
Reya memang harus pulang. Namun Reya sudah datang dan Reval sudah melihatnya. Namun dia dan Reval belum sempat saling menyapa dan membuat Reya tidak enak. Jadi Reya mencari Reval dengan hati-hati sebelum Reya pulang.
"Di mana Reval? aku harus bertemu dengannya, sebelum Citra melihatku. Apapun itu aku harus bertemu dengannya," batin Reya yang terus melihat ke semua arah yang mencari-cari Reval. Namun bukan Reval yang di lihatnya yang ternyata dia melihat Citra.
Benar kata Sean Citra datang ke acara itu dan jelas di mata Reya melihat Citra bersama, Barra, Rose dan Regina yang sekarang duduk dengan minum, di mana Reya melihat Citra yang terlihat sebentar-sebentar memijat kepalanya yang mungkin terasa berat dan juga Citra kelihatan tidak baik-baik saja yang terlihat lemas.
"Citra ada di sana. Tetapi kenapa dia seperti itu?" batin Reya yang terus memperhatikan Citra yang Sekarang Citra menopang wajahnya dengan tangannya. Hal itu membuat Reya merasa ada yang tidak beres.
"Reya!" tegur Reval membuat Reya terkejut dan langsung melihat Reval yang berada di belakangnya.
"Reval!" sahut Reya.
"Kamu kenapa?" tanya Reval.
"Tidak aku tidak apa-apa. Aku tadi mencari kamu dan untunglah kamu sekarang aku temukan," jawab Reya yang terlihat buru-buru bicara.
"Oh iya memang ada apa dan maaf. Aku belum sempat menyapa kamu. Tadi aku masih mengurus yang lain," ucap Reval.
"Tidak apa-apa Reval. Oh iya selamat ya atas peresmian kamu. Sebagai teman aku sangat bangga dengan kamu," ucap Reya mengulurkan tangannya.
"Sama-sama Reya. Makasih. Kamu benar-benar menyempatkan untuk datang," sahut Reval yang menjabat tangan Reya dan mereka sama-sama tersenyum.
Citra yang duduk di tempatnya melihat ke arah Reval yang berjabat tangan dengan seorang wanita. Citra tidak melihat wanita itu karena membelakangi dirinya yang membuat Citra penasaran.
Namun pandangan Citra sebenarnya sudah mulai tidak jelas. Karena pengaruh obat yang di konsumsinya, bahkan Citra sampai melebarkan matanya untuk memastikan wanita yang di senyumi Reval tersebut.
"Tapi maaf ya Reval, aku harus pulang," ucap Reya yang sudah melepas jabatan tangan mereka.
"Kok cepat sekali?" tanya Reval.
"Kebetulan aku ada urusan mendadak. Maaf aku benar-benar tidak bisa lama-lama di sini," ucap Reya yang merasa tidak enak.
"Hmmm, begitu rupanya. Ya sudahlah aku juga tidak bisa memaksa kamu," sahut Reval.
"Makasih ya Reval. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih," ucap Reya.
__ADS_1
"Sama-sama Reya. Kamu hati-hati ya pulangnya. Nanti kita buat janji untuk bertemu lagi," ucap Reval.
"Iya pasti! aku pulang ya!" ucap Reya pamit. Sebelum pergi Reya melihat ke arah meja Citra yang mana Citra sudah tidak melihatnya. Reya terlihat berat untuk pulang yang merasa ada sesuatu pada Citra. Namun dia juga tidak ingin mendapat masalah dan akhirnya meninggalkan tempat itu.
Reval hanya melihat kepergian temannya dengan menghela napas dan Reval juga melihat ke meja Citra. Yang mana hanya ada Regina dan Barra dan Rose tidak ada. Reval memperhatikan Citra yang seperti orang kehilangan kesadaran.
Sementara Barra dan Regina yang duduk di dekatnya saling berpegangan tangan di bawah meja. Reval melihat hal itu gelang-gelang kepala dan Reval melangkah yang kelihatan ingin menghampiri Citra.
"Pak Reval!" langkah Reval terhenti ketika ada yang memanggilnya.
"Ada apa pak?" tanya Reval pada Pria tua yang berkacamata yang sepertinya seniornya.
"Mari bicara sebentar!" ajak Pria itu. Reval melihat ke meja Citra. Reval seperti bingung. Dia ingin melihat kondisi Citra. Namun di panggil oleh seniornya.
"Ayo Pak Reval!" ajak Pria itu lagi yang sudah berjalan terlebih dahulu. Reval tidak punya pilihan dengan menghela napas dia pun mengikuti pria itu dan Citra masih tetap di tempatnya.
"Kepala ku sakit sekali. Aku sebaiknya pulang!" ucap Citra memijat kepalanya yang berat dan mencoba untuk berdiri dan Barra langsung buru-buru menghampiri Citra menahan tubuh Citra yang hampir jatuh.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Barra dengan memegang pundak Citra.
"Rose tidak ada di sini. Kamu pulang sama aku aja. Aku akan mengantarmu," ucap Barra yang membujuk Citra.
"Tapi," sahut Citra.
"Sudah sayang kamu pulang bersamaku ya! ayo!" ajak Barra yang langsung membawa Citra untuk pergi dan bermain mata dengan Regina.
"Habislah kamu Citra. Tidak akan perbedaan di antara kita lagi. Kamu akan selesai di tangan teman-teman Barra. Itu karena kesombongan kamu sebagai wanita. Jadi habislah kamu," batin Regina dengan menyunggingkan senyumnya yang melihat Barra dan Citra yang sudah pergi.
Regina tidak tau saja. Jika sebenarnya hanya di manfaatkan oleh Barra untuk memiliki Citra. Regina memang sangat bodoh dan Barra yang memiliki keuntungan dengan semua ini.
"Regina!" tegur Rose yang kembali ke meja mereka.
"Eh Rose," sahut Regina.
"Mana Citra dan Barra?" tanya Rose yang tidak melihat 2 orang itu.
__ADS_1
"Oh itu, Barra sedang mengantar Citra pulang," jawab Regina.
"Citra sudah pulang?" yang Rose.
"Iya dia sudah pulang," jawab Regina dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Aku melihat Citra memang tidak baik-baik saja. Untung saja Barra ada inisiatif untuk mengantarnya dengan cepat," ucap Rose.
"Iya memang bukannya itu seharunya," sahut Regina. Rose hanya mengangguk saja dengan tersenyum.
********
Namun ternyata Citra yang sekarang di gendong Barra ala bridal style sedang memasuki kamar salah satu hotel yang pasti sudah di siapkan Barra sebelumnya. Dengan perlahan Barra membaringkan tubuh Citra di atas ranjang dengan tubuh yang terlihat gelisah dengan mata yang terpejam.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Citra dengan maracau tanpa membuka matanya.
"Sudah sayang kita sudah sampai," jawab Barra yang wajahnya sangat dengan Citra dan dia bahkan mengecup bibir Citra.
"Kamu akan jadi milikku malam ini. Kita akan bersenang-senang sayang," bisik Barra di telinga Citra sembari mengigit lembut telinga itu membuat Citra mendorong Barra yang begitu dekat dengan dirinya sampai Barra berdiri tegak.
"Aku mau tidur. Jangan menggangguku pergilah!" usir Citra dengan tubuhnya yang terus bergerak-gerak seperti ulat keket.
Harta yang berdiri tepat di hadapan Citra menyunggingkan senyumnya yang melihat tubuh indah Citra di hadapannya yang akan memberinya kenikmatan di malam ini.
"Aku akan pergi setelah kita bersenang-senang," ucap Barra dengan membuka satu persatu kancing kemejanya yang merasa yang terus menatap Citra dengan seriangi nakal. Barra sudah seperti orang tidak sabaran dengan buruan di depannya.
Lain dengan Sean yang jauh di Negri orang yang merasa ada tidak beres. Di mana Sean mondar-mandir di dalam kamarnya yang terlihat gelisah dengan napasnya yang tidak stabil.
"Apa yang terjadi. Kenapa perasaanku tidak enak. Citra ada apa dengannya. Apa dia bertemu Reya," batin Sean yang kepikiran dengan adiknya.
Sebagai seorang kakak pasti feeling-nya begitu kuat dan sekarang hati dan perasaannya yang bercampur aduk yang takut terjadi sesuatu. Namun Sean tidak bisa memastikan apa yang terjadi.
Jantungnya berdebar dengan kencang yang tidak menentu sama sekali.
Bersambung
__ADS_1