
Setelah sedikit tenang Reya dan Sean akhirnya ke luar dari dalam kamar yang menjadi saksi hubungan terlarang mereka. Reya berjalan terlebih dahulu dan tangannya di hentikan Sean membuat Reya melihat kebelakang.
Sean membuka jasnya dan memakaikannya pada Reya, ada bagian dress Reya yang tersobek. Karena perbuatannya tadi malam.
" Orang-orang akan bertanya apa yang terjadi padamu," ucap Sean dengan lembut.
Reya tidak menanggapi dan hanya membiarkan Sean memakaikan jas itu padanya dan bahkan tidak berani lagi melihat Sean. Dia merasa apa yang di lakukannya dengan Sean begitu menjijikkan. Bagaimana mungkin sedarah bisa melakukan hubungan terlarang itu. Itu terus terbayang di pikiran Reya.
" Kita langsung ke villa saja," ucap Sean. Reya hanya menganggukkan kepalanya yang mengikut saja. Dia lelah menangis dan dan mungkin matanya sudah bengkak.
Reya dan Sean pun langsung memasuki mobil dengan pintu mobil yang di bukakan Sean. Reya merasa takut-takut. Ya dia takut orang-orang berpikiran apa-apa kepadanya. Padahal tidak ada yang peduli dan juga tidak memperhatikan Reya.
Namun Reya tetap saja meresa ada sesuatu merasa di perhatikan. Ketakutan itu datang sendiri dan Sean yang sudah duduk di sebelahnya memperhatikan gerak-gerik Reya.
Sean pun mendekati Reya membuat Reya kaget dan spontan memundurkan kepalanya. Padahal Sean hanya memakaikan sabuk pengaman untuk Reya.
" Jangan panik Reya. Tidak akan terjadi apa-apa," ucap Sean yang berusaha untuk menenagkan Reya sembari memakaikan Reya sabuk pengaman. Sepanjang Sean melakukannya Reya tidak bernapas sama sekali dan baru bernapas ketika sean sudah kembali pada posisinya.
" Kita jalan?" ajak Sean. Reya menganggukkan kepalanya.
**********
Di Villa. Anggika, Argantara, Citra, Rose, Karin sedang berkumpul di ruang tamu dengan wajah yang terlihat begitu tegang.
" Kamu memang tidak tau Sean kemana?" tanya Anggika pada Karin.
" Karin kan sudah mengatakan Tante. Sean dan Karin berpisah di jalan dan Karin juga tidak tau di mana dia. Ini masih di tanya sama orang hotel benar atau tidak Sean datang ke hotel," ucap Karin yang gelisah.
Semenjak kejadian tadi malam. Dia terus saja gelisah dan bahkan takut bertemu dengan Sean yang tidak tau apa lagi yang nanti akan di katakan Sean kepadanya.
" Memangnya Sean kemana sih. Dia pasti mencari wanita untuk melampiaskan hasratnya. Issss Sean aku yang bekerja. Wanita itu yang mendapatkan enaknya," batin Karin dengan kesalnya.
" Reya juga kemana?" tanya Anggika. Rose hanya diam saja yang pasti takut salah bicara.
__ADS_1
" Kamu tidak tau Reya di mana Citra?" tanya Argantara.
" Ya mana Citra tau. Kan kita punya kegiatan masing-masing dan semalam aku sama Rose terus," ucap Citra melihat ke arah Rose.
" Iya Om benar, kita terus berduan kok," sahut Rose yang takut-takut.
" Sial, kenapa juga Reya bisa menghilang dari Club. Rencanaku berantakan. Tetapi untung saja aku masih punya rekaman saat Reya minum. Nanti saja aku tunjukan sama papa. Kalau Reya sudah kembali. Ya maunya sih wanita itu tidak kembali lagi," batin Citra dengan sinis.
" Mungkin saja Reya sedang pecicilan. Dia kan anaknya tidak bisa diam," sahut Citra menuduh Reya.
" Kamu ini ya Citra jangna bicara yang tidak-tidak kalau tidak ada buktinya," sahut Argantara.
" Papa sih pasti belaian dia lah," sahut Citra.
" Sudah kalian itu jangka ribut. Mendingan cepat terus cari Sean ada di mana?" ucap Anggika dengan kesal.
" Mungkin kak Sean istirahat di hotel mah," sahut Citra.
" Tapi kenapa tidak pulang-pulang juga?" tanya Anggika semakin khawatir.
" Sabar mah," sahut Argantara.
" Benar Tante Sean ke hotel kok," sahut Karin yang baru mendapat kabar melihat Sean ke hotel.
" Tuhkan benar, Citra bilang juga apa. Mama aja yang paniknya berlebihan," sahut Citra.
" Reya juga ada di hotel yang sama," Lanjut Karin membuat Anggika kaget mendengarnya. Citra dan Rose juga terkejut dan saling melihat.
" Apa maksud kamu Reya dan Sean?" Pekik Anggika.
" Iya Tante," jawab Karin.
" Kenapa bisa?" tanya Anggika.
__ADS_1
" Masalah itu sih nggak tau Tante. Tetapi kata orang hotel melihat Sean ada Reya ada di sana. Tetapi kalau mereka bersama. Karin juga tidak tau apa mereka bersmaa atau tidak," jelas Karin.
" Mungkin saja Reya bekerja semalaman di hotel, memeriksa hal lainnya. Jadi dia tidak pulang dan menginap di sana dan Sean juga karena juga malas pulang menginap di hotel," sahut Argantara berpikiran positif. Namun ekspresi Anggika menunjukkan kecemasan yang terlihat berpikiran sesuatu.
" Tapi kenapa bisa kebetulan?" tanya Anggika.
" Anggika namanya Hotel kita adalah tempat acara yang di adakan. Reya dan Sean ikut berpotensi. Jadi apa yang salah," sahut Argantara.
" Jadi semalaman Reya larinya ke hotel, dia pintar sekali menghindar. Padahal rencana ku sudah hampir berhasil mamarin,"'batin Citra.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil.
" Itu mobil kak Sean," ucap Citra. Anggika yang cepat-cepat langsung berdiri yang ingin keluar melihat Sean dan yang lainnya mengikutinya.
***********
Sean memang kembali bersmaa Reya. Di mana mereka masih berada di dalam mobil dengan Reya yang begitu takut. Kedua tangannya yang saling menggenggam erat di atas pahanya menunjukkan rasa cemasnya saat menemui orang tuanya. Menemui papanya dan ibu tirinya yang tidak tau bagaimana menghadapi keluarganya itu.
Sean menoleh ke arah Reya, melihat kepanikan di wajah Reya dan rasa takut yang tidak bisa di bohongi.
" Reya aku mengerti apa yang kau takutkan. Kau harus tenang. Ayo kita masuk dan kau langsung kekamarmu. Kau istirahat lah. Kau tenang kan dirimu. Kita akan bicara lagi," ucap Sean dengan lembut.
Semenjak Reya berteriak-teriak membuat Sean khawatir pada Reya. Takut Reya sampai kenapa-kenapa dan mungkin bisa mengalami gangguan pada mentalnya dan Sean mencoba untuk menenagkan Reya dengan bicara lembut kepada adiknya itu.
Reya benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi. Namun dia langsung membuka pintu mobil dan langsung keluar dari mobil. Sean membuang napasnya perlahan ke depan dan langsung menyusul Reya.
Ketika ingin memasuki Villa Anggika dan yang lainnya keluar secara bersamaan dan terkejut melihat Reya dan Sean yang pulang bersamaan dan terlihat Reya juga yang panik dengan menelan salivanya yang terlihat Reya seperti melakukan kesalahan penuh dengan ketakutan saat melihat papanya.
Anggika melihat Reya dan Sean secara bersamaan secara bergantian. Dengan ada pikiran yang tidak bisa di jelaskan dalam benak Anggika. Merasa ada sesuatu dan Anggika juga sebegitu cemas. Tetapi tidak tau apa yang membuatnya cemas.
Sama dengan Citra yang pasti sangat terkejut melihat sang kakak pulang bersama Reya.
Bersambung
__ADS_1