Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 125


__ADS_3

Pagi ini Citra dan teman sekampusnya akan melaksanakan acara Study tour berupa kemping yang akan di adakan selama 3 hari. Citra yang sudah siap-siap sebelumnya yang nanti akan di antar Sean kekampus nya.


Citra keluar dari kamar dengan membawa tas ransel yang pasti berisi peralatan dan yang penting-penting yang akan di bawa. Namun sebelumnya dia harus sarapan dulu bersama seperti biasanya.


"Kak Sean mana mah?" tanya Citra yang tidak melihat kakaknya duduk di tempat biasanya.


"Baru aja pergi. Katanya ada meeting mendadak," jawan Anggika.


"Jadi yang ngantar Citra siapa?" tanya Citra menarik kursi yang langsung duduk.


"Biar papa yang antar kamu," sahut Argantara.


"Baiklah pah. Itu yang Citra mau. Lagian papa sangat jarang mengantar Citra sekolah dan sekarang papa mengantar Citra. Jadi ini hari yang special bagi Citra," ucap Citra yang bertambah semangat.


"Kamu ini berlebihan sekali Citra," sahut Anggika.


"Siapa yang berlebihan sih mah," sahut Citra dengan senyum di wajahnya.


"Ya sudah Citra yang penting kamu baik-baik ya di sana. Kamu hati-hati di sana nantinya," ucap Argantara memberi pesan pada putrinya itu.


"Iya papah. Papa tenang saja. Semuanya akan aman terkendali," sahut Citra dengan yakin sembari sarapan.


"Jangan asal terkendali Citra. Mama juga tidak ingin kalau sampai kamu kenapa-kenapa. Jadi harus jaga kepercayaan mama dan juga papa," ucap Anggika.


"Iya mama sayang, santai aja mama sayang," sahut Citra.


"Sudah-sudah kamu cepat sarapan. Nanti kamu telat lagi," ucap Argantara.


"Baik pah," sahut Citra dengan tersenyum dan langsung melanjutkan sarapannya.


Tiba-tiba Anggika melihat suaminya yang sepertinya ada yang di pikirkan Anggika seperti yang ingin bertanya pada Argantara.


"Papa memindahkan Karin?" tanya Anggika tiba-tiba membuat Argantara dan Citra sama-sama menghentikan sarapan mereka dan bahkan ayah dan anak itu saling melihat.


"Kenapa mama tau hal itu. Apa dia memberitahu mama masalah hal itu?" tanya Argantara yang balik bertanya pada Anggika.


"Ya bukan begitu. Mama hanya heran saja kenapa tiba-tiba Karin di pindahkan ke Kalimantan?" sahut Anggika justru merasa terjebak sendiri dengan pertanyaannya.


"Papa lebih heran dengan mama kenapa tiba-tiba mama tau hal itu dan tumben-tumbenannya mama harus mengurusi masalah karyawan papa," ucap Argantara dengan menaikkan 1 alisnya yang membuat Anggika malah gugup sendiri.

__ADS_1


"Ehem papa dan mama kenapa jadi saling melempar pertanyaannya sih. Aneh banget. Ayo sarapan," sahut Citra yang mengalihkan pembicaraan dari ke-2 orang tuanya yang sama-sama tegang.


"Iya Citra kita sarapan kembali," sahut Anggika yang tersenyum tipis. Dia niat ingin memastikan alasan suaminya kenapa memindahkan Karin. Namun ternyata suaminya kembali bertanya yang seakan mencurigainya yang membuat Anggika terjebak sendiri.


"Huhhhh, kenapa mas Argantara jadi bertanya balik kepadaku. Seakan dia malam mencurigaiku. Aku benar-benar harus menjaga sikap agar hal ini tidak terjadi lagi," batin Anggika yang jadinya takut sendiri.


"Jadi papa sudah memindahkan kak Karin. Baguslah kalau begitu. Artinya Reya akan baik-baik saja. Namun tidak bisa dianggap remeh. Dari yang aku lihat dari mama. Sangat jelas jika mama seperti mencurigai masalah besar dan rasa ingin taunya yang sangat besar," batin Citra yang memperhatikan mimik wajah dari sang mama.


"Anggika, aku tidak tau apa yang kamu pikirkan Anggika. Kamu bahkan menggunakan Karin untuk semua ini. Kamu benar-benar hebat Anggika," batin Argantara.


***********


Akhirnya Argantara mengantarkan Citra kekampus.


"Makasih pah, sudah mengantarkan Citra," ucap Citra dengan membuka sabuk pengamannya.


"Iya Citra. Oh iya Citra apa Dosen kamu yang bernama Reval ikut dalam event tersebut?" tanya Argantara.


"Iya pah," jawab Citra tersenyum.


"Hanya bertanya itu saja. Kamu menjawabnya dengan senyuman. Sangat aneh artinya," ucap Argantara yang membuat Citra menjadi malu dengan kata-kata Argantara.


Argantara hanya tersenyum dan melihat kedepan dan sangat kebetulan melihat Reval yang membuat Argantara langsung keluar dari mobil.


"Papa mau kemana?" tanya Citra heran dan Citra langsung melihat sang papa yang menghentikan Reval. Citra mendadak panik dan langsung buru-buru keluar dari mobil.


"Om," sapa Reval dan sangat sopan mencium punggung tangan Argantara.


"Reval om titip Citra ya pada kamu. Om takut dia nanti kenapa-kenapa di sana. Jadi kamu bisakan menjaga Citra?" tanya Argantara.


"Papa apa-apaan sih pah. Memang Citra mau kemana. Kenapa harus di jagain segala," sahut Citra yang malu di depan Reval.


"Baiklah Om. Jangan khawatir. Karena saya ikut dalam program ini. Jadi tidak masalah. Jika saya akan menjaga Citra," jawab Reval yang tidak masalah sama sekali.


Melihat Citra dan Reval Argantara hanya tersenyum penuh arti.


"Om percaya sama kamu Reval. Ya sudah kalau begitu. Om harus kembali kekantor. Om hanya mengantarkan Citra saja," ucap Argantara pamit.


"Iya hati-hati Om, masalah Citra akan menjadi tanggung jawab saya," ucap Reval.

__ADS_1


"Om tau itu. Ya sudah Citra papa pergi ya. Ingat kamu jangan menyisahkan Reval," ucap Argantara dengan mengingatkan putrinya itu.


"Iya pah, jangan khawatir," sahut Citra dan bahkan memeluk Argantara sebelum Argantara pergi. Setelah selesai berpelukan Argantara juga langsung pergi meninggalkan Reval dan Citra. Dan tidak lama mobil itu pun langsung pergi. Citra dan Reval saling melihat.


"Papa memang berlebihan kak. Jangan di buat beban," ucap Citra.


"Tidak apa-apa menjadi beban Citra," sahut Reval membuat Citra tersenyum dan saling melihat dengan Reval.


"Citra!" panggilan Rose yang sedikit berteriak membuat Citra langsung mengalihkan pandangannya dari saling menatap dengan Reval.


"Hay pak Reval," sapa Rose.


"Iya Rose," sahut Reval.


"Siapa yang ngantar kamu Citra?" tanya Rose.


"Papa tadi," jawab Citra.


"Oh begitu," sahut Rose.


"Hmmm, ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu ya kalian," ucap Reval.


"Iya kak Reval," jawab Citra. Reval dan Citra sama-sama tersenyum yang membuat Rose heran dengan dua manusia itu.


"Woy Citra!" tegur Rose yang menyenggol Citra yang melamun.


"Ha iya kenapa?" tanya Citra yang mendadak linglung.


"Kenapa sih kamu?" tanya Rose.


"Memang aku kenapa?" Citra balik bertanya.


"Ya senyum-senyum sendiri dan iya wajah kamu kenapa sampai memerah dan tadi apa yang aku dengar kamu panggil apa sama Pak Reval. Kakak maksudnya apa itu?" tanya Citra yang penuh dengan pertanyaan.


"Hmmm, tidak ada," sahut Citra dengan cepat yang belum ingin mengatakan apa-apa pada Rose.


"Isss mana mungkin tidak ada," sahut Rose.


"Sudah jangan di pikirkan. Ayo cepat masuk!" ajak Citra yang merangkul lengan Rose yang membuat Rose penasaran saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2