Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 186


__ADS_3

"Papa tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Papa terlalu sibuk dengan permasalahan papa dan mama. Masalah kakak kamu sampai papa tidak pernah memperhatikan kamu dan betapa banyaknya kesulitan yang kamu alami. Maafkan papa Citra semua ini adalah kesalahan papa. Papa gagal menjadi orang tua untuk kamu. Papa gagal menjadi papa kamu. Maafkan papa Citra," ucap Argantara yang menyadari semua ini karena kesalahannya yang tidak memperhatikan Citra dan akhirnya Citra menghadapi masalah yang buruk itu yang membuat Citra mengalami kesulitan dalam kehidupannya.


Sepenjang Argantara yang berbicara. Tidak satupun di jawab oleh Citra dia hanya mengeluarkan air mata dengan tatapan kosong. Citra sudah terlihat begitu lelah dengan kehiduannya yang pasi sangat hancur dan dia semakin hancur saat orang-orang yang di cintainya kecewa dengan apa yang di alaminya dan itu yang membuat Citra semakin hancur, mendengar suara kakaknya yang menahan tangis dan sekarang suara papanya yang juga menangis membuatnya merasa bersalah dan semakin tidak ada gunanya untuk hidup.


"Citra jangan takut Citra, jangan takut sama papa Citra. Papa akan menjaga kamu. Papa akan menebus semua kesalahan papa kepada kamu. Kita hadapi sama-sama nanti Citra," ucap Argantara yang berusaha untuk membuat Citra tidak merasa sendirian atau penuh dengan tekanan. Karena dia juga mendengarkan semua dari Dokter bahwa Citra penuh dengan tekanan.


**********


Sementara Mesya yang berada di rumahnya di kamarnya terlihat histeris dengan memberantaki isi kamarnya dengan menyapu semua benda-benda yang ada di meja rias, kamar itu sudah seperti kapal pecah


"Tidak! tidak mungkin semua ini. Citra tidak mungkin hamil anak Reval. Tidak mungkin. Citra kamu tidak mungkin mengalami semua ini!" teriak Anggika yang terduduk lema dengan Prustasi yang tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Karena kehidupannya yang benar-benar sangat berantakan. Anaknya benar-benar hancur karena menebus dosa-dosanya di masa lalu.


"Mama yang salah Citra, mama yang salah. Lalu kenapa kamu Citra yang menjadi korban. Mama yang salah semua ini karena kesalahan mama Citra. Mama yang bersalah!" teriak Anggika yang mengakui dosa-dosanya yang tidak bisa di katakan seperti apa lagi. Dia benar-benar nyata melihat kehancuran Citra karena perbuatannya di masa lalu yang telah menghancurkan keluarga orang lain.


Keegoisannya menjadikan Citra korban dan sekarang Citra sudah tidak punya semangat untuk hidup karena masalah yang di alaminya penderitaan yang sangat banyak dan seperti apa kata Sean Citra bukan Reya yang kuat dalam menghadapi semuanya.


Reya juga penuh dengan masalah,. percintaan, persaudaraan dan sama hamil sebelum pernikahan. Namun Reya bisa kuat dan tidak pernah punya pemikiran sampai ingin melenyapkan dirinya.


************


Rumah sakit.


Reya berjalan di koridor rumah sakit yang melewati kamar-kamar rumah sakit yang mana Reya membawa kantung plastik yang yang sejak tadi di pegangnya.

__ADS_1


"Semoga Citra mau makan ini. Citra sangat menyukai makanan ini semoga saja Citra mau makan," gumam Reya yang ternyata sempat-sempatnya membuatkan makanan kesukaan Citra.


Reya hanya berusaha semampunya untuk Citra. Apa lagi Citra tidak pernah bicara sama sekali setelah masuk rumah sakit, makan, minum pun tidak pernah dan Reya hanya berusaha untuk membuat Citra tidak merasa sendirian dan masih banyak yang menyayanginya. Hanya itu yang bisa di lakukan Reya.


Reya pun sudah tiba di depan kamar Citra dan langsung membuka pintu kamar itu. Namun betapa terkejutnya Reya saat melihat Citra yang terduduk dan memegang pisau yang mengarahkan pada nadi lengannya yang membuat mata Reya terbelalak kaget dengan apa yang di lihatnya yang membuatnya terkejut.


"Citra!" teriak Reya yang menjatuhkan apa yang di pegangnya dan langsung berlari menghampiri Citra menarik pisau itu dan membuangnya.


Citra tidak melawan hanya diam seperti orang linglung yang tidak punya pikiran dan tatapan yang sangat kosong seperti apa yang di inginkan Reval jika dia sudah mulai kehilangan kewarasannya dengan mentalnya yang terganggu.


"Citra apa yang kamu lakukan, jangan seperti ini Citra!" Reya langsung memeluk Citra dengan erat. Namun Citra hanya diam di pelukan itu yang seolah-olah tidak mengerti apa yang di lakukannya.


"Citra masih banyak yang harus kamu lakukan Citra. Masalah yang kamu hadapi tidak seharunya membuat hidup kamu berhenti sampai situ. Jangan melakukan hal ini Citra. Kamu harus bertahan Citra. Aku akan selalu di sisimu. Aku tau apa yang kamu rasakan. Tetapi jangan menyakiti diri kamu Citra," ucap Reya yang terus memeluk Citra untuk memberikan Citra pengertian.


"Citra aku pernah mengalami apa yang kamu alami sangat hancur Citra dan tidak punya tujuan hidup. Tapi aku bertahan sampai detik ini. Karena aku yakin tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan Citra," ucap Reya terus berusaha untuk membuat Citra dengan penuh dengan pengertian.


"Kamu sangat menyayangi kak Sean. Aku tau bagaimana perasaan kamu yang menyayanginya. Citra dia menyalahkan dirinya atas apa yang kamu alami. Dia tidak berani menemui kamu Citra. Dan dengan kamu ingin melenyapkan diri kamu. Apa kamu tidak memikirkan kak Sean. Citra dia akan semakin bersalah, akan semakin semakin hancur," ucap Reya yang akhirnya membuat air mata Citra keluar kembali.


Mungkin kata-kata Reya mampu menyadarkan. Walau tidak bisa bicara. Tetapi dia bisa merasakannya.


"Citra aku mohon sama kamu jangan berbuat seperti ini lagi. Kamu harus berjanji. Kita hadapi Masalah ini sama-sama dan aku yakin masalah ini akan bisa di selesaikan dengan cepat. Kita sama-sama menghadapi masalah, aku kak Sean dan kamu. Bukannya kak Sean sudah berjanji tidak akan meninggalkan kamu. Jadi aku juga tidak akan meninggalkan kamu," ucap Reya yang berbicara lembut.


"Aku mohon jangan seperti ini Citra. Jangan melakukan hal ini lagi, kamu harus mendengarkanku," ucap Reya yang berusaha untuk membujuk Citra dan Reya kembali memeluk Citra dengan erat yang memberikan Citra ketenangan.

__ADS_1


"Kamu tidak sendirian, kamu tidak sendirian Citra," ucap Reya yang terus mengulang kata yang sama.


*********


Akhirnya Reya bisa mengatasi Citra, Reya sekarang menyelimuti Citra yang kelihatannya Citra sudah mulai tenang yang bahkan tadi Citra mau makan dengan di suapi Reya. Walau hanya beberapa sendok saja. Tetapi itu perkembangan yang sangat baik yang membuat Citra jauh lebih baik sekarang.


"Alhamdulillah Citra sudah beristirahat. Aku harus terus menjaganya. Aku tidak bisa membiarkan Citra sendirian," batin Reya yang masih takut jika apa yang terjadi sebelumnya akan terulang. Dia tidak ingin hal itu terjadi sama sekali.


Reya melihat ke pintu depan dan melihat Argantara ada di sana. Terlihat canggung ayah dan anak itu, karena sebelumnya Reya dan Argantara tidak saling bertegur sapa. Walau beberapa kali sama-sama di rumah sakit karena permasalahan Citra.


Mungkin karena masalah yang terjadi yang telah di hadapi mereka. Masalah pernikahan Sean dan Reya dan Argantara yang telah mengusir Sean dan Reya yang tidak ingin bertemu dengan Sean maupun Reya.


"Citra sedang istirahat, sebaiknya papa jangan membangunkannya dulu," ucap Reya dengan suara datarnya.


"Kita bicara sebentar Reya," ucap Argantara yang pergi dari hadapan Reya. Reya menghela napasnya dan langsung keluar dari kamar Citra untuk bicara dengan Argantara.


"Ada apa pah?" tanya Reya.


"Makasih kamu sudah ada untuk Citra. Papa benar-benar sangat berterima kasih untuk kesetiaan kamu yang ada di sisi Citra," ucap Argantara.


"Aku hanya melakukan apa yang menurutku yang harus aku lakukan," sahut Reya.


"Reya kamu selama ini bersama Citra. Apa kamu tau apa yang terjadi dan siapa Pria yang bersama Citra dan siapa yang harus bertanggung jawab untuk semua ini," ucap Argantara.

__ADS_1


"Apa yang papa katakan. Kenapa bertanya siapa yang bertanggung jawab. Apa papa tidak ingin bertanggung jawab dengan semua masalah yang di hadapi Citra?" tanya Reya yang benar-benar Tidka mengerti dengan kata-kata Argantara yang menurutnya sangat santai dalam mengurus Citra.


Bersambung


__ADS_2