Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 141


__ADS_3

Reya yang berbaring di atas tempat tidur dengan tangannya yang masih di infus. Perlahan mata Kayra terbuka dengan tangannya yang memijat kepalanya yang mungkin sangat berat.


"Di mana aku?" batin Reya penuh tanya dengan melihat kesekitarnya. Tempat tersebut sangat tidak di ketahuinya di mana. Reya melihat tangannya yang terpasang infus membuat Reya heran.


"Apa aku ada di rumah sakit," batin Reya yang begitu kaget dengan posisinya. Bahkan ternyata pakaian yang di kenakkan Reya sudah di ganti dengan pakaian pasien yang membuat Reya semakin bingung dengan keberadaannya.


Tubuhnya yang masih lemas langsung di paksa Reya untuk duduk dan mengamati isi ruangan itu, "ini rumah sakit. Kenapa aku ada di sini. Apa yang terjadi?" Reya bertanya-tanya dengan kebingungan yang mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Sepenggal bayangan yang teringat di benak Reya. Di mana Reya terakhir mengingat membutuhkan air putih karena sangat haus dan seorang wanita memberikannya yang Reya pikir wanita itu pasti pelayan papanya. Namun Reya tidak ingat apa-apa lagi saat itu yang sebelumnya dia merasa sangat pusing


Semakin memikirkannya membuat kepala Reya semakin sakit. Namun di detik berikutnya tiba-tiba Reya mendengar suara hentakan langkah yang membuat Reya kaget. Suara itu semakin mendekat. Mata Reya fokus pada pintu dan melihat kenopi pintu di tekan dan Reya langsung buru-buru untuk tertidur kembali yang pura-pura belum sadar.


Ternyata yang masuk adalah Dokter yang sejak tadi mengawasi Reya.


"Dia belum sadar juga. Seharusnya obat bius sudah habis," ucap Dokter tersebut yang memperhatikan wajah Reya.


"Apa yang di katakannya. Obat bius apa. Siapa dia sebenarnya dan apa yang ingin di lakukannya," batin Reya dengan penuh tanya.


"Sebaiknya aku menyuntik dulu obat padanya agar dia mempunyai tenaga saat melakukan aborsi nanti," ucap Dokter tersebut.


Reya yang mendengarkan kata-kata aborsi tersenut benar-benar begitu terkejut yang tidak menyangkal ternyata tempat itu adalah rumah sakit dan untuk di lakukannya aborsi tanpa sepengetahuan dirinya.


"Tidak! itu tidak mungkin siapa wanita itu. Kenapa dia ingin melakukan aborsi kepadaku," batin Reya yang semakin cemas.

__ADS_1


"Tuan Argantara dan nyonya Anggika lama sekali datangnya. Padahal mereka yang menyuruhku untuk cepat-cepat mempersiapkannya. Tetapi sampai sekarang mereka tidak datang juga. Huhhhhh tidak apa-apa yang penting aku mendapatkan bayaran yang banyak. Karena jarang sekali ada pasien yang membayar semahal ini," ucap wanita itu.


Mendengar perkataan Dokter tersebut membuat Reya harus menahan air matanya. Menahan sakit dan kekecewaan yang ternyata Argantara ada di belakang semua ini.


"Papa benar-benar jahat. Dia benar-benar ingin melenyapkan bayiku. Aku tidak percaya papa bisa melakukan semua ini. Papa sungguh keterlaluan. Papa benar-benar sangat kejam," batin Reya yang hanya bisa bergerutu dengan penuh kekecewaan kepada Argantara.


Sangat tidak terduganya bahwa Argantara akan tetap dengan keputusannya yang membuat Reya tidak percaya. Argantara selama ini sangat baik. Namun ternyata tidak bahkan seperto monster yang tega membunuh bayinya dan bahkan bekerjasama dengan Anggika yang juga seorang wanita.


"Sean tolong aku!" tolong anak kita," batin Reya, " tidak aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi tidak akan," Reya berusahalah untuk tenang dengan bergerutu sendiri di hatinya.


Suara sang Dokter sudah tidak terdengar lagi membuat Reya membuka sedikit matanya yang mengintip Dokter tersebut. Ternyata Dokter itu sedang membelakangi Reya yang menghadap meja yang seperti melakukan sesuatu. Reya bisa melihat Dokter tersebut sedang memegang suntik yang memasukkan obat yang pasti Reya tidak tau obat apa itu.


"Aku harus pergi dari tempat ini. Aku tidak akan biarkan 1 orang pun yang akan menyakiti bayiku," batin Reya yang dengan cepat bertindak. Dengan perlahan Reya membuka infus di tangannya sembari menahan sakit dan usahanya berhasil.


Dokter tersebut tersenyum dan menghampiri Reya. Dokter itu mengamati wajah Reya. Dari wajah Reya terlihat memang masih tertidur dan infus yang melekat itu seperti masih menempel yang padahal Reya sudah membukanya sebelumnya.


"Aku akan memberimu obat untuk mempermudah janinnya turun," ucap Dokter tersebut yang mengarahkan jarum suntik pada lengan Reya. Jantung Reya sudah tidak aman dengan tindakan Dokter yang akan melanjutkan aksinya.


Sampai Reya bisa merasakan jarum suntik itu menyentuh lengannya dan dalam hitungan detik akan menusuk kulitnya. Namun tidak sempat saat Reya menahan tangan Dokter tersebut yang membuat Dokter itu terkejut dan langsung melihat ke arah Reya yang mana Reya sudah terbangun.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Reya dengan matanya yang melotot.


"Aku, aku!" Dokter tersebut gugup dan ingin melanjutkan aksinya menyuntik Reya. Namun Reya langsung bertindak dengan mendorong Dokter tersebut sampai akhirnya Dokter itu terjatuh yang terduduk di lantai.

__ADS_1


"Auhhhh," lirih Dokter tersebut kesakitan. Reya pun mengambil kesempatan dengan cepat untuk lari.


"Hey mau kemana kau!" teriak Dokter itu yang langsung buru-buru berdiri dan sebelum Reya keluar dari kamar itu Reya mendorong rak alat-alat medis kearah Dokter tersebut untuk menghalangi Dokter tersebut untuk mengejarnya.


"Hey jangan lari!" teriak Dokter itu yang kesulitan mengejar Reya. Namun Reya sudah keluar dari kamar itu dan pasti bingung mau lari ke arah mana. Karena tempat itu tidak di kenalinnya sama sekali.


Saat Reya berlari tiba-tiba berpapasan dengan Pria yang membawanya tadi. Reya dan Pria itu sama-sama terkejut dan Reya langsung bertindak untuk lari.


"Hey mau kemana kau!" teriak Pria itu yang mengejar Reya dan Dokter itu juga mengejar Reya.


"Kenapa dia bisa lari?" tanya pria itu.


"Dia tiba-tiba bangun dan pergi begitu saja," jawab Dokter tersebut.


"Ayo cepat kita kejar. Jangan sampai di lolos," ucap pria itu yang berlari kencang untuk mengejar Reya.


Reya sekuat tenaganya berlari. Padahal ada bayi yang harus di jaganya di dalam kandungannya. Dokter dan pria itu bahkan semakin dekat mengejar Reya yang masih berada di dalam sekitaran klinik.


Belum lagi kondisi Reya yang masih lemas membuat lari dan langkah Reya semakin pelan.


"Kamu harus kuat nak. Kita akan berjuang sama-sama," batin Reya dengan air matanya yang menetes yang sangat berharap dia dan bayinya baik-baik saja.


"Hey mau kemana kau!" teriak Dokter itu yang semakin dekat dengan Reya dan larinya Reya semakin lemah dan Reya hampir saja jatuh dengan tersungkur. Namun sebuah tangan tiba-tiba 2 tangan menanganinya memegang lengannya yang membuatnya tidak jadi jatuh. Reya mengangkat kepalanya dan melihat yang ternyata orang itu adalah Reval dan Citra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2