
Akhirnya mereka semua kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang lumayan sangat jauh. Dan di sepanjang perjalanan Citra hanya terdiam saja dengan pemikirannya yang pasti sudah semakin bercabang-cabang penuh tanda tanya dan apa lagi Citra menemukan gelang yang merupakan gelang yang sama dengan Reya.
"Aku dan Reya sama-sama berasal dari panti asuhan yang sama dan kami berdua sama-sama memiliki gelang yang sama. Apa yang aku pikirkan. Ini sangat tidak mungkin. Sangat tidak mungkin dengan semua yang aku pikirkan," batin Citra yang pikirannya mengarah pada hal lain yang tidak dapat di mengertinya dan membuatnya penuh dengan kebingungan.
"*Ya Allah ada apa ini sebenarnya. Kenapa kamu memiliki benda yang sama. Ada apa ini ya Allah. Kenapa perasaan ku seperti ini. Apa mungkin. Itu sangat tidak masuk akal. Sangat tidak masuk akal," Citra bergerutu sendiri di hatinya dan tiba-tiba menengok kebelakang dan melihat Reya yang bersandar di bahu Sean dengan wajah sendu Reya dan Sean mengelus-elus pucuk kepala sang istri.
"Apa itu hanya firasat ku saja. Apa sebenarnya yang terjadi," batin Citra yang sibuk dengan pemikirannya*.
*********
"Kamu kenapa Citra?" tanya Reval yang seperti nya tau apa yang terjadi pada Citra karena melihat wajah Citra yang penuh dengan pemikiran.
"Tidak aku tidak apa-apa," jawab Citra dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Reval. Citra mengangguk kan kepalanya. Reval yang tidak percaya. Namun tetap tidak bisa melanjutkan harus bertanya lagi pada Citra. Padahal Reval sangat jelas tau kalau Citra pasti ada sesuatu.
**********
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam. Sean, Reya, Reval dan Citra berhenti sebentar untuk beristirahat. Mereka berhenti di depan Restaurant yang mana Sean menemani istrinya untuk makan sebentar. Karena sejak tadi Reya belum makan dan Sean harus memaksa sang istri untuk makan. Hanya ada Reya dan Sean yang makan. Citra dan Reval tidak tau entah di mana
"Sayang kamu harus makan yang banyak. Jangan makan sedikit!" bujuk Sean.
"Tapi aku sudah kenyang sayang dan lagian kita juga harus buru-buru pergi. Kita jangan membuang-buang waktu," ucap Reya.
Raya menghela napasnya dengan perlahan kedepan, "iya sayang, iya aku akan mendengarkan kamu dan sekarang lihat aku makan," sahut Reya yang harus menuruti suaminya dan makan di depan suaminya.
"Begitu dong," sahut Sean dengan mengelus pucuk kepala Reya.
__ADS_1
"Kalau kamu makan seperti ini aku lega melihatnya," ucap Sean.
"Kamu jangan hanya menyuruhku makan. Kamu juga harus makan," ucap Reya yang langsung menyodorkan makanan pada suaminya dengan menyuapi suaminya dan Sean tanpa ragu membuka mulutnya.
"Oh iya sayang. Reval dan Sean mana?" tanya Reya yang tidak melihat kedua orang itu.
"Aku juga tidak tau sayang. Mungkin mereka makan di tempat lain," jawab Sean yang memang tidak tau di mana adiknya dan juga Reval.
"Tadi aku hanya melihat Citra. Tetapi aku tidak melihat Reval," ucap Reya.
"Mungkin mereka palingan di sekitar sini. Jadi biarkan ajalah. Kita sebaiknya makan lagi," ucap Sean.
"Hmmm, baiklah," sahut Reya.
__ADS_1
Bersambung