
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Devan akhirnya Polisi mundur mengejar Renita. Renita yang di dalam mobil merasa menang karena Polisi sudah tidak mengejarnya lagi.
"Ha ha ha ha ha ha, makanya kalian itu jangan aneh-aneh. Kalian ingin melawanku, ingin menangkapku. Itu tidak mungkin. Karena aku yang punya kuasa," ucapnya dengan menyombongkan dirinya yang merasa menang.
Owe owe owe owe owe owe owe owe
Suara tangisan Devan masih terdengar membuat Renita emosi.
"Ini lagi, pake nangis segala. Kau diamlah, dasar cengeng. Kau itu sama seperti orang tuamu sangat menyulitkan," bentak Renita yang memarahi anak yang tidak berdosa itu yang wajah bayi itu semakin memerah karena menangis terus.
"Kau dengar bayi kecil yang sangat berisik. Kau itu adalah umpan untukku. Untuk bisa bersama papa mu itu. Dia akan menukar dirinya denganmu dan dia akan bersamaku selamanya dan kau yang sangat tidak berguna bisa kembali bersama ibumu yang sama-sama tidak berguna itu," ucapnya dengan menyunggingkan senyumnya.
"Huhhh, aku tidak sabar bisa bersama Sean. Tidak bersama Reval maka ada Sean yang lebih baik dan lebih segalanya di bandingkan Reval, ha ha ha ha ha ha ha ha," Renita tertawa terbahak-bahak yang merasa sudah menang dengan semua tindakannya yang menculik Devan untuk di jadikan umpan untuk mendapatkan Sean.
Ternyata sukanya pada Sean bukan hanya dendam pada Reya. Karena Reya mencampuri urusannya bersama Reval. Renita marah dan punya rencana untuk merusak rumah tangga Reya dengan menggoda Sean.
Namun dia malah semakin terobsesi dan bahkan sudah ketahuan tidak jera yang sangat ingin memiliki Sean dan melakukan banyak hal termasuk kali ini di mana dia menculik Devan untuk memiliki Sean.
************
Sampai akhirnya mobil Renita berhenti tiba-tiba di jalanan sepi yang berada di pinggir tebing.
"Kenapa tiba-tiba mobilku mati," ucap nya panik yang berusaha untuk menyalakan mesin mobil.
"Sial apa yang terjadi," umpatnya dengan emosi yang terus menyalakan mobilnya.
"Tidak! Aku tidak bisa di sini terus. Aku harus pergi dari sini. Siapa tau mereka masih mengejarku, aku tidak ingin tertangkap aku harus buru-buru pergi," ucap Renita yang mengambil keputusan dengan cepat.
Renita membuka sabuk pengamannya dan langsung keluar dari mobil. Tidak lupa Renita membawa Devan yang masih menangis dan Renita langsung lari yang tidak tau entah kemana.
Tidak lama dari Renita pergi. Mobil yang sebelumnya di kendarai Reval berhenti di belakang mobil Renita.
"Mobil Renita!" ucap Citra melihat pintu mobil itu yang terbuka.
"Ayo cepat kita lihat!" sahut Sean yang langsung keluar dari mobil dan buru-buru menghampiri mobil Renita yang di ikuti semua orang.
"Kemana Renita?" tanya Sean yang memeriksa mobil itu kosong.
"Anakku juga tidak ada," sahut Reya yang juga panik karena tidak menemukan bayinya di sana.
__ADS_1
"Sayang bagaimana ini di mana anak kita? Apa yang di lakukannya kepada anak kita?" tanya Reya dengan panik yang air matanya tidak berhenti keluar.
"Bagaimana jika dia mencelakakai Devan. Apa yang harus aku lakukan sayang! Bagaimana ini?"
Sean, Citra dan Reval juga pasti sangat panik dengan mereka yang tidak bisa berpikir lagi.
Owe owe owe owe owe owe owe owe owe tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang sangat jauh.
"Itu bukannya suara Devan," sahut Citra. Mereka semua hening sebentar untuk mendengarkan lebih jelas lagi suara tersebut.
"Iya itu suara Devan," sahut Reya yang juga mendengar sangat jelas.
"Suaranya dari sana!" tunjuk Reval.
"Ayo kita ke sana," sahut Sean yang langsung menggenggam tangan Reya dan mereka semua berlari mengejar suara tersebut.
Apalagi jika bukan Renita yang berlari dengan kencang yang menggendong Devan yang terus menangis. Renita yang semakin panik karena mobilnya yang mati dan dia tidak tau harus lari kemana untuk membawa bayi itu yang di jadikannya sebagai senjata untuk memiliki Sean.
"Renita hentikan!" teriak Sean yang akhirnya mereka melihat Renita yang berlari jauh.
Renita menoleh kebelakang dan kaget melihat Sean, Reya Citra dan Reval yang ternyata mengejarnya.
"Sial! Mereka masih mengejarku. Dasar penipu tidak menepati janji," umpat Renita.
"Renita jangan pergi! Kembalikan anakku!" teriak Reya yang terus mengejar Renita. Bahkan Citra yang hamil pun sudah tidak peduli lagi dengan kandungannya yang dia hanya takut Devan kenapa-kenapa.
Sampai akhirnya lari Renita terhenti ketika Renita terjebak jalan buntu yang berada di pinggir tebing. Renita melihat kebawah dengan paniknya. Jurang tinggi yang terdapat lautan di bawahnya yang membuat matanya melotot.
"Sial! Bagaimana ini," ucap nya panik dengan napasnya yang naik turun.
"Renita hentikan!" bentak Sean yang akhirnya mereka menemukan Renita dengan jarak mereka sekitar 10 meter.
Renita membalikkan tubuhnya dan begitu panik yang dirinya di kepung dan saat itu mobil Polisi juga akhirnya datang dan semua Polisi langsung berlari menghampiri Renita dengan jarak yang sama seperti Sean dan yang lainnya.
Polisi-polisi juga langsung mengeluarkan pistol mereka mengarahkan pada Renita.
"Jangan bergerak! Kami sudah mengepung anda! Letakkan bayi itu!" sentak Polisi.
Renita panik dan mundur selangkah demi selangkah.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" bentak Renita saat Sean dan yang lainnya mendekatinya.
"Aku akan membuang bayi ini jika kalian Bernai maju," ancam Renita.
"Renita aku mohon jangan lakukan itu, bayi ku tidak salah apa-apa. Mohon letakkan dia Renita," ucap Reya yang berusaha membujuk Renita.
"Dia memang tidak salah dan kau yang salah. Kau juga tidak menepati janjimu dan membawa semua Polisi ini. Jadi Reya aku tidak mau mati sendirian. Paling tidak dia harus menemaniku," ucap Renita dengan tersenyum miring.
"Jangan Renita aku mohon! Jangan!" sahut Reya semakin ketakutan.
"Renita kau jangan gila. Reya itu sahabatmu dan aku juga sahabatmu. Kita bersahabat sudah lama dan pernah berjanji untuk saling menjaga dan tidak menyakiti. Jadi aku mohon jangan lakukan ini kepada Reya," bujuk Reval yang berusaha bicara lembut pada Renita.
"Tapi kalian semua yang sudah menyakitiku, kalian yang tidak menganggapku sebagai sahabat. Kau Reval aku mencintaimu dari dulu dan kau tidak pernah menyukaiku di saat aku ingin kembali mengejarmu kau malah sudah menikah dengan wanita itu," tunjuk Renita pada Citra dengan air matanya keluar.
"Dan kau Reya. Kau sendiri yang memutuskan persahabatan kepadaku dan sekarang kalian mengatakan persahabatan. Di mana sahabat yang sudah menghancurkan temannya sendiri!" teriak Renita.
"Renita aku minta maaf. Jika apa yang aku lakukan menyakiti kamu. Aku melakukan itu. Karena kamu juga menyakiti adikku. Renita aku mohon jangan libatkan anakku dalam urusan kita. Aku mohon kembalikan anakku," ucap Reya dengan air matanya yang terus mengalir yang penuh ketakutan.
"Kalau mau ambillah," sahut Renita yang menantang.
"Kalian mau anak ini kan. Maka Sean kamu ambillah anak ini dan mati bersamaku," ucap Renita menyunggingkan senyumnya yang membuat semua orang kaget.
"Apa maksud kamu?" tanya Sean.
"Kemarilah. Aku akan melepaskan anak ini dan sebagai gantinya kamu yang mati bersamaku," ucap Renita yang tersenyum miring.
"Baiklah!" sahut Sean yang langsung setuju.
"Kak Sean," lirih Reya.
"Tenanglah Reya," ucap Sean dengan matanya yang memberi kode pada Reya. Jika semuanya akan baik-baik saja. Mungkin untuk menghadapi Renita yang di penuhi dengan Iblis perlu dengan strategi dan juga cara yang lembut agar Renita terjebak.
Namun apa yang di lakukan Sean sangat berbahaya. Bisa saja Sean juga ikut terjun kejurang itu.
"Ayo kemari!" ajak Renita yang memanggil dengan tangannya.
"Dan kalian semua jangan ada yang bergerak. Karena satu saja langkah kalian. Maka anak ini akan terjun ke bawah sana," ancam Renita.
"Kamu jangan khawatir tidak akan ada yang bergerak kecuali aku," sahut Sean yang berusaha tenang yang melangkah pelan menghampiri Renita.
__ADS_1
"Kak Sean!" lirih Reya yang semakin takut.
Bersambung