
Anggika yang berada di ruangan Argantara yang memberikan Argantara obat dengan Argata duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Setelah memberikan obat. Anggika langsung memberikan air putih pada suaminya itu.
"Terima kasih Anggika!" ucap Argantara.
"Sama-sama mas. Ya sudah mas sebaiknya istirahat saja," ucap Anggika dengan tersenyum tipis.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu," ucap Argantara yang tampak sangat serius.
"Baiklah mas. Katakan apa yang ingin kamu bicara?" tanya Anggika.
Argantara menghela napasnya dan meraih tangan Anggika, "kita tidak akan bercerai kan?" tanya Argantara yang ingin memastikan hubungan rumah tangga mereka.
"Kamu sedang sakit mas dan jangan membahas perceraian dulu. Itu tidak ada gunanya," jawab Anggika.
"Tapi aku ingin memastikannya. Jika kita berdua masih bisa memperbaiki rumah tangga kita. Kasih aku kesempatan Anggika. Anak-anak kita sudah dewasa dan kita berdua yang akan bersama sampai tua nanti. Hanya kita berdua Anggika," ucap Argantara.
"Mas, aku sudah mengatakan jangan membahasnya. Jika kamu sudah sembuh. Baru kita bahas," sahut Anggika.
"Apa itu artinya kamu akan tetap bercerai denganku?" tanya Argantara yang memang Anggika jika sudah mengatakan itu yang pasti artinya akan bercerai dengan Argantara.
"Aku juga ingin bahagia mas dan aku harap kamu bisa mengerti. Jika kebahagiaan ku ada pada siapa dan bagaimana aku bahagia," jawab Anggika.
"Apa tidak ada kesempatan untukku Anggika?" tanya Argantara.
"Sudah. Sudah sangat banyak dan seharusnya aku yang bertanya. Apa kamu tidak bosan mendapatkan kesempatan, kesempatan lagi dari ku. Apa kamu tidak bosan mas. Jadi sudah semuanya sudah berakhir. Aku benar-benar tidak ingin melanjutkan pernikahan ini lagi dan mungkin ini sudah jalannya. Setelah kamu sembuh total. Baru kita mengurus semuanya," ucap Anggika dengan yakin dengan keputusannya.
Wajah Argantara jelas begitu sedih mendengarnya. Bahkan dia masih sangat berharap untuk pernikahannya dengan Anggika. Namun kelihatannya Anggika sudah bulat dengan keputusannya dan mau seperti apapun Argantara itu tidak akan mengubah keputusannya.
"Kamu istirahatlah mas, aku permisi dulu! jangan memikirkan masalah perceraian kita dulu," ucap Anggika yang langsung pergi meninggalkan Argantara. Argantara tidak mencegah atau melakukan apa-apa. Dia hanya menghela napasnya melihat kepergian wanita yang pasti masih menjadi istrinya itu.
"Maafkan aku Anggika. Aku benar-benar tidak pernah memberimu kebahagian. Seharusnya aku tidak berharap adanya kesempatan dalam hal ini. Karena aku yakin kamu sangat menderita dalam pernikahan kita. Maafkan aku dan mungkin ini yang terbaik. Aku juga tidak bisa egois yang memaksa kamu untuk menjalankan pernikahan ini," batin Argantara dengan wajah senduh nya yang benar-benar sangat galau dengan kehidupannya dalam pernikahannya.
*******
__ADS_1
Reya dan Sean kembali kerumah sakit sama dengan Citra juga yang kembali ke rumah sakit dan melihat Anggika yang duduk di luar ruang perawatan Argantara.
"Mah," tegur Citra.
"Hey Citra, Sean, Reya. Kalian sudah pulang!" sahut Anggika.
"Iya mah," sahut Citra, "papa bagaimana mah?" tanya Citra.
"Baik-baik saja. Baru saja minum obat," jawab Anggika.
"Oh begitu. Ya sudah Citra mau lihat papa sebentar," ucap Citra. Anggika mengangguk dan Citra langsung pergi memasuki ruangan sang papa.
"Reya, kamu tunggu di sini ya sama mama. Aku temui Dokter sebentar untuk mengetahui kondisi papa," ucap Sean
"Ya sudah kak Sean," sahut Reya.
"Mah aku pergi sebentar," ucap Sean pamit. Anggika hanya mengangguk saja dan Sean pun langsung pergi untuk menemui Dokter untuk mengetahui perkembangan kondisi mamanya.
Dan Reya memilih duduk di samping Anggika.
"Sudah Tante, jauh lebih baik," jawab Reya.
"Alhamdulillah, percaya pasti Allah akan menggantikan yang lebih lagi. Kamu dan Sean harus terus berdoa dan berusaha," ucap Anggika sembari memberikan pesan.
"Iya Tante. Makasih untuk doanya," sahut Reya.
"Hmmm, Reya apa kamu tidak menemui mama kamu?" tanya Anggika.
"Maksudnya mama Erina?" tanya Reya. Anggika menganggukan kepalanya.
"Nanti saja Tante. Reya belum siap dan juga belum tau apa harus menemuinya atau Tidka terlebih lagi Reya juga tidak tau mau mengatatakan saat bertemu. Jadi nanti saja," jawan Reya dengan tersenyum yang sepertinya begitu lempang.
"Semua terserah kamu, kamu yang tau apa yang terbaik untuk kamu dan iya Bagaimana pun dia juga ibu kamu Karena dia sudah membesarkan kamu," ucap Anggika yang memberi pesan sedikit untuk Reya m
__ADS_1
"Iya Tante. Makasih ya Tante sudah mengingatkan Reya dan jika sudah waktunya Reya pasti akan menemui mama," ucap Reya tersenyum lepas.
Anggika tersenyum mendengarnya dan mengelus-elus rambut Reya yang membuat Reya cukup kaget dengan kelembutan Anggika kepadanya. Hak itu bisa membuatnya benar-benar sangat terharu. Namun pasti dia sangat bahagia.
"Oh iya Reya. Apa kamu tidak ada niat untuk mencari orang tua kandung kamu?" tanya Anggika tiba-tiba mengungkit hal itu. Reya langsung melihat kearah Anggika. Melihat Anggika dengan serius.
"Tante hanya menanyakan saja. Jika Erina dan mas Argantara bukan orang tua kandung kamu. Bukannya pasti ada orang tua kandung kamu. Ibu yang melahirkan kamu," ucap Anggika.
"Tapi Tante. Reya tidak tau siapa mereka dan apa mereka masih hidup?" tanya Reya yang memang tidak pernah kepikiran dengan hal itu. Karena selain tidak tau bagaimana wajah ke-2 orang tuanya, dia juga tidak tau apakah orang tuanya masih hidup atau tidak.
"Tidak ada yang tau memang Reya. Apakah orang tua kamu masih hidup atau tidak. Tetapi jika kamu masih di beri kesempatan kamu pasti akan bertemu dengan-nya nanti," ucap Anggika.
"Itu artinya aku harus bertanya dulu pada mama. Jika memang serius ingin mengetahui hal itu," ucap Reya.
"Pelan-pelan saja. Tidak ada yang salah jika ingin mencari tau siapa orang tua kamu," ucap Anggika yang kelihatan sangat mendukung Reya.
"Iya Tante sekali lagi terima kasih karena terus-menerus baik pada Reya. Reya tidak percaya dengan sekarang Tante yang sepertinya sudah menerima Reya menjadi istri kak Sean," ucap Reya.
Anggika tersebut dengan memegang kedua tangan Reya dan menatap Reya dengan dalam-dalam.
"Sean begitu bahagia saat bercerita pertama kali dengan kaku. Saat kamu masih memakai seragam sekolah. Tante sangat melihat warna di dihupnya waktu itu dan setelah semuanya terbongkar. Kebahagiaan Sean bahkan sudah tidak terlihat lagi dan Tante juga tidak bisa melakukan apa-apa. Karena pada saat itu kalian berdua adalah sedarah," ucap Anggika.
"Reya maafkan Tante yang tidak menerima kamu saat kamu datang kembali kerumah kami. Semua itu karena rasa ketakutan Tante dengan hubungan kamu dan Sean. Karena Tante tau kalian saling mencintai dan tidak ada yang salah dengan ketakutan Tante yang akhirnya terjadi,"
"Maafkan Tante yang menentang hubungan kalian dan bahkan ingin melenyapkan bayi yang kamu kandung dengan keegoisan Tante yang tidak memikirkan perasaan kamu selama ini yang padahal sangat jelas yang terjadi selama ini bukan kesalahan kamu. Kamu dan Sean adalah korban dan Tante benar-benar sangat menyesali semuanya. Maafkan Tante Reya yang sudah menentang hubungan kalian," ucap Anggika dengan wajah penuh penyesalannya dan baru bisa minta maaf sekarang.
"Tante tidak perlu minta maaf, semuanya bukan kesalahan Tante juga dan Reya sangat paham dengan apa yang Tante pikirkan. Jadi jangan menyalahkan diri Tante. Reya juga banyak salah dan mungkin berkata kasar pada Tante waktu itu," ucap Reya dengan matanya berkaca-kaca yang juga mengakui kesalahannya.
"Kamu anak yang sangat baik Reya. Kamu sangat banyak menderita," ucap Anggika dengan memegang pipi Reya.
"Tante juga sangat baik. Makasih sudah membiarkan kak Sean membahagiakan Reya," ucap Reya.
"Saya yang berterima kasih kamu sudah memberikan kebahagiaan untuk Sean," sahut Anggika yang langsung memeluk Reya dan Reya juga memeluk erat.
__ADS_1
"Reya kamu adalah menantu saya. Jangan panggil Tante. Panggil mama," ucap Anggika membuat air mata Reya menetes saat mendengar Anggika menyuruhnya memanggil mama. Bagaimana Reya tidak bahagia. Dan ternyata pelukan hangat itu di saksikan Sean yang pasti juga terharu melihatnya
Bersambung