
Citra bersama dengan Reval yang mereka berdua duduk di meja makan dan Reval menemani Citra makan. Citra makan saja dengan dengan fokus pada makanan yang di atas piringnya. Namun Reval terus saja melihat dirinya dengan tatapan yang tidak terbaca. Namun pasti Reval sangat bahagia dengan Citra yang sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Citra yang sekarang mau berbicara banyak dengannya dan tidak menghindarinya.
"Jangan melihatku seperti itu," sahut Citra walau tidak melihat Reval namun dia sadar sedang di tatap Reval sejak tadi.
"Maaf. Jika tatapanku tidak membuatmu nyaman, aku hanya khawatir padamu," ucap Reval.
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok. Terima kasih sudah membantuku dan jujur aku merasa jauh lebih tenang," ucap Citra yang sudah melihat kearah Reval.
Reval tersenyum mendengarnya, "jika kamu mengatakan, kamu lumayan lebih tenang. Apa sebelumnya ada yang menggangu pikiranmu. Atau membuatmu gelisah makanya kamu tiba-tiba seperti ini?" tanya Reval yang ingin mastikan perasaan Citra dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Citra.
Citra menganggukkan kepalanya yang memang tidak bisa bohong, jika dia memang ada masalah.
"Sepertinya sangat berat Citra. Apa aku boleh tau ada apa sebenarnya?" tanya Reval yang ingin tau. Citra diam sejenak yang saling melihat dengan Reval. Banyak keraguan dari wajah Citra. Apa harus memberitahu Reval atau tidak.
"Aku tidak akan memaksamu Citra. Mungkin kamu butuh waktu. Tapi aku pasti sangat senang, jika kamu mengatakan apa yang kamu pikirkan dengan begitu aku bisa membantumu," ucap Reval.
"Reval memang ada yang ingin aku katakan kepadamu dan ini tidak bisa aku pendam sendiri. Aku tidak tau kepada siapa aku harus menumpahkan semuanya. Ini sangat sulit untukku," ucap Citra dengan matanya yang berkaca-kaca dan bahkan air matanya juga jatuh. Reval langsung memegang tangannya memberikannya kekuatan dalam ketenangan.
"Kalau begitu katakan kepadaku ada apa. Aku ingin selalu menjadi orang yang di percaya olehmu dan kamu tidak ragu mengatakan hal apapun kepadaku," ucap Reval dengan lembut.
"Sebenarnya aku itu...."
"Citra!" panggil suara Sean yang terdengar membuat Citra tidak jadi berbicara dan mendengar suara itu membuat Citra menarik tangannya dari Reval dan menoleh kebelakang yang ternyata Reya dan Sean yang tiba-tiba datang. Reval menghela napasnya dan berusaha untuk bersikap biasa.
"Kak Sean, Reya," sahut Citra yang salah tingkah dan menyeka air matanya dengan cepat sebelum Sean bertanya ada apa dengan dirinya.
Sean dan Reya pun menghampiri ke meja makan dan Reval pun berusaha untuk terlihat biasa saja dengan menundukkan kepalanya pada Sean hanya sekedar sapaan saja.
"Kamu menginap di sini tadi malam?" tanya Sean.
"Iya aku yang...."
"Iya Citra ketiduran," sahut Citra memotong pembicaraan Reval yang pasti ingin mengatakan jika dia yang membawa Citra ke Apartemen tersebut.
"Begitu rupanya," sahut Sean. Reval pun tidak bicara lagi. Mungkin Citra tidak ingin Sean tau.
__ADS_1
"Kak Sean kok tumben kemari ada apa?" tanya Citra, "apa papa mencari Citra, Citra lupa pulang, karena memang sudah janji dengan papa," ucap Citra yang memang baru mengingat jika dia ada janji dengan Argantara yang akan kembali merawat Argantara.
"Tidak kok Citra, kebetulan aku sama kak Sean datang kemari. Ingin melihat Tante Sahila dan kita hanya melihat keadaanya saja dan ini juga bawa makanan untuk Tante Sahila," sahut Reya yang menjawab pertanyaan itu dengan menunjukkan makanan yang di belinya tadi sebelum ke Apartemen tersebut.
"Oh begitu rupanya," sahut Citra.
"Tante Sahilanya mana?" tanya Reya.
"Mama ada di kamar, sedang beristirahat, aku akan panggilkan," sahut Reval.
"Tidak usah Reval, santai saja. Nanti saja kami menemuinya, lagian kamu juga tidak buru-buru dan biarkan saja Tante Sahila istirahat," sahut Reya.
"Begitu rupanya," sahut Reval.
"Ya sudah kak Sean, Reya, ayo duduk!" ajak Citra. Sean dan Reya pun menduduki kursi.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Citra.
"Sudah kok Citra. Kamu sendiri baru makan. Aku lihat kamu itu kurang sehat," sahut Reya yang bertanya kembali dengan memperhatikan kondisi Citra yang agak pucat.
"Iya kak aku baik-baik saja kok, hanya saja kurang enak badan. Aku buatkan minum ya untuk kalian," jawab Citra yang langsung bergerak untuk mengambil minum untuk Reya dan Sean.
"Bagaimana dengan Tante Sahila Reval. Apa keadaannya sudah membaik?" tanya Sean.
"Jauh lebih baik sekarang dan aku harus merepotkan kamu Sean dengan mama yang tinggal di sini," ucap Reval yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Lagi pula Apartemen kosong. Jadi tidak ada salahnya kalau mama kamu nyaman tinggal di sini. Maka silahkan," sahut Sean yang tidak masalah.
"Makasih ya Sean dan makasih juga dengan kalian yang sudah mau berkunjung dan repot-repot membawakan makanan untuk mama," sahut Reval.
"Santai aja Reval ini hanya sedikit kok," sahut Reya.
"Kak Sean dan Reya habis dari mana?" tanya Citra yang sudah kembali ke meja makan dengan membawakan jus untuk Sean dan Reval.
"Kita habis dari panti asuhan Citra," jawab Sean.
__ADS_1
"Panti Asuhan Sejahtera?" tebak Citra.
"Iya Citra, maaf ya Citra, aku tidak mengajak kamu, soalnya aku dan kak Sean juga sangat buru-buru untuk pergi," sahut Reya yang mengingat sebelumnya Citra ingin di ajak kalau pergi ke panti Asuhan tersebut.
"Kamu ingin ke sana untuk apa Citra?" tanya Sean.
"Tidak kak, hanya ingin lihat-lihat saja," jawab Citra dengan singkat.
"Kenapa Citra ingin ke panti Asuhan itu," batin Reval.
"Hmmm, lalu bagaimana hasilnya?" tanya Citra mengalihkan pembicaraan.
"Ibu panti mendapatkan data-data waktu aku di kirim ke panti asuhan itu dan bahkan memberi alamat orang tuaku yang menitipkan ku dengan alasan dia menjadi TKW ke Luar Negri," jawab Reya dengan tidak bersemangat.
"Kamu sudah ke alamatnya?" tanya Citra.
"Kemungkinan besok aku kesana," jawab Reya.
"Begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu aku besok akan ikut ya," sahut Citra.
"Boleh," sahut Reya yang tidak masalah sama sekali.
"Lalu Reya bagaimana firasat kamu untuk hasilnya. Apa kamu sangat berharap dapat menemui orang tuamu?" tanya Reval.
"Awalnya jujur aku tidak berharap banyak dan hanya pasrah. Namun bibi panti mengatakan aku mempunyai adik yang juga di titipkan bersamaku waktu itu dan juga sudah di adopsi. Jadi itu yang membuatku sangat banyak berharap," jawab Reya.
"Kamu ada adik?" tanya Citra yang terkejut. Reya menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah Reya, kita akan berusaha untuk semampu kita," sahut Sean.
"Aku juga akan membantumu Reya," sahut Reval.
"Aku juga," sahut Citra yang dengan senang hati ingin membantu Reya.
Bersambung
__ADS_1