
2 Minggu kemudian.
Kampus Citra.
Mobil Sean berhenti di depan kampus Citra yang pasti Sean mengantarkannya Citra untuk kekampus seperti biasanya. Karena Citra memang tidak bisa membawa mobil. Jadi Sean harus mengantarnya.
" Makasih kak sudah mengantarkan Citra," ucap Citra dengan cerianya yang membuka sabuk pengamannya.
" Iya Citra. Kamu masuklah dan belajarlah dengan baik supaya cepat lulus," ucap Sean.
" Apa yang kakak khawatirkan lagi. Reya sudah tidak ada dan kakak tidak perlu takut dia akan menguasai Perusahaan. Karena dia sudah pulang ke tempat asalnya. Jadi sudah stop," ucap Citra dengan tersenyum mengingatkan Sean pada Reya.
Sean terdiam. Nama itu sudah 2 Minggu lebih tidak di dengarnya dan tidak tau sekarang bagaimana keadaan Reya. Dan tiba-tiba Sean jadi kepikiran dengan wanita yang pernah menghabiskan malam bersamanya.
" Kak!" tegur Citra melihat Sean bengong.
" Hmmm, iya Citra," sahut Sean yang menjadi gugup.
" Kakak sedang mikirin apa?" tanya Citra.
" Tidak apa-apa. Kamu masuklah. Lulus cepat bukan karena apa-apa. Jadi belajarlah dengan giat," ucap Sean yang memberi pesan adiknya lagi.
" Baiklah aku pikir kakak memikirkan dia," sahut Citra dengan bercandaan.
" Apa yang kamu bicarakan. Masuklah!" ucap Sean.
" Iyaaa kak," sahut Citra mengangguk. Ya sudah Citra masuk dulu. Bye," sahut Citra yang melambaikan tangannya dan langsung keluar dari mobil.
" Reya apa yang terjadi padamu, sudah lama kau pergi. Apa kau baik-baik saja," batin Sean yang tiba-tiba kepikiran Reya. Mengingat nama itu membuat jantungnya berdebar dengan kencang.
Huffff,
" Sudahlah Sean apa yang kau pikirkan, masalah sudah berlalu dan dia yang menginginkan hal ini terjadi, jadi bukan kesalahan mu lagi, ini adalah yang terbaik dan belajarlah untuk melupakannya," batin Sean yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
**********
Sean kembali ke Perusahaan setelah mengantarkan Citra ke kekampus. Sean berpapasan dengan Karin yang berjalan dengan membawa dokumen.
" Sean tunggu!" Karin mengejar Sean saat Sean melewatinya begitu saja.
__ADS_1
" Aku itu atasanmu biasakan jangan memanggilku dengan sebutan nama," ucap Sean yang menegur Karin dengan terus berjalan yang mana langkah Sean begitu lebar dengan wajahnya yang dingin.
" Ya ampun Sean biasanya juga selalu memanggil nama. Jadi sangat aneh kalau tiba-tiba harus berubah," ucap Karin dengan santainya. Sean langsung melihatnya dengan tatapan horor membuat Karin menjadi takut.
" Aku hanya bercanda," sahut Karin dengan tersenyum.
" Di mana papa?" tanya Sean.
" Ada di ruangannya," jawab Karin.
" Kau siapkan semua dokumen-dokumen yang aku minta kemarin dan letakkan di mejaku," tegas Sean.
" Lalu bagaimana dengan ini. Kau harus menandatangi nya," ucap Karin yang menunjukkan map yang sejak tadi di pegangnya.
" Kau letakkan saja di ruanganku," jawab Sean dan langsung membelok yang mana pasti ruangan papanya membuka pintu dan masuk begitu saja. Sementara langkah Karin harus terhenti.
Hhhhhhhhh
Karin membuang napasnya dengan kasar melihat Sean yang pergi begitu saja. Kenapa sih tidak tandatangani dulu. Kan jadinya pekerjaan ku jadi ringan. Isss sean-sean kau itu benar-benar menyebalkan," umpat Karin dengan kekesalannya yang mau tidak mau harus menunggu Sean dulu selesai menemui papanya dan baru mendapatkan tandatangan.
Pekerjaan Karin terbengkalai karena Sean yang mengulur-ulur waktu dan membuatnya semakin pusing.
**********
" Jadi Erina tidak pernah berubah dia terus menyakiti Reya dan bahkan semakin parah," ucap Argantara mengepal tangannya yang terlihat khawatir. Mendengar nama Reya membuat Sean menghentikan langkahnya.
" Benar tuan dia sangat marah melihat Nona Reya pulang. Dia terus menekan Nona Reya dan Nona Reya tidak ingin kembali ke Jakarta walau terus mendapat amukan dan pukulan dari nyonya Erina," jelas Diki.
Sean mendengarnya terkejut. Jantungnya berdetak dengan kencang saat mendengar apa yang di katakan Bodyguard tersebut yang rasanya tidak mungkin.
" Erina kau benar-benar sangat keterlaluan," umpat Argantara dengan menahan amarahnya.
" Ada apa ini pah!" tanya Sean yang melangkah mendekati Argantara dan Diki. Diki menundukkan kepalanya saat Sean berdiri di sampingnya.
Mata Sean melihat langsung ke arah meja yang terdapat beberapa foto Reya. Sangat mengejutkan bagi Sean dengan apa yang di lihatnya. Tangannya yang bergetar langsung mengambil salah satu foto di mana Reya yang pukul Erina yang membuat Sean begitu terkejut.
Diki memang adalah tangan kanan Argantara yang terus mengawasi Reya dan itulah hasilnya, beberapa foto yang memperlihatkan Erina menampar dan menyiksa Reya tanpa ampunan.
" Apa ini pah?" tanya Sean menekan suaranya melihat foto itu dengan terkejut.
__ADS_1
Argantara menghela napasnya kedepan, " Kau keluarlah Diki!" perintah Argantara.
" Baik tuan!" Sahut Diki menundukkan kepalanya dan langsung keluar dari ruangan itu.
" Pah apa yang terjadi pada Reya. Apa Tante Erina melakukan ini kepadanya?" tanya Sean.
Argantara menganggukkan kepalanya. Memang itu nyata terjadi,
" Kenapa Tante Erina menyiksanya seperti ini. Apa yang terjadi kepadanya?" tanya Sean yang begitu shock dan bergetar melihat Reya yang terdapat di dalam foto yang memukul Reya.
" Mungkin papa bersalah dan sangat brengsek telah menghiyanati mama mu dan membuat keonaran dengan membawa Reya ke Jakarta. Tetapi lihat apa yang terjadi sebenarnya. Inilah alasan papa membawa dia pergi dari Erina," ucap Argantara dengan suara rendahnya.
" Maksud papa?" tanya Sean yang masih bingung.
" Selama ini Reya kerap mendapat kekerasan fisik. Papa selalu mengawasinya sejak dia dan ibunya di kirim ke Luar Negri dan ini lah yang terjadi. Erina sangat tempramental dan selalu melampiaskan kemarahannya kepada Reya. Apa yang kamu lihat dari foto-foto itu sangat tidak seberapa dengan kejadiannya. Papa menjadi saksi perbuatan kejamnya," jelas Argantara membuat Sean begitu lemas.
" Papa tidak sanggup Sean melihat Reya mengalami hal seperti itu dan membuat papa langsung menjemputnya. Erina terus mengancam kematian pada Reya. Itu alasannya papa membawanya, meski papa tau di Jakarta juga dia tidak akan mendapatkan kenyamanan," jelas Argantara sembari menahan kesedihan dan rasa khawatirnya pada Reya.
" Apa yang terjadi hanya kesalahan papa. Reya tidak salah. Lalu apa adil dia menanggung semua ini. Tidak Sean dia tidak adil menanggung semua ini," sahut Argantara.
" Apa mama tau masalah ini?" tanya Sean.
" Jika papa membahas Reya dengan mama kamu. Akan terjadi pertengkaran saja. Mama kamu juga tidak mau mendengarkan dan tidak mau tau semuanya," jawab Argantara.
Sean terdiam yang tidak percaya selama ini begitu banyak penderitaan yang di alami Reya.
" Posisi papa serba salah. Papa memaksa Reya untuk pulang berharap Reya bisa damai dengan kalian bisa menerimanya. Papa kira Reya akan kuat. Tetapi apa yang terjadi tidak sama sekali Reya sangat lemah dan memilih untuk pulang meninggalkan semuanya dan memilih kekejaman dari ibu kandungnya," ucap Argantara membuat Sean mengepal tangannya dengan deru napasnya yang mulai tidak stabil.
" Kenapa dia bisa setega itu kepada Reya. Kenapa menyakiti anaknya sendiri," batin Sean yang tidak habis pikir dengan Erina yang sangat kejam.
" Sean!" tegur Argantara membuat Sean melihat ke arah papanya.
" Sekali ini saja mengalah Sean. Papa mohon pada kamu tolong jemput Reya!" ucap Argantara yang membuat Sean terkejut.
" Jangan membencinya. Dia tidak bersalah. Bukan dia yang meminta dunia ini. Jika ingin menyalahkan. Maka salahkan papa. Maka benci papa. Dia tidak salah. Dia sudah banyak menderita. Papa mohon tolong jemput Reya," ucap Argantara dengan wajahnya yang penuh dengan harapan. Memohon belas kasihan dari Sean.
" Tolong Sean! Papa tidak pernah meminta apapun kepada kamu. Jadi tolong sekali ini saja. Tolong jemput Reya. Papa mohon sama kamu," ucap Argantara lagi dengan wajahnya yang terus memohon.
Sean hanya diam dengan mata yang saling bertemu dengan papanya. Yang penuh dengan rasa khawatir. Dari hari Sean yang paling dalam Sean juga sangat mengkhawatirkan Reya. Takut Reya akan berakhir di tangan ibunya.
__ADS_1
Bersambung