak mengatakan di New York Citra. Kemarin kan papa bilang Sean sedang ada proyek dengan pengusaha asal New York yang kemungkinan Sean perjalanan bisnis ke sana. Jadi mana papa tau kalau ternyata di Eropa," sahut Argantara yang memberikan alasannya.


"Tapi papa juga tidak salah. Papa hanya salah menebak. Tetapi memang ujung-ujungnya aku juga melakukan meeting sebentar di New York," sahut Sean yang mengikuti alur cerita papanya.


"Kenapa tidak bilang sama mama?" tanya Anggika.


"Maaf mah. Aku tidak sempat, aku tidak akan mengulangi hal itu lagi," jawab Sean yang lebih baik minta maaf dari pada mamanya akan bertanya yang lebih banyak lagi dan dia semakin bingung harus menjawab apa.


"Sudahlah yang penting kak Sean sudah pulang," sahut Citra yang menghentikan rasa ketegangan itu, "kak Sean pasti capek. Mau Citra anterin makanan tidak kekamar kakak?" tanya Citra.


"Boleh!" sahut Sean. Citra tersenyum mendengarnya.


"Ya sudah Sean kamu istirahat kekamar!" titah Argantara. Sean mengangguk dan melangkah pergi.


"Koper kamu mana Sean?"tanya Anggika yang membuat langkah Sean terhenti.


Sean diam dengan menelan salivanya yang memang dia tidak membawa koper sama sekali.


"Di kantor!" jawab Sean bohong.


"Oh begitu rupanya. Ya sudah kamu istirahat aja sana!" ucap Anggika. Sean mengangguk dan langsung kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


Anggika merasa ada yang di sembunyikan membuatnya menatap suaminya dengan mengintimidasi. Namun Argantara terlihat tenang dan langsung pergi dari hadapan istrinya dan begitu juga dengan Citra.


"Semoga tidak ada yang di sembunyikan dari ku. Beberapa hari ini semuanya sangat aman. Semoga semuanya baik-baik saja," batin Anggika yang tiada hari tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu di pikirkan.


********

__ADS_1


Mentari pagi kembali tiba Reya sudah bangun dari tidurnya dan sudah mandi dan melakukan apa-apa saja yang biasa wanita lakukan untuk perawatan wajahnya. Setelah itu Reya langsung keluar dari kamarnya menuju dapur.


Mungkin Reya akan membuat sarapan untuknya. Reya membuka kulkas dan ternyata kulkasnya kosong.


"Tidak ada bahan makanan. Lalu tadi malam Sean mendapatkannya dari mana?" tanyanya kebingungan. Reya juga membuka-buka lemari berharap ada sesuatu yang di temukannya. Namun tidak ada sama sekali.


"Memang tidak ada apa-apa di sini," batin Reya yang terlihat sangat lemas.


Reya melihat handphone mungkin untuk memesan makanan. Namun ternyata saat mulai mencari-cari makanan jarinya berhenti saat ingin memesan makanan.


"Astaga aku lupa. Aku kan tidak punya uang sama sekali," ucap Reya baru mengingatnya.


Untung saja Reya mengingatnya sebelum memesan makanan itu. Reya memang tidak membawa uang sepersespun. Dia memang mempunyai sedikit tabungan dan sengaja di tinggalkan Reya untuk mamanya. Karena di Paris pekerjaan mamanya juga tidak tentu dan belum lagi mamanya memiliki sifat yang mudah marah dan pasti keuangan mamanya akan berpengaruh. Karena mengkhawatirkan hal itu membuat Reya lebih baik tidak memegang uang.


Reya pun memilih untuk meneguk air putih untuk menahan rasa laparnya yang tidak tau akan sampai berapa lama. Dia juga bingung harus mendapatkan uang dari mana.


********


Sean berada di ruangan papanya yang ada di Perusahaan keluarga mereka.


"Apa Reya baik-baik saja?" tanya Argantara.


Argantara bernapas lega mendengarnya, "syukuran kalau begitu. Lalu bagaimana dengan Erina apa yang dia katakan saat kamu membawa Reya pergi?" tanya Argantara.


"Seperti yang papa katakan Tante Erina itu sangat tidak menyukai Reya dan menjadikan Reya pelampiasan amarahnya. Aku juga saat datang kesana menyaksikan perbuatannya kepada Reya. Aku memaksa Reya untuk pulang. Walau menolak dan sampai akhirnya mau dan tidak ada tanggapan Tante Erina. Dan aku rasa itu yang di inginkannya," jawab Sean dengan sedikit penjelasan.


"Iya Sean memang yang diinginkannya. Reya mati di tangannya agar papa menyesal. Tapi syukurlah kamu berhasil membawa Reya pergi darinya dan sekarang Reya sudah berada di tempat yang aman," ucap Argantara yang benar-benar lega. Sean hanya mengangguk yang juga lega dengan kondisi Reya.


"Sean papa minta tolong pada kamu. Tolong jaga Reya dan iya jangan sampai mama dan Citra tau hal ini. Papa tidak ingin membuat Reya kembali tidak nyaman dan akan kembali ke Paris lagi. Jadi papa percayakan semua kepada kamu," ucap Argantara.


"Aku akan melakukan sebisaku," jawab Reya, "dan itu adalah tugasku untuk melindunginya. Aku juga bertanggung jawab untuk kehidupannya," batin Sean.


***********


Tinong Tingnong.


Suara bel Apartemen membangunkan Reya yang tertidur di sofa. Reya menguap dan langsung duduk dengan mengucek matanya.

__ADS_1


"Siapa yang datang!"batin Reya yang langsung menghampiri pintu dan pasti dia melihat dulu dari monitor siapa yang datang. Baru kemudian dia membukanya. Karena Sean yang datang.


"Sean!" ucap Reya pelan.


"Aku membawakanmu makanan!" ucap Sean mengangkat kantung plastik itu menunjukkan pada Reya. Sean tau saja perut Reya memang lapar.


"Mari makan!" ajak Sean yang langsung masuk terlebih dahulu melewati Reya. Reya tersenyum dengan mengusap perutnya yang mungkin dia ingin mengatakan horeee akhirnya makan juga.


Sean dan Reya sama-sama duduk di Sofa dengan Sean yang membukakan isi makanan itu yang ternyata bubur ayam.


"Ini bukannya waktu sarapan. Waktunya sudah lewat. Tetapi tidak apa-apa kan. Kalau sarapannya sekarang?" tanya Sean. Reya menggelengkan kepalanya. Baginya yang penting makan dan iya Reya tidak ada drama untuk menolak. Karena Reya sudah sangat lapar.


"Tanganku sudah sembuh," ucap Reya sebelum Sean berniat untuk menyuapinya lagi. Sean mendengus dengan senyuman dan memberikan Reya makanan itu untuk Reya menyuapi dirinya sendiri.


Sean juga ikut makan di mana mereka makan dengan berdua saja.


"Baguslah jika tanganmu sudah baik-baik saja," ucap Sean. Reya hanya mengangguk sembari mengunyah makanan itu dengan terlihat buru-buru. Buru-burunya sangat menggambarkan betapa laparnya dirinya.


"Setelah ini kita akan pergi!" ucap Sean membuat Reya melihat ke arah Sean.


"Kemana?" tanya Reya heran.


"Manusia tidak bisa hidup tanpa bahan makanan. Papa menyuruhku untuk mengantarkanmu membeli keperluan makanan. Jadi kamu wanita yang paling mengerti apa-apa saja yang harus di beli sesuai dengan kebutuhan," ucap Sean.


"Tapi bagaimana jika ada yang melihat ku?" tanya Reya mengkhawatirkan hal itu.


"Jakarta tidak sekecil itu. Jadi jangan khawatir," sahut Sean.


Reya tampak berpikir yang mungkin sangat khawatir. Karena jujur dia juga tidak mau mencari masalah lagi.


"Kamu mau kan Reya?" tanya Sean.


"Iya soalnya bahan makanan di kulkas juga tidak ada. Jadi mau tidak mau aku harus ikut," ucap Reya.


Sean tersenyum mendengarnya, "makan lagi!" ucap Sean. Reya menganggukan kepalanya dan mereka kembali makan.


Yang pasti obrolan di antara ke-2nya tidak ada karena mereka juga belum terlihat begitu dekat dan masih sama-sama canggung.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2