
"Jangan menertawakanku," ucap Sean.
"Kenapa? wajahmu sangat lucu,"ucap Reya yang semakin tertawa dengan ekspresi wajah Sean. Sean pun tersenyum melihat lepasnya rawa Reya.
"Aku sudah lama tidak melihatmu seperti ini dan aku tidak menyangka banyaknya masalah di antara kita. Kau bisa tertawa di depanku seperti ini. Aku berharap tawamu ini tidak akan pernah hilang. Aku tidak akan membuat air matamu jatuh lagi," batin Sean.
Tawanya Reya berhenti ketika melihat ke arah jendela di bagian Sean.
"Sean!" lirih Reya yang terlihat sangat shock.
"Ada apa?"tanya Sean.
"Citra,"ucap Reya dan Sean melihat ke arah jendela dan terkejut melihat Citra yang menyebrangi jalan menuju kearah mereka.
"Citra, kenapa dia ada di sini?" tanya Sean panik yang mana Citra mendekati mobil mereka.
"Bagaimana ini?"tanya Reya panik.
" Aku tidak tau Reya. Kenapa Citra ada di sini," sahut Sean yang juga panik.
"Bagaimana kalau Citra melihat kita berdua?"tanya Reya
Sean bingung menjawab pertanyaan itu. Dia panik dan apalagi Reya juga ikutan panik.
Sean melihat kebelakang dan Citra berjalan semakin dekat. Sean langsung menarik tangan Reya menjadi kebawah di mana mereka langsung sama-sama menunduk yang bersembunyi dari Citra.
"Kamu tenang!" ucap Sean dengan pelan.
"Memang akan aman?"tanya Reya tidak yakin.
"Dia tidak akan melihat kita," jawab Sean.
"Apa dia tidak mengenali mobil kamu?"tanya Reya.
"Aku memakai mobil kantor. Citra tidak akan mengenalinya dan aku rasa ini aman,"jawab Sean dengan wajahnya yang begitu dekat dengan Reya.
"Memang Citra ngapain?"tanya Reya yang bicara dengan pelan.
"Aku juga tidak tau," jawab Sean yang bicara juga berbisik. " Biar aku lihat," ucap Sean mengangkat kepalanya untuk mengintip Citra.
__ADS_1
Citra yang menghampiri penjual minuman gerobak dan membeli es campur yang berjualan di samping penjual rujak yang tadi di beli Sean untuk Reya.
" Dia membeli salah satu minuman" jawab Sean masih mengintip adiknya yang terlihat membeli di salah satu gerobak makanan yang berjejer.
"Oh begitu, apa Citra mau makanan seperti itu?" tanya Reya yang kurang yakin.
"Memang ada yang salah?"tanya Sean. Reya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sean yang mengamati Citra tiba-tiba Citra menoleh ke arah mobil Sean membuat Sean panik dan cepat-cepat menunduk dan langsung membentur kepala Reya.
"Maaf Reya," ucap Sean panik memegang kepala Reya.
"Tidak apa-apa," sahut Reya mengusap-usap kepalanya yang lumayan sakit.
"Harus di benturkan sekali lagi. Agar tidak ada benjolan," ucap Sean.
"Memang harus seperti itu?"tanya Reya. Sean mengangguk dan langsung membenturkannya dan membuat mereka sama-sama saling tertawa di dalam persembunyian mereka yang menunduk dengan jarak yang begitu sangat dekat.
Mereka merasa lucu dengan kelakuan mereka yang terlihat seperti anak kecil. Namun itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka berdua.
"Makan lagi. Kita akan aman. Citra akan pergi sebentar lagi," ucap Sean yang berbicara begitu intens dengan Reya.
Reya mengangguk-angguk dan memakan rujak itu lagi.
"Ayo makan!"bujuk Reya yang sedikit memaksa. Sean tetap menolak. Dan Reya terus memaksanya sampai Sean tidak punya pilihan dan menikmati apa yang sangat mengganggu lidahnya itu dan Reya kembali tertawa melihat eksperi Sean.
"Jika apa yang aku lakukan membuatmu bahagia. Maka akan aku lakukan Reya," batin Sean tersenyum yang terus melihat tawa Reya.
"Makasih pak," sahut Citra menerima minumannya dan langsung meneguknya.
"Huhhhh sangat nikmati cuacanya benar-benar panas," ucap Citra yang tenggorokannya sudah aman dengan apa yang di minumnya.
Citta tiba-tiba melihat mobil yang di dekatnya membuatnya heran.
"Kenapa aku merasa sangat mengenali mobil ini. Mobil ini seperti..."batin Citra yang mengingat-ingat.
Citra melangkah mendekati mobil itu.
Dratt dratt dratt.
__ADS_1
Langkahnya terhenti ketika mendapatkan panggilan telpon dan langsung mengangkatnya.
"Iya Regina," sahut Citra.
"Baiklah, aku kembali kekampus," jawab Citra mematikan panggilan telponnya dan tidak peduli dengan mobil itu dan kembali kesebrang jalan.
*********
Sean dan Reya yang sudah terbebas dari Citra melanjutkan jalan-jalan mereka yang sekarang mereka duduk di taman berduaan yang mana Reya sekarang menikmati eskrim coklat kesukaannya.
"Aku masih kepikiran dengan Citra. Dengan apa yang terjadi. Aku jadi melihat sisi lain dari Citra," sahut Reya tiba-tiba yang membahas Citra.
"Maksudnya?" tanya Sean.
"Apa dia juga orangnya sangat sederhana sebenarnya?" tanya Reya.
"Reya, Citra itu sebenarnya sangat baik. Dia memang manja. Tetapi hanya kepadaku dengan masalah yang terjadi baik saat ini maupun 5 tahun lalu membuat luka di hatinya dan aku haru terus mengontrol dirinya. Karena dia terkadang merasa tidak sempurna dan terkadang dia sangat tidak percaya diri. Ya itu juga membuat emosinya tidak stabil dan suka berpikiran pendek," jelas Sean menceritakan kondis Citra.
"Dan itu pasti gara-gara aku," sahut Reya membuat Sean melihat kearahnya.
"Kenapa mengatakan hal itu. Itu tidak ada hubungannya dengan kamu," sahut Sean.
"Kedatanganku membuat Citra pasti selalu ingin bersaing denganku dia kehilangan jati dirinya dan menjadikannya sangat jahat," sahut Reya yang merasa bersalah.
"Mungkin kamu benar. Kedatangan mu membuatnya takut akan kehilangan banyak hal lagi. Padahal dia tidak kehilangan apa-apa. Aku hanya berusaha untuk mengontrol dirinya. Agar dia kembali seperti Citra yang dulu. Yang ceria dan selalu baik pada orang. Walau sekarangpun dia selalu baik kepada siapapun. Tetapi sifatnya terkadang berubah-ubah," ucap Sean.
"Sepertinya sangat menyenangkan jika aku dan Citra berbaikan. Karena aku melihat dia itu sangat baik," sahut Sean.
"Masa itu akan datang Reya. Kamu jangan khawatir lama kelamaan Citra akan bisa menerima keadaan dan menerima kamu. Bisa mengklaim bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan kamu," ucap Sean dengan harapannya membuat Reya tersenyum.
"Aku juga sangat berharap seperti itu. Bisa berteman dengan Citra," sahut Reya. Sean mengangguk-angguk.
"Aku juga senang. Jika kamu tidak membenci Citra. Kamu bisa memahaminya kenapa dia seperti itu. Dia adik kecilku yang sangat manja dan sangat sederhana, sangat baik dan bagiku dia sangat pintar dan penuh semangat dengan keceriannya," ucap Sean yang menuju Citra. Reya tiba-tiba berubah ekspresi aneh dan itu membuat Sean juga aneh.
"Reya ada apa?" tanya Sean. Reya menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak sedang tidak cemburukan Reya?" tebak Sean.
"Ya nggaklah aneh," sahut Reya yang sepertinya mengelak. Membuat Sean tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Dan kamu bagiku segalanya. Kamu bukan adikku. Tetapi wanita yang aku cinta melebihi Apapun," sahut Sean membuat Reya tiba-tiba gugup dan tetap melihat lurus kedepan. Wajah Reya merona ketika mendengar perkataan Sean yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Bersambung