
Citra keluar dari kamarnya dan Sean sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Citra langsung menutup pintu kamarnya. Namun Sean menahannya yang ingin bicara pada adiknya.
" Pergi dari sini! jangan ganggu Citra! pergi!" usir Citra yang masih marah pada Sean. Sean diam di tempatnya dan tidak mendengar perkataan Citra sama sekali.
" Kakak ingin bicara sama kamu. Jangan berlarut-larut Citra," ucap Sean.
" Aku tidak mau bicara dengan kakak. Kakak itu jahat jadi pergi dari hadapan Citra!" tegas Citra yang mengusir Sean.
" Citra lirih Sean yang berusaha lembut.
" Aku bilang pergi!" teriak Citra mendorong Sean. Namun Sean menarik tangan Citra dan langsung memeluk Citra.
" Lepaskan Citra. Kakak jagat pada Citra. Lepaskan Citra! kakak sudah tidak sayang lagi Citra. Kakak sudah pergi dari Citra. Citra sudah tidak punya siapa-siapa lagi," Citra berusaha memberontak. Namun Sean terus memeluk erat Citra yang tidak akan melepaskan adiknya itu.
" Maafkan kakak Citra," ucap Sean yang mengalah untuk adiknya.
" Nggak. Kakak kelewatan. Hanya karena membelanya. Kakak ingin menampar Citra," sahut Citra yang menagis sengugukan.
" Kakak tidak bermaksud untuk menampar kamu. Maafkan kakak Citra," ucap Sean.
" Tetap saja kakak jahat. Kakak mempermalukan di depan semua orang," ucap Citra.
" Citra apa yang kamu lakukan kelewatan. Semuanya hanya merugikan kamu dan untung saja papa tidak tau masalah ini. Bagaimana jika tau. Kamu yang rugi Citra, kakak hanya tidak ingin kamu mendapat banyak masalah hanya itu saja Citra," ucap Sean yang mengingatkan Citra.
__ADS_1
" Aku melakukan semua itu karena aku capek. Aku tidak bisa menerima kehadirannya. Dia sudah merusak kebahagiaan keluarga kita hiks, merusak segalanya, mengambil papa dari Citra," ucap Citra menagis tersedu-sedu.
" Kakak tau itu. Tapi kamu tidak perlu melakukan hal itu. Kamu hanya membuat diri kamu menjadi orang jahat Citra," ucap Sean,
" Gara-gara itu Reya juga mengalami kehancuran. Apa kamu tau Citra apa yang terjadi kepada Reya. Dia menjadi korbannya," batin Sean yang tidak mungkin mengatakan hal itu pada Citra.
" Maafkan kakak Citra, kakak tidak bisa menahan diri kakak. Kakak tidak bermaksud untuk memukulmu. Kakak sangat menyayangi mu. Percayalah pada kakak. Apa yang kakak lakukan demi kebaikan kamu. Kakak yang baik tidak akan membiarkan adiknya terus menerus berbuat jahat," ucap Sean meyakinkan Citra.
" Kakak mohon. Kamu jangan menjadi orang lain karena Reya. Jangan menjadi orang yang salah karena dia. Kakak sangat menyayangi kamu. Kakak hanya ingin kamu menjadi adik yang baik. Citra penuh keceriaan dan tidak pernah melakukan hal ini," ucap Sean mencoba membuat Citra mengerti. Citra yang di pelukan Sean hanya terdiam dengan tangisannya.
Reya berdiri di balik dingding yang melihat dan mendengar adik dan kakak itu yang saling berpelukan membuat Reya menghela napasnya dengan panjang.
" Memang seharusnya aku tidak datang kerumah ini. Jika aku tidak datang masalah seperti ini tidak akan terjadi dan aku dan Sean juga tidak akan melakukan hal itu. Ini memang bukan salahku. Aku tidak pernah mengharapkan lahir dari siapapun. Tapi inilah takdirku yang mau tidak mau aku harus jalani dan iya keputusan pergi adalah jalan yang terbaik untuk mengubur segalanya. Walau perasaan ini masih ada pada Sean," batin Reya yang akhirnya memilih untuk mengalah demi kebaikan semua orang.
**********
Pagi hari kembali tiba. Reya benar-benar akan berangkat ke Paris dan meninggalkan kota yang kembali melukainya. Hanya Argantara yang mengantarkannya sampai ke mobil yang sekarang Argantara memeluknya dan supir memasukkan koper Reya kedalam mobil.
" Kamu langsung kabari papa. Jika mama kamu melakukan sesuatu. Papa akan bertindak tegas kali ini. Papa akan melaporkan mama kamu ke polisi jika melakukan hal itu lagi kepada kamu," ucap Argantara.
" Iya pah, papa jangan khawatir. Reya akan baik-baik saja. Papa juga kaga diri ya," ucap Reya yang melepas pelukan dari Argantara.
Di mana Argantara menatap Reya sangat berat hati membiarkan Reya pergi. Reya tiba-tiba melihat ke lantai atas yang ternyata Sean berdiri di sana dengan ke-2 tangannya
__ADS_1
yang berada di sakunya yang mata Sean juga melihat ke bawah melihat kearahnya. Mata mereka dari kejauhan yang saking bertatapan dengan perasaan masing-masing yang pasti sangat menyiksa ke-2nya.
Reya mengalihkan pandangannya dan melihat kembali ke arah papanya.
" Reya pergi pah," ucap Reya tersenyum tipis menyimpan luka di hatinya dan dengan berat hati melangkah memasuki mobil. Saat membuka pintu mobil terlihat bayangan Sean di pintu mobil yang masih menatap dirinya sampai detik ini.
" Maafkan aku Sean. Ini jalan yang terbaik untuk hubungan yang salah ini," batin Reya dengan meneteskan air matanya dan langsung memasuki mobil.
Argantara melambaikan tangannya dengan berat hati melepas putrinya yang dia sangat tau putrinya itu pasti akan mengalami penderitaan lagi dari Erina mantan istrinya.
" Papa tau kamu menderita Reya. Namun papa tidak bisa melakukan apa-apa dan mungkin ini yang terbaik untukmu. Papa hanya berharap banyak untukmu Reya. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu," batin Argantara dengan matanya yang berkaca-kaca melihat putrinya yang pergi.
Sementara Anggika berada di depan pintu berdiri tegak dengan ke-2 tangannya berada di dadanya dengan ekspresi yang tidak terbaca sama sekali dan terus melihat suaminya yang menatap penuh kesedihan putrinya.
Sama dengan Sean dia atas sana yang sekarang menghela napas panjang kedepan melihat mobil yang membawa Reya sudah keluar dari gerbang rumahnya. Sangat jelas terlihat di wajah Sean jika dia sebenarnya tidak rela melihat kepergian Reya. Namun dua tidak bisa melakukan apa-apa. Karena itu keputusan Reya. Reya yang menginginkan kepergian itu.
Citra berdiri di depan pintu teras balkon dan melihat Sean yang berdiri yang terus melihat kepergian Reya. Citra juga tidak tau apa yang di pikirkannya ekspresinya tidak terbaca. Sean pun membalikkan tubuhnya dan langsung berhadapan dengan Citra. Mereka saling melihat sebentar. Lalu Citra melangkah mendekati Sean dan langsung memeluk Sean.
" Citra bahagia kak sekarang dia sudah pergi dan hanya ada kita saja. Mama, papa, Citra dan kakak. Dia yang telah menghancurkan kita akhirnya pergi dengan sendirinya," ucap Citra yang memeluk Sean.
" Semua bukan kesalahan Reya Citra. Tetapi dia harus menanggung semuanya. Kau tidak tau Citra semua yang kau lakukan kepadanya membuatnya menjadi sangat tidak berharga. Dia sangat menderita Citra," ucap Sean di dalam hatinya. Mana mungkin dia berani bicara seperti itu kepada Citra yang ada mereka akan bertengkar lagi.
Bersambung
__ADS_1