
Mendapat tamparan yang keras membuat Regina dan Barra benar-benar terkejut.
"Penghiyanat! sampah, murahan, hina!" maki Citra dengan sinis kepada 2 orang itu.
"Apa yang kau katakan Citra. Kau berani bicara seperti itu," sahut Barra yang kelihatannya tidak terima dengan apa yang di katakan Citra.
"Lalu kenapa jika aku tidak berani hah! apa yang aku katakan salah. Jika kau laki-laki brengsek!" tunjuk Citra tepat di wajah Barra yang membuat Barra mengepal tangannya yang terlihat begitu emosi.
"Ayo kita bicara di tempat lain!" Barra langsung menarik tangan Citra. Namun langsung melepas kasar tangan Barra.
"Bicara di sini! kenapa kau takut malu di dengar semua orang? kau masih punya rasa malu," ucap Citra. Barra benar-benar emosi pada Citra dan memang sepertinya Barra takut di permalukan Citra. Karena semua orang sedang menonton mereka.
"Berselingkuh dengan sahabatku sendiri, memanfaatkannya untuk menjebakku. Kau itu memang brengsek Barra, laki-laki biadap," maki Citra yang tidak bisa mengendalikan dirinya dan Regina hanya diam yang menunduk yang pasti sudah berlinang air mata dengan Citra yang akhirnya mengetahui penghiyanatan nya.
"Dan kau!" tunjuk Citra pada Regina, "berani sekali bersandiwara di depanku dan bermain di belakangku. Aku salut kepadamu. Kau bisa menutupi segalanya dengan kepolosanmu. Kau itu wanita munafik!" teriak Citra yang begitu marah pada Regina.
"Maafkan aku Citra!" sahut Regina mengangkat kepalanya dan meminta maaf dengan air matanya mengalir.
"Diam!" sahut Citra yang kembali ingin menampar Regina. Namun tiba-tiba di tahannya.
"Arggh!" Citra menjatuhkan kasar sendiri tangannya, "aku benar-benar menyangka Regina kau bisa melakukan ini kepadaku dan hanya karena laki-laki brengsek seperti dia. Kau menghancurkan dirimu sendiri. Kau sadar jika kau hanya di perdaya binatang sepertinya!" Citra tidak henti-hentinya memaki Barra.
"Jaga mulutmu Citra," sahut Barra tidak terima dengan perkataan Barra.
"Apa. Kau memang layaknya seperti seorang binatang. Aku sangat menyesal berpacaran dengan mu. Untuk semua yang ada di sini. Lihatlah Pria yang kalian idolakan ini. Adalah Pria brengsek, yang memperdaya seorang wanita. Dia ini sangat kejam dan lebih cocok tinggal bersama hewan," maki Citra yang mempermalukan Barra di depan semua orang.
Orang-orang di pastikan mencibir Barra habis-habisan dan Barra dengan napasnya yang naik turun, wajah yang memerah hanya bisa menahan kemarahannya di depan Citra.
"Citra!" sentak Barra yang tidak tahan dengan kata-kata Citra, " tutup mulutmu. Kau jangan mengataiku dengan sesuka mu. Kau itu seharusnya ngaca. Jika kau juga sama denganku," ucap Barra sinis.
"Apa yang kau katakan, kau mencari pembelaan," sahut Citra.
__ADS_1
"Aku tidak mencari pembelaan. Apa yang aku lakukan memang sengaja. Ya aku sengaja mendekati Regina. Supaya mendapatkan dirimu. Aku sengaja melakukan semuanya. Dan iya Citra kau itu tidak artinya bagiku dan berpacaran denganmu tidak sama sekali mencintaimu. Aku hanya ingin memberimu pelajaran. Lalu kau mau apa hah!" sahut Barra yang merasa tidak bersalah bicara. Mendengar kata-kata Barra Citra mengangkat tangannya dan langsung menampar Barra.
Namun tidak jadi karena Barra menahan tangannya, "Jangan berani kau menamparku lagi!" ucap Barra menekan suaranya dan melepas kasar tangan Citra dengan mendorong tubuh Citra. Citra hampir saja jatuh. Jika tidak ada Reval yang menahannya dari belakang.
Citra pun melihat siapa yang menolongnya yang ternyata Reval dan bahkan mereka sempat saling bertatapan hingga beberapa detik dan Barra yang melihat hal mengepal tangannya. Reval melepas tangannya dari bahu Citra dan berdiri di depan Barra yang mana Citra di belakangnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini? membuat pertunjukan heboh dan apa lagi yang kalian lakukan hah!" ucap Reval menatap Barra dan Regina secara bergantian. Barra dan Regina sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata.
"Untuk semuanya yang ada di sini bubar! ini kampus bukan bioskop. Bubar semuanya!" teriak Reval yang melihat kerumunan itu dan satu persatu mahasiswa-mahasiswi pun langsung bubar yang menyisahkan Regina, Barra Citra dan Reval sendiri.
"Kalian masih ingin melanjutkan pertengkaran kalian?" tanya Reval. Barra sepertinya begitu marah pada Reval dan terlihat menantang Reval dengan tatapan matanya yang sangat tajam.
"Maaf pak, kami tidak bermaksud membuat kericuhan," sahut Regina dengan suaranya yang bergetar.
"Lalu tunggu apa lagi? kenapa masih di sini?" ucap Reval.
Regina mengangguk dan melangkah ingin pergi begitu juga dengan Barra yang berdecak kesal.
"Kita putus Barra!" ucap Citra langsung memutuskan Barra, "dan kau juga Regina. Kau bukan temanku lagi. Jadi lanjutkan hubungan kalian berdua. Bersenang-senang lah," ucap Citra yang meninggalkan tempat itu.
"Citra!" lirih Regina yang menangis yang sangat menyesal telah menghiyanati Citra.
"Kurang, berani sekali dia memutuskanku, dia benar-benar sudah merendahkan ku," batin Barra yang tidak terima dengan perlakuan Citra dan Barra pun langsung pergi.
Menyisahkan Regina dan juga Reval.
"Sayang sekali. Kamu sudah kehilangan sahabat. Karena kebodohan kamu," ucap Reval dan Regina hanya diam saja. Reval pun tidak banyak bicara lagi dan langsung pergi dari hadapan Regina yang sekarang akan meratapi kesedihannya yang kehilangan Citra.
*********
Rumah sakit.
__ADS_1
Sean yang sangat Khawatir dengan kondisi Reya. Akhirnya membawa Reya untuk memeriksakan kandungannya.
"Apa terjadi sesuatu Dokter?" tanya Sean yang duduk di depan Dokter dan Reya di sampingnya.
"Tidak terjadi apa-apa pak. Jangan khawatir. Hal itu sangat biasa dan saran saya untuk Bu Reya lebih hati-hati lagi. Jangan sampai terjatuh lagi," ucap Dokter dan Sean merasa lega dengan bayinya yang tidak kenapa-kenapa sama sekali.
"Baik Dokter," sahut Reya.
"Reya apa yang kamu pikirkan. Kenapa kamu sampai tidak fokus dan bayi kita hampir celaka," ucap Sean dengan lembut melihat ke arah Reya.
"Maafkan aku Sean," sahut Reya yang merasa bersalah.
"Sudahlah kita jadikan ini pelajaran untuk kedepannya. Kamu lebih hati-hati dan iya aku pastikan akan terus menjaga kamu. Agar kejadian ini tidak terulang lagi," ucap Sean memegang tangan Reya dan Reya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kami permisi dulu Dokter? terima kasih untuk kabar baik ini," ucap Sean.
"Sama-sama Pak Sean, jaga Bu Reya dengan baik ya," ucap Dokter. Sean mengangguk dan membatu Reya berdiri dari duduknya dan mereka Tidka menunggu lama-lama lagi langsung keluar dari ruangan tersebut.
Di tempat yang sama di parkiran berhenti mobil mewah yang mana keluar dari mobil itu pasangan suami istri, Anggika dan Argantara.
"Ayo pah!" ajak Anggika. Argantara mengangguk.
"Periksanya apa lama mah?" tanya Argantara.
"Tidak hanya sebentar saja. Nanti mama akan masuk papa menunggu di luar saja," ucap Anggika.
"Baiklah kalau begitu!" sahut Argantara.
"Makasih ya papa, sudah menemani mama untuk cek-up. Biasanya Citra yang menemani. Tetapi tiba-tiba dia harus kekampus," ucap Anggika yang berbicara lada Argantara sembari berjalan.
"Tidak apa-apa sekali-kali papa yang menemani mama. Lagian mumpung tidak kekantor," sahut Argantara. Anggika tersenyum dan mereka melanjutkan jalan mereka. Sama dengan Sean dan Reya yang sudah keluar dari ruangan Dokter dan juga sama-sama berjalan dengan tangan mereka yang saling menggenggam yang seakan tidak bisa di pisahkan.
__ADS_1
Bersambung.