
Pagi hari kembali. Pertengkarana tadi malam membuat Reya dan Sean tidak tidur satu kamar yang mau tidak mau Sean tidur di kamar tamu dan Reya yang tidur di kamar. Tidak tau Sean entah di mana. Apa sudah kekantor apa belum. Karena ini sudah jam 9 pagi dan Reya juga baru bangun tidur.
Dengan matanya yang bengkak yang menangis terus. Reya yang duduk di lantai yang membersihkan lantai yang terdapat bunga yang berserakan yang di bawakan Kevin tadi malam.
Masih saja air mata Reya keluar yang menetes sembari tangannya memunguti bunga tersebut. Mungkin saja suaranya juga habis karena kebanyakan menangis.
Reya menemukan kartu ucapan yang terdapat di bunga itu dan Reya mengambilnya yang langsung membacanya.
...Sayang kenapa harus seperti ini? Apa masalah ini sangat besar untukmu. Aku jujur dengan semua yang aku katakan. Kamu sangat mempercayai ku Reya lalu kenapa kamu tiba-tiba seperti ini....
...Baiklah sayang aku mengalah dan baiklah aku minta maaf jika apa yang aku lakukan membuat kamu marah. Jangan seperti ini lagi ya. Aku membelikan mu bunga. Yang kamu sukai kamu jangan marah lagi ya....
...Aku mencintaimu,...
Tulisan surat itu membuat air mata Reya jatuh lagi dan Reya langsung menyekanya.
"Cinta-cinta kamu bilang. Kamu hanya menutupi semuanya dengan kata-kata ini. Kamu berubah Sean. Aku tidak percaya. Jika kamu bisa menghiyanati perasaan ku," batin Reya yang begitu sangat terluka dengan perbuatan Sean kepadanya.
Padahal Reya belum menyelidiki dengan langsung dan sudah langsung menyimpulkan saja. Bagaimana Sean juga bisa mengatasi hal itu.
***********
Citra benar-benar berkunjung ke Perusahaan Kakaknya. Tadi dia belum bicara dengan Reya. Karena Reya belum keluar kamar dan Citra juga takut mengganggu Reya yang siapa tau Reya masih tidur. Jadi Citra yang tadinya di antarkan Reval menuju Perusahaan kakaknya. Namun Reval tidak ikut masuk. Karena ada juga pekerjaan yang harus di selesaikannya.
"Huhhhhh, pokoknya aku harus menemukan petunjuk dari semua masalah yang tidak masuk akal ini," gumam Citra dengan yakin dan terus melangkah menuju ruangan Sean.
"Sudah lama juga aku tidak ke Perusahaan ini," gumam Citra yang berjalan dengan beberapa kali menundukkan kepala. Karena banyak juga karyawan yang berpapasan dengannya yang menyapanya dengan ramah dan Citra juga menyapa balik dengan ramah. Karena pasti orang-orang Perusahaan tau siapa Citra.
Sampai akhirnya Citra berada di depan ruangan Sean. Tetapi sebelumnya Citra menoleh ke sebelah kirinya. Melihat meja Sekretaris Sean yaitu Karin. Meja itu kosong dan tidak ada siapa-siapa yang beraktivitas. Namun bukan itu yang membuat Citra bengong dan begitu serius yang melihat meja itu.
__ADS_1
"Bekal itu!" gumam Citra.
Citra terbayang dengan kotak bekal yang ada di meja Karin. Dia mengingat itu bekal yang di bawa Reya saat mengantarkan makan siang pada Sean.
"Kok bisa ada di meja Karin," gumam Citra yang langsung mendekati meja Karin dan memegang bekal itu melihat betul-betul bekal itu apa itu bekal yang sama atau tidak.
"Eh ada Citra! Tumben ke mari!" sahut Karin yang tiba-tiba datang yang membawa secangkir kopi dan sekarang di aduk-aduk nya dengan sendok.
"Kita lama juga tidak bertemu Citra. Kamu tambah cantik aja Citra," puji Karin dengan tersenyum yang duduk di tempatnya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Citra yang langsung menunjukkan bekal tersebut.
"Maksudnya apa?" Karin balik bertanya dengan penuh kebingungan.
"Ya ini apa. Kok bisa ada di meja kamu. Ohhhh jangan-jangan kamu ya biang keladinya. Kamu parasitnya selama ini. Kamu itu benar-benar ya masih aja mengharapkan kak Sean. Dia itu udah punya istri dan kamu masih aja mimpi mengharapkannya," tuduh Citra yang langsung memojokkan Karin.
"Citra apa maksud kamu aku itu tidak mengerti maksud kamu dan apa hubungannya dengan Sean," sahut Karin dengan wajahnya yang penuh dengan kebingungan.
"Eh Citra jaga bicara kamu. Kamu itu sembarang kalau bicara. Aku tidak ada niat seperti itu. Perasaan ku sudah mati pada Sean," bantah Karin dengan penuh penegasan.
"Bohong! Kamu pikir aku tidak tau. Kalau dari dulu kamu itu tergila-gila dengan kak Sean," sahut Citra.
"Itu dulu tapi sekarang tidak," tegas Karin.
"Lalu ini buktinya apa. Kenapa kotak bekal ini ada pada kamu?" tanya Citra.
"Ya memang apa urusannya. Orang kemarin Reya dan Sean bertengkar di depan Perusahaan dan bekal itu di buang dan aku memungutnya dan mencucinya. Ya siapa tau Reya mau ambil lagi," jawab Karin apa adanya.
"Ya pasti ini kamu yang buang lah," tuduh Citra.
__ADS_1
"Eh kalau aku yang buang. Ngapain juga aku ambil lagi," sahut Karin menegaskan.
Citra terdiam yang menurutnya masuk akal juga dengan apa yang di katakan Karin. Dan dari wajah Karin memang terlihat Karin itu seperti tidak tau apa-apa.
"Lalu 3 hari yang lalu saat permasalahan bekal ini. Kamu lihat tidak kak Sean makan?" tanya Citra dengan ketus.
"Iya aku lihat dia makan dan sebelum itu Reya datang kekantor dan bahkan mengatakan kepadaku untuk menyuruh Sean makan dan dia sudah menyiapkannya bekalnya dan saat selesai rapat Sean langsung makan," jelas Karin.
"Lalu kalau kak Sean makan. Ini kenapa bisa ada di tempat sampah?" tanya Citra.
"Ya aku mana tau. Aku juga mengambilnya karena sudah di buang. Kalau tau itu masih di tempat sampah ya tidak mungkin juga ambil. Aku juga tidak tau itu punya siapa. Karena ada Reya dan Sean makanya aku mengambilnya dan menganggap itu punya mereka. Makanya aku menyimpannya," tegas Karin.
"Aneh sekali," gumam Citra yang semakin bingung. Apa yang di katakan Sean benar dan apa yang di katakan Reya juga benar. Jadi bagaimana Citra tidak semakin bingung.
Di tengah kebingungan Citra tiba-tiba Citra melihat Renita yang berbicara dengan seorang wanita yang saling tertawa yang sembari berjalan menuju lift.
"Renita!" lirih Citra dengan wajah terkejutnya.
"Kamu kenal dia?" tanya Karin yang juga memperhatikan Renita.
"Siapa sih dia Citra. Kok sering datang ke Perusahaan ini bahkan pernah juga masuk keruangan Sean," ucap Karin yang membuat Citra terkejut dan langsung menatap Karin dengan serius.
"Dia sering datang ke Perusahaan ini?" tanya Citra sekali lagi.
"Kalau aku bilang tiap hari kami pasti tidak percaya," ucap Karin.
Mata Citra melotot mendengarnya yang benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan Karin.
Bersambung
__ADS_1