Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 334


__ADS_3

Sudah lebih 1 Minggu Reya koma. Tidak ada perkembangan pada kondisi Reya yang tetap berada di rumah sakit dalam bantuan alat medis.


Sama seperti sekarang ini di mana Suster yang sedang mempersiapkan alat-alat untuk melap-lap tubuh Reya. Agar tetap bersih.


Sean memasuki kamar perawatan itu yang melihat Suster hendak membuka pakaian istrinya.


"Suster!" tegur Sean membuat Suster menghentikan pekerjaannya.


"Ada apa pak Sean?" tanya Suster.


"Boleh tidak. Jika kali ini saya yang melakukannya, saya suaminya dan ingin melakukan tugas itu," ucap Sean.


"Tapi Pak Sean ini pekerjaan Suster untuk membersihkan tubuh Bu Reya," ucap Suster.


"Tidak apa-apa. Saya juga bisa melakukannya. Saya yang akan membersihkannya dan nanti jika ada apa-apa saya panggil Suster dan pasti akan hati-hati melakukannya," ucap Sean


Suster diam sebentar yang bingung apakah dia harus memberi izin atau tidak sama sekali


"Baiklah pak Sean," sahut Suster yang sangat baik yang akhirnya memberi izin Sean yang membuat Sean lega.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Suster itu pamit. Sean menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian Suster tersebut. Sean langsung menghampiri ranjang istrinya dan duduk di samping Reya.


"Sayang, kamu mandi sebentar ya," ucap Sean dengan tersenyum lirih seolah hatinya yang begitu perih dengan kenyataan yang ada.


Namun Sean berusaha untuk kuat dengan tegar yang harus melewati semua ujian ini.


Dengan perlahan-lahan Sean membuka kancing baju Reya. Sean mulai melap tangan sang dengan kau basah. Melakukan apa yang biasa di lakukan Suster terhadap pasien yang koma.


Dengan mata yang bergenang yang berusaha menahan air matanya. Sean melakukan pekerjaan itu dengan lembut tanpa ingin menyakiti istrinya. Bahkan sekali-kali Sean mengajak Reya berbicara yang padahal tidak ada respon dari Reya. Tetapi Sean tidak peduli dan tetap saja menganggap istrinya masih sadar dan sekarang sedang bercerita bersamanya.

__ADS_1


Di depan ruang pintu perawatan ada Anggika dan Argantara yang melihat Sean yang merawat istrinya. Hal itu membuat Anggika dan Argantara yang jadi sedih. Bahkan Anggika meneteskan air matanya melihat Sean yang sangat menyedihkan.


"Kasihan Sean. Dia sudah menunggu terlalu lama. Dia terus berada di samping Reya. Namun sampai detik ini Reya tidak bangun juga. Dia selalu berusaha kuat untuk semua ini tetapi tetap saja Reya tidak kuat juga," ucap Anggika dengan air mata di pipinya.


"Kenapa hubungan mereka tidak hentinya di uji dengan berat seperti ini. Mereka hanya manusia biasa yang bertemu dalam keadaan yang sangat sulit. Jatuh cinta dan melewati hal-hal yang besar. Namun setelah semua bisa terlewati. Lalu kenapa mereka kembali di uji dengan jarak yang lebih menyakitkan dari pada perpisahan," ucap Anggika yang merasa tidak adil dengan ujian yang di hadapkan pada Reya dan Sean.


"Sean dan Reya anak-anak yang kuat. Bukan hanya Reya yang berjuang untuk bangun. Namun juga Sean yang selalu berjuang untuk memberi kekuatan pada Reya. Percayalah Allah akan menjawab doa-doa dan keinginan mereka berdua," ucap Argantara.


"Aku hanya kasihan pada Sean. Tidak ada hentinya mengajak Reya berbicara dan dia tetap saja berusaha untuk kuat. Padahal hatinya sangat hancur," ucap Anggika.


Argantara merangkul bahu Anggika dengan memeluk istrinya yang juga sering mewek.


"Kita doakan semoga mereka akan mendapatkan ke ajaiban dari sang pencipta," ucap Argantara.


"Ya Allah aku hanya ingin mereka berdua kembali bersatu, bersama dengan anak mereka. Jangan siksa mereka dengan keadaan ini," ucap Anggika yang tidak sanggup melihat Reya dan Sean.


Namun Sean yang sudah selesai melap tubuh istrinya dan juga Sean menyisir rambut sang istri dan memberi bedak tipis di wajah sang istri yang terlihat Reya sangat cantik seperti bukan orang sakit. Melainkan seperti wanita yang sedang tertidur dan membuat Sean tersenyum.


"Kamu cantik sekali sayang," puji Sean dengan mencium kening Reya.


"Oh iya sayang kamu cepat bangun ya.. Supaya kita ber-2 bisa cari nama untuk anak kita. Jangan manggilnya bayi kecil terus," ucap Sean.


Sebanyak apapun dia berbicara tidak akan ada respon dari istrinya dan di saat Sean lelah. Sean baru menghela napasnya panjang kedepan dan baru air matanya jatuh. Ya sekuat apapun dia juga sangat lemah dan pasti tidak akan pernah selesai dari yang namanya tangisan.


Sean meraih tangan Reya dan tangan itu dengan lama dengan kepala Sean yang menunduk dan di pastikan banyak air mata yang di keluarkan Sean di atas tangan istrinya.


Dalam tangis sesak tanpa suara itu. Tanpa di sadari Sean keluar air mata dari ujung pelupuk mata Reya. Mungkin apa yang di sampaikan Sean terdengar oleh Reya. Namun Reya tidak bisa meresponnya. Mungkin tubuh dan raganya tidak sadar. Tetapi pasti Reya sangat tau apa yang di smapaika Sean dan pasti banyak sekali keinginan Reya untuk membuka matanya.


*********


Kondisi bayi Sean dan Reya sudah membaik dan sangat sehat bayi tampan yang selalu bersama Citra dan Reval itu. Bahkan bayi kecil itu sudah beberapa hari tinggal di rumah Argantara dan tidak di rawat di rumah sakit lagi.

__ADS_1


Tangisannya yang selalu memberi warna kehidupan di dalam rumah itu dan Citra atau Reval sangat tulus merawat bayi tampan itu. Karena ibunya yang masih koma di Rumah sakit.


Seperti sekarang ini Citra membawa bayi itu, menggendongnya di taman belakang untuk mencari matahari yang sehat.


"Seharusnya bayi seperti kamu mendapat asi dari mama kamu. Tetapi Tante lihat kamu itu rewel kalau masalah asi. Kamu tidak menuntut banyak. Sayang kamu itu sangat kuat dan sangat pengertian pada mama kamu. Kita doakan ya semoga mama kamu cepat sembuh dan cepat bangun biar bisa gendong kamu," ucap Citra dengan mata berkaca-kaca melihat bayi tampan yang anteng itu.


"Anak baik, anak kuat," gumam Citra mencium pipi bayi tampan itu.


"Citra!" tegur Sean membuat Citra membalikkan tubuhnya.


"Eh ada papa," sahut Citra yang mendekati kakaknya Sean langsung mencium bayinya tersebut.


"Papa mau kemana?" tanya Citra ala suara bayi.


"Papa mau lihat mama dulu ya sayang. Kamu sama Tante ya di sini. Jangan rewel," ucap Sean.


"Iya papa tenang saja. Aku tidak akan rewel. Papa jagain mama aja dan bilang sama mama cepat bangun. Karena aku ingin di gendong mama," ucap Citra yang lagi-lagi menirukan suara bayi.


"Iya sayang nanti papa sampaikan sama mama," ucap Sean yang kembali mencium lembut kening bayi itu.


"Ya sudah Citra kakak kerumah sakit dulu. Titip anak kakak ya," ucap Sean.


"Iya kak Sean jangan khawatir," jawab Citra.


"Oh iya Reval mama?" tanya Sean.


"Kak Reval sudah kekantor. Barusan aja pergi," jawab Citra.


"Ya sudah kalau begitu kakak pergi dulu," ucap Sean pamit.


"Iya kak Sean hati-hati," sahut Citra dengan tersenyum dan Sean langsung pergi.

__ADS_1


"Dada papa," ucap Citra yang seolah menjadi bayi tampan itu. Sean hanya tersenyum dia pasti sangat lega karena punya Citra yang sangat tulus pada anaknya.


Bersambung


__ADS_2