
"Citra keluar dari ruangan Argantara yang tadinya mengecek kondisi Argantara dan Citra menghampiri mamanya.
"Bagaimana papa kamu?" tanya Anggika.
"Tidak ada perubahan mah, masih tetap seperti itu mah," sahut Citra dengan lemas yang duduk di samping Anggika. Anggika tersenyum dengan membelai rambut Citra untuk memberikan Citra ketenangan.
"Tidak apa-apa Citra. Kita berdoa saja semoga papa kamu baik-baik saja," ucap Anggika yang hanya bisa memberikan suport untuk putrinya itu.
"Iya mah, Citra juga berharap seperti itu," sahut Citra.
"Oh iya sayang mama mau tanya sama kamu!" ucap Anggika.
"Mau tanya apa mah?" tanya Citra heran.
"Ini masalah Reya," jawab Anggika.
"Ada apa dengan Reya?" tanya Citra heran.
"Tidak apa-apa Citra. Mama hanya mempertanyakan masalah Reya yang bukan anak kandung dari Erina dan juga papa kamu. Jika dia bukan anak kandung mereka. Lalu Reya anak siapa?" tanya Anggika yang kelihatan penasaran. Karena memang kemarin tidak sempat mempertanyakan hal itu pada Reya.
"Aku juga tidak tau mah dan bahkan tidak pernah menanyakan itu pada Reya. Karena memang sebelumnya. Yang aku dengar sewaktu Reya bercerita padaku dan kak Sean. Dia hanya anak yang di ambil dari panti asuhan dan pasti orang tuanya tidak tau siapa. Karena itu juga sudah sangat lama," jawab Citra yang apa adanya yang memang hanya itu sepengatuhaannya.
"Lalu apa Reya tidak ada rencana untuk mencari orang tua kandungnya?" tanya Anggika.
"Kalau masalah itu aku kurang tau mah, aku tidak tau. Tapi kalau aku dengar-dengar sepertinya, Reya tidak berminat sama sekali. Karena menurutnya juga percuma. Karena pasti tidak akan ketemu juga dan lagian masalah Reya juga sangat banyak dan belum ini itu. Aku rasa Reya tidak akan kepikiran untuk hal itu. Tidak tau juga kalau nanti ketika semuanya sudah baik-baik aja ya mungkin akan beda cerita lagi. Ya kita doakan saja yang terbaik, apapun keputusan Reya itu pasti sudah di pikirkannya dan menurutku dengan adanya kak Sean di sampingnya sudah membuatnya sangat bahagia dan sisanya Reya sepertinya tidak butuh apa-apa lagi," ucap Citra yang berbicara dengan bijak dan sangat mendukung apapun keputusan Reya.
"Citra mama tidak menyangka, kamu sekarang jadi sangat dewasa dan berbicara begitu bijak," ucap Anggika yang melihat perubahan pada putrinya itu.
__ADS_1
"Mama jangan berlebihan. Citra hanya berusaha untuk menjadi yang lebih baik aja," sahut Citra.
"Maafkan mama ya Citra, mama pernah marah dan kasar pada kamu dengan sikap mama yang menjadi anak kecil yang melarang kamu bersama Reval tanpa mama memberikan alasan yang masuk akal," ucap Anggika yang baru menyesal dan bisa meminta maaf sekarang.
"Mama tidak perlu minta maaf pada Citra. Lagian Citra juga yang bandal dan lihatlah hasil dari Citra tidak mendengarkan mama. Jadi semua yang terjadi bukan kesalahan mama. Tetapi Citra dan seorang ibu sangat wajar mengkhawatirkan putrinya. Jadi semua itu bukan salah mama. Tetapi Citra," ucap Citra dengan tersenyum.
"Mama sangat bahagia melihat kamu yang sekarang ini," ucap Anggika yang salut dengan Citra.
"Citra juga mah, sangat bahagia dengan mama yang kembali," sahut Citra membuat Anggika tersenyum dengan mengangguk.
"Citra bagaimana dengan Reval. Apa hubungan kamu benar-benar akan kamu akhiri dengannya?" tanya Anggika.
"Apa masuk akal jika di lanjutkan mah. Aku sama Reval juga adik kakak dan itu alasan yang paling tepat untuk tidak melanjutkan hubungan kami. Jadi pertanyaan mama tidak mudah untuk tidak di jawab," sahut Citra yang tersenyum dengan tegar yang menggambarkan jika dia akan baik-baik saja dan menerima takdirnya.
"Lalu bagaimana dengan bayi yang ada di kandungan kamu?" tanya Anggika.
"Tanpa Reval?" tanya Anggika.
"Iya mah, tanpa Reval dan aku pasti bisa menjalaninya dan tidak adanya Reval," sahut Citra dengan yakin.
Anggika terlihat sangat sendu yang sepertinya tidak setuju dengan Citra yang mengakhiri hubungannya dengan Reval.
"Tunggu-tunggu, mama kenapa tiba-tiba membahas masalah ini dan aku melihat mama seperti sangat tidak suka aku dan Reval tidak bersama," ucap Citra yang melihat sang mama penuh selidik.
"Mama hanya ingin kamu bahagia dan mama tau kamu sangat mencintai Reval dan mama tau kamu sangat berat hati dengan kamu harus berpisah dari Reval dan mama sangat menyesal dulu melarang hubungan kalian berdua. Jadi mama hanya menginginkan kamu dan Reval bahagia," ucap Anggika.
"Tapi Kitakan adik kakak mah dan mama tiba-tiba mengharapkan hal itu. Itu sangat tidak mungkin mah," ucap Citra yang merasa aneh dengan Anggika.
__ADS_1
"Kita tidak ada yang tau bagaimana jodoh Citra dan mungkin masih ada jalan untuk kamu dan Reval untuk bersama dan kita tidak tau apa yang terjadi kedepannya dan mama sebagai orang tua yang ingin menebus kesalahannya hanya mengharap kamu dan Sean benar-benar bahagia," ucap Anggika dengan ketulusan hatinya yang membuat Citra tersenyum dan langsung memeluk mamanya itu.
"Citra sebagai suka dengan mama yang sekarang. Lebih bijak dan sangat tulus. Tetapi mah untuk masalah Citra dan Reval sangat jelas tidak ada yang bisa di selamatkan. Jadi mama jangan berpikiran apa-apa lagi. Karena biarlah semuanya seperti ini dan Citra tidak apa-apa kok," sahut Citra yang sangat lempang dalam menjalani takdirnya.
"Mama akan terus berdoa untuk kebaikan kamu Citra," ucap Anggika.
"Citra tau itu mah," sahut Citra dengan tersenyum di pelukan sang mama.
**********
Bandara.
Erina dengan mendorong kopernya yang terlihat memakai Hoodie hitam dengan penutup kepala yang berjalan begitu buru-buru sekali yang melihat-lihat kesekitarnya yang kelihatan Erina begitu cemas.
"Aku harus meninggalkan negara ini. Aku tidak akan membiarkan diriku sampai di tangkap. Aku harus pergi," batin Erina yang berjalan buru-buru sampai dirinya tidak sadar ada orang di depannya dan akhirnya mereka bertabrakan.
"Maaf-maaf," ucap Erina dan orang yang di tabraknya yang sampai jatuh seorang Pria dan Pria itu membawa selembar kertas yang tergeletak di lantai yabg ternyata foto Erina yang sedang di cari dan itu mengejutkan Erina saat dirinya telah menjadi buron dan sedang banyak yang mencarinya.
"Sial!" batin Erina yang langsung menutup wajahnya dan Erina langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan buru-buru dan orang itu seperti mencurigai sesuatu dan langsung berdiri.
"Hey tunggu!" panggil orang itu mengejar Erina.
Ternyata di bandara sangat banyak polisi dan Erina menyadari dirinya yang begitu banyak polisi yang pasti mencarinya yang menyulitkan Erina untuk kabur dan Erina harus bersembunyi karena takut jika sampai polisi menemukan dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan, semua ini benar-benar di luar dugaan ku. Aku benar-benar menjadi buronan," batin Erina dengan penuh ketakutan yang hanya bisa bersembunyi untuk mencari perlindungan dan jangan sampai di tangkap pihak berwajib.
Bersambung
__ADS_1