Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 257


__ADS_3

Sean dan Reya sudah berada di panti asuhan untuk mengecek masalah Reya. Reya dan Sean duduk di ruang tamu yang mereka berdua bersebelahan dengan mereka yang sama-sama dek-dekan yang sepertinya menunggu seseorang. Sean melihat kearah Reya yang tau Reya pasti begitu dek-dekan dan Sean langsung menggengam tangan Reya membuat Reya melihat kearahnya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir," ucap Sean yang pasti hanya busa berdoa yang terbaik untuk istrinya. Reya menganggukkan kepalanya. Karena memang hanya tenang yang harus di butuhkannya.


Tidak lama seorang wanita paruh baya langsung mendatangi Reya dan Sean. Reya dan Sean pun langsung berdiri.


"Tidak apa-apa kembali duduk saja," sahut wanita itu yang menyuruh kembali Reya dan Sean untuk duduk dan mereka berdua pun langsung duduk. Begitu juga dengan wanita itu.


"Maaf sudah membuat kalian berdua menunggu," ucap wanita itu merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Bu. Dan langsung saja kami ingin bicara dengan ibu dan sebelumnya apa ini benar ibu Juriah?" tanya Sean.


"Iya benar sekali memang sayalah ibu Juriah. Saya ketua panti asuhan ini dan sudah 30 tahun bekerja di sini," jelas Juriah yang memperkenalkan dirinya.


"Alhamdulillah jika ternyata ibu masih berada di sini," sahut Reya.


"Memang ada apa ya?" tanya Juriah.


Reya mengeluarkan map yang merupakan hasil adopsi dirinya, "kebetulan saya adalah salah satu anak dari panti asuhan ini yang di adopsi mama saya yang bernama Erina dan sama persis dengan penanggung jawab yang tertera di sana yang mana nama ibu sendiri," jelas Reya yang apa adanya.


Ibu tersebut terlihat berpikir-pikir dan melihat data-data adopsi Reya.


"Iya benar saya sudah menjabat saat itu," sahut Juriah, "lalu apa yang kalian ingin ketahui dan sebelumnya saya tidak percaya jika wanita cantik ini adalah suku anak dari panti asuhan kami dan kamu tumbuh cantik dan sangat sehat," ucap Juriah yang kagum dengan Reya.


"Makasih Bu untuk pujiannya," sahut Reya.


"Lalu nak Reya apa tujuan kamu ingin datang kemari?" tanya Juriah lagi.


"Saya ingin mengetahui siapa orang tua kandung saya sebenarnya," jawab Reya.


Ibu panti itu terdiam seakan tidak punya jawaban apa-apa.


"Bu istri saya baru mengetahui jika dia bukan anak kandung dari Erina. Jadi dia hanya ingin mengetahui siapa ibu kandungnya dan kenapa dia ada di panti asuhan ini bukannya pasti orang tuanya menitipkan Reya di panti asuhan ini dan pasti ibu tau siapa orang tua kandungnya," ucap Sean dengan penjelasannya.


"Hal itu sudah sangat lama ya dan pasti saya tidak mengingatnya dan bahkan saya juga tidak mengingat siapa orang yang mengadopsi kamu. Kalau bukan kamu yang memberitahukannya. Jadi kelas banyak hal yang tidak dapat di ingat," jelas wanita itu dengan suara lemas. Sean dan Reya saling melihat dan pasti mereka sangat sedih dengan kata-kata ibu itu seolah tidak ada harapan untuk Reya dan Sean.


Ibu panti itu juga melihat pasangan suami istri tersebut yang sudah tidak bersemangat lagi.


"Hmmm, begini saja. Untuk masalah ini saya butuh waktu. Saya akan mencoba untuk mencari tahunya. Pasti sangat butuh waktu. Karena saya harus membongkar data-data panti asuhan dan itu jumlahnya sangat banyak. Jadi berikan saya waktu untuk melakukannya," ucap Bibi panti asuhan yang memberikan Reya dan Sean harapan.

__ADS_1


"Sungguh ibu mau melakukannya?" tanya Reya yang tidak percaya.


"Tidak masalah bagi saya. Namun kalian harus bersabar ya dan jika saya mendapatkan informasinya, saya akan mengabari kalian berdua dan semoga saja ada hasil yang baik," ucap Ibu panti.


"Ya sudah Bu kami akan menunggu telpon dari ibu," sahut Sean.


"Iya pak Sean dan Bu Reya. Silahkan di tunggu pak," sahut ibu panti. Reya dan Sean menganggukkan kepalanya dan mereka pasti lega dengan apa yang di katakan ibu panti kepada mereka berdua.


*************


Hari ini adalah hari kepulangan Argantara dari rumah sakit. Seperti biasa Reval, Reya, Sean, Citra, kakek dan Anggika ada di sana yang membantu mengurus keperluan Argantara untuk kembali kerumah sakit.


Semua orang terlihat bahagia dengan Argantara yang akhirnya sembuh dan pulang. Namun berbeda dengan Citra yang mendadak murung dan kemiringannya yang di perhatikan Argantara yang membuat Argantara juga heran dengan apa yang terjadi pada putrinya itu.


"Citra kamu kenapa?" tanya Argantara heran. Namun Citra kelihatannya tidak mendengarkannya.


"Citra!" tegur Anggika yang melihat Citra bengong dan Citra langsung tersadar.


"Oh tidak apa-apa pah," sahut Citra tersenyum tipis.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Anggika heran pada Citra yang sepertinya punya beban pikiran.


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita sebaiknya pulang saja," sahut Sean.


"Iya kita sebaiknya pulang, biar papa bisa istirahat di rumah," sahut Reya.


"Permisi!" tiba-tiba Dokter memasuki ruangan Argantara.


"Iya Dokter, ada apa ya Dokter?" tanya Anggika.


"Maaf mengganggu kalian, ini saya mengantarkan hasil tes DNA dari pak Reval.


"Oh iya Dokter," sahut Reval yang langsung mengambilnya. Sementara, Anggika, Reya dan Sean bingung dengan tes DNA yang di katakan Dokter.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit.


"Iya makasih Dokter," sahut Reval dan Dokter langsung pergi.


"Reval itu hasil tes DNA apa?" tanya Anggika heran.

__ADS_1


"Reval melakukan tes DNA pada ku," sahut Argantara.


"Kenapa Reval?" tanya Reya.


"Aku hanya ingin memastikan saja," sahut Reval.


"Tapi Reval apa itu perlu dan itu sama saja kamu sangat melukai hati papa," sahut Reya.


"Hasil tes DNA nya sudah ada di tangan Reval. Tidak ada salahnya kita lihat saja dan semuanya juga sudah terlanjur," sahut Citra.


Reval menghela napasnya dan membuka perlahan-lahan hasil tes DNA tersebut dan Reval membaca hasil tes DNA tersebut. Meski yang lainnya tau dan pasti tidak salah jika Reval anak kandung Erina dan Argantara. Namun mereka tetap tegang menunggu hasil tes DNA yang di pegang Reval.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Argantara.


"Positif," sahut Reval tampak tidak ikhlas bicara. Yang tidak senang dengan hasil DNA yang menyatakan dengan sebenarnya. Jika dia adalah anak dari Argantara.


"Kamu hanya membuang waktu kamu Reval dengan melakukan semua ini," sahut Anggika.


Reval tidak bicara apa-apa lagi dan melihat kearah Argantara. Dan Argantara tidak melihat sama sekali.


"Kita pulang saja," sahut Argantara dengan dingin.


"Baiklah pah," sahut Sean yang langsung membantu Argantara dan Anggika juga ikut membantu begitu juga dengan Citra dan mereka langsung keluar dari ruangan itu.


Reval menghela napasnya yang memang kecewa dengan hasilnya yang sama saja sebenarnya. Namun dia juga bingung dan hanya ingin secercah harapan untuk dia.


"Reval kamu benar-benar sangat keterlaluan," sahut Reya yang tiba-tiba mengeluarkan pendapatnya.


"Reya!" lirih Reval.


"Kamu itu sama saja menyinggung perasaan papa. Kamu itu benar-benar tidak bisa di kendalikan. Kamu itu sangat jahat tau. Jika kamu tidak ingin mengakui mama Erina sebagai orang tua kamu atau kamu juga tidak mau mengakui papa sebagai orang tua kamu. Ya sudah kamu jangan sampai melakukan tes DNA seperti itu. Kamu itu jahat tau," ucap Reya yang tampak begitu emosi pada Reval.


"Aku tau yang aku lakukan adalah kesalahan. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya ingin hubungan ku dan Citra kembali seperti awal. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan saja," sahut Reval dengan suara lemahnya.


"Tetap saja yang kamu lakukan ini adalah salah dan tidak seharunya kamu lakukan. Bagaimana pun mau apapun. Terima kenyataan jika papa adalah ayah kandung kamu dan itu tidak akan mengubah apapun," tegas Reya.


"Aku memang salah dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku minta maaf," sahut Reval yang merasa bersalah.


"Minta maaf sama papa. Bukan padaku!" tegas Reya yang langsung pergi dan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2