
Keluarga Argantara sedang mengadakan makan siang yang bersifat out door yang langsung mendapatkan Viu ke laut dengan angin sepoi-sepoi.
Argantara, Anggika, Sean, Citra, Reya, Rose dan Karin makan bersama. Ada beberapa pelayan wanita yang tampak melayani mereka.
" Kamu sudah baik-baik aja Reya?" tanya Argantara melihat Reya yang sejak tadi menunduk yang tidak ada semangatnya sama sekali. Reya juga masih terlihat pucat. Sean langsung melihat ke arah Reya
" Reya sudah jauh lebih baik pah," jawab Reya dengan gugup. Sean meneguk air putih melihat Reya yang duduk di sampingnya dengan ekor matanya.
" Kamu itu lain kali perhatikan kesehatan lagi dan jangan bekerja terlalu larut. Kamu juga perhatikan makan yang benar. Agar kejadian ini tidak terulang lagi," ucap Argantara memberikan masukan pada Reya.
" Iya pah," jawab Reya dengan tersenyum tipis.
" Kamu menginap di kamar berapa tadi malam?" tanya Anggika tiba-tiba mengejutkan Reya. Sean yang tadinya ingin memotong stek jadi berhenti mendengar pertanyaan mamanya.
" Anggika apa pertanyaan itu begitu penting," sahut Argantara merasa istrinya itu ada-ada saja.
Namun Reya sudah begitu gugup yang mana satu tangannya sudah meremas dressnya di bawah sana. Yang tampak takut dengan pertanyaan yang mematikan itu baginya.
Sean bisa melihat ke panikan Reya dan tiba-tiba tangan Sean memegang tangan Reya yang berada di atas pahanya, menggenggam tangan dingin itu seakan memberikan Reya ketenangan. Namun yang adanya Reya semakin gugup dan berusaha melepaskan tangan Sean darinya yang membuatnya risih.
" Reya jawablah. Saya masih menunggu jawaban kamu," ucap Anggika dengan desakan.
Reya mencoba untuk tenang, " aku tidak mengingatnya," jawab Reya singkat yang berusaha tenang.
" Kok bisa?" tanya Anggika dengan serius.
" Anggika pertanyaan kamu itu aneh," sahut Argantara.
" Biarkan aku bertanya mas," sahut Anggika.
" Papa kenapa sih. Mama hanya bertanya simple saja. Langsung heboh," sahut Citra kesal.
Anggika menatap Reya dengan serius, mengintimidasi Reya.
__ADS_1
" Aku begitu lelah tadi malam. Aku meminta bantuan pada salah satu pekerja di hotel menyiapkan ku kamar dan dia hanya membawaku memasukinya tanpa aku melihat-lihat kamar no berapa itu," jawab Reya bohong dengan sebisa mungkin dia begitu tenang.
" Ada lagi Anggika yang ingin kamu tanyakan," sahut Argantara.
Anggika hanya diam. Namun terlihat memang tidak percaya dengan apapun. Ya dia merasa Reya menyembuyikan sesuatu.
" Tidak ada," sahut Anggika ketus.
" Kenapa ya Tante Anggika harus menayakan hal itu pada Reya," batin Rose dengan kebingungan.
" Mari kita lanjutkan makannya. Jangan membahas hal yang tidak penting lagi," ucap Argantara. Reya bernapas lega dan langsung melepas tangannya dari Sean. Sean juga lega dengan Reya bisa tenang sehingga bisa mengatasi semua masalah itu dan menjawab pertanyaan mamanya yang konyol.
" Kenapa mama begitu mencurigai sesuatu. Aku harus berhati-hati. Aku tidak tau apa yang akan di lakukan mama nanti dan Reya terlihat begitu takut. Aku juga harus mengatasi Reya," batin Sean.
**********
Malam kembali tiba. Malam ini adalah acara Event Perusahaan yang mana keluarga Argantara akan menuju hotel malam ini. Argantara, Sean, Anggika, Citra, Rose, dan Reya berada di satu mobil.
Sean yang mengemudi mobil dan Citra di sebelahnya. Argantara dan Amelia berada di tengah dan Reya dan Rose berada paling belakang.
" Kak awas!" teriak Citra membuat Sean merem mendadak dan membuat orang maju kedepan.
Chitttt, Sean merem mendadak. Karena hampir menabrak.
" Sean kamu kenapa sih?" tanya Anggika.
" Maaf, aku tidak sengaja," sahut Sean yang merasa kurang fokus.
" Kakak nyetir yang benar dong. Kenapa segitunya. Hampir nabrak lagi," ucap Citra dengan kesal yang hampir kejedot.
" Sean kamu itu hati-hati. Semua orang bisa mati di dalam mobil ini karena kamu tidak fokus," tegur Anggika.
" Iya maaf," sahut Sean dengan napasnya yang naik turun yang memang tidak bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Fokusnya hilang karena Reya yang ada di sana. Sean kembali melihat Reya dari kaca spion dan Reya juga jantungan yang hampir kenapa-kenapa. Karena tadi Reya melamun.
" Ayo buruan nyetir!" ucap Citra. Sean tersentak kaget dan mengangguk. Lalu menyetir dengan fokus dengan membuang napasnya perlahan.
" Sean fokuslah. Kenapa kau terus melihat Reya. Jangan sampai kau mencelakai orang lain. Karena masalahmu ini. Jadi fokuslah Sean," batin Sean menyadari kebodohannya.
*********
Sampailah pada acara Perusahaan. Mereka semua turun dari mobil. Layaknya pesta pada umumnya. Tamu-tamu yang datang pada acara itu dengan gaun-gaun pesta dan stelan- stelan jas. Selain tamu-tamu dari Indonesia. Tamu-tamu dari luar Negri juga berdatangan.
Sama dengan mobil Sean yang akhirnya berhenti di depan hotel. Reya melihat hotel itu jantungnya berdebar dengan kencang. Bagaimana tidak. Di hotel itu dia dan Sean telah melakukan hubungan terlarang dan sampai detik ini semuanya masih teringat di kepala Reya.
Satu persatu turun dari mobil yang di bukakan penjaga yang mengawal di depan hotel.
Citra turun dengan dress merah mencolok di bawah lututnya dengan lengan yang menyilang di bagian dadanya, rambutnya di biarkan terurai dengan gelombang-gelombang yang membuat Citra begitu cantik.
Citra langsung bergandengan dengan Rose memasuki Hotel tersebut. Rose juga begitu cantik dengan Dress model sepan sepahanya yang membuat tubuhnya tubuh kecilnya berbentuk. Dress silver dengan mutiara-mutiara di padukan dengan ukiran rambutnya yang di sanggul cepol.
Untuk Anggika memakai dress memanjang berwarna merah sama dengan Citra yang sekarang menggandeng suaminya Argantara yang terlihat tampan.
Reya sendiri yang begitu gugup baru turun dari mobil dengan dress berwarna peach yang panjang sampai mata kakinya, tanpa lengan dengan rambutya yang di gerai menutupi bagian pundak dan bahunya yang terbuka.
Pengawal mempersilahkan Reya untuk mengikuti yang lainnya memasuki Hotel. Reya mengangguk dan menaiki anak tangga yang ada di teras Hotel. Heelsnya yang terlalu tinggi tidak tepat menginjak tangga dengan benar sehingga membuat Reya tergelincir dan hampir jatuh.
Untung saja Sean dengan cepat langsung pasang badan di belakangnya dengan menahan tubuh Reya memegang ke-pundak Reya agar tubuh Reya tidak jatu kebelakang.
Jantung Reya semakin berdetak dengan kencang dengan sentuhan Sean yang membuat darahnya berdesir hebat, Reya menoleh kebelakangnya dan bertemu mata Sean yang menatapnya dalam-dalam.
Sean dan Reya saling menatap dengan kedekatan yang cukup dekat dengan jantung ke-2nya yang sama-sama berdetak kencang
" Kau tidak apa-apa?" tanya Sean.
Reya meyadarkan dirinya dan melepaskan tangan Sean dari bahunya. Reya menarik napasnya dan membuangnya perlahan ke depan dan lalu berjalan mencoba untuk tenang.
__ADS_1
Sean menghela napas yang mengerti dengan kondisi Reya yang pasti memikirkan kejadian itu dan apa lagi mereka ada di hotel yang merupakan TKP kejadian itu.
Bersambung