
Karin terus memperhatikan Sean yang mulai gelisah dan terlihat menahan sesuatu.
" Mungkin obat itu sudah mulai bereaksi. Aku tidak percaya Sean bisa masuk kedalam jebakan ku. Ya ampun Sean kita sudah lama saling mengenal. Apa salahnya jika sekali-kali kita saling memuaskan dulu. Nanti kamu juga akan ketagihan kepadaku. Jika dengan caraku selama ini tidak berhasil menggodamu. Maka dengan cara ini, sekalian aku ingin tau seperkasa apakah dirimu," batin Karin yang sudah penuh dengan rencana. Dia memang sengaja melakukan semua itu yang menjebak Sean.
" Karin!" lirih Sean dengan suara seraknya.
" Iya Sean kenapa?" tanya Karin.
" Aku merasa tidak enak badan kita putar balik ke Villa saja!" perintah Sean.
" Putar balik ke Villa!" sahut Karin.
" Iya," jawab Sean.
" Gawat jika kembali ke Villa yang artinya rencanaku akan berantakan. Karena di Villa banyak orang. Tante Anggika dan Om Argantara mungkin juga sudah sampai. Aku mana bisa bersenang-senang dengan Sean. Bagaimana ini," batin Karin u yang panik rencananya akan berantakan.
Chitttt tiba-tiba Karin merem mendadak membuat Sean hampir kepalanya terbentur ke depan.
" Kau gila Karin!" pekik Sean yang kesal dengan Karin.
" Maaf-maaf Sean. Tiba-tiba saja mobilnya mati!" ucap Karin yang sepertinya dengan cepat mencari ide agar rencananya tidak berantakan.
" Apa katamu mati!" pekik Sean dengan wajah kesalnya.
" Iya benar, aku juga tidak tau kenapa bisa seperti itu," sahut Karin yang terlihat khawatir.
" Argggghhh Sial!" umpat Sean dengan memijat kepalanya yang semakin berat. Karin menyunggingkan senyumnya yang rencananya berhasil.
" Kau tidak apa-apa Sean?" tanya Karin memegang lengan Sean sengaja memancing Sean
" Aku merasa sesak. Kau berpikir bagaimana caranya supaya cepat sampai pada Villa," tegas Sean.
" Mungkin sebaiknya lepas sabuk pengaman mu yang sepertinya kau merasa tidak bebas, biar aku bantu saja!" Karin langsung bertindak yang mendekati Sean yang membuka sabuk pengaman Sean dan dengan sengaja Karin bergerak-gerak sensual untuk membuat gairah Sean semakin menggebu-gebu. Di pastikan itu di rasakan Sean karena reaksi obat yang di berikan Karin kepadanya.
" Kau tidak apa-apa kan Sean?" tanya Karin melihat ke arah Sean dengan wajah mereka Semakin dekat dan Karin memegang dada Sean sedikit mengelusnya.
Sean hanya melihat Karin dengan pandangan matanya yang sudah tidak bisa di katakan lagi seperti apa.
__ADS_1
Sepertinya Karin merasa rencana berjalan dengan lancar dan Karin dengan lancang ingin membuka kancing kemeja Sean. Namun Sean menahan tangannya dengan menatap mata Karin tajam.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Sean dengan suara beratnya.
" Aku, aku hanya ingin membantu mu saja," jawab Karin yang semakin mendekatkan dirinya pada Sean dengan posisi tubuhnya di depan Sean. Mungkin Karin akan semakin gila jika akan naik ke pangkuan Sean.
" Memang aku kenapa?" tanya Sean.
" Aku melihat kau tidak baik-baik saja dan jika kau mau aku akan melakukan apapun untukmu," ucap Karin menawarkan dirinya dengan suka rela.
Sean mendengus dengan tersenyum kasar dan menarik Karin yang mana Karin langsung berada di atas pangkuannya yang membuat Karin benar-benar Schok.
" Kau menginginkan bermain bersamaku?" tanya Sean dengan membelai pipi Karin yang membuat Karin terhanyut dengan Sean yang penuh gairah.
" Sean aku akan melakukannya," jawab Karin dengan suka rela membelai dada Sean dengan sensual yang bahkan semakin mendekatkan wajahnya pada Sean dengan hembusan napas Karin yang menerpa wajah Sean.
Dengan cepat Sean membalikkan posisi mereka yang mana sekarang Karin duduk di jok yang di mundurkan Sean sedikit dan Sean menindih tubuhnya yang Karin tidak akan percaya jika Sean bisa secepat itu bereaksi.
Dengan cepat Sean merobek kemeja yang di pakai Karin membuat Karin shock.
" Sean jangan terburu-buru. Kita bisa melakukan pemanasan dulu," ucap Karin.
" Aku mengerti, aku juga ingin di kasari," ucap Karin yang terus menggoda Sean dan memajukan wajahnya untuk mencium bibir Sean.
" Murahan!" desis Sean membuat Karin menghentikan apa yang tadi ingin di lakukannya dan melihat ke arah Sean.
" Apa maksudmu?" tanya Karin.
" Kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan hah! kau sungguh ingin bercinta denganku. Sampai kaur campurkan obat murahan itu ke dalam minumanku ," ucap Sean dengan menatap Karin tajam membuat Karin kaget dengan matanya yang melotot.
" Apa yang kau katakan Sean? Aku tidak mengerti maksudmu," ucap Karin yang mengelak.
" Jangan pikir aku bodoh Karin. Aku tau apa yang kau lakukan kepadaku. Kau benar-benar lancang melakukan semua itu kepadaku," ucap Sean yang langsung bangkit dari tubuh Karin dan duduk di kursi pengemudi.
" Sean kau salah paham," ucap Karin panik dan mencoba melebarkan posisi duduknya.
" Turun!" perintah Sean.
__ADS_1
" Mamaksudmu?" tanya Karin heran
" Kau dengarkan aku Karin. Jika kau berani melakukan hal ini lagi. Aku tidak akan segan-segan mengeluarkan mu dari perusahaan dan sekarang kau turun dari mobil ku!" tegas Sean.
" Mana mungkin Sean. ini jalanan sepi, aku bisa kenapa-kenapa nantinya," ucap Karin yang panik.
" Aku tidak peduli. Sekarang aku katakan turun!" tegas Sean, " bukannya kau ingin sekali menjajal tubuhmu itu dan carilah Pria yang kau mau. Jadi turun!" bentak Sean.
" Tapi Sean!
" Turun! sebelum aku memecatmu!" ancam Sean. Karin berdecak kesal dan mau tidak mau harus turun dari mobil itu.
" Sial!" umpat Sean yang mencoba menetralkan dirinya dan langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi
" Sean tunggu?" panggil Karin yang melihat mobil Sean yang melaju kencang.
" Arghh!" teriak Karin menyibak rambutnya kebelakang.
" Kurang ajar. Kenapa rencanaku berantakan. Benar-benar kurang ajar. Argggghhh Sean kau benar-benar tega meninggalkan ku disini. Bagaimana aku mau pulang. Kau sungguh tega Sean!" umpat Kayra yang tidak tau harus bagaimana.
Ternyata Sean tidak sebodoh yang di pikirkan Karin. Lihatlah Sean sangat tau semuanya dan sengaja memancing Karin seolah dia terjebak oleh Karin dan sekarang Karin harus menanggung perbuatannya itu dan di pastikan dia akan tidak di percaya Sean lagi. Walau Sean masih memberinya kesempatan untuk tidak di pecat.
**********
Ternyata Reya berhasil keluar dari dalam Club menuju mobiln yang terparkir. Namun Reya. tidak melihat mobil yang tadi di naiki membuatnya kebingungan.
" Di mana mobilnya!" tanya Reya dengan kebingungan.
" Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan, menelponku aku tidak punya nomornya," ucap Reya memijat kepalanya yang semakin pusing dengan masalahnya yang ada-ada saja.
" Tenang Reya!" Reya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan untuk mencerna otaknya. Agar pikirannya bisa berpikir dengan baik.
" Iya aku tau harus melakukan apa?" ucapnya yang tiba-tiba sudah mendapatkan ide.
" Hotel tempat pelaksanaan Event tidak mau dari sini. Sebaiknya aku ke sana saja. Di sana pasti ada pekerja yang lain yang aku bisa minta tolong pada mereka," ucapnya yang berbicara sendiri.
Reya tidak membuang waktunya dan langsung melangkah menuju Hotel keluarga milik Argantara yang memang tidak jauh dari Club tersebut yang mungkin hanya sekitar 200 meter saja.
__ADS_1
Bersambung