
Reval galau tingkat dewa dengan hubungannya dengan Citra yang baru saja di mulai sudah kandas. Ya alasan Citra sangat masuk akal tidak bisa menerima Reval bukan karena mereka saudara sedarah. Tetapi karena Citra yang tidak memberi kesempatan pada Reval. Karena Reval yang begitu banyak membuat kesalahan.
Sejak bicara di atap gedung dan Citra sudah pergi. Reval masih saja di sana dengan murung yang pasti memikirkan Citra yang beberapa kali Reval menghela napasnya.
"Apa aku tidak pantas bersama Citra? kesalahan ku begitu banyak sampai Citra tidak memberiku kesempatan," batin Reval yang menyadari kesalahannya dan tidak pantas untuk di maafkan oleh Citra.
"Tetapi Citra. Apa aku hanya ingin menebus semua kesalahanku. Aku tau Citra perasaan mu seperti apa. Tetapi aku hanya ingin bertanggung jawab padamu dan ingin menebus dosa-dosa ku Citra. Aku tidak peduli dengan hubungan atau ikatan yang tidak kita inginkan. Aku tidak peduli Citra dengan hal konyol dari persaudaraan. Di saat kamu memberiku kesempatan. Aku begitu bahagia Citra dan sangat semangat. Namun sekarang kamu berubah pikiran. Aku tidak tau lagi Citra harus mengatakan apa dan harus berbuat apa," batin Reval dengan mata yang berkaca-kaca.
Reval menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
"Mungkin Citra butuh waktu lebih banyak lagi. Seharusnya aku tidak memaksanya. Apalagi Om Argantara sekarang masih kritis sebaiknya aku berikan Citra waktu pagi," batin Abian yang harus menghilangkan egonya.
*********
Reya, Sean dan Citra yang berada di ruangan Argantara yang masih kritis dan tidak sadarkan diri. Di mana barusan saja Dokter memeriksa kondisi Argantara.
"Bagaimana keadaan papa saya Dok. Apa ada kemajuan?" tanya Citra dengan wajahnya yang penuh dengan kecemasan.
"Belum Bu Citra. Pak Argantara masih dalam kritis dan perkembangan tidak ada sampai detik ini. Namun masih tetap stabil," jawab Dokter.
"Apa luka papa sangat parah Dokter?" tanya Reya.
"Luka di bagian kepalanya mengganggu stafnya dan mengakibatkan beberapa saraf dari pak Argantara Tidka berfungsi," jawab Dokter.
"Apa yang harus kami lakukan Dokter?" tanya Sean.
"Untuk masalah medis serahkan kepada kami biar kami yang menanganinya dan terus memantau kesembuhan oak Argantara bedah jika ada yang harus di operasi kembali. Maka kami akan operasi secepatnya dan pasti berdiskusi dulu dengan keluarga kalian. Pak Sean dan yang lainnya cukup berdoa yang terbaik dan kesembuhan untuk pak Argantara," jawab Dokter yang berbicara pelan-pelan.
"Kami mohon Dokter tolong papa kami," ucap Reya.
"Pasti saya akan dan Dokter yang lainnya akan melakukan yang terbaik," jawab Dokter. Reya, Sean dan Citra hanya mengangguk yang pasti sangat mengharapkan kesembuhan untuk Argantara.
"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit.
"Makasih Dokter," jawab Sean, Reya dan Citra. Dokter mengangguk dan langsung pergi.
"Siapa yang sebenarnya melakukan ini pada papa? Kenapa dia begitu jahat dan apa motifnya?" tanya Citra dengan lesu yang menatap nanar Argantara yang begitu memperhatikan.
"Semuanya seperti di rencanakan. Karena sangat aneh dengan orang-orang di rumah tidak ada sama sekali," sahut Sean.
"Tetapi pihak polisi tidak menemukan bukti apa-apa sampai saat ini bagaimana kita mau tau siapa pelakunya," ucap Reya.
__ADS_1
"Kamu benar Reya. Kenapa lama sekali polisi menemukan petunjuknya," sahut Sean dengan menghela napas berat.
"Oh iya kak Sean bagaimana dengan kakek. Kita belum beritahu kakek sama sekali tentang keadaan papa," ucap Citra yang baru teringat dengan kakeknya.
"Kamu benar Citra. Kakak akan segera hubungi kakek," jawab Sean yang juga baru kepikiran. Bahwa kakek mereka ayah dari Argantara tidak belum tau masalah yang di alami Argantara.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kakak pelan-pelan ya bilang sama kakek. Takutnya nanti kakek terkejut," ucap Citra.
Krekkkk.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan membuat semuanya melihat kebelakang yang ternyata Reval yang memasuki ruangan itu. Citra hanya melihat sebentar dan kembali melihat kearah papanya dan memang terlihat canggung dengan keadaan yang ada di sana.
"Aku tadi dari kantor Polisi dan ada benda yang di temukan polisi di TKP," ucap Reval yang membuat Sean, Reya dan Citra kaget.
"Apa itu?" tanya Sean yang pasti penasaran.
"Polisi hanya memberikan fotonya," sahut Reval mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan barang bukti yang di temukan dan mereka bertiga melihatnya bersamaan yang berupa gelang tangan.
Namun wajah Reya yang terlihat lebih serius dalam melihat benda itu seakan tidak asing baginya.
"Gelang wanita. Apa itu artinya yang membuat papa seperti ini seorang wanita?" tebak Citra yang menduga-duga.
"Sudah bisa di pastikan seorang wanita. Karena sangat jelas gelang itu milik wanita yang di temukan di bawah Sofa," jawab Reval.
"Lalu bagaimana dengan Cctv-nya apa sudah di temukan?" tanya Sean.
"Tidak Sean. Tidak di temukan juga. Cctv-nya di bongkar dan tidak ada tersisa sedikitpun pun," jawab Reval.
"Siapa sebenarnya pelakunya. Ini kelihatan di rencanakan dan semua bukti telah di lenyapkan," gumam Sean mengusap wajahnya kasar dengan hembusan napas beratnya yang benar-benar kepalanya bisa pecah jika tidak menemukan siapa pelakunya.
Dratt-dratt-Dratttt.
Ponsel Sean berdering dan langsung melihat panggilan masuk itu.
"Kantor Polisi," ucap Sean yang langsung mengangkatnya.
"Hallo pak ada apa?" tanya Sean. Sean tampak mendengarkan apa yang ingin di sampaikan Polisi.
"Baiklah kalau begitu saya akan segera kesana," jawab Sean yang mematikan panggilan telponnya.
"Ada apa kak Sean?" tanya Reya.
__ADS_1
"Pekerja yang ada di rumah sudah di temukan. Aku akan kekantor Polisi untuk bertemu mereka yang sedang di periksa Polisi dan Reya kamu di sini sama Citra ya. Kamu jagain papa ya," ucap Sean yang buru-buru ingin pergi.
"Ya sudah kak Sean hati-hati ya," ucap Reya.
"Iya pasti," jawab Sean yang langsung pergi.
"Aku sebaiknya menyusul Sean," ucap Reval.
"Ya sudah kamu juga hati-hati. Semoga ada kemajuan dan titik terang untuk kasus papa," ucap Reya.
"Iya aku pergi," sahut Reval dan sebelum keluar dari ruangan itu Reval melihat Citra. Namun Citra mengalihkan pandangannya dan mungkin lebih baik tidak terlalu akrab dengan Reval.
**********
Kantor Polisi.
Akhirnya Sean bertemu dengan beberapa pekerja rumahnya. Yang memang lebih dari 10 orang.
"Dari mana sebenarnya kalian, kenapa bisa pergi bersamaan?" tanya Sean yang tampak emosi.
"Maaf tuan. Tapi kami pergi atas izin," jawab salah satu pembantu.
"Maksud kamu apa. Izin siapa yang menginjinkan kalian?" tanya Sean menekan suaranya.
"Nyonya Anggika yang memberi kami izin, dia menyuruh kami untuk liburan dengan memberikan fasilitas dan semua biaya," jawab pembantu yang satunya.
Sean dan Reval pasti terkejut mendengarnya dan tidak percaya dengan apa yang di katakan pembantu itu.
"Benar tuan Sean. Nyonya memberikan reward untuk kami semua liburan. Dan menyediakan semuanya dari mobil yang menjemput kami," jawab pembantu yang satunya lagi.
"Kamu jangan bicara sembarangan. Bagaimana mungkin mama menyuruh kalian semua liburan. Sementara mama tidak di temukan sama sekali entah di mana," ucap Sean yang pasti tidak percaya dengan perkataan pembantunya itu.
"Tetapi ini sungguh tuan. Kami ada buktinya kok," sahut salah satu pembantu dan bahkan mereka semua menunjukkan handphone mereka masing-masing yang memperlihatkan pada Sean chat pesan di mana dari Anggika dan no Anggika bahwa para pembantu di berikan waktu liburan karena di rumah juga tidak ada orang.
Sean dan Reval semakin terkejut melihat hal itu.
"Mama tidak mungkin melakukan itu," lirih Sean yang pikirannya mulai tidak tenang.
"Sean Tante Anggika tidak mungkin melakukan hal itu kan?" sahut Reval yang mulai menduga-duga.
"Apa yang kau pikirkan. Kau pikir mamaku seperti apa. Dia itu tidak mungkin mencelakakai suaminya sendiri itu sangat tidak mungkin," sahut Sean dengan menegaskan yang tau pikiran Reval.
__ADS_1
Bersambung