
Sean yang terus kepikiran dengan Reya yang menunggu Reya di depan ruang UGD dan tidak lama Dokter yang memeriksa Reya keluar dari ruangan itu.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Sean dengan wajahnya yang panik.
"Alhamdulillah kondisi istri pak Sean baik-baik aja. Bu Reya mengalami pendarahan ringan," jawan Dokter.
"Lalu anak kami bagaimana Dokter?" tanya Sean.
"Masih bisa di selamatkan, janinya sangat lemah untung saja pak cepat membawanya ke rumah sakit. Jadi kondisi Bu Reya dan bayinya bisa di selamatkan," jawab Dokter yang membuat Sean bernapas lega yang mendengar jawaban itu. Citra juga bernapas lega mendengar kandungan Reya yang tidak apa-apa.
"Pak Sean kandungan Bu Reya sangat lemah, dan pasti sangat rentan mohon untuk pak Sean ikut memperhatikan kandungannya. Jangan biarkan istri pak Sean terlalu banyak pikiran, hal ini sangat berpengaruh buruk untuk kandungannya. Jadi mohon untuk kerjasamanya agar bayi dan ibunya bisa sehat," ucap Dokter yang memberikan saran pada Sean.
"Baik Dokter saya akan lebih memperhatikan istri saya. Saya tidak akan membiarkan kejadian ini terulang lagi," ucap Sean yang berjanji pada dirinya sendiri.
"Baiklah kalau begitu, begitu Bu Reya bangun langsung berikan obatnya. Saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit.
"Iya Dokter, sekali lagi terima kasih Dokter," ucap Sean. Dokter tersebut hanya mengangguk dan langsung pergi.
"Alhamdulillah kak. Reya tidak apa-apa," ucap Citra yang merasa lega dan pasti senang dengan kondisi Reya yang baik-baik aja.
"Ini semua salahku Citra. Aku yang membuat Reya mengalami semua ini," ucap Sean yang merasa bersalah pada Reya. Mungkin karena Sean yang masih marah pada Reya dan pasti membuat Reya kepikiran dan akhirnya sampai terjadi seperti ini dan nyaris saja dua kehilangan bayinya.
"Kak Sean apa yang terjadi bukan kesalahan Reya. Dan Reya tau begitu saja dan Citra yang menyuruh Reya untuk tidak memberitahu kak Sean. Karena Citra tidak mau kakak jadi kepikiran," ucap Citra yang apa adanya
"Citra kamu mengalami masalah ini sendirian kakak merasa bersalah dan sangat marah pada Reya. Karena Reya tau dan tidak memberitahukan pada kakak. Yang membuat kakak merasa tidak berguna, tidak bermanfaat bagi adik kakak," ucap Sean.
"Butuh pertimbangan banyak kak Sean untuk Reya harus memberitahu semauanya. Kak Sean Reya juga pasti sangat mengkhawatirkan mama dan juga papa. Jika masalah ini sampai terbongkar. Hubungan mama dan papa pasti akan renggang dan itu yang mungkin di takutkan Reya dan dia juga tidak ingin kakak juga kecewa dan banyak pertimbangan lainnya yang di pertimbangkan Reya sebelum mengambil keputusan untuk memberitahu apa yang terjadi," ucap Citra.
"Iya kamu benar dan seharusnya kakak tidak menyalahkannya dan seharusnya mengerti perasaannya dan kakak tidak tau apa-apa yang di pikirkan Reya selama menyembunyikan semua ini. Masalah benar-benar di hadapi Reya sendirian," ucap Sean.
__ADS_1
"Sudahlah kak Sean. Kak Sean tidak perlu marah lagi dengan Reya. Reya hanya ingin Citra yang menyampaikan pada kakak dan sementara Citra belum mempunyai keberanian itu sampai akhirnya terungkap sendiri. Semua ini masalah Citra dan juga Reval. Jadi Citra yang akan menyelesaikannya. Kakak sebaiknya masuk dan temui Reya. Dia pasti sangat sedih dengan kakak yang cuek, marah kepadanya beberapa hari ini," ucap Citra yang memberi masukan.
"Baiklah kalau begitu kakak masuk dulu," ucap Sean Citra menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Citra, kamu kenapa bisa ada di rumah sakit?" tanya Sean yang lupa menanyakan hal itu sebelumnya kepada Citra.
"Aku tidak mungkin mengatakan jika aku melihat Reval. Kak Sean tampak begitu marah dengan Sean dan bisa di pastikan dia juga akan marah hari ini jika tau aku sedang melihat keadaan kak Reval," batin Citra yang menjadi gugup.
"Citra kamu kenapa diam?" tanya Sean.
"Oh itu kak, Citra tadi lagi, lagi, lagi periksa kandungan," jawab Citra dengan gugup namun untung mendapatkan alasan yang tepat.
"Lalu bagaimana kandungan kamu apa baik-baik saja?" tanya Sean yang pasti juga ingin tau. Karena Citra juga beberapa hari ini mengalami banyak masalah dan takut jika Citra kenapa-kenapa.
"Oh baik-baik aja kok kak, kata Dokter hanya perlu untuk istirahat saja," jawab Citra dengan tersenyum yang seakan benar.
"Ya sudah kalau begitu, kamu jaga kesehatan juga ya. Kamu jangan memikirkan masalah apa-apa lagi. Untuk Reval kakak yang akan mengurusnya. Kamu fokus saja dengan janin kamu," ucap Sean
"Apa kamu memebelanya Citra?" tanya Sean dengan ke-2 alisnya yang terangkat saat melihat wajah Citra yang kelihatan begitu khawatir pada Reval.
"Bukan kak Sean, bukan itu maksud Citra. Citra hanya tidak ingin kakak mengotori tangan kakak untuknya. Kak Sean apa yang terjadi sudah terjadi, mau itu masalah mama dengan keluarga Reval atau masalah dendam Reval dan Citra yang kenak dan kak Sean yang menghajar Reval sampai matipun tidak akan ada gunanya. Semua yang yang terjadi tidak akan mengembalikan Citra. Waktu tidak bisa di putar. Jadi sebaiknya kak Sean jangan melakukan itu lagi pada Reval," ucap Citra dengan penuh penegasan dan penekanan yang mengingatkan Sean.
"Citra kamu sudah banyak menderita. Mau mama salah atau tidak. Laki-laki itu tetap tidak bisa di ampuni. Balas dendam yang di lakukannya sudah menghancurkan kamu dan kakak tidak mungkin tinggal diam," tegas Sean.
"Tapi kak...
"Cukup Citra! Jangan menghalangi kakak dan jangan ikut campur masalah ini dan ingat Citra laki-laki itu sudah menghancurkan kamu. Tidak ada kata maaf untuknya. Begitu juga dengan kamu. Jika kasihan, atau ada drama penyesalan dia Antara kalian berdua dah membuat kalian baik-baik aja. Maka jangan salahkan kakak jika kakak akan bertindak yang artinya kamu tau kan Citra," ucap Sean memeberikan peringatan pada Citra yang pasti Citra harus paham apa yang di lakukannya.
"Kakak masuk dulu. Ingat kata-kata kakak," tegas Sean yang akhirnya memasuki ruangan isterinya dan Citra hanya menghela napasnya dengan perlahan kedepan.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan. Reval terluka parah dan mungkin jika tadi kak Sean tau aku habis melihat kondisi Reval. Pasti kak Sean akan marah. Lalu bagaimana sekarang apa yang harus aku lakukan," batin Citra yang serba salah.
***********
Akhirnya Sean memasuki ruangan di mana Reya di rawat yang tadi sudah di pindahkan dari UGD ke kamar rawat. Reya terbaring lemah dengan selang infus di tangannya yang mana Reya juga memakai pakaian pasien rumah sakit.
Sean duduk di samping Reya dengan tangan Sean yang memegang tangan Reya dan tidak lama Reya membuka matanya perlahan dan langsung melihat ke arah suaminya.
"Kak Sean!" lirih Reya.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Sean dengan lembut.
"Sudah merasa jauh lebih baik," jawab Reya dengan suara lembutnya yang terlihat masih sangat lemas.
"Papa ada yang sakit?" tanya Sean.
Reya menggelengkan kepalanya, "Reya sudah baik-baik aja. Apa yang terjadi kak Sean? bagaimana bayi kita, tadi aku merasakan ada darah yang keluar?" tanya Reya dengan wajahnya yang penuh dengan kekhawatiran.
"Bayi kita baik-baik aja. Kamu jangan khawatir Dokter bilang kamu hanya butuh istirahat," jawab Sean
"Jadi bayi kita tidak kenapa-kenapa?" tanya Sean.
"Iya sayang bayi kita baik-baik aja dan semua ini karena kamu. Kamu sangat kuat, maafkan aku ya," ucap Sean yang meminta maaf pada Reya.
"Minta maaf untuk apa kak?" tanya Reya.
"Semua ini salahku. Aku tidak seharusnya mendiamkan kamu. Aku tidak seharusnya marah berlebihan pada kamu dan membiarkan kamu memikirkan semua ini. Apa yang terjadi adalah kesalahanku, maafkan aku Reya," ucap Sean yang mengakui kesalahannya.
"Maafkan aku ya," ucap Sean lagi dengan matanya yang berkaca-kaca. Reya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung