
Di ruangan perawatan Argantara. Masih terlihat penuh dengan tawa yang mereka masih konsisten untuk menggoda Anggika. Citra dan Sean bahkan saling melihat dengan mata mereka yang tidak bisa bohong jika mereka sangat menginginkan pra tua mereka bersatu. Tetapi kembali lagi semua itu sudah menjadi kehendak dan mereka tidak bisa mencegah keinginan Anggika. Karena mereka juga ingin yang terbaik untuk Anggika dan kebahagiaan untuk mamanya itu.
"Hmmmm, ya sudah pah, mah, kalau begitu aku sama Reya pergi sebentar ya," sahut Sean.
"Mau kemana kalian?" tanya Anggika.
"Aku sama Reya ingin melanjutkan mencari orang tua Reya," jawab Sean.
"Kamu ingin mencari orang tua kandung kamu Reya?" tanya Argantara yang memang baru mendengar kabar itu.
"Iya pah. Reya hanya ingin tau saja dan lagian Reya juga tidak berharap apa-apa. Tetapi lebih baik mencarinya dan paling tidak Reya pernah berusaha. Walau hasilnya tidak tau bagaimana," jawan Reya yang memang sangat pasrah.
"Lalu bagaimana dengan Erina. Apa dia memberitahu kamu?" tanya Anggika.
"Tidak mah. Aku sudah menemuinya dan tidak ada satupun yang di beritahu oleh mama," jawab Reya.
"Jika begitu. Kemana kamu akan mencarinya?" tanya Argantara.
"Ke panti asuhan sejahtera, kebetulan Reya menemukan panti asuhan di mana mama mengambil Reya pada usia Reya 2 tahun," jelas Reya.
"Panti asuhan Sejahtera?" sahut Anggika dengan wajahnya yang tampak berpikir. Bahkan Anggika malah saling melihat dengan kakek yang sepertinya dari wajah ke-2nya mereka merasa asing dengan namanya itu.
"Iya mah, Reya di ambil dari sana," sahut Reya membenarkan.
"Jadi Erina mengadopsi kamu selama 2 tahun di sana dan itu artinya bayi yang aku lihat yang 2 hari setelah lahir itu bukan kamu," sahut Argantara.
"Iya pah. Itu anak lain yang di sewa mama untuk membuat papa percaya dan kembali pada mama. Tetapi setelah papa ke Luar Negri cukup lama. Mama mengadopsi ku dan mengatakan aku anak papa dan sekarang aku dan kak Sean ingin pergi ke panti asuhan itu untuk mencari tau identitas ku dan semoga saja masih ada harapan," jelas Reya.
Argantara menghela napasnya dengan perlahan kedepan. Napas berat yang di keluarkannya dengan memegang tangan Reya.
"Reya bagi papa kamu itu tetap anak papa, kamu dan Sean bagi papa tetap anak papa dan jika kamu tidak menemukan orang tua kamu. Jangan pernah merasa kamu tidak memiliki orang tua atau keluarga. Karena kami semua adalah keluarga kamu dan papa orang tua kamu," ucap Argantara.
__ADS_1
"Iya pah, Reya tau itu. Reya hanya ingin mencari saja dan tidak ada yang di harapkan atau berekspetasi tinggi. Jadi jika hasilnya juga tidak. Maka kekecewaan itu juga tidak akan ada," sahut Reya.
"Papa tetap berdoa yang terbaik untuk kamu. Sean kamu terus dampingi Reya ya," ucap Argantara.
"Itu pasti pah. Papa jangan khawatir," sahut Sean dengan mengangguk tersenyum yang membuat Argantara benar-benar sangat lega.
"Ya sudah pah, mah dan semuanya Reya dan kak Sean pamit dulu ya," ucap Reya yang akhirnya berpamitan.
"Iya kalian hati-hati," sahut Anggika. Reya dan Sean menganggukkan kepala mereka dan langsung pergi dari ruangan itu.
"Semoga saja Reya menemukan petunjuk," sahut Citra.
"Iya kita doakan saja yang terbaik," sahut Argantara.
"Hmmm, Anggika ayo ikut papa sebentar. Papa ingin bicara dengan kamu," sahut kakek.
"Baiklah pah," sabut Anggika menganggukkan kepalanya dan sepertinya tau apa yang mau di katakan papa mertuanya itu. Makanya dia mengikut saja.
"Iya mah," sahut Citra.
Sekarang di ruangan itu tinggal Argantara, Citra dan juga Reval.
"Citra. Bisa tinggalkan papa dan Reval sebentar. Papa ingin bicara pada Reval," ucap Argantara yang tiba-tiba ingin bicara dengan Reval.
"Baiklah pah, kalau begitu. Ya sudah Citra keluar dulu papa bicaralah pada Reval," sahut Citra.
Argantara menganggukan kepalanya. Citta melihat Reval sebentar dan langsung pergi dari ruangan itu. Dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba papanya harus bicara kepada Reval.
"Ada apa Om?" tanya Reval.
"Reval kamu sudah tau dan semuanya sudah jelas. Jika sebenarnya kamu anak kandungku bersama Erina," sahut Argantara.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Reval.
"Perasaan kamu seperti apa dan mengapa masih memanggil saya dengan sebutan Om. Bukannya saya adalah orang tua kandung kamu," sahut Argantara.
"Itu hanya kenyataan dan tidak bisa di pastikan itu sebuah fakta atau hanya kata-kata saja. Namun jika saya harus memanggil Om dengan sebutan papa. Itu juga berarti saya harus memanggil Tante Erina dengan sebutan mama dan saya tidak mau itu dan lagian saya hanya punya 1 orang tua yaitu mama saja," jelas Reval yang ternyata belum bisa menerima Argantara sebagai orang tuanya.
"Apa semua ini akan terus seperti ini?" tanya Argantara.
"Bukankah semuanya sudah sesuai dengan keadaan. Walau darah yang akhirnya banyak perbedaan. Tetapi semuanya sudah menjadi seperti itu yang artinya. Sean bukan anak kandung Om dan Tante Anggika. Tetapi dia tetap anak kalian. Reya yang bukan anak dari Tante Erina dan juga Om. Dia tetap anak Om dan Tante Erina sama dengan saya. Saya juga tetap anak mama Sahila dan tidak akan ada yang berubah," tegas Reval.
"Sampai kapan?" tanya Argantara.
"Aku tidak tau. Sampai kapan aku bisa menerima kenyataan itu dan iya aku juga harus jujur. Jika aku masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Tante Erina. Dan aku ingin melakukan tes DNA yang ingin tau hasil lebih jelasnya," tegas Reval yang mengejutkan Argantara.
"Kamu ingin melakukan hal itu?" tanya Argantara.
"Iya saya ingin melakukannya dan ini demi kebaikan saya," sahut Reval yang memang apa adanya.
"Lalu tujuan untuk apa. Apakah ada yang akan berubah?" tanya Argantara.
"Hanya ingin tau saja kebenaran yang jelas," sahut Reval.
"Jika apa yang benar dan juga benar dalam tes DNA apa yang akan kamu lakukan?" tanya Argantara.
Reval diam sejenak, "aku tidak tau," sahut Reval.
Argantara hanya menghela napas berat dengan keputusan Reval yang ingin melakukan tes DNA dan tidak tau kenapa Reval tiba-tiba punya ide seperti itu.
"Saya tidak melarang kamu jika memang kamu sangat ingin membuktikannya. Namun saya hanya berharap setelah semuanya memang benar. Jika kamu anak kandung saya. Saya sangat berharap kamu bisa menerima saya sebagai ayah kamu," ucap Argantara yang dari wajahnya kelihatan memang sangat berharap banyak.
Reval terdiam yang tidak bisa mengatakan apa-apa dan dia juga rasanya tidak mungkin memanggil Argantara ayah atau menganggapnya ayah kandungnya. Walau itu memang kenyataannya.
__ADS_1
Bersambung