Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 91 Bertemu


__ADS_3

Citra dan Anggika akhirnya keluar dari Apartemen setelah tidak menemukan apapun yang mencurigakan.


"Sebenarnya apa yang terjadi apa benar selama ini kak Sean menyembunyikan Reya dari ku," batin Citra yang masih kepikiran dengan hal itu.


"Apa yang aku lihat tadi sama dengan apa yang aku lihat saat di Bali. Mereka itu seperti sangat dekat dan aku tidak mengerti ada apa dengan mereka sebenarnya," Citra terus bergerutu kebingungan di dalam hatinya. Mengenai Reya dan juga Sean yang sangat membingungkan.


Citra terus melamun di belakang Anggika yang berjalan di depannya dan Mereka berdua berdiri di depan lift menunggu lift terbuka. Anggika sibuk dengan ponselnya dan Citra sibuk dengan lamunannya.


Ting.


Pintu lift terbuka dengan perlahan dan sangat bertepatan Regina dan Barra ada di dalam lift yang sedang berpegangan tangan dan Barra yang melihat Citra begitu terkejut dan buru-buru melepas tangannya dari Regina. Citra dan Anggika juga terkejut melihat Barra dan wanita yang di ketahui Anggika sebagai temannya Citra.


"Barra!" Pekik Citra yang kaget dan tadi pasti sempat melihat 2 orang itu berpegangan tangan dan itu membuatnya jauh lebih terkejut.


"Hey Citra," sahut Barra yang menjadi gugup dan Regina pun langsung takut melihat Citra dan juga Anggika.


"Kalian berdua ngapain di sini?" tanya Anggika melihat ke arah Barra juga Regina dengan tatapan mengintimidasi.


"Gawat bagaimana ini. Bagaimana jika Citra tau aku dan Regina ada hubungan dan Tante Anggika ada di sini lagu," batin Barra yang terlihat begitu gugup dan apa lagi Citra juga melihatnya terus dengan tatapan yang mencurigakan.


Barra berusahalah untuk tenang dan langsung keluar dari lift, begitu juga dengan Regina yang semenjak tadi hanya di penuhi dengan ketakutan dengan tangannya yang saling bertautan.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Citra. Karena Barra belum menjawab pertanyaan mamanya tadi.


"Aku kebetulan tinggal di sini. Aku penghuni salah satu Apartemen di sini," jawab Barra dengan berusaha tenang.


"Oh begiti. Kamu tidak bilang Citra kalau Barra juga tinggal di sini," sahut Anggika.


"Citra juga baru tau mah. Barra tidak pernah mengatakan hal itu," sahut Citra.


"Kamu tidak pernah tanya sayang. Jadi mana mungkin kamu tau," sahut barra tersenyum pada Citra.

__ADS_1


"Ya sangat kebetulan Barra. kebetulan Tante juga punya salah satu unit di sini dan kebetulan milik Sean," sahut Anggika yang mengejutkan Barra.


"Jadi Apartemen Sean ada di sini. Apa Sean pernah melihatku. Gawat jika iya. Tetapi tidak mungkin. Jika iya pasti Citra sudah bertanya," batin Barra yang terus berusaha untuk tenang dan berpikiran positif.


"Lalu Regina untuk apa dia di sini. Dia mau ke Apartemen kamu?" tanya Citra yang melihat ke panikan di wajah Regina dan langsung to the point bicara.


"Ya nggaklah. Aku juga mana tau dia kenapa ada di sini. Kita tidak sengaja bertemu di lift, benar kan Regina," sahut Barra yang mencari alasan agar Citra tidak mencurigainya.


"Iya benar Citra. Kami tidak sengaja bertemu di lift," jawab Regina dengan gugup dan berusaha untuk tersenyum.


"Sangat sering tidak sengaja," cuit Citra yang merasa ada sesuatu yang aneh, "dan jika seperti itu untuk apa kamu di sini?" tanya Citra dengan mengintimidasi Regina.


"Oh itu, aku, aku lagi ke tempat saudara ku yang kebetulan ada di sini dan tidak sengaja bertemu Barra," jawab Regina yang terbata-bata menjawab pertanyaan Citra dan Citra sangat terlihat jelas tidak mempercayai apa yang di katakan Regina yang menurutnya tidak masuk akal.


"Benarkah hanya seperti itu?" sahut Citra yang merasa ada yang tidak percaya m


"Ya iyalah sayang, masa iya Regina bohong," sahut Barra.


Barra menelan salivanya yang salah bicara dan menimbulkan banyak kecurigaan pada Citra.


"Ya memang aku tidak tau. Kamu mikir apaan sih," sahut Barra yang mencoba untuk tenang.


"Tidak apa-apa. Aku hanya heran saja dengan kamu yang tidak pernah kelihatan dan sekarang terlihat dan bersama Regina dan belakangan ini sangat sering mengeluarkan kata tidak sengaja," sahut Citra yang walaupun cuek. Ternyata dia juga memperhatikan ke anehan dari Barra belakangnya ini.


"Citra kamu sedang tidak memikirkan hal yang aneh-aneh kan?" tanya Barra. Citra diam dan tidak menjawab bahkan wajahnya sangat kesal dengan Barra dan juga Regina.


"Hmmm, Citra mama tunggu di mobil ya," ucap Anggika yang melihat ada kesalah pahaman dan tidak harus dia ikut-ikutan dan membiarkan pada anaknya untuk mengatasi masalah itu.


"Tidak usah mah. Kita pulang saja, Citra mau istirahat," sahut Citra.


"Tapi sayang. Bukannya Barra masih ingin bicara dengan kamu?" tanya Anggika.

__ADS_1


"Jika dia ingin bicara dengan Citra seharusnya sejak tadi. Tapi Citra sudah menghubunginya berkali-kali. Namun tidak di angkat. Jadi Citra mau pulang saja," sahut Citra yang langsung menekan tombol lift.


"Citra tunggu dulu. Kita harus bicara," sahut Barra menahan tangan Citra. Namun Citra langsung melepasnya membuat dan pintu lift langsung terbuka. Citra langsung memasuki lift.


"Tante duluan Barra," ucap Anggika dengan ramah.


"Iya Tante," sahut Barra. Pintu lift terbuka dan membuat Barra berdecak dengan kesal.


"Sial!" umpat Barra mengusap wajahnya dengan kasar, "kenapa semuanya seperti ini? bisa-bisanya aku ketahuan oleh Citra. Semua benar-benar sial!" umpat Barra dengan emosi yang terlihat sangat marah.


"Kamu tidak menyalahkanku kan Barra?" tanya Regina yang minat Barra begitu marah.


"Kamu bicara apa sih Regina. Sudah deh kamu jangan memulai. Kepalaku pusing," sahut Barra.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi," sahut Regina yang langsung pergi. Namun Barra menghela napasnya kasar dan menahan Regina.


"Kita belum selesai dan jangan pergi!" cegah Barra.


"Bukannya kamu tidak mau di ganggu. Jadi untuk apa ada aku," sahut Regina yang juga sangat terlihat marah.


"Regina jangan seperti ini. Aku sedang banyak masalah Regina. Aku minta maaf, jika kata-kata mu menyinggung mu, sekarang kita masuk," bujuk Barra yang harus berbicara lembut pada Regina.


"Barra Citra sudah mencurigai kita dan ini hanya akan masalah yang datang," sahut Regina.


"Makanya kita mempercepat rencana kita. Agar kita tidak sembunyi-sembunyi seperti ini," sahut Barra yang kembali mempengaruhi Regina.


"Itu jalan yang terbaik Regina yang harus kita ambil," ucap Barra. Namun Regina hanya diam yang tidak bicara apa-apa.


"Aku harus secepatnya menjalankan rencana ku sebelum Citra putus dari ku," batin Barra.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2