
Mentari pagi kembali tiba. Citra berada di kamarnya baru keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan meja rias untuk memberi makeup pada wajahnya. Jangan tanya wajahnya seperti apa sangat sembab. Karena habis menangis semalaman.
Matanya juga bengkak. Belum lagi Citra juga tidak bisa tidur semalam. Walau Sean terus menenangkannya dan Argantara tidak pulang tadi malam yang tidak tau di mana keberadaan Argantara yang pasti bersama Reya. Atau bisa jadi juga tidak bersama Reya.
Dratt-dratt-Dratttt
Ponsel Citra yang berada di atas tempat tidur berdering. Citra langsung mengangkat panggilan masuk dari Reval dengan Citra yang duduk di pinggir ranjang.
"Kak Reval!" sahut Citra.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Reval dengan nadanya yang terlihat sangat khawatir dengan Citra.
"Iya kak, Citra baik-baik saja. Maaf ya kak Reval Citra semalam tidak memperdulikan kakak. Karena Citra..."
"Tidak apa-apa Citra, saya mengerti," sahut Reval memotong pembicaraan Citra "kamu juga tidak tau mau berbuat apa dan saya sangat memaklumi apa yang terjadi. Jadi kamu jangan memikirkan hal itu," ucap Reval.
"Iya kak!" sahut Citra.
"Kamu benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Reval yang sebenarnya mana mungkin Citra baik-baik saja.
"Citra baik-baik saja," jawab Citra dengan suaranya yang sangat jelas menangis.
"Kamu istirahatlah Citra. Jangan kekampuskan hari ini dan nanti aku akan menemuimu. Kita akan bicara," ucap Reval.
"Iya kak. Makasih ya kak Reval sudah suport Citra. Makasih sudah ada untuk Citra," ucap Citra.
"Sama-sama. Saya tidak mungkin membiarkan kamu menghadapi semua ini sendirian," ucap Reval. Citra mengangguk dengan menyeka air matanya.
__ADS_1
"Saya tutup telponnya duku. Aku hanya ingin menanyakan keadaan kamu dan kamu harus percaya. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Reval.
"Iya kak!" sahut Citra dengan sedikit lega dan mematikan panggilan telpon tersebut. Dengan Reval menelponnya memang membuatnya jauh lebih lega dari semalam.
"Ini semua salah kamu mas!" terdengar suara teriakan Anggika yang membuat Citra terkejut.
"Mamah. Apa papa sudah pulang!" lirih Citra yang buru-buru keluar dari kamar. Citra mendengar keributan dan sangat yakin jika papanya sudah pulang dan pasti bertengkar dengan Anggika.
Dugaan Citra benar. Anggika dan Argantara bertengkar di ruang tamu dan di sana ada Sean yang duduk dengan kepala menunduk dan ke-2 tangan saling bertautan yang mendengar orang tuanya saling mengalahkan.
"Kamu menyalahkan ku. Semua ini karena anak kurang ajar itu!" tunjuk Argantara pada Sean.
"Kamu juga tau Sean dan Reya sebelumnya bagaimana dan kamu menganggap semuanya spele dan bahkan membawa Reya masuk kerumah kita. Aku sudah mengingatkan kamu berkali-kali mas. Kamu tidak pernah mendengarku dan kamu semakin memberi peluang untuk mereka berdua!" teriak Anggika.
"Cukup Anggika! kau jangan hanya menyalahkan ku saja. Kau lihat putramu itu. Semua masalah karena perbuatannya, ulahnya yang brengsek yang telah menghamili Reya. Dia telah memaksa Reya," teriak Argantara.
"Kamu jangan hanya menyalahkan Sean. Reya juga bersalah dalam hal ini dan aku yakin Reya yang menggoda Sean sehingga semua ini terjadi," sahut Anggika.
"Papa sudah mengatakan jangan mengatakan Citra. Apa kau tidak malu mengucapkan kata-kata itu," sahut Argantara menekan suaranya. Bisa murka kembali dia dengan Sean memancing dirinya.
"Reya hamil berapa bulan?" tanya Anggika
"3 bulan!" jawab Sean.
"Jadi sudah hamil sampai 3 bulan. Katakan pada mama Sean. Sejak kapan kalian melakukan hubungan terlarang itu?" tanya Anggika yang menurut perkiraannya pasti saat Reya pertama kali datang ke Indonesia,
"Apa selama di ini kamu menjalin hubungan dengan Reya. Walau Reya tinggal di Luar Negri?" tanya Anggika.
__ADS_1
"Tidak mah, semenjak semuanya terbongkar dan papa mengasingkan Reya ke Luar Negri. Aku benar-benar tidak berhubungan dengan Reya. Aku berusaha merupakan perasaan ku kepadanya. Namun saat dia kembali. Aku juga berusaha menghindarinya dengan cara membencinya. Aku tidak bisa menerima kenyataan jika Reya adikku dan aku ingin membuktikan hal itu dan yang terjadi di antara kami kesalahan saat di Bali dan itu terjadi begitu saja," jelas Sean yang jujur apa adanya.
"Apa maksud kamu. Jadi kamu dan Reya melakukan perbuatan hina itu saat di Bali?" tanya Anggika dengan menekan suaranya.
"Iya saat aku pertama kali datang ke Bali. Aku hanya ingin membuktikan pada Reya. Jika aku dan dia bukan adik kakak," jawab Sean.
"Apa karena itu kamu dan Reya pulang bersama saat itu?" tanya Anggika yang masih mengingat kejadian itu dan memang perasaannya tidak enak saat itu dan mencurigai sesuatu dan akhirnya apa yang di curigainya baru terjawab sekarang. Dan Sean juga menganggukkan kepalanya.
Hal itu membuat Argantara mengepal tangannya dan Anggika begitu terkejut. Termasuk Citra yang mendengarkan hal itu.
"Apa semua itu karena aku yang menjebak Reya," batin Citra yang juga mengingat kejadian di ceritakan kakaknya sama dengan kejadian yang rencanakan nya untuk Reya.
"Kamu benar-benar keterlaluan Sean kamu dan Reya sangat keterlaluan," teriak Anggika yang juga hilang kesabaran pada Sean.
"Ini salah Sean mah, bukan Reya. Dan saat itu terjadi Reya juga memutuskan untuk pergi," jelas Sean yang membela Reya.
"Jadi itu alasannya kenapa Reya tiba-tiba pulang?" sahut Argantara menebak.
"Iya. Dan aku tidak bisa membiarkan hal itu atau melupakannya dan berusaha untuk berpikir. Bahwa tidak terjadi apa-apa. Namun semua yang terjadi pada Reya membuatku Tidka bisa membiarkannya menderita dan akhirnya aku berjanji sampai kapanpun akan melindunginya dan kami berdua saling mencintai," tegas Sean.
"Apa kau gila Sean. Bagaimana mungkin kamu mengatakan mencintai Reya. Kamu sadar tidak. Kamu dan Reya bersaudara. Kalian itu sedarah," ucap Anggika menegaskan.
"Tapi mah, apa mungkin aku akan meninggalkan Reya dalam kondisi Reya yang sudah hamil. Itu tidak mungkin mah. Anak yang do kandung Reya adalah anakku dan aku tidak akan meninggalkan Reya. Janin itu adalah darah dagingku!" tegas Sean.
"Hubungan kamu dan Reya tidak mungkin akan bersatu Sean. Karena semua itu terlarang. Kamu dan dia adik kakak," tegas Anggika.
"Lalu bagaimana dengan anak yang di kandung Reya? Janin itu darah dagingku!" ucap Sean.
__ADS_1
"Raya harus menggugurkan kandungannya," sahut Anggika yang mengejutkan semua orang. Termasuk Sean dengan matanya yang melotot mendengar keputusan Anggika dan Argantara begitu juga dengan Citra. Sama-sama shock dengan keputusan Anggika yang tidak berpikir panjang.
Bersambung