Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 59 Membawanya.


__ADS_3

Sean semakin hancur mendengar kenyataan itu. Dia sangat terpukul dengan luka yang di alami wanita yang sangat di cintainya dan bahkan di saksikan di depan matanya. Siapa yang di salahkan dalam hal ini. Bahkan Sean sendiri benar-benar begitu hancur.


" Kenapa tidak mengatakannya kepadaku?" tanya Sean.


" Apa kau akan peduli. Tidak akan ada yang peduli dengan keadaanku. Kalian semua sangat membenciku dan apa yang terjadi padaku bukannya merupakan kabar gembira untuk kalian hiks, kalian itu..."


Reya tidak melanjutkan kalimatnya saat mulutnya di bungkam oleh Sean, mencium Reya dengan dalam yang tidak ingin Reya bicara lagi. Dia hanya ingin menumpahkan kerinduannya dan juga rasa luka yang di alaminya karena apa yang terjadi kepada Reya.


Awalnya Reya tidak setuju dengan ciuman itu. Namun perasaannya dan hatinya sangat menginginkan yang harus di sadari nya. Jika dia sangat mencintai merindukan Sean dan membutuhkan Sean.


Reya juga seakan melupakan. Kenyataan bahwa mereka adalah adik kakak. Dia seakan tidak peduli dengan hal itu lagi dan hanya ingin Sean di sisinya.


Ciuman itu terus semakin dalam dengan kedua tangan Sean memegang tengkuk Reya dan tangan Reya yang memegang erat kemeja Sean. Mereka berciuman dengan sama-sama menikmati yang sama-sama terbalut dalam perasaan yang sama yang ke-2nya saling membalas ciuman itu.


Lama berciuman melepas kerinduan akhirnya mereka saling melepas tautan bibir mereka dan sama-sama membuka mata dengan perlahan dengan hembusan napas yang tidak stabil.


" Ikutlah bersamaku Reya. Jangan menyiksaku dengan seperti ini. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya aku mohon Reya," ucap Sean dengan suaranya yang serak dengan tulus yang menatap dalam-dalam Reya yang meminta Reya untuk pergi bersamanya.


" Reya aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Aku tidak akan bisa tenang jika pulang tanpa dirimu. Aku mohon Reya tolong ikut lah denganku," ucap Sean lagi.


Reya menganggukkan kepalanya dengan air matanya yang kembali menetes dimana akhirnya setuju dengan Sean.


Walau dia tidak tau apakah itu jalan yang tepat atau tidak. Tetapi jika tidak ikut bersama Sean mungkin Sean bisa melakukan hal yang lain-lain lagi dan lebih baik Reya ikut saja.


Mendengarnya Sean tersenyum dan langsung memeluk Reya dengan erat begitupun dengan Reya yang merasa jauh lebih baik dari sekarang.


" Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi lagi. Reya aku akan memberi kenyamanan untukmu di Jakarta. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari ku," ucap Sean yang berjanji pada Reya dan Reya tidak menanggapi apa-apa dengan kata-kata Sean.


*********


Reya dan Sean sudah selesai dalam mengemasi barang-barang Reya yang memasukkan kedalam koper. Mereka sama-sama menuruni anak tangga dan menemui Erina berada di ruang tamu yang masih terlihat sangat berantakan.


Sean dan Reya saling melihat. Sean menganggukkan kepalanya pada Sean.


" Mah!" Lirih Reya mendekati mamanya.


" Tidak perlu berpamitan pergilah dan jangan kembali, melihatmu aku hanya merasa sangat hancur. Kau itu pembawa sial," ucap Erina dengan ketusnya yang pasti kata-kata itu sangat menyakiti Reya. Namun Reya hanya menghela napasnya saja yang merasa harus bersabar dengan kata-kata tajam sang mama.


" Ayo Reya kita pergi!" Sean menggenggam tangannya. Dia tidak ingin Reya semakin mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan lagi.


" Reya pergi mah. Mama hati-hati di sini. Reya sangat menyayangi mama. Kalau ada apa-apa tolong kabari Reya," ucap Reya. Namun Erina tidak menanggapi apa-apa dan Sean langsung membawa Reya pergi.

__ADS_1


" Pergilah Reya. Agar keluarga itu berantakan. Aku sudah tidak sabar mendengar berita selanjutnya," batin Erina dengan menyunggingkan senyumnya.


*********


Citta, Argantara dan Anggika sedang sarapan bersama.


" Pah kak Sean kemana sih. Kok sudah 2 hari belum pulang?" tanya Citra yang terlihat merindukan kakaknya dan sama sekali tidak tau kakaknya itu kemana.


" Kamu kenapa tidak telpon kakak mu saja?" tanya Anggika.


" Nggak bisa mah. Aku sudah mencoba menghubungi. Tetapi handphone tidak aktif dan biasanya kalau kak Sean ke Luar Negri biasanya mengabari dan bahkan sering bertanya pada Citra. Tetapi sekarang tidak," ucap Citra yang begitu sendu.


" Mungkin kakak kamu sibuk bekerja dan nanti juga kalau waktunya lempeng pasti akan secepatnya mengabari kamu," sahut Argantara.


" Memang Sena kemana mas?" tanya Anggika yang yang juga penasaran dengan hal itu.


" Bukannya perjalanan bisnis keluar Negri," jawab Argantara.


" Iya tapi kemana?" tanya Anggika.


" Aku tidak mungkin mengatakan pada Anggika jika Sean menjemput Reya. Ini hanya akan menjadi masalah besar saja nantinya.


" Mas!" tegur Anggika yang melihat suaminya bengong.


" Mas taukan Sean perjalanan bisnis kemana?" tanya Anggika lagi.


" Iya benar. Mana mungkin papa tidak tau kak Sean kemana kan satu kantor," sahut Citra yang juga penasaran.


" Hmmm, kemarin Sean kerja sama dengan pengusaha asing yang berasal dari New York. Ya mungkin saja Sean ada pertemuan di New York. Karena berhubungan dengan hal itu. Papa juga kurang tau bagaimana detailnya," jawab Argantara dengan tenang.


" Ohhhh, begitu. Tetap saja kak Sean tidak mengabariku. Hufff aku akan ngambek setelah ini," ucap Citra dengan wajah cemberutnya.


" Citra kamu ini sudah dewasa jangan ngambek-ngambekan lagi. Lagian kakak kamu juga sudah dewasa nanti kalau kakak kamu mengurus kamu terus. Dia tidak akan mendapatkan pacar," ucap Argantara.


" Memang tidak boleh dapat pacar. Kak Sean harus mengurusku dulu dan kalau mau pacaran harus aku menyeleksi orang-orang itu," ucap Citra dengan tegas.


" Mana bisa seperti itu. Selera kamu belum tentu selera kakak kamu," sahut Anggika.


" Selera Citra itu tinggi mah dan pasti akan sesuai dengan kak Sean," sahut Citra dengan yakin.


" Terserah kamu saja," ucap Anggika geleng-geleng.

__ADS_1


" Assalamualaikum," tiba-tiba terdengar salam membuat mereka langsung melihat kearah suara itu.


" Walaikum salam," sahut mereka serentak


" Barra!" sapa Anggika.


" Selamat pagi Tante," sapa Barra dengan ramah yang langsung mendekati Anggika dan mencium punggung tangan Anggika dan melakukan hal yang sama dengan Argantara.


" Pagi Barra. Kamu sudah lama tidak terlihat. Kamu dari mana saja?" tanya Anggika heran


" Iya Tante kebetulan Barra dari Luar Negri dan iya ini Barra juga membawa Tante dan Om oleh-oleh sedikit," ucap Barra yang memberikan paper bag yang sejak tadi di pegangnya.


" Ya ampun Barra kamu repot-repot sekali," ucap Anggika.


" Nggak kok Tante," sahut Barra tersenyum dan melihat ke arah Citra yang terlihat jutek bahkan tetap sarapan tanpa mempedulikan Barra.


" Makasih lo Barra," sahut Anggika.


" Sama-sama Tante," sahut Barra.


" Kamu mau menjemput Citra?" tanya Argantara.


" Iya Om. Saya mau kekampus sama Citra," ucap Barra.


" Tetapi kita belum ada janji sama sekali," sahut Citra.


Anggika dan Argantara saling melihat yang kelihatan anaknya ini ada sesuatu.


" Citra kamu ini bicaranya manis sedikit kenapa. Kan Barra hanya ingin menjemput kami saja," ucap Argantara.


" Citra kamu tidak boleh seperti itu. Kasian Barra sudah capek-capek menjemput kamu," ucap Anggika.


" Baiklah kalau begitu. Ayo!" sahut Citra yang akhirnya mengalah.


Dia tidak mungkin ribut dengan Barra di depan orang tuanya dan Barra hanya menghela napasnya yang memang harus ekstra sabar dalam membujuk Citra. Hubungan mereka memang tidak baik sama sekali.


" Ya sudah mah Citra pergi dulu, pah," ucap Citra yang sekalian berpamitan.


" Iya sayang kamu hati-hati ya," sahut Anggika.


" Tante saya pamit, om," Barra juga berpamitan.

__ADS_1


" Iya Barra menyetir yang benar ya," ucap Argantara. Barra mengangguk saja dan langsung menyusul Citra yang sudah pergi terlebih dahulu.


Bersambung


__ADS_2