Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 176


__ADS_3

Citra dan Reval masih saling berhadapan dengan tatapan mata Reval yang masih sama dan tatapan mata Citra benar-benar kosong karena perbuatan dari Reval yang telah menghancurkan dirinya.


"Argggghhh!" teriak Citra yang terduduk dengan memegang kepalanya dengan ke-2 tangannya yang berteriak dengan sekencang-kencangnya yang tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya, kenyataan yang benar-benar hancur dalam hidupnya.


"Kenapa kau bodoh sekali Citra, kenapa Citra? kau bisa-bisanya terperangkap manusia sepertinya," ucap Citra yang mengutuk dirinya sendiri yang benar-benar begitu bodoh yang telah hancur dalam sekejap karena kehidupannya yang selesai di tangan Reval.


Reval hanya diam dengan terus melihat betapa hancurnya Citra di depan matanya. Seharusnya sekarang dia tertawa penuh kebahagiaan. Namun apa tidak ada tawa sama sekali Reval justru merasa ingin memeluk wanita yang hancur itu. Namun apa daya hatinya sangat keras untuk semua itu.


Selang beberapa detik Citra pun terdiam dengan mengusap air matanya dengan cepat. Lalu kembali berdiri dan langsung mendorong dada Reval, "kau akan menyesal dengan semua ini. Kau akan menyesal sudah menghancurkan ku," ucap Citra dengan menunjuk tepa di wajah Reval dengan penuh kemarahan dan Citra langsung pergi dengan membawa luka hati yang begitu besar.


"Argggghhh!" teriak Reval setelah kepergian Citra. Reval kelihatannya marah sendiri sampai memukul melampiaskan pada benda yang tersusun di meja rias dengan Reval menyapu semua benda itu sehingga berserakan di lantai.


Reval tidak kalah frustasi dan marah-marah dengan merobek-robek semua foto-foto yang berserakan di lantai.


"Kau sudah membalaskan semuanya Reval, kau sudah puas Reval, kau sudah menghancurkan dia. Ini yang kau mau Reval, ini yang kau mau," teriak Reval yang gantian sekarang seperti orang gila yang berteriak-teriak histeris dengan meremas kepahanya, beberapa kali mengusap kasar wajahnya dengan ke-2 tangannya dan melakukan ini dan itu di dalam kamar itu.


********


Apa yang terjadi pada Citra. Lagi-lagi membuat Sean harus mendapatkan feeling buruk. Saat makan malam bersama Reya di kediaman mereka. Sean yang tadi makan biasa aja sekarang terlihat diam dengan wajahnya yang panik dan seperti ada yang di pikirkannya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Reya yang sudah memanggil panggilan sayang pada suaminya.


Sean menghela napasnya kedepan, "aku tidak tau bagaimana mengatakannya, tiba-tiba saja jantungku berdebar dengan kencang dan aku juga tidak tau apa yang terjadi," ucap Sean.


"Jantung berdebar. Apa karena ada aku?" tanya Reya dengan selorohnya yang mampu membuat Sean tersenyum.


"Kemungkinan. Karena kalau masalah dekat sama kamu pasti selalu berdebar," ucap Sean dengan tersenyum yang mana Reya juga tersenyum.


"Ya sudah aku serius kamu kenapa tiba-tiba jadi, seperti kepikiran sesuatu?" tanya Reya.


"Entahlah aku tiba-tiba merasa ada yang tidak enak. Tepi ya sudahlah itu mungkin hanya perasaan ku saja," sahut Sean yang tidak mau berpikiran yang lain.

__ADS_1


"Jadi benar kamu tidak apa-apa?" tanya Reya yang ingin memastikan suaminya jika suaminya baik-baik saja.


"Iya aku tidak apa-apa. Oh iya sayang aku lupa aku harus kekantor sebentar," ucap Sean tiba-tiba.


"Malam-malam seperti ini?" tanya Reya yang merasa tidak biasanya.


"Ada meeting mendadak dan klien aku akan ke Luar Negri besok pagi. Jadi dia minta tolong untuk meetingnya di majukan," jawab Sean.


"Hmmmm, begitu rupanya ya sudah tidak apa-apa," sahut Reya yang tidak masalah sama sekali.


"Oh iya sayang meski papa marah dengan kita berdua. Tetapi papa sama sekali tidak melarang kamu untuk berada di Perusahaan?" tanya Reya yang juga heran dengan hal itu.


"Aku memiliki saham di Perusahaan. Jadi papa tidak punya hak untuk melarangku sama sekali," jawab Sean.


"Tapi di kantor kamu pernah bertemu dengan papa?" tanya Reya.


"Tidak pernah. Mungkin papa menghindari aku, makanya kami juga tidak pernah bertemu sengaja atau tidak sengaja," jawab Sean.


"Mungkin papa butuh waktu tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja," ucap Reya yang berpikiran positif.


"Iya sayang semoga saja. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya," ucap Sean yang berdiri dari tempat duduknya dan sebelum pergi pasti Reya mencium kening Reya dulu.


"Hati-hati," ucap Reya. Sean hanya mengangguk dan langsung pergi.


"Semoga saja meetingnya berjalan dengan lancar," batin Reya dengan menghela napasnya.


Reya pun juga ikut berdiri dari tempat duduknya yang merapikan meja. Karena dia juga sudah selesai makan. Jadi sekarang tinggal menyusun piring.


Tingnong.


Tiba-tiba bel rumah Reya berbunyi, "apa ada yang ketinggalan makanya Sean pulang lagi," gumam Reya.

__ADS_1


Perasaan Sean baru berangkat sudah pulang aja. Hal itu membuat Reya heran dan Reya langsung menuju pintu.


"Iya sebentar," sahut Reya dengan bel yang terus berbunyi dan Reya pun langsung membuka pintu. Reya tampak terkejut dengan siapa yang datang yang ternyata bukan Sean. Tetapi Citra yang berdiri dengan menangis sengugukan yang terlihat berantakan.


"Citra!" lirih Reya dan Citra langsung memeluk Reya dengan erat.


Tidak ada tempat pengaduannya selain kepada sang kakak dan kehancurannya tidak bisa di atasinya sendiri dan membuat Citra harus kerumah sang kakak dan dengan spontan memeluk Reya seakan membutuhkan pelukan.


"Citra kamu kenapa?" tanya Reya panik dengan keadaan Citra. Citra tidak menjawab dan memeluk erat-erat Reya yang membuat Reya benar-benar heran dengan kondisi Citra yang tidak iya ketahui apa yang terjadi sebenarnya kepada Citra. Kenapa datang tiba-tiba dan terlihat mempunyai masalah yang begitu besar.


*********


Reya berdiri di depan pintu kamar yang mana di dalamnya ada Citra yang sedang tidur yang mungkin begitu lelah dan istirahat sekarang.


"Reya!" tiba-tiba Sean datang, "ada apa dengan Citra?" tanya Sean dengan panik. Reya menggelengkan kepalanya karena memang tidak tau apa yang terjadi karena Citra tidak mengatakan apa-apa.


Sean dengan wajah khawatirnya langsung menghampiri Citra dengan duduk di samping Citra.


"Citra!" lirih Sean dengan memegang pipi sang adik. Walau tertidur air mata Citra tetap saja keluar dan mata itu begitu sembab. Reya memang langsung menelpon Sean saat Citra datang. Karena Reya tidak bisa mengatasi Citra yang terus menangis tanpa mengatakan apa-apa. Dan barusan tadi Citra bisa tenang dan langsung tertidur.


"Ada apa sebenarnya Reya?" tanya Sean.


"Seperti yang aku katakan, tiba-tiba saja Citra datang tidak lama setelah kamu pergi dan dia menangis dan tidak mengatakan apa-apa," jawab Reya.


"Citra!" lirih Sean yang berusaha untuk membangunkan Citra. Sampai Citra membuka matanya dengan perlahan.


"Kak Sean!" sahut Citra yang langsung duduk memeluk kakaknya itu dengan erat.


"Kenapa harus Citra kak. Kenapa harus Citra. Apa salah Citra apa semua yang terjadi harus Citra yang menanggungnya. Kenapa Citra kak," kata-kata yang membuat Sean dan Reya bingung terus di ucapkan Citra.


"Apa maksud kamu Citra. Apa yang kamu katakan? apa yang sebenarnya terjadi pada kamu, ada apa Citra?" tanya Sean yang terus memeluk erat adiknya yang sembari menenangkannya.

__ADS_1


"Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi pada Citra. Kenapa aku merasa ada yang tidak beras dan tadi dia sempat mengucapkan nama Reval. Apa yang sebenarnya terjadi apa ini memang ada hubungannya dengan Reval," batin Reya yang juga penasaran dengan apa yang terjadi.


Bersambung


__ADS_2