
Alhamdulillah Argantara sudah siuman. Walau kondisinya masih beluk membaik. Dan juga masih kesulitan bicara. Namun sudah sangat di syukuri dengan keadaan Argantara yang jauh lebih baik.
Di dalam musibah yang terjadi pada Reya dan Sean juga Citra yang sama-sama kehilangan anak mereka. Ada hikmahnya yang patuh di syukuri dengan Erina yang sudah di penjara dan Argantara yang sudah siuman. Karena memang setiap masalah pasti ada kebahagiaan tersendiri yang harus di syukuri dengan baik.
Kondisi Reya juga sudah baik-baik saja dan berusaha untuk ikhlas dengan kepergian janinnya yang berusia 4 bulan lebih dan dengan dengan kekuatannya. Reya dan Sean mengunjungi makam janin yang yang pasti sudah berbentuk itu yang pasti di makamkan dengan baik oleh Sean.
Sama dengan Citra yang kandungannya juga turut di makamkan yang usia kandungannya tidak jauh dari Reya dan makam itu di buat secara berdampingan.
Mereka mengirim doa untuk penghuni surga itu dan pasti harus ada air mata yang tumpah dengan kesedihan yang sangat mendalam. Wajar bila sedih kehilangan memang sangat menakutkan dan tidak mungkin tidak bersedih.
Sean menguatkannya Reya dengan merangkul bahu sang istri mengelus-elus nya agar Reya bisa tabah dan Reya meyandarkan kepalanya di pundak sang suaminya.
"Dia pasti sangat bahagia sekarang dan pasti yang terbaik untuk kita semua. Aku juga sangat bahagia sekarang, karena anak kita yang juga sangat bahagia berada di tempatnya, di surganya Allah," ucap Reya yang jauh lebih tabah dengan semua yang di hadapinya.
"Semua ini adalah cobaan untuk kita semua dan kita harus menerimanya. Karena pasti Allah memberikan cobaan karena kita sanggup dan ada hikmah di balik semuanya. Sama dengan kamu Citra. Kamu harus benar-benar jauh lebih kuat lagi sekarang," ucap Sean.
"Iya kak Sean. Apa yang kak Sean katakan benar dan Citra sudah ikhlas dengan semua ini dan tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Aku sama Reya sudah benar-benar ikhlas. Iya kan Reya," ucap Citra.
Reya menganggukkan kepalanya dengan memegang tangan Citra yang berjongkok di depannya itu dengan penghalang kuburan bayi mereka yang di buat satu lobang.
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya sekarang kita pulang, ini juga sudah sore," ucap Sean.
"Iya. Ayi kita pulang," sahut Reya. Citra mengangguk tersenyum dengan mereka yang sama-sama berdiri dengan mereka yang benar-benar sudah lempang sekarang.
"Hmmm, kak Sean kita makan sebentar ya sebelum ke rumah sakit," ucap Citra.
"Iya sayang," sahut Sean.
"Kamu juga ikut ya Citra," ajak Reya.
__ADS_1
"Boleh," sahut Citra yang tidak masalah makan bersama Reya dan Sean.
Reya dan Sean sama-sama tersenyum dan melanjutkan langkah mereka menuju mobil yang terparkir di tempatnya.
"Astaga!" sahut Citra yang tiba-tiba datang dengan menepuk jidatnya membuat Reya dan Sean heran.
"Ada apa Citra?" tanya Reya heran.
"Kayaknya ponselku tertinggal deh di pemakaman," sahut Citra yang baru teringat.
"Ya ampun Citra. Kamu itu benar-benar ceroboh sekali," sahut Sean.
"Maaf kak Sean. Ya sudah kalau begitu Citra ambil dulu. Kalian tunggu saja di mobil," ucap Citra.
"Yakin kamu tidak mau di temani?" tanya Reya.
"Tidak usah Reya," sahut Citra.
"Aduh kenapa sih, aku itu sangat teledor sekali. Bisa-bisanya aku meninggalkan ponsel di pemakaman," gerutu Citra sembari berjalan dengan buru-buru. Agar Reya dan Sean tidak menunggu terlalu lama.
Tidak lama Citra sampai dan Citra menghentikan langkahnya saat melihat ada seseorang di pemakaman itu yang berjongkok di depan pemakaman itu yang terlihat khusuk.
"Reval!" lirih Citra pelan. Walau pelan Reval dapat mendengar suara itu dan melihat kearah Citra. Mereka berdua saling melihat dengan beradu pandang dengan tatapan yang penuh arti yang hanya ke-2nya yang mengerti apa maksud dari tatapan itu.
"Kamu mencari ponselmu?" tanya Reval yang seperti tau tujuan Citra. Citra menganggukkan kepalanya dan memang benar jika dia mencari ponselnya.
"Inih," sahut Reval mengeluarkan dari sakunya dan memberikannya pada Citra. Citra melangkah dan langsung mengambilnya.
"Makasih!" ucap Citra. Reval hanya menganggukkan kepalanya, "kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Citra dengan heran.
__ADS_1
"Kita yang punya masalah. Namun anak ini tetap darah dagingku dan itu artinya juga anakku," jawab Reval dengan tenang, "tidak ada yang salahkan Citta. Jika aku berziarah. Paling tidak aku banyak kehilangan kesempatan yang tidak bisa bersamanya. Tidak bisa ikut dalam merawatnya saat dia di dalam kandungan mu dan bahkan aku juga tidak bisa menyelamatkan saat itu dan aku hanya ingin menebus kesalahanku dan mungkin ini yang terbaik," ucap Reval dan Citra diam saja dalam mendengarkan apa yang di katakan Reval.
"Aku minta maaf, sudah tidak memberimu kesempatan atas anak kita," ucap Citra yang merasa bersalah.
Reval tersenyum mendengarnya. Lalu berdiri dari jongkoknya menghadap Citra.
"Tidak perlu minta maaf. Karena semua itu bukan kesalahan kamu dan aku hanya mencoba dengan sebisaku dalam bertanggung jawab dan pasti kembali untuk menebus kesalahan dan iya Citra sekarang di antara kita tidak ada ikatan apa-apa. Aku bahkan tidak punya alasan lagi untuk dekat denganku atau untuk berusaha kepadamu. Karena selama ini alasanku hanya bayi kita dan sekarang bayi itu sudah tidak ada lagi. Tetapi walau seperti itu aku akan tetap berusaha untukmu," ucap Abian yang ternyata tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Citra.
"Kenapa melakukan semua itu? apa semua itu akan ada hasilnya?" tanya Citra.
"Akan ada hasilnya dan aku yakin itu," jawab Reval dengan sangat yakin yang saling berhadapan dengan Citra dengan mata mereka yang tetap saling menatap. Dengan perasaan mereka yang pasti hanya mereka saja yang tau.
********
Setelah pulang dari pemakaman. Reya, Sean dan Citra akhirnya makan bersama di salah satu Restaurant. Mereka sudah lama sekali tidak makan bersama-sama pasti karena banyaknya masalah yang di hadapi mereka. Namun dalam makan itu terlihat Citra yang sangat terlihat penuh dengan pemikiran.
"Kenapa masih berusaha untukku. Padahal dia sudah tau ujung dari semua ini. Tapi dari kata-katanya dia tampak yakin dan bahkan setelah kehilangan bayi kami dia malah tidak menyerah," batin Zee yang memikirkan perkataan Reval tadi.
"Kamu baik-baik aja Citra?" tanya Reya yang melihat Citra yang terlihat sangat murung.
"Oh iya, Aku baik-baik aja kok," sahut Citra dengan tersenyum yang hanya menunjukkan jika dia memang baik-baik saja. Padahal jelas dia tidak baik-baik aja sama sekali.
"Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Reya.
"Iya Reya. Aku tidak apa-apa kok," jawab Citra.
"Sudah-sudah kita sebaiknya makan saja. Mungkin Citra memang tidak kenapa-kenapa," sahut Sean.
"Iya ayo kita makan, aku benar-benar tidak apa-apa," sahut Citra dengan tersenyum. Reya pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Terserah apa yang di katakan Reval. Aku juga tidak bisa memaksakan setiap kehendak yang ingin di lakukannya dan aku hanya ingin menjalani kehidupan ku dengan normal," batin Citra dengan membuang napasnya perlahan kedepan yang hanya akan mengikuti bagaimana alur kedepannya.
Bersambung.