Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 278


__ADS_3

Setelah Reval di obati mereka semua kembali berkumpul untuk berembuk.


"Bagaimana Reval keadaan kamu?" tanya Anggika


"Saya baik-baik aja Tante. Jadi tidak ada masalah sama sekali," ucap Reval yang selalu merasa dirinya baik-baik saja.


"Reval sebaiknya kamu pulang aja. Saya akan menelpon supir untuk menjemput kamu. Biarkan kami yang melanjutkan semua ini. Kamu harus beristrihat. Karena kondisi kamu sedang tidak baik," ucap Argantara memberi saran.


"Tidak perlu. Saya akan tetap ikut. Lagian lukanya juga tidak terlalu parah dan semua ini terjadi karena saya juga yang lalai," sahut Reval yang merasa kuat.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Citra.


"Santai Citra, aku baik-baik saja," jawab Reval.


"Ya sudah kalau begitu lanjutkan saja perjalanan. Kalau memang Reval juga memaksa untuk ikut," sahut Anggika.


"Kita akan satu mobil. Sebentar lagi mobil akan datang lagi dan kita akan tukar mobil," ucap Argantara yang sebelumnya menyuruh supir dengan mobil yang muatnya lebih banyak lagi untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Ya sudah tidak apa-apa," sahut mereka yang setuju dengan apa yang di katakan Argantara.


"Reval sembari menunggu kamu sebaiknya istirahat di mobil saja," sahut Anggika.


"Benar Reval. Kamu bisa berbaring sebentar," sahut Reya.


"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkan ku," ucap Reval.


"Aku temani," sahut Citra yang berbicara dengan cepat sampai membuat semua orang melihatnya dengan heran yang mana Citra sangat agresif sekali, "hmmm maksudnya aku juga mau istirahat. Jadi kalau siapa yang mau istirahat ya istirahat aja di dalam mobil," sahut Citra yang meralat kata-katanya agar yang lainnya tidak salah paham.


Mendengar hal itu membuat Reya tersenyum yang melihat kegugupan Citra.


"Ya sudah Citra kamu juga sana istirahat," sahut Anggika. Citra mengangguk dan pergi bersama Reval kedalam mobil.


"Kamu juga tidak mau istirahat sayang?" tanya Sean.


"Tidak perlu. Aku sekarang sudah merasa jauh lebih baik dan biarkan saja mereka yang beristirahat," sahut Reya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu," sahut Sean. Reya hanya pengertian saja yang memberi adiknya itu kesempatan untuk berdekatan kembali bersama Reval. Mumpung mereka itu bukan saudara sedarah.


*********


Setelah supir sampai akhirnya mereka semua sudah berada di dalam mobil yang di kendarai supir. Mobil yang lebih besar dan nyaman untuk mereka menempuh perjalanan yang sebentar lagi akan sampai.


Perjalanan itu sangat santai dan sepertinya beberapa jam kedepan belum ada masalah apa-apa. Karena mereka jauh lebih hati-hati belajar dari kesalahan sebelumnya.


Sampai akhirnya mereka semua tiba Cirebon dengan mereka yang sama-sama keluar dari mobil.


"Ini alamatnya?" tanya Reya yang melihat-lihat di sekitarnya yang mereka berada di lingkungan yang alamatnya sudah di tunjukkan.


"Alamatnya sesuai kok. Memang alamatnya di sini," sahut Citra.


"Rumahnya seperti tidak berpenghuni sama sekali," sahut Sahila yang melihat rumah itu kosong, gelap dan juga kotor, dengan banyaknya rumput-rumputan dan memeng sepertinya tidak ada penghuninya.


"Benar juga seperti tidak ada penghuninya," sahut Anggika.


"Permisi kalian cari siapa ya?" tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka dan membuat mereka semua melihat ke arah pria tersebut.


"Oh iya silahkan mau bertanya-tanya apa. Kebetulan saya kepala desa di sini," ucap Pria itu memperkenalkan dirinya.


"Oh begitu ternyata. Syukurlah kalau kami bisa bertemu dengan orang yang tepat," sahut Argantara.


"Memang ada apa ya?" tanya pria itu.


"Kami ini dari Jakarta, saya bersama anak-anak saya ingin bertanya apa benar ini rumah ibu Suhartati?" tanya Argantara yang langsung to the point.


"Ibu Suhartati," sahut Pria itu.


"Iya pak benar sekali," sahut Reya. Sementara sang bapak-bapak tersebut tampak berpikir.


"Ini pak saya punya fotonya," sahut Citra yang menunjukkan foto Suhartati karena takut kerap kali Pria itu bingung.


"Oh iya benar sekali alamat ini memang tidak salah dan wanita yang di foto itu memang pemilik rumah ini," ucap bapak tersebut yang membuat mereka semua lega mendengarnya.

__ADS_1


"Kalau begitu di mana ibu Suhartati? dan kenapa rumahnya seperti ini?Apa dia sudah tidak tinggal di sini lagi?" tanya Reya dengan cepat-cepat.


"Benar pak, di mana ibu Suhartati?" sahut Citra yang juga ingin tau.


"Tapi kalau boleh saya tau kalian ini siapa ya dan kenapa mencari ibu Suhartati?" tanya bapak tersebut.


"Begini pak, istri saya dan adik saya mencari ibu Suhartati karena ibu Suhartati adalah ibu kandung mereka dan kami mendapatkan alamat ini dari kepala desa tempatnya tinggal sebelumnya. Makanya kami datang kemari dan ternyata memang ini tempat tinggalnya," jelas Sean.


"Jadi kalian putrinya?" tanya pria itu memastikan. Reya dan Citra mengangguk dengan cepat.


"Apa kami bisa bertemu dengan ibu Suhartati pak?" tanya Sahila.


Pria itu diam dan melihat satu persatu orang-orang yang ada di sana dengan tatapan sendu.


"Pasti bisa bertemu," sahut Pria tersebut membuat Citra dan Reya saling melihat dan sama-sama bernapas lega dengan senyuman di wajah mereka.


"Tapi mungkin saya hanya bisa mempertemukan kalian pada tempat terakhirnya dan untuk bertemu fisik saya tidak bisa," lanjut pria dengan istilah kata yang membingungkan membuat Reya, Citra dan yang lainnya kebingungan.


"Maksud bapak apa ya?"tanya Reval.


"Mungkin kalian sangat kecewa dengan hal ini tetapi ini sudah menjadi suratan takdir. Jika ibu Suhartati sudah tenang di sisi Allah," ucap Pria itu membuat Reya dan Citra kaget mendengarnya.


Bukan hanya Reya dan Citra. Bahkan yang lainnya juga tidak percaya dengan apa yang di dengar mereka.


"Ma_ maksud bapak. Ibu saya sudah tiada?" tanya Reya dengan suara yang tertahan dengan mata yang berkaca-kaca saling menggenggam dengan Citra yang pasti perasaannya sama dengan Reya.


"Iya beliau sudah meninggal 4 tahun lalu dan rumah ini terbengkalai tanpa ada yang menempatinya," jawab bapak tersebut yang semakin menjelaskan memberi kenyataan yang pasti sangat mengejutkan yang mampu membuat Reya dan Citra menjatuhkan air mata.


"Ibu," lirih Reya.


"Ibu," lirih Citra dengan tangisan yang pecah. Sean langsung memeluk istrinya untuk menguatkan istrinya sementara Anggika memeluk Citra yang juga menguatkan Citra.


"Saya juga tidak percaya dengan ibu Suhartati yang ternyata memiliki seorang putri dan saya mengerti perasaan kalian. Tetapi beliau sudah tiada," jelas bapak tersebut yang juga sedih dengan keadaan yang terjadi.


Sahila dan Reval juga ikut sedih. Dengan segala perjuangan Reya dan Citra yang ternyata orang yang mereka cari telah di temukan. Namun sudah tidak ada raganya lagi dan pasti hal itu sangat mengejutkan bagi mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2