
"Kalian semua benar-benar tidak ada yang bejus," bentak Argantara di hadapan orang-orang suruhannya yang sekarang menunduk yang mendapat semburan dari Argantara.
"Maaf tuan. Ini salah saya. Saya lengah dengan Nona Reya yang tiba-tiba bangun," ucap Dokter tersebut yang mengakui dirinya salah.
"Sudah berapa kali saya mengingatkan kamu untuk hati-hati. Tapi apa lihat pekerjaan kamu," teriak Argantara.
"Arggh, sial, sekarang Sean membawa Reya pergi. Bagaimana lagi aku memisahkan mereka," umpat Argantara dengan memegang kepalanya yang terasa berat.
"Bagaimana bisa tau tempat ini?" tanya Anggika.
"Aku mana tau. Hanya kita yang tau dan sejak tadi kita ada di jalan," ucap Argantara.
"Citra. Apa dia tau tempat ini?" tebak Anggika.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Argantara.
"Aku yakin pasti Citra tau tempat ini dan Citra yang mengawasi kita diam-diam di rumah. Citra pasti mata-mata Sean dan tadi Citra dan laki-laki itu juga ada dan pasti laki-laki itu juga ikut-ikutan mempengaruhi Citra," ucap Citra dengan tuduhannya.
"Laki-laki siapa lagi yang kamu katakan?" tanya Argantara bingung.
"Siapa lagi jika bukan Dosennya Citra. Mas dosen itu tidak baik dan aku yakin dia mempengaruhi Citra," ucap Anggika.
"Reval maksud kamu?" tanya Argantara yang juga tadi melihat Reval.
"Iya laki-laki brengsek yang bersama Citra. Aku sudah melarang Citra untuk tidak menemuinya. Tetapi apa Citra masih berhubungan dan bahkan tidak peduli ancaman ku," ucap Anggika.
"Cukup Anggika. Kamu jangan melebarkan masalah dulu ke sana kemari. Sekarang permasalahan kita adalah Reya dan Sean dan masalah Citra dan Reval aku rasa tidak ada yang di perlu di khayakan," tegas Argantara.
"Bagaimana mungkin kamu mengatakan. Masalah Citra tidak di khawatirkan mas Pria itu tidak baik untuk Citra," tegas Anggika.
"Sudah cukup!" bentak Argantara, "aku sudah mengataiku jangan membahas Citra. Kamu jangan terlalu berlebihan mengatakan ini dan itu tidak baik yang kita pikirkan sekarang adalah mencari Reya," tegas Argantara yang langsung pergi dari hadapan istrinya.
"Mas!" panggil Anggika,
"Reval, kau benar-benar tidak bisa di biarkan lagi. Aku harus bertindak sebelum dia semakin jauh bertindak pada Citra. Aku tidak akan membiarkan dia dan Citra berhubung lagi," batin Anggika dengan tangannya terkepal.
__ADS_1
Anggika melihat anak- buah suaminya yang tetap menunduk.
"Kalian semua cepat cari Reya, dan juga Sean dan iya Pria itu yang bersama Citra cari dia dan beri dia pelajaran," tegas Anggika.
"Baik nyonya," sahut salah satu pria.
"Sudah cepat sana tunggu apa lagi!" bentak Anggika dan semua anak buah itu langsung buru-buru berlari yang menjalankan aksi mereka untuk mencari siapa yang sudah di perintahkan.
**********
Mobil Sean berhenti di tepi pantai yang terlihat ada speed boat di sana yang berada di pinggir pantai yang mana Reya, Sean, Citra dan Reval berada di dekat speed boat tersebut.
"Sean kenapa membawa kami kemari?" tanya Reya.
"Kita akan pergi. Tempat ini tidak aman. Anak buah papa ada di mana-mana dan aku akan membawamu ketempat yang aman," ucap Sean.
"Memang kakak mau kemana?" tanya Citra yang tidak tau menau dengan rencana sang kakak.
"Kakak hanya pergi sementara bersama Reya Citra. Kamu jangan Khawatir kakak," ucap Sean.
"Tapi apa kakak yakin akan aman?" tanya Citra.
"Jangan khawatir. Aku akan menjaga Citra. Kamu juga jaga Reya. Dia adalah sahabat ku dan kita tidak punya waktu untuk bercerita masalah bagaimana aku Reya sebagai sahabat. Nanti biar Reya saja yang menceritakan semuanya," ucap Reval.
"Iya," sahut Sean.
"Reya kita harus pergi," ucap Sean.
"Tapi Sean," sahut Reya yang masih ragu.
"Pergilah Reya. Kak Sean akan menjaga kamu. Kamu jangan Khawatir," sahut Citra.
Reya menghela napas dan mendekati Citra dengan berdiri di depan Citra yang memegang tangan Citra.
"Makasih ya Citra kamu sudah menolongku dan tidak membenciku lagi," ucap Reya.
__ADS_1
"Ini semua bukan salah kamu Reya. Kita tidak salah dan ini semua salah orang tua kita. Kita hanya jadi korban dan apa yang terjadi pada kamu adalah kesalahanku," ucap Citra yang mengakui kesalahannya.
"Tidak Citra itu adalah masa lalu yang terpenting sekarang aku sangat bersyukur dengan kamu yang sudah menerima ku," ucap Reya dengan matanya berkaca-kaca.
"Aku juga bersyukur bisa mengenalmu dan aku juga harus berterima kasih karena kamu juga sudah menolongku dan iya aku benar-benar minta maaf dengan semua kata-kata ku yang sudah menyakiti kamu," sahut Citra dengan tulus.
Sean yang mendengarnya tersenyum dengan adiknya yang semakin lama semakin dewasa.
"Kita saling memaafkan ya," ucap Reya. Citra menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan mereka langsung berpelukan dengan hangat.
"Kamu jaga diri. Percayalah semuanya akan baik-baik aja. Kamu jaga kak Sean. Aku percaya hanya kamu wanita yang bisa membahagiakan kak Sean," ucap Citra yang tidak dapan menahan air matanya.
"Pasti aku akan dan Sean akan saling menjaga dan akan menghadapi semua masalah ini. Kami tidak akan menyerah," ucap Reya yang semakin bersemangat. Walau sebelumnya dia ingin menyerah. Namun tidak sekarang. Dia telah melihat perjuangan Sean dan untuk apa harus menyerah.
"Baiklah Reya aku percaya padamu," ucap Citra yang melepas pelukan itu dengan Reya mengusap air mata ketulusan di pipi Citra.
Citra juga langsung memeluk kakaknya.
"Citra pasti merindukan kakak," ucap Citra.
"Kamu jaga diri Citra, kamu adik yang paling kakak sayangi. Jaga diri kamu baik-baik," ucap Sean.
"Iya kak," sahut Citra yang sudah melepas pelukan itu dari adiknya dan Sean mencium lembut kening Citra.
"Reval titip Citra," ucap Sean lagi.
"Iya aku akan menjaganya," sahut Reval.
"Reya kamu hati-hati," ucap Reval. Reya mengangguk dan Reya dan Sean pun meninggalkan tempat itu dengan menaiki speed boat tersebut. Citra dan Reval masih berdiri di pinggir pantai yang melihat kepergian Sean dan Reya dengan Citra melambaikan tangannya pada sang kakak.
"Aku berharap kakak benar-benar bahagia. Citra juga bahagia dengan semua yang Citra dapatkan sekarang. Citra merasa salah selama ini," batin Citra yang melihat speed boat itu semakin lama semakin jauh.
Air matanya pun kembali jatuh yang berat hati akan kehilangan sang kakak yang tidak tau sampai kapan.
Reval menoleh ke arah Citra, "ayo Citra!" ajak Reval dengan lembut.
__ADS_1
"Iya kak," sahut Citra dengan mengangguk tersenyum dan Reval menggengam tangannya yang mana mereka juga pergi meninggalkan tempat itu.
Bersambung