Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 68 tidak terkendali.


__ADS_3

Setelah selesai mengganti pakaiannya Reya langsung keluar dari kamarnya dengan buru-buru yang mendapati Sean di ruang tamu yang mana Sean terlihat gelisah.


"Kau datang?" tanya Reya yang menuruni anak tangga.


Sean diam dan hanya melihat Reya yang turun. Pakaian yang di pakai Reya terlihat terbuka sedikit sangat sensual dress tidur dengan lengan satu jari dan bagian dadanya terlihat sedikit dan membuat Sean lagi-lagi kesulitan menelan salivanya yang mana penampilan Reya membuatnya frustasi.


"Sean!" tegur Reya yang sudah berdiri di depan Sean yang membuat Sean terkejut sendiri.


"Iya, apa tadi,"sahut Sean yang beberapa kali membuang napasnya perlahan kedepan yang mencoba untuk fokus.


"Aku hanya bertanya kamu datang," jawab Reya.


"Oh iya," jawab Sean gugup. Kamu baru bangun?" tanya Sean yang berusaha mengalihkan pandangannya.


"Tidak. Aku hanya tidak enak badan. Jadi di kamar terus," jawab Reya.


"Kamu demam?"tanya Sean tiba-tiba cemas.


"Hanya pusing dan pegal-pegal, mungkin kelelahan," jawab Reya mengusap belakang lehernya.


"Pakai baju hangat jangan terbuka seperti itu. Nanti kau bisa semakin sakit," ucap Sean memberi saran.


Padahal dia sedang berseteru dengan hatinya yang sejak tadi menjaga pandangannya dari tubuh Reya yang membuatnya tergoda dan lama-kelamaan bisa gila karena Reya.


"Hmmm, baiklah, oh iya kamu ngapain kemari? apa ada sesuatu,"tanya Reya.


"Ini!" Sean memberikan buah yang di masukkan kedalam kantung plastik.


"Apa ini?" tanya Reya mengambilnya dari Sean dan jelas membungkuk di depan Sean dan tatapan mata Sean langsung jatuh pada belahan dada Reya yang terekspose membuat Sean mengalihkan pandangannya bisa khilaf dia jika Reya terus menguji dirinya.


"Ini buah kecapi," sahut Reya dengan bahagianya. Sean mengangguk saja dengan menahan napasnya yang memang tidak bisa bernapas karena Reya yang sangat dekat padanya.


"Kau mendapatkannya dari mana? kenapa bisa ada?"tanya Reya yang kembali berdiri tegak. Baru membuat Sean bernapas dan bahkan memegang dadanya yang berperang di sana.


"Sean kau baik-baik saja?" tanya Reya yang melihat Sean seperti ada sesuatu yang mana Sean keringat dingin dan bahkan seperti tidak mempedulikannya.


"Tidak aku tidak baik-baik saja. Aku menginginkan..." ucap Sean tidak melanjutkan kalimatnya, " Sean apa kau gila. Sadarlah sean," batin Sean yang benar-benar tidak fokus.


"Menginginkan apa?"tanya Sean.

__ADS_1


"Tidak. Tidak apa-apa, menginginkan kau memakannya," jawab Sean yang mencoba untuk tenang.


"Oh pasti," sahut Reya tersenyum.


"Makanlah buahnya!" titah Sean.


Reya mengangguk dan duduk di samping Sean dengan langsung memakan buah itu. Duduknya Reya di samping Sean membuat Sean semakin gila. Kenapa juga harus duduk di sampingnya terkadang Reya memang suka mancing-mancing.


"Reya apa yang kau lakukan," batin Sean yang semakin gelisah dengan napasnya yang tidak teratur.


"Enak sekali kau mauencobanya?"tanya Reya menghadap Sean dan wajah mereka semakin dekat.


Bukannya menjawab Sean semakin jantungan.


"Sean!" tegur Reya yang melihat Sean banyak bengong nya.


"Aku ketoilet dulu!" ucap Sean yang buru-buru langsung berdiri karena bisa panas dingin di samping Reya.


"Kenapa sih dia. Aneh sekali," batin Reya heran dengan Sean yang tidak biasa bersikap seperti itu.


Namun Reya tidak terlalu memikirkannya dan kembali menikmati buah itu.


"Apa Sean mau buahnya. Apa dia sudah memakannya," Reya kepikiran Sean, ingin memakan semuanya. Tetapi takut Sean belum memakannya. Hal itu membuat Reya bingung.


Karena Sean memang sangat aneh.


Bahkan Sean tidak menjawab pertanyaannya dan membuat Reya geleng-geleng. Namun dua bahagia. Karena mendapatkan buah kecapi yang memang di inginkannya. Bahkan Reya langsung memakannya.


Tidak lama Sean langsung keluar dari kamar mandi yang seperti membasuh wajahnya.


"Aku langsung pulang saja," ucap Sean yang langsung pergi.


"Sean tunggu!" panggil Reya. Namun Sean sudah pergi yang terlihat sangat buru-buru.


"Kenapa dia cepat sekali pulang tidak biasanya, aneh sekali," gumam Reya kebingungan sendiri dengan Sean yang pergi begitu saja.


Reya hanya menghela napasnya dan kembali menikmati buah itu.


Sementara Sean yang sudah di dalam mobilnya mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Atas apa yang telah terjadi barusan yang berhasil membuatnya seperti orang gila. Orang yang seperti terangsang

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan Sean. Apa kau gila memikirkan hal itu. Sadar Sean kau tidak mungkin melakukan itu lagi dengan Reya. Walau kau tidak menyesali hal itu. Tetapi ingat itu kesalahan Sean," batin Sean yang menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan yang mencoba untuk menenagkan dirinya yang mengendalikan setiap emosi yang ada di tubuhnya. Perasaannya yang seolah menginginkan Reya.


"Argggghhh sudahlah berhenti memikirkannya," ucap Sean.


"Sebaiknya aku kekantor," ucap Sean memutuskan. Namun saat ingin menyalakan mobil. Sean baru teringat dengan handphonnya.


"Astaga. Kenapa harus tertinggal segala," umpat Sean dengan kesal. Sudah tau menghindari Reya handphonenya tertinggal segala lagi. Apa dia tidak pusing.


*********


Tidak punya pilihan lain akhirnya membuat Sean untuk kembali ke Apartemennya untuk mengambil handphonenya. Karena handphone itu sangat penting.


Ceklek


Pintu Apartemen terbuka dan Sean melihat Reya berjongkok di lantai yang sedang memebereskan pecahan kaca.


"Reya apa yang terjadi?"tanya Sean dengan panik dan langsung menghampiri Reya berjongkok di depan Reya.


"Aku tidak sengaja menyenggol gelas. Jadi pecah," jawab Reya sembari membereskannya.


"Biar aku saja yang membereskannya. Jangan menyentuhnya," ucap Sean mengambil alih membereskan kaca-kaca tersebut.


"Maaf merepotkanmu," ucap Reya yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa," jawab Sean yang melihat ke arah Reya yang bertepatan melihat belahan dada Reya membuat Sean hilang fokus lagi dengan menelan salivanya. Matanya melihat apa tangannya terus bekerja.


"Arg!"tiba-tiba Sean menggoyang-goyangkan jari-jarinya yang terluka akibat tidak fokus.


"Astaga Sean!" Reya langsung panik dan langsung memegang jari Sean yang sudah luka. Reya spontan langsung mengusap darah pada jari itu.


Hal yang di lakukan Reya membuat darah Sean berdesir dengan napasnya yang kembali tidak stabil dan matanya tidak berhenti menatap Reya yang begitu panik. Mata Sean bahkan turun pada bibir merah Citra yang sekarang meniup-niup jari-jarinya.


Sampai akhirnya Sean yang tidak bisa menahan dirinya langsung meraih bibir Reya, menciumnya tanpa permisi membuat Reya terkejut dan langsung. Namun langsung menutup matanya menerima ciuman dari Sean.


Hal itu sudah di tahan Sean sejak tadi. Namun sudah pergi. Tetapi ada saja yang membuatnya harus kembali dan ya tidak tertahan lagi harus menuntaskan dalam ciuman perlahan namun sangat menuntun dan hingga beberapa menit selesai yang membuat mereka saling melepas tautan bibir mereka dan sama-sama melihat dengan napas yang sama-sama berat.


"Maafkan aku Reya," ucap Sean dengan suara seraknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2