Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 206


__ADS_3

Argghhh......


Teriak Anggika yang berada di dalam kamarnya yang meluapkan amarahnya. Dengan menyapu barang-barang di atas meja riasnya kamar yang dalam sekejap begitu berantakan.


Suara teriakan itu pasti terdengar sampai lantai bawah yang mana Argantara hanya memejamkan matanya mendengar teriakan istrinya. Argantara terduduk lemah di sofa dengan mengusap wajahnya kasar dengan ke-2 tangannya sampai kerambutnya yang mana Argantara juga terlihat begitu frustasi.


"Apa aku kurang bijak dalam menjadi kepala keluarga? kehidupan, keluarga dan anak-anak hancur begitu saja," ucap Argantara yang tampaknya juga menyadari yang mana seharusnya semua masalah yang terjadi itu karena perbuatan dirinya yang seharusnya menjadi kepala keluarga yang berwibawa dan mungkin jika tidak menghiyanati istrinya mungkin keluarganya tidak akan hancur seperti ini.


Dan benar apa yang di katakan Anggika dia bahkan pergi bersama Erina hanya untuk memastikan semua kebenarannya mengenai Anggika dan masa lalunya yang pasti sebelumnya di sampaikan Erina dengan kata yang di tambah-tambahi.


Sementara Anggika dan Argantara rumah tangga yang di ujung perceraian setelah lelah mempertahankan. Lain dengan Erina yang berada di dalam mobil yang sekarang tersenyum penuh kebahagiaan dengan apa yang dapat terdengar dan bahkan dia bisa melihat bayangan Anggika yang di kamarnya yang terlihat marah dan itu sangat membuat Erina sangat bahagia.


"Semua rencanaku berhasil. Aku sekarang benar-benar bisa melihat bagaimana Anggika yang sekarang hancur berkeping-keping. Anggika-Anggika bagaimana rasanya yang hancur sekarang, huhhh sekarang benar-benar mendapatkan kehancuran mu dan ini sangat nikmat Anggika," batin Erina yang begitu bahagianya saat melihat ke hancuran di depan matanya.


"Aku sekarang benar-benar puas dengan semua penderita yang kau alami. Melihat anak yang kau sayangi hancur. Aku benar-benar puas Anggika," ucap Erina dengan tersenyum miring yang tersenyum penuh dengan kemenangan.


Setelah dia memastikan kehancuran Anggika. Erina pun langsung meninggalkan tempat itu yang mana dia pergi dengan penuh kebahagiaan di atas tangisan dan kehancuran Anggika.


**********


Rumah sakit.


Kondisi Reval yang di rumah sakit sangat memperhatikan dan di mana Reval yang masih terbaring dengan lemah dengan selang infus di tangannya, selang alat pernapasan di hidungnya dan beberapa yang menempel di dada bidangnya yang tidak tau apa itu.


Luka-luka di wajahnya masih ada, kepalanya yang di kelilingi perban yang benar-benar memperlihatkan kondisi Reval yang tidak baik-baik aja. Bahkan Reval belum juga sadar sampai detik ini semenjak di bawa kerumah sakit dan sampai sekarang yang di rumah sakit sudah berada 24 jam. Namun Reval belum siuman sama sekali.


Kondisi Reval yang seperti itu membuat Citra tidak bisa tenang. Walau sangat membenci Reval. Namun tetap Citra kepikiran dengan pria yang menghancurkan hidupnya itu.


Citra memutuskan kerumah sakit untuk melihat keadaan Reval. Dan Citra begitu schok saat mendengar dari Dokter bagaimana kondisi Reval yang belum melewati masa kritisnya.

__ADS_1


Dengan wajah senduh, tidak bisa bohong jika dua begitu mencemaskan Reval. Citra yang berdiri di depan pintu ruang perawatan Reval yang mana melihat Reval dari kejauhan dengan matanya yang berkaca-kaca yang tidak tega dengan kondisi Reval.


"Apa yang kamu lakukan kepadaku membuatku hanya menginginkan kamu mati. Tetapi kenapa saat melihat kamu seperti ini. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Kenapa aku ingin bangun kembali Reval dan harus menderita lagi dengan penyesalan dengan apa yang kamu lakukan. Jangan langsung pergi begitu saja dengan mudah aku tidak ingin semua itu terjadi Reval," batin Citra dengan air matanya yang akhirnya keluar karena pasti terbawa suasana dengan melihat ke adaan Reval


"Citra sudahlah," Citra menyeka air matanya yang sempat jatuh, "dia orang yang menyakiti mu Citra. Jadi biarkan seperti ini. Kau tidak perlu memikirkannya atau merasa bersalah, atau simpatik, kasihan kepadanya. Karena semua yang terjadi karena dia yang menciptakan sendiri," batin Citra yang mencoba untuk keras pada hatinya dengan tidak peduli pada Reval.


Citra pun langsung meninggalkan tempat itu untuk pergi jauh-jauh dari Reval yang menurutnya tidak harus Citra ada di sana. Walau sebenarnya Citra juga tidak bisa membohongi perasaannya yang sebenarnya sangat takut jika Reval kenapa-kenapa.


*******


Sean keluar dari kamarnya dengan menuruni anak tangga. Dia dan Reya masih sama-sama dingin dan belum ada komunikasi semenjak masalah semua nya terbongkar.


Pranggg.


Langkah Sean terhenti ketika di beberapa anak tangga yang mendengar suara benda yang pecah.


"Apa itu?" gumam Sean dengan penasaran. Tanpa berpikir lama Sean langsung menuruni anak tangga dengan cepat yang berlari ketempat berasal dari benda yang pecah itu.


"Reya!" pekik Sean dengan wajah kagetnya dan langsung menghampiri Reya.


"Reya kamu kenapa?" tanya Sean.


"Sakit perutku sakit," ucap Reya yang keringat dingin yang kesakitan.


"Ya ampun ada apa ini!" Sean semakin panik dan saat ingin mengangkat istrinya tiba-tiba Sean melihat noda darah yang mengejutkan Sean.


"Darah?" lirih Sean dengan wajah terkejutnya dan melihat istrinya yang pucat dan tiba-tiba Reya bahkan sudah lemas dan tidak sadarkan diri.


"Reya! Reya! Reya!" Sean berusaha untuk membangunkan Reya dengan menepuk-nepuk pipi Reya. Namun Reya tidak bangun yang akhirnya membuat Sean langsung menggendong Reya ala bridal style dan membawa Reya pergi kerumah sakit.

__ADS_1


Tidak tau apa yang terjadi pada Reya yang tiba-tiba saja Sean menemukannya dalam keadaan seperti itu dan pasti Sean sangat khawatir pada Reya karena Reya juga yang tiba-tiba mengeluarkan darah yang membuatnya sangat khawatir.


*********


Rumah sakit.


Akhirnya Sean melarikan istrinya kerumah sakit karena khawatir terjadi sesuatu pada Reya. Sean yang berdiri di ruang UGD dengan gelisah karena menunggu Reya yang sedang di tangani oleh Dokter.


Wajah Sean sudah penuh dengan kepanikan, cemas dan takut semua bercampur aduk dengan beberapa kali terlihat Sean yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tidak boleh terjadi sesuatu pada Reya. Kamu akan baik-baik aja Reya. Aku tau kamu kuat. Kamu tidak akan apa-apa Reya tidak akan," batin Sean yang hanya berusaha untuk tenang yang menunggu sang istri yang selesai di periksa.


"Kak Sean!" tegur Citra yang tiba-tiba bertemu dengan Sean.


"Citra!" sahut Sean.


"Kakak kenapa ada di sini?" tanya Citra heran.


"Reya ada di UGD," jawab Sean.


"Apah! pekik Citra dengan wajahnya yang kaget mendengar Reya yang ada di UGD.


"Apa yang terjadi kak?" tanya Citra yang ikutan panik.


"Kakak tidak tau Citra. Tiba-tiba saja kakak sudah menemukan Reya yang terduduk lemah dan tadi juga sempat pendarahan. Kakak tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Sekarang Dokter sedang menanganinya. Kakak takut terjadi sesuatu padanya dan juga pada bayi kami," jelas Reya dengan suaranya yang bergetar yang penuh dengan ketakutan.


"Kak Sean tenang ya kita serahkan pada Dokter dan semoga saja Reya tidak apa-apa. Kak Sean jangan khawatir ya," ucap Citra yang berusaha untuk menguatkan sang kakak.


"Iya Citra. Namun tetap saja kakak sangat kepikiran dengan Reya," ucap Sean dengan wajahnya yang menang tidak bisa bohong dia begitu sangat panik.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2