Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Episode 312


__ADS_3

Pagi yang cerah ini membuat Citra yang memasukinya kamar dengan membawa nampan yang berisi sarapan. Citra memasuki kamar dan melihat suaminya masih tertidur pulas dengan selimut yang sampai ke dadanya.


Citra menghela napasnya dan menghampiri suaminya dengan Citra yang duduk di samping suaminya dengan meletakkan nampan yang tadi di bawahnya di atas nakas,"


"Sayang bangun! Ini sudah pagi! sayang!" ucap Citra yang membangunkan suaminya itu. Namun sama sekali Reval belum bangun. Citra bahkan sudah menepuk-nepuk pipi Reval dengan lembut agar suaminya itu terbangun.


"Sayang!" ucap Citra yang kembali membangunkan suaminya. Namun suaminya tetap tidak terbangun yang membuat Citra hanya menghela napas dengan mengusap-usap pucuk kepala suaminya sampai akhirnya Reval baru bergerak dengan langsung meraih tangan Citra dengan memegangnya erat.


"Sayang ayo bangun, ini sudah siang loh, nanti kami kenapa-napa lagi, ayo bangun!" ucap Reval yang berusaha untuk membangunkan Reval.


"Masih ngantuk sayang," sahut Reval dengan suara manjanya yang matanya belum terbuka sama sekali.


"Jangan bilang masih ngantuk. Kamu itu harus bangun, mana ada kata-kata mengantuk. Ini sudah jam berapa. Nanti rezekinya di patuk ayam lo," ucap Citra dengan geleng-geleng yang mengingatkan suaminya itu.


"Iya-iya sayang. Jangan marah-marah dong," ucap Reval yang menguap dan akhirnya membuka matanya yang langsung di sajikan dengan wajah cantik istrinya.


"Ayo bangun! Jangan malas," tegas Citra yang menarik ke-2 tangan suaminya yang berusaha membuat suaminya duduk.Tenaga Reval jauh lebih kuat dan bukannya Reval yang duduk malah Citra yang langsung jatuh ke tubuh suaminya yang membuat Citra kaget.


"Sayang! kamu ini ya!" geram Citra dengan geleng-geleng. Reval memeluk pinggang istrinya dengan begitu erat.


"Kamu ini kenapa begitu galak hah! aku itu masih mengantuk dan tadi malam kamu tau sendiri kan tau aku sangat lama tidurnya. Karena kita olahraga malam. Lalu kenapa kamu sangat galak sekali hah!" ucap Reval.


"Siapa yang galak. Aku hanya membangunkan kamu dan bukan galak namanya. Tetapi istri yang baik yang mengingatkan suaminya. Kalau sudah waktunya bangun dan tidak berarti itu namanya galak," ucap Risya menegaskan.


"Lalu jika bukan galak. Namanya apa?" tanya Reval sembari membelai-belai rambut Citra.


"Namanya itu sayang yang mana aku itu sayang sama kamu. Kita berdua yang harus saling mengingatkan," jawan Citra dengan tersenyum yang membuat Reval juga tersenyum.


"Jadi itu namanya sayang?" tanya Reval sekali lagi. Citra menganggukkan kepalanya membuat Reval tersenyum dan mencium bibir istrinya.


"Sudah sekarang kamu duduk dan aku sudah Bawakan sarapan untuk kamu dan setelah itu suami aku ini harus mandi dan berangkat kekantor," ucap Citra menegaskan.


"Kenapa masih diam, ayo lepaskan aku dari pelukan kamu. Jika di peluk terus permasalahannya tidak akan selesai," ucap Citra menegaskan.


"Baiklah," sahut Reval melepas pelukannya dan Citra juga langsung duduk dan Reval juga menyusul.

__ADS_1


"Kamu sekarang sarapan ya. Aku siapkan pakaian kamu dulu," ucap Citra yang hendak berdiri dari tempat duduknya. Namun tuangannya di tahan suaminya.


"Ada apa sayang?" tanya Citra heran.


"Aku tidak akan sarapan. Jika tidak di suapi," ucap Reval dengan manja membuat Citra menautkan ke-2 alisnya.


"Sayang kamu....."


"Ayo suapi aku maka aku akan sarapan," sahut Reval.


Citra menghela napasnya dan akhirnya menganggukkan kepalanya dan mau tidak mau harus menyuapi suaminya itu.


"Kenapa jadi berubah jadi bayi gede sih," ucap Citra dengan gelang-gelang.


"Kenapa bayi gede?" tanya Reval.


"Ini yang kamu lakukan, seperti anak kecil. Apa harus makan di suapi," protes Citra.


"Namanya juga punya istri. Jadi harus memanfaatkan istrinya. Kalau mau sama istrinya ya harus sama istrinya dan lagi pengen di suapi. Jadi harus di suapi. Tidak ada yang salah manja-manja dengan istrinya bukan," ucap Reval.


"Makasih sayang," ucap Reval yang sudah mengunyah makanannya.


"Sama-sama," sahut Citra.


***********


Citra dan Reya yang berada di dalam mobil yang sekarang Citra yang menyetir. Oh iya Citra sekarang sudah berani menyetir sendiri. Selama ini dia sebenarnya bisa menyetir. Namun karena pernah mengalami kecelakaan membuatnya trauma dan sekarang dia kembali memberanikan diri. Walau awal-awalnya dia biasa saja. Namun lama-kelamaan Citra jadi biasa dan tidak ada rasa takut lagi.


Lagian hamil Reya juga sudah besar dan sangat tidak mungkin dia yang menyetirnya. Jadi mau tidak mau Citra harus ada untuk kakaknya.


Mobil itu berhenti di depan Perusahaan tempat Sean bekerja. Alias Perusahan keluarga mereka yang sekarang Sean yang sepenuhnya memegangnya. Walau dulu Sean sempat tidak ingin berada di Perusahaan itu lagi. Karena dia bukan anak kandung Argantara.


Namun karena kasihan dengan Argantara yang semakin tua dan sangat tidak mungkin Argantara mengurus perusahaan. Jadi mau tidak mau Sean mengurusnya dengan kesepakatan bersama istrinya.


"Ya sudah Citra. Kakak masuk dulu ya, antar makanan untuk kak Sean," ucap Reya dengan membuka sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Ya sudah kak," sahut Citra.


"Kamu tidak ikut masuk?" tanya Reya.


"Nggak kak Reya aku tunggu di mobil aja," jawab Citra.


"Ya sudah kalau begitu kakak masuk duku. Kamu tidak apa-apakan menunggu di sini?" tanya Reya.


"Santai saja kak tidak apa-apa," jawab Citra. Reya pun mengangguk dan turun dari mobil.


"Hanya sebentar saja oke," ucap Reya.


"Iya kak Reya," sahut Citra yang menghela napas dan menunggu kakaknya di mobil. Setelah ini mereka akan ada kegiatan di mana Citra menemani Reya untuk senam kehamilan. Makanya Reya hanya mampir sebentar saja di kantor suaminya hanya untuk mengantarkan makan siang.


*********


Reya yang sudah berada di ruangan suaminya dengan suaminya yang duduk di hadapannya dan Reya yang begitu buru-buru membuka bekal makanan.


"Sayang mau kemana sih! kenapa buru-buru sekali," ucap Sean dengan geleng-geleng melihat istrinya dengan cepat-cepat membuka bekal.


"Citra sedang menunggu di bawah. Makanya aku buru-buru," jawan Reya.


"Kenapa nggak Citra nggak ikut masuk aja tadi?" tanya Sean.


"Namanya aku hanya bentar saja dan lagian waktunya juga singkat aku sama Citra sudah hampir telat," jawab Reya.


"Apa itu artinya aku tidak akan di temani makan?" tanya Sean yang memastikan.


"Sayang maaf ya, kali ini tidak aku tidak enak sama Citra," jawab Reya dengan wajah senduhnya.


"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa sayang. Kamu temui Citralah dia pasti sudah menunggu," ucap Sean yang tidak masalah.


"Makasih sayang," sahut Reya yang mencium pipi suaminya itu.


"Aku pergi ya, bye," sahut Reya buru-buru pergi dan Sean hanya pasrah saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2